
"Apa?" Sentak Agnia pada pria yang masih senyum senyum menatapnya.
"Apa? Aku tidak apa apa."
"Seneng banget ada yang godain. Pake bilang pengen ditebak segala, kenapa gak bilang langsung saja kalau udah nikah?"
Zian masih mengulum senyuman, bahkan dia kembali duduk di kursi. "Baby ... aku kan hanya bercanda! Aku juga sudah mengatakannya, tapi kau tetap menendangku."
"Itu kan karena pengen tahu aja sejauh mana dia godaain kamu! Kenapa juga harus bilang sudah nikah."
Zian menghela nafas, "Jadi kau ingin aku langsung mengatakannya atau tidak sebenarnya?"
"Tau ahk nyebelin banget! Makan tuh modus, segala pake cari simpati dari korban bencana!"
"Baby? Apa kau sedang cemburu?"
"Gak ... ngapain juga cemburu!" Agnia mendudukkan kembali pantatnya diatas kursi, mengotak ngatik ponsel tidak karuan, dia hanya menyibukkan diri dengan menggulir gulir layar pinsel. Dia memang cemburu, dan seharusnya Zian peka, tapi dia juga ingin tahu sejauh mana Irene, tapi Zian malah merusaknya dengan mengatakan hal yang sebenarnya dengan cepat.
Zian menatapnya dengan mencondongkan kepalanya, dia bahkan sampai bingung apa yang Agnia inginkan, perkataan jujur atau tetap berpura pura. Namun dengan begitu dia tetap mengulum senyum bahkan dia menahan dirinya agar tidak tertawa, melihat sikap Agnia yang menggemaskan dengan wajah yang ditekuk, dia bukan tidak peka, namun sengaja membiarkan Agnia dengan apa yang dia rasakan.
"Baby ...!"
"Nia gak mau jadi sekretaris lagi!"
"Kenapa?"
"Ya pokoknya gak mau!"
"Terus bagaimana denganku? Bukankah kamu ingin membantu pekerjaanku?"
"Gak jadi!"
"Kenapa? Karena aku tidak langsung mengatakan kamu Istriku? Aku akan mengatakannya, tapi kamu yang tidak mau!" Zian terkekeh.
Gadis itu mendelik ke arahnya, "Lucu? Gak sama sekali."
"Baby? Kenapa marah padaku? Harusnya marah pada Irene, aku tidak ingin ikut pada acara yang dia sebutkan tadi, apalagi sampai tergoda olehnya!" Terang Zian.
"Tetep aja, senang kan!"
"Tidak!" Zian menggelengkan kepalanya. "Aku senang melihat wajahmu yang cemburu! Menggemaskan, sampai aku ingin menciummu!"
"Iiihh ... nyebelin banget!"
Zian tertawa pada akhirnya, baginya Agnia segalanya, tidak ada celah untuk orang lain sedikitpun, sekalipun menurutnya Irene hanya mengajaknya saja, dia tidak menggodanya secara terang terangan atau semacamnya.
"Kamu lucu sekali baby! Jadi sekarang kau mau jadi sekretaris ku atau tidak?"
"Tau ah!"
Zian menggusel kedua pipi Agnia dengan gemas, dan terus tertawa. "Kalau cemburu bilang saja! Aku justru senang melihatmu cemburu seperti ini."
Gadis itu tetap tidak ingin mengaku jika dirinya tengah cemburu, "Siapa yang cemburu! Gak sama sekali,"
"Terus ... kenapa mau berhenti jadi sekretarisku padahal belum sehari."
__ADS_1
Agnia terdiam, dia saja merasa bingung dengan dirinya sendiri. Merasa kesal melihat ketidak pekaan Zian namun juga marah melihat Zian yang terlalu cepat peka.
"Sayang?"
Agnia terdiam dengan bibir yang mencebik, hingga perlahan Zian menarik bahunya dan memeluknya.
"Apa yang kau khawatirkan? Tidak akan ada tempat untuk orang lain selainmu Baby?"
"Bohong!"
"Aku serius! Aku tahu bagaimana rasanya di khianati, lantas apa aku akan melakukan hal itu dan menyakitimu?" terang Zian dengan mempererat pelukannya, "Mendapatkanmu saja sulit, bagaimana mungkin aku dengan mudah menyia nyiakan mu baby?"
"Ih ... bohong terus!" Ucap Agnia dengan mencubit perut suaminya itu.
"Aku tidak bohong! Untuk apa aku bohong padamu? Bisa bisa Dave murka padaku jika aku melakukannya. Kau tahu ayahmu kan, segala macam cara dia lakukan agar aku tidak menyentuhmu, dan bisa dibayangkan apa yang akan dia lakukan jika aku menyakitimu."
