
Mereka tiba di gedung dimana perhelatan acara penggalangan dana itu berlangsung, mobil mewah dari berbagai merek berjajar rapi dipelataran parkir. Zian sebenarnya sering datang ke acara acara besar sosial ataupun sekedar pesta biasa. Dan tentu saja selalu datang bersama Dita. Dia selalu jadi ingin perhatian pada segala acara, menunjang dirinya yang memang berprofesi sebagai model.
Namun kali ini rasanya Zian malas pergi, dia ingin lebih menghabiskan waktu di dalam kamar dan bermain main dengan istri kecilnya dibandingkan datang ke acara.
"Banyak sekali! Pasti di dalam banyak pengusaha pengusaha muda dan hebat ya!"
"Hm ... pengusaha yang ingin terlihat hebat dengan menyumbangkan dana besar besaran, jadi bukan lagi penggalangan dana yang sebenarnya, justru jadi ajang pamer."
"Kayak yang dibilang Irene?"
"Hm ... salah satunya seperti itu." Zian menghentikan mobilnya.
"Oh ...! Pantas."
Agnia hanya beroh ria, sedangkan Zian menatapnya lekat, "Masih ada waktu jika kau mau berubah pikiran dan kita pulang Baby ... bukankah lebih baik kita membuat anak."
Agnia berdecak, dia menatap sekilas ke arah Zian yang masih terkekeh lalu membuka pintu. "Ayolah ... Kita sebentar aja! Udah itu pulang."
Zian menghela nafas, dia pun akhinya keluar dari mobil. Mengancingkan jas miliknya lalu melangkah bersama Agnia. Pria itu langsung menggenggam tangannya tanpa berfikir panjang, membuat Agnia meliriknya sebentar lalu tersenyum, tak lama dia melepaskan tangan Zian.
"So ... kamu akan mengaku kalau kamu istriku atau sekretaris ku sekarang?" gumam Zian ditelinga Agnia.
"Itu bisa disesuaikan, tergantung kondisi dan situasi nanti." ujarnya kembali menepis tangan Zian yang masih berusaha menggenggamnya, Zian hanya mendengus pelan, sementara Agnia tersenyum ke arahnya dengan sangat manis.
"Jangan bilang kau merencanakan sesuatu!" Tuduhnya.
"Enggak sayang ... rencana apa? Aku tidak punya rencana apa apa."
Mereka kembali berjalan semakin masuk dan Zian terus menatap dirinya yang membuat kedua pipi Agnia tiba tiba merah merona, Agnia tidak kuasa menahan dirinya agar tidak terpesona oleh Zian. Bukan apa apa, sosok Zian yang tinggi dan tegap berjalan disampingnya, bertambah tampan saat masuk namun terus menatap dirinya, wajahnya tersorot lampu ketika mereka berjalan, tak hanya itu tatapan dari orang orang yang kini melihatnya dengan tatapan penasaran melayang pada mereka berdua.
"Kau lihat ... mereka menatapmu dengan lapar! Aku tidak suka melihatnya!"
"Mereka apalagi! Kedua biji matanya hampir melompat saat melihatmu." tunjuk Agnia pada beberapa gadis yang tersihir oleh sosok Zian.
"Tapi yang ku lihat hanya dirimu baby! Jadi peganglah tanganku."
"Nanti saja!" Jawab Agnia dengan mengukum senyuman.
Dan benar saja, Irene juga telah berada di sana, dengan beberapa temannya dan tersenyum saat melihat Zian.
Wanita yang tampak elegan itu melambai kan tangan ke arahnya, namun menatap Agnia dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Zian hanya mengulas senyuman, dia tetap berjalan ke arah kursi dimana bertuliskan namanya di atas meja.
Namun karena tidak ada nya konfirmasi mengenai kedatangannya bersama Agnia, hingga kursi yang tersedia untuknya hanya satu kursi.
"Duduklah baby!" gumam Zian menarik kursi untuk Agnia,
"Kau sendiri bagaimana?"
"Tidak masalah, aku akan meminta kursi pada panitia acara nanti."
Agnia mengangguk, dia lantas mendaratkan bokongnya di atas kursi bertuliskan nama suaminya, sementara beberapa orang telah datang menghampiri mereka dan menyapa Zian.
Pria itu berbincang bincang dengan beberapa pengusaha lain, namun sesekali melirik ke arah Agnia.
