Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 191


__ADS_3

Agnia menggeliat dibawah selimut tebal berwarna abu, kedua matanya perlahan mengerjap ngerjap. Harum parfum milik Zian menyeruak menusuk indera penciumannya.


"Kau sudah bangun?"


Agnia mengangguk, "Jam berapa ini? Nia harus sekolah."


"Kalau begitu segera mandi! Nanti bisa terlambat." Zian tengah memasangkan dasi di kerah kemejanya, dengan menatap pantulan yang berada di hadapan Agnia, hingga Gadis itu bisa melihatnya dengan jelas.


Dia beranjak turun, lalu menusuk nusuk bahu Zian hingga pria itu berbalik badan.


"Apa?"


"Biar aku bantu pasangkan dasi?"


"Tidak usah ... aku sendiri saja! Kamu pergi mandi saja ya!"


"Hmm .. baik lah kalau begitu!" Ucap Agnia menatap Zian dari atas sampai bawah.


"Tuan Ziandra Maheswara yang terhormat!"


Zian mengernyit dengan nada bicara Agnia yang disertai tawa kecil.


"Apa kau ingin semua orang dikantor melihat juniormu?" Ucapnya dengan menunjuk resleting yang terbuka dengan matanya.


Agnia tergelak lalu masuk kedalam kamar mandi, sementara Zian memejamkan matanya.


"Astaga ... kenapa harus terlihat bodoh didepan istriku sendiri!" ucapnya dengan menaikkan resleting celananya.


Gadis itu masih tertawa didalam kamar mandi, dan segera mengguyur tubuhnya di bawah kucuran shower.


"Ternyata dia konyol juga, bagaimana mungkin dia tidak ingat untuk menaikkan resleting celananya." gumamnya dengan kembali tertawa.


Namun tawanya tiba tiba berhenti saat keduanya matanya terpaku pada leher yang kini terdapat warna kemerahan. Bukan hanya satu melainkan enam yang berada di bagian sisi kiri dan juga kanannya.


"Apaan nih??"


Agnia menggosok gosok kulit putihnya, namun tanda itu tidak juga hilang. Dia menjadi panik karena titik itu terlihat jelas jika diperhatikan.


"Gimana gue pergi kesekolah kalau begini? Masa iya harus pake syal ... dah kayak kemana aja!"


Tak lama kemudian dia keluar dengan wajah tersungut, menatap Zian yang tengah memasukkan beberapa berkas kedalam tas kerja miliknya.


"Kenapa sayang?"


"Nih ... gimana ini bisa di tutupi! Nia kan mau ke sekolah!" tunjuknya pada titik titik kemerahan yang berada di lehernya.


Zian mengulum senyuman, "Maaf itu kan dilakukan karena tidak sadar, kalau sadar mana mungkin aku melakukannya disitu!"


"Kau fikir hanya bisa ditempel disini? Banyak ditempat lain."


"Siap laksanakan nyonya Zian ... nanti malam aku akan melakukannya ditempat lain!" Zian terkekeh lagi.


"Ihhh ...punya suami om Om mesum!!" umpatnya. dengan menyambar tas make up milik berwarna pink miliknya.


"Aku tidak mau tahu bagaimana caranya agar ini bisa ditutupi dan tidak terlihat!"


"Mungkin kau bisa memakai foundation?"


Agnia mengoleskan pelembab pada kedua pipinya, lalu menepuk nepuknya pelan, "Foundation apaan, emangnya aku tante-tante pergi kesekolah memakai foundation!"

__ADS_1


"Tidak masalah, toh hanya hari ini saja bukan? Besok juga akan hilang."


Agnia kembali merengut, "Sekali saja!! Itu akan lama hilangnya, mungkin bertahan beberapa hari."


"Memangnya kamu tahu?"


"Aku tahu!! Kalau cuma hal begini, aku juga sering melihatnya di leher Cecilia tahu! Cecilia juga bilang padaku butuh beberapa hari sampai bener bener hilang!"


" Ya sudah biarkan saja begitu, toh mereka juga tidak akan bertanya padamu!"


Agnia mendengus lagi, lalu menghentakkan kaki dan menyambar seragam sekolah yang sudah disiapkan oleh bi Nur.


"Aku tidak akan memaafkanmu karena hal ini! lihat aja."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Tahu deh pikir aja sendiri!" Agnia mengerdikkan bahu,


"Sini aku bantu mengoleskan foundationnya." Zian merengkuh bahu Agnia tengah masih terlihat kesal.


"Tentu saja kau harus membantuku! Aku tidak bisa melihatnya dari sini tahu!"


"Iya istriku Yang cerewet sekali, ini aku bantu mengoles foundation." Zian mencubit pelan pipi sang istri dengan gemas.


Dengan sedikit kasar Agnia menyerahkan botol kecil berisi foundation pada Zian. "Nih ...!! Jangan sampai terlewat sedikitpun."


Zian mengoleskan seujung kecil cream berwarna kulit itu di tangannya, dengan lembut di menyapukannya pada titik titik mereka dileher Agnia. Sementara Agnia mengolesi titik titik merah yang berada di sisi sebelahnya.


