
Agnia tentu saja kaget, lutut dan tangannya bahkan bergetar saking tidak pernah menyangkanya. Setahu dia ini adalah pesta pernikahan Ayah dan ibu sambungnya.
"Kenapa jadi pesta resepsi kita hubby! Daddy sama ibu Kim gimana?" ujarnya dengan suara bergetar pula, menahan agar tangis bahagianya tidak pecah saat itu juga.
"Mereka sudah dalam perjalanan ke Barcelona."
Agnia menoleh dengan kedua manik membukat sempurna, "Honeymoon?"
Zian mengangguk, "Hadiah yang pantas untuk mereka dapatkan bukan? Ayo kita salami semua orang, dan maafkan aku baby karena mengejutkanmu."
"Lagi Hubby ... Lagi lagi bikin Nia terkejut, astaga! Sayangnya Nia." Agnia memeluk Zian, dia tidak pernah menyangka mendapat semua kebahagiaan yang bertubi tubi dalam rentang waktu hanya tiga bulan."
"Sepertinya karena menunggu kau melahirkan terlalu lama, aku takut akan membuatmu repot nanti karena ada dia yang pasti akan terus menangis kalau kita tinggal baby, jadi aku putuskan menukarnya dengan tiket Barcelona. Toh mereka justru tidak ingin membuat pesta pernikahan." terang Zian dengan membawa Agnia ke arah tamu undangan.
Laras berjalan dengan baju yang senada dengannya namun lebih simpel dan juga tak kalah elegan, membuat Agnia berhambur memeluknya.
"Momy ... Nia fikir Momy pergi tadi."
"Mana mungkin sayang, Momy tidak akan melewatkan moment paling bahagia ini, kau suka gaunmu?"
Agnia mengangguk, kedua matanya memicing ke arah Laras, lalu menoleh ke arah Zian di belakangnya.
"Jangan bilang gaun ini rancangan Momy sendiri? Dan Momy tahu soal ini?"
Laras mengangguk, dia juga terkekeh sambil melihat ke arah Zian. "Semua ide suamimu sayang."
"Momy ...." ujar Agnia dengan kembali memeluk ibunya.
Pesta mewah dihadiri banyak orang orang penting, yang menyalami Zian dan Agnia bergantian, begitu juga teman teman kuliah Agnia, yang tiba yiba mendapat undangan serta kabar kehamilannya saat melihatnya langsung. Bahkan dosen pembimbing turit hadir. Begitu juga dengan Adam.
"Selamat Nia ... Ini benar benar diluar diluar dugaan gue, hari dimana lo bilang pak Zian suami lo aja masih gak bisa gue percaya, dan sekarang gue lihat lo dan semua ini. Pupus sudah harapan gue Nia." Adam terkekeh. Namun temannya yang berada di sampingnya segera memukul bahunya,
"Jangan ngaco lo! Pacar lo mau kemanain. Mau gue aduin lo!"
Agnia terkekeh mendengarnya, begitu juga Zian yang hanya berdecak. Tak lama Cecilia dan juga Nita datang menghampirinya, memeluknya bergantian dengan bahu yang di goyang goyangkan.
"Crazy baby bear gue! Bener bener sempurna idup lo Nia. Aaaaa gue seneng banget! Sampe mau pingsan."
"Apaan si Ce lebay banget!"
"Gue beneran mau pingsan Nit, ya ampun lo gak lihat semua orang beraura positif disini, bener bener sempurna banget."
__ADS_1
"Ce .. Lo gak lihat Serly? Gue gak lihat dia nih dari tadi!"
Zian membisu, begitu juga Cecilia dan Nita yang melirik ke arahnya.
"Serly ... Gue juga gak lihat Nia,"
"Mungkin lagi dijalan kali, atau gak bisa datang." tambah Nita menyakinkannya.
"Iya kali yaa."
Zian merekatkan tangan ke pinggangnya, "Baby ... Ayo kita duduk, kamu pasti capek berdiri terus."
Agnia mengangguk, kakinya juga mulai pegal karena high hill yang dia pakai, dia mengikuti langkah suaminya yang membawanya duduk.
Begitu juga dengan Laras, yang tahu kejadian yang menimpa Serly.
"Tante ... Apa yang bakal terjadi kalau sampai Nia tahu Serly udah gak ada?" tanya Nita.
