
Sementara Dave dan Zian sama sama naik, mereka memakai bathrobe dan duduk di tepi kolam dengan tawa yang masih tersisa.
"Dave ... kau sudah merestui hubunganku bukan? Kenapa kau masih mengacau saja!" Zian membaringkan tubuhnya terlentang, menatap langit yang mulai menggelap, Dave juga melakukan hal yang sama, dia terlentang disamping Zian.
"Aku hanya masih belum rela saja Zian, dia masih terlalu kecil, rasanya baru kemarin aku menimangnya, saat dia menangis."
"Kau benar benar tidak sadar? Putrimu bahkan lebih dewasa darimu Dave ... apa kau tahu, dia bahkan bisa menghancurkan hidup orang lain dengan satu gebrakan."
Mereka saling berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari awan yang kian menghitam, yang muncul perlahan menggantikan semburat orange yang mengalah pada hukum alam.
"Benarkah ada yang seperti itu?"
"Hem ... Dia pernah dijebak oleh temannya sendiri, tapi dia menghadapinya dan justru membuat temannya hampir bu nuh diri, Karena Putrimu mengungkapkan kebenarannya saat perayaan turnamen disekolahnya,"
"Bu nuh diri?"
"Hem ... kau fikir saja! Seluruh pihak sekolah yang menekan Agnia akhirnya tahu kebenaran itu, dia nekad memutar video tentang kebenaran itu di layar proyeksi sekolah, dan di tonton semua pihak sekolah dan teman temannya."
Ada nada bangga dari suara Zian saat menceritakan semua yang Agnia lakukan untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, mencerminkan sifat Agnia yang tidak mudah di tindas dan juga tidak menyerah membuktikan dirinya tidak bersalah. Dave tertegun mendengarnya, dia baru saja tahu jika putrinya mengalami hal itu, diantara hal hal berat yang dia lalui.
"Apa kau tahu bagaimana aku dan putrimu bertemu?" Zian kembali terdiam, mengulas senyuman dengan ingatan kembali pada masa itu, "Dia berlari keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobilku begitu saja, memerintah ku dengan nada keras seperti seorang ratu, bahkan dihari pertama kami bertemu dia sudah membangunkan senjataku!" Zian tertawa mengingat hal itu,
"Nia dari hotel?"
"Hem ...! Dan saat itu aku selalu berfikir dia adalah gadis remaja yang terjun pada trend masa kini, yang menghidupi dirinya dari dompet pria pria yang mencari kesenangan sepertimu."
Dave berdecih, lalu terkekeh. "Sialan kau Zian! Aku sudah berubah!"
Zian mendengus, "Sampai untuk berapa lama aku masih yakin jika dia salah satunya, yang mereka sebut dengan sugar baby! Terlebih dia memang berteman dengan salah satu dari mereka." ungkapnya lagi.
Dave tertegun, dengan lirih dia berkata. "Kau jauh mengenalnya dibandingkan aku Zian!"
"Yes ... that I'm!" ucapnya dengan bangga. "Sampai aku menyadari dia sangat berbeda, aku salah menilai dan sejak saat itu justru aku kehilangan dirinya." Zian menghela nafas, "Aku seperti orang gila mencarinya!" ujarnya lagi.
Dave bangkit dari posisinya, dia kini duduk dengan menopangkan tangan dikedua lututnya, "Aku kehilangan moment moment hebat itu Zian,"
Zian pun akhirnya terduduk, "Tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisimu sebagai ayahnya bukan?"
"Kau benar! Jadi untuk itu kau tidak boleh menyentuhnya sebelum aku ijinkan." Dave bangkit berdiri lalu masuk kedalam rumah, "Kau ingat aku ayahnya!" ujarnya lagi dengan berbalik melihat Zian, lalu mengayunkan kakinya masuk.
"Sialan kau Dave! Aku panjang lebar bercerita ujung ujungnya kau justru melarangku. Enak saja kau ini bicara seolah hanya kau yang peduli padanya!" seru Zian lalu bangkit menyusulnya.
Tawa Dave masih terdengar hingga dia masuk kedalam kamar yang sudah dipersiapkan bi Nur, dia menoleh ke arah belakang melihat Zian yang berjalan dengan cepat.
__ADS_1
"Bukankah kau yang bilang tidak ada yang menggantikan posisiku sebagai ayahnya? Jadi patuhi ayah mertuamu Zian." Ujar Dave lalu masuk dan menutup pintu kamar, meninggalkan Zian begitu saja.
"Brengsekk ... kau Dave! Kau tidak akan menghalangi kebahagiaanku kali ini!" Dengusnya lalu kembali berjalan ke arah kamarnya.
"Suasana kamar tidur miliknya sedikit berubah, ada harum mewangi yang selama ini membuatnya candu, wangi yang dulu menemani dan sempat menghilang sejak Agnia kembali tinggal di rumah Laras kini telah kembali.
Agnia tengah duduk menyisir rambutnya saat Zian membuka pintu dan masuk.
"Kamu sudah mandi? Wangi sekali."
Tangan Agnia mengudara, "Jangan mendekat ... aku sudah mandi! Nanti bajuku basah lagi."