"Ku kira kau akan datang bersama calon istrimu yang model itu Zian, tapi ternyata punya yang baru." sapa seorang pria yang menggandeng teman wanitanya saat menjabat tangan Zian.
Zian terkekeh, sekali lagi dia melirik Agnia yang tengah duduk, ikut bertepuk tangan dan bahkan ikut tertawa saat pembawa acara berkelakar.
Gadis itu bukan tidak tahu jika Irene tengah memperhatikan Zian sedari tadi, bahkan wanita itu kini berjalan meghampirinya.
"Zian ... kau datang juga?"
"Hm ...! Aku berubah fikiran,"
Pria berumur 34 tahun itu hanya mengulas senyuman, lalu kembali melirik Agnia.
"Kenapa? Sekretaris detailmu?" Tanya Irene.
Zian tidak menjawabnya, dia lagi lagi mengulaa senyuman tipis.
"Kenapa? Kau menyukainya bukan?" tanya seorang pria yang berdiri disampingnya dengan mengeratkan tangan di pinggang wanita pasangannya.
Irene mengulum senyuman saat pria itu menebak hatinya dengan benar. "Kau ini!"
"Ya sudah ... bukankah Zian juga gagal menikah ya? Kalian cocok." tambahnya lagi membuat Irene semakin mengulas senyuman.
"Gagal nikah?"
Pria itu mengangguk, "Calon istrinya padahal model ... tap---"
"Sudahlah Carl! Kenapa kau malah membahas tentang hal itu lagi." tukasnya dengan wajah yang tegas, pasalnya pria yamg mengira dirinya gagal menikah itu tidak tahu jika dirinya telah menikah dengan Agnia.
__ADS_1
"Benarkah Zian? Kenapa aku sampai tidak tahu hal itu?"
"Bukan hal yang perlu di besar besarkan bukan?" ujar Zian dengan mengulas senyuman, dia bahkan telah lupa jika pernah menjadi orang bodoh yang mencintai Dita.
"Oh ya Carl! Bagaimana kabar istri dan anakmu?" tanya Zian menohok.
Pria yamg disebut Carl itu berdecak, dia lantas menyenggol lengan Zian. "Jangan tanya hal itu! Kau tidak lihat wanita ini datang kemari bersamaku?"
Zian terkekeh, "Sorry Carl! Aku tidak tahu ...!"
Beberapa pria menghampirinya lagi dan mengajaknya duduk bersama mereka, Zian melirik ke arah Agnia.
"Baby ... jangan kemana mana! Aku akan kembali."
"Ok!! Bersenang senanglah!" jawab Agnia dengan senyuman. Dia tidak terlihat kesal, ataupun marah.
Zian duduk di kursi dengan beberapa temannya dan mulai berbicara perkembangan bisnis nya masing masing, begitu juga Irene yang duduk bersebelahan dengan Zian. Jarak tempat duduk Zian dengan Agnia hanya terpisah satu meja, hingga Agnia bisa melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Irene terus menatap Zian secara terang terangan, hingga beberapa rekannya menyenggol lengannya.
"Sepertinya kau naksir berat! Bagaimana kalau kau ajak dia berkencan saja!"
Irene tersenyum dengan tatapan tidak beralih pada Zian, saat mendengar saran dari rekannya. "Apa aku cocok dengannya?"
"Hem ... kalian cocok menurutku, kenapa tidak kau coba menggodanya sekarang?"
Kedua wanita itu mengulum senyuman, begitu juga dengan Irene, tidak hisa dipungkiri. Semakin dilihat, aura ketampanan Zian semakin kentara, tidak banyak bicara seperti rekannya yang lain, bahkan dia hanya menyimak pembicaraan mereka saja.
Live musik telah terdengar, suasana sudah mulai santai karena acara sudah berganti menjadi acara hiburan.
Agnia menoleh ke arah Zian, tatapan mereka beradu dan saling tersenyum, Agnia masih belum beranjak dari kursinya. Dia masih melihat ke arah Irene yang kini mencondongkan wajahnya lebih dekat, dengan sengaja membusungkan dadanya yang besar.
"Zian ...?"
Zian menoleh, "Ya?"
"Kau ingin pergi ke suatu tempat?"
Zian menatapnya datar, lalu menyeruput minumannya. "Tidak!"
.
__ADS_1
.
Hai readers makasih buat semua dukungannya yang warbsyah. Lope lope deh pokoknya. Oiya Novel ini udah ada audiobook nya juga ...yeeeeaahh.. dengerin juga yaa Terus dukung karya receh othor yaa..