"Jadi kau melakukannya hanya karena Daddy?"
"Astaga ... salah lagi! Bukan begitu baby, you are the one and only.
Agnia terkekeh, "Aku paham! Udah ah ... jadi ikut norak kan jadinya."
"Gara gara Irene ya?"
"Gak ... semua gara garamu." Agnia menarik hidung mancung Zian, hingga kemerahan.
"Sakit baby!"
"Syukurin!"
.
.
Pria itu membuka pintu mobil untuk Agnia, membiarkan istrinya masuk kedalam mobil lebih dulu lalu dia berjalan kearah sebaliknya.
Satu sorot lampu yang berasal dari sebuah motor menyilaukan Zian saat berjalan memutar ke arah kemudi, dia melihatnya sekilas.
Zian terus menatap ke arah motor sport yang tidak asing lagi didepannya, tak lama motor itu melaju kembali.
Agnia menoleh kearah pandang Zian, namun tidak menemukan apapun.
"Kenapa?"
"Tidak! Hanya orang aneh ... lampu motornya membuat mataku sakit."
"Silau?"
Zian mengangguk, dia memanaskan kendaraannya sebentar melaju pergi.
"Baby? Kita mau kemana?"
"Besok udah gak perlu sekolah sih! Jadi Nia bisa bebas pulang malem ini kan?"
Zian mengangguk, "Kalau begitu kita pergi ke satu acara mau?"
__ADS_1
"Acara apa?"
Zian membuka dasboard mobil dan mengeluarkan sebuah kartu undangan, lalu memberikannya pada sang istri.
"Undangan penggalangan dana? Korban bencana alam?"
Zian mengangguk dengan melengkungkan bibirnya.
"Acara yang Irene bilang tadi?"
"Tepat sekali baby!"
"Kenapa tidak mengatakannya tadi? Malah diem aja!"
"Karena aku tidak ingin pergi dengannya, kalau aku harus pergi, aku ingin pergi denganmu."
Agnia mendengus kasar, menyimpan kaetu undangan itu diatas dasboard mobil.
"Mencari simpati dari korban bencana alam! Untuk apa kesana? Kau gak mau."
"Baby ... itu kan Irene, kita kesana bukan mencari simpati korban bencana alam, tapi untuk memberikan bantuan, tidak ada niat lain."
"Ya tapi nanti ketemu Irene disana."
"Tidak masalah!"
"Tidak masalah bagaimana? Jelas jelas dia lagi modusin."
"Agnia sayang! Sekalipun dia telanjang, aku tidak akan tergoda!" Zian terkekeh, namun sedetik kemudian pria itu meringis karena Agnia mencubit pinggangnya dengan keras. "Bercanda sayang ...! Aw sakit sekali, kau harus tanggung jawab nanti malam. pinggangku sakit semua!" sambungnya lagi menggosok pinggangnya dengan terkekeh.
Gadis itu tidak mengatakan apapun, dia hanya mendelik namun dengan sejuta rencana didalam fikirannya, tak lama dia tersenyum.
"Oke ... kita kesana!"
"Hah ... kau serius baby?"
"Absoluty hubby! Sebagai sekretaris dan sebagai istrimu, aku pasti bisa!" Agnia mengulum senyuman dengan menatap suaminya lalu menaik turunkan kedua alisnya.
"No ... no ... baby! Jangan lakukan hal hal yang mempersulit diri sendiri."
"Dih ... percaya diri banget! Nia gak bakal lakuin apapun disana, hanya melihat gimana acara penggalangan dana dari pengusaha pengusaha hebat dikota ini."
Zian menghela nafas, rasanya tiba giba ajakannya menjadi ide yang sangat buruk, apalagi Agnia terlihat antusias, dan dia takut jika Agnia berulah disana.
"Lebih baik kita pergi ke tempat lain?"
"Gak ... kita kesana aja!"
"Baiklah ... tapi jangan cari masalah oke?"
"Hubby ... apa aku terlihat kayak orang yang suka cari masalah?"
Zian mengerdik, dia menatap Agnia yang tengah memperlihatkan gigi putihnya.
"Aku tidak akan mencari masalah, tapi aku juga tidak akan diam jika orang yang cari masalah denganku."
__ADS_1
.
Tiga cukup ya untuk hari ini ... jangan banyak banyak nanti kalian bosen, btw sampe episode sebanyak ini kalian bosen gak? atau ceritanya membosankan atau misal kepanjangan, atau misal gak jelas. Tulis di kolom komentar ya, saran kritik apapun itu. Jangan lupa juga like, atau gift, atau vote nya mungkin.hehehe.