"Baiklah aku akan mandi dulu. Tunggu aku oke!" ujarnya mengedipkan mata.
"Dasar mesum! Sudah sana mandi!"
Zian masuk kedalam kamar mandi, dengan tertawa, bukan Zian namanya jika dia peduli apa yang dikatakan oleh Dave, dia tidak akan menuruti apa kata Dave, untuk tidak menyentuh Agnia.
"Enak saja bicara! Dia fikir aku akan peduli!" decaknya dengan menyalakan shower.
Zian memakai sabun racikan milik Agnia, menghirup aroma wangi yang tercampur namun menurutnya itu sangatlah pas.
"Ini sebenarnya bisa jadi terobosan baru untuk bisnis hotelku! Tapi aku tidak akan melakukannya, tidak ada yang boleh memiliki wangi seperti ini selain Dunia Ku." gumamnya menyapukan sabun ke seluruh tubuhnya.
Sementara Agnia kini berdebar debar, kejadian sore hari yang membuatnya bergetar hebat belum tuntas, dan Zian pasti akan kembali melakukannya.
"Siapkan baju! Benar... siapkan piyama yang panjang untuknya saja."
Agnia membuka lemari dan mencari piyama yang dia maksud, piyama tangan panjang dengan celana panjang yang akan menyulitkannya saat dia harus membukanya nanti.
"Ini dia!"
Gadis itu terkekeh kecil dengan ide yang menurutnya sangat bagus, lalu saat dia membuka laci lemari bagian bawahnya dia sendiri tertegun.
"Gimana gue ngambil ini!" gumamnya melihat under wear milik Zian yang tertumpuk rapi.
Dia membelakanginya, lalu mengambil satu under wear yang berada di barisan paling atas, menumpuknya dengan piyama lalu menutupnya dengan atasan piyama.
Dia segera membalikkan kembali tubuh lalu membawa semuanya dan menyimpannya diatas meja yang berada dekat pintu kamar mandi.
Tak lama pintu terbuka, Zian keluar dengan handuk yang melilit di bagian pinggangnya, membuat dada Agnia kembali berkecamuk.
"Pakaiannya udah aku siapkan!" tunjuknya pada tumpukan piyama berwarna navy diatas meja.
__ADS_1
"Wah istriku sangat pengertian! Terima kasih sayang!" ujarnya dengan mengecup pipi Agnia.
"Iiih ... dasar mesum!"
"Lho ... tidak ada masalah kan mesum dengan istri sendiri?" ujarnya dengan membuka handuk tepat di depan Agnia.
Gadis itu berteriak dengan membalikkan tubuhnya ke belakang, "Bisa gak sih gantinya di kamar mandi aja!"
Zian tidak peduli, dia justru terkekeh, dia memakai satu persatu pakaian yang telah disiapkan untuknya, yang bahkan dia baru menyadari jika Dita tidak pernah melakukan hal sederhana seperti itu untuk nya.
Agnia masih merengut kesal, bagaimana tidak dia kaget karena melihat sesuatu yang baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya dengan jelas.
"Kau akan terbiasa nanti Nia, aku tidak suka mengganti pakaian di kamar mandi!" Kekehnya lagi.
"Kalau gitu aku yang akan keluar dari kamar kalau Om mau ganti!"
Zian berjalan mendekatinya, lalu menyusupkan tangannya di pinggang ramping sang istri kecilnya.
"Kenapa kau harus melakukan hal rumit seperti itu! Hem?" bisiknya dengan lagi lagi mengecup cuping telinga.
"Tapi kan___"
Zian membalikan tubuh Agnia hingga menghadap ke arahnya, "Apa? Sudah aku katakan, kau akan terbiasa nanti."
Tanpa menunggu lama Zian langsung menyambar bibir merah muda milik Agnia yang bahkan tidak diberi kesempatan bicara, dia melumatttnya dengan lembut, sangat lembut dengan kedua tangan menyusuri punggungnya.
Tangan yang dingin dan tiba tiba menghangat itu menyisir punggung mulusnya, membuka satu persatu kancing piyama miliknya. Dia membukanya dan melemparnya begitu saja, namun tiba tiba dia menghentikan kegiatannya, "Kenapa memakai t-shirt?"
"Ta__tadi ... tadi karena aku kedinginan. Makanya aku Doble pake t shirt ini!" jawab Agnia.
Zian tergelak, dia kembali melingkarkan tangannya di pinggang kecil Agnia, menyusup kan kembali tangannya masuk kedalam, kali ini di bagian depan, dua benda bulat yang membuatnya semakin gigih mencoba mencari kesempatan.
"Aaaaaahkk!!"
Agnia kembali mele nguh tanpa sadar saat kepala Zian sudah tenggelam di dadanya, mengecap manisnya benda bulat dengan satu tangan yang mere mas benda disebelahnya dengan lembut.
Gadis itu menggigit sedikit bibirnya, dengan bergumam pelan namun tangan mere mass rambut Zian. "Dasar genit ... mesum ... Om Om mesum!"
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komennya jangan di lompat lompat ya ... hari ini insya Allah othor up tiga, atau empat sebagai ganti kemarin.