"Tante gak tahu, tapi kalian tenang aja, semua akan di urus oleh suaminya. Biar dia nanti yang bicarakan hal itu jika keadaan Nia sudah memungkinkan."
Cecilia dan Nita hanya mengangguk, keduanya kembali berbaur dengan teman temannya di ujung meja. Begitu juga dengan Laras yang duduk satu meja dengan Agnia dan Zian. Resepsi bergaya santai itu benar benar sangat apik, perpaduan modern dan gaya santai ala anak anak muda.
"Sedikit, kaki ku pegal."
"Apa kita istirahat saja di kamar?"
"Gak mau, ini kan pesta kita, kau mau pergi kayak di Marina? Nia gak mau ngelewatin lagi moment ini." ujarnya dengan mencebik.
Zian mengelus pipinya lembut, "Katakan saja kalau kau nanti merasa lelah baby, jangan memaksakan diri."
Agnia mengangguk, mengelus tangan Zian yang berada di pipinya.
Laras mengulum senyuman, dia bangkit hendak mengambil minuman, tak lama Carl datang menghampiri Zian dan duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Laras.
"Wah wah ... calon mama papa selalu bikin iri di mana pun!" ujarnya tanpa basa basi.
"Carl! Bagaimana?"
"Beres, aku menunggu mereka sampai lepas landas." ucapnya setelah selesai mengantarkan Dave dan Kim ke bandara.
"Thanks Carl! Kau jangan kemana mana dulu, aku ingin mengenalkanmu pada ibu dari istriku."
__ADS_1
Carl mengangguk, tapi dia juga langsung beranjak pergi ke area stand makanan,
"Aku lapar, aku pergi makan dulu."
"Segera kembali Carl!"
"Hubby! Kau mau momy berkencan dengannya?"
Zian terkekeh, "Mungkin saja! Aku juga tidak tahu."
"Terus gimana dengan perempuan yang dia bilang waktu itu, yang menuduhnya apa tuh aku lupa."
Zian mengerdik, "Mungkin dia sudah lupa wanita itu sayang. Sudah ayo kita nikmati saja pesta ini."
Pesta terus bergulir, alunan musik wedding pun berganti dengan lagu jazz, dua paduan musik karena Agnia menyukai musik jazz. Zian memperhatikan setiap detail bahkan hal hal kecil untuk sang istri, tidak juga main main karena dia sudah cukup mengenal Agnia yang tidak banyak menuntut, Agnia sendiri tidak tahu pernikahan impian yang dia inginkan. Namun pesta resepsi saat ini benar benar membuatnya bahagia dan juga puas.
Kebahagian yang tidak pernah berhenti datang dalam hidupnya saat ini. Dia meraba raba perut buncitnya, merasakan tendangan tendangan kecil dari dalam sana.
Dia juga diam diam mengambil tangan Zian yang tengah mengobrol dengan Carl dan meletakkannya di perut miliknya yang kini terasa menegang di satu sisi.
"Sayang ... Apa itu! Perutmu bergerak." wajahnya benar benar khawatir, dia juga cepat cepat menyuruh asistennya memanggil dokter Siska.
"Panggil dokter Siska. Cepat!"
"Sayang, ini gak apa apa! Dia hanya menendang,"
"Kau yakin baby? Itu tidak sakit?"
"Enggak ... Kok! Gak apa apa, kasian dokter Siska lagi makan kau ganggu. Gak apa apa ini." terangnya dengan menjumput hidung Zian karena wajahnya benar benar menggemaskan.
"Jangan membuat ku khawatir baby! Kau harus katakan setiap dia mengganggumu."ujarnya dengan mencondongkan wajahnya ke arah perut. "Sayang, jangan membuat repot ibumu, kau tahu kan ibu dan ayahmu sedang pesta. Sabar dan tunggu sampai waktu kau tiba yaa." ujarnya mengelus lembut perut Agnia.
Agnia terkekeh melihat tingkah lucu pria dewasa yang sering jadi kekanak kanakannya saat bicara dengan perutnya. "Hubby ... Gemes banget ih!"
Carl sampai berdecak berkali kali melihat keharmonisan keluarga kecil di depannya,
"Kalian membuat ku iri, aku harus segera menemukan calon ibu dari anak anak ku."
.
...Mereka yang uwu uwu, aku yang senyum senyum. Ya tuhan tolong baim. kirim om Zian di sisiku. Baim pengen kayak gituuuu!...
__ADS_1