"Bisa bisa aku terlambat ke kantor!" Gumam Zian.


"Kenapa?"


Zian menggelengkan kepalanya, namun wajahnya berseri seri.


"Huum ... wangi sekali seperti biasanya!"


Zian perlahan lahan menarik dagu Agnia dan mengecup ujung bibir merah muda miliknya, sangat lembut dan membuat Agnia terbuai lagi, pria itu semakin merengkuh pinggangnya, sementara kedua benda kenyal kini saling membelit, namun tidak berlangsung lama karena Agnia tersadar.


"Aku harus ke sekolah!" Ujar Agnia menarik dirinya sendiri agar tidak semakin kebablasan.


Zian menyapu bibirnya menggunakan ibu jarinya, "Aku kelepasan lagi kan!"


Gadis berambut panjang itu mendengus pelan, "Iish ... kebiasaan kan!!"


Keduanya kini keluar dari kamar dengan saling berpegangan tangan menuruni tangga, Dave berdehem dari arah bawah, dia sengaja menunggu mereka turun.


"Sweetheart ...!" Ucapnya mengecup pipi Agnia.


"Daddy ... kemana Daddy pergi semalem?"


Agnia mengikuti Zian yang berjalan ke arah ruang makan, disusul oleh Dave dari belakang.


"Daddy ada urusan diluar sebentar!"


"Ayahmu pergi bersama Kim!" Bisik Zian dengan kedua mata melihat ke arah Dave yang akan duduk.


"Benarkah? Daddy pergi kencan?"


"Sialan kau Zian!!" dengusnya pada menantu yang hanya berjarak tiga tahun saja dengannya. "No Sweetheart ... Daddy tidak pergi kencan, Kim hanya meminta bantuan Daddy saja!"

__ADS_1


Agnia terlihat mengangguk anggukan kepalanya berulang kali, "Apapun yang Daddy lakukan, Nia akan dukung Daddy!" ujarnya dengan mengolesi roti dengan selai coklat kesukaannya.


"Aku juga Daddy! Good lucky!!" Zian tertawa dengan melihat ke arahnya.


Kau tidak tahu saja Zian apa yang terjadi semalam, jika kau tahu, mungkin kau tidak akan tertawa pagi ini. batin Dave.


"Makan yang banyak sweetheart!" ujar Dave mengelus kepala Agnia.


"Daddy too!!"


Agnia mengisi piring ayahnya yang masih kosong dengan roti yang telah dia olesi seksi coklat. Lalu dia kembali mengambil selembar roti dan mengolesinya kembali.


"Kau tidak membuatkannya untuk suamimu Honey?"


"Hei ... kenapa kau selalu iri?" ketus Dave.


"Daddy!!"


Dave hanya mendengus kearah Zian yang terkekeh penuh kemenangan karena Agnia membelanya.


"Kau juga sama! Apa kalian tidak bisa berdamai dan berhenti meributkan hal sepele?" ujarnya pada Zian.


Kali ini Dave yang terkekeh melihatnya seraya menggigit roti buatan Agnia.


"Ini rotimu! Besok besok kalian buat sendiri saja! Nia bisa bisa terlambat masuk kelas hanya karena mengawasi kalian! Dasar bapak bapak labil." gumam Agnia kembali menyambar selembar roti lalu memakannya tanpa selai.


"Aku ingin kau menyuapiku!" ucap Zian, membuat Dave membelalakan kedua matanya.


"Tidak bisa ... kau bisa makan sendiri!"


"Dia istri ku Dave!! Kau harus ingat."


"Tapi dia masih putriku Zian ...ingat itu!!"


Agnia menghela nafas panjang, dia menyandarkan punggungnya di kursi. "Ribut terus!!! Kapan makannya,"


Keduanya terdiam, untuk sesaat, melihat ke arah Agnia yang kembali memakan roti tanpa selai miliknya.


"Minum susunya Nia!" ucap kedua pria yang duduk mengapit Agnia.


Agnia menghembuskan nafas kearah poni yang menutupi dahinya, lalu beranjak berdiri.


"Aku pergi dulu! Jangan ada yang mengantar, karena aku tidak ingin kalian ribut lagi. Aku naik ojek online saja!" ujarnya dengan menyampirkan tas miliknya di bahu.


Kedua pria itu saling menatap lalu membuang wajahnya secara bersamaan, sedangkan Agnia sudah mengayunkan kedua kakinya keluar.


Agnia keluar dari rumah, menghadapi kedua pria dewasa yang sama sekali tidak terlihat dewasa dimatanya itu ternyata melelahkan.


"Oh tuhan ... gimana ini!!"


.


.


.


...Seneng kan seneng ....wkwkkw...


...Jangan lupa like dan komen setiap bab ya, sampai jumpa besok bestie... ...

__ADS_1


...makasih buat semua dukungannya yang luar biasa buat othor....


...Lope lope buat kalian, selamat istirahat ... ...


__ADS_2