
Zian mengulum senyuman, bertepatan dengan tangannya membuka pintu ruangan miliknya. "Kalau kau berani melakukannya didepan semua orang saat meeting, aku akan memberimu hadiah! Bagaimana?"
"Apa hadiahnya?"
Zian berbalik untuk menutup pintu, hembusan nafas hangat menerpa wajah Agnia yang kala itu mematung. "Katakan dulu kau berani atau tidak?"
Agnia menelan saliva, saat hidung mancung Zian bersinggungan dengan cuping telinganya, membuat bulu halus di kulitnya meremang seketika.
"Yy--ya katakan dulu apa hadiahnya? Siapa tahu Nia tertarik."
"Yang pasti akan membuatmu tercengang sampai ingin memelukku dan menciumiku!"
"Apa? Barang branded? Nia gak suka barang barang mewah kayak gitu! Palingan Tas? Mobil? Nia gak perlu! Berlian apa lagi, dah kayak emak emak kompleks."
"Lebih dari itu jika kau mau!"
Agnia mendorong dada Zian lalu mengayunkan kakinya, dia menghempaskan bokongnya di atas sofa.
"Dimana mana info hadiahnya dulu sebelum menantang! Kalau gitu mana bisa bikin aku tertarik." sungutnya dengan kedua mata mendelik ke arah Zian yang melonggarkan sedikit dasinya. Rasa mual yang terus menderanya memang berkurang sejak dia mengemut permen. Namun tidak berarti rasa pusing dikepalanya ikut hilang.
"Masih rahasia! Aku masih harus memastikan sesuatu dulu." ujarnya, dia ikut menghempaskan beban tubuhnya disamping Agnia.
"Kau ingin tahu seberapa berani aku hubby?" Ujarnya dengan mengangkat satu kakinya ke atas sofa, dengan gerakan slow motion dia naik di pangkuan Zian.
"Baby!"
"Kau yakin ingin tahu sampai mana aku berani hem?"
Zian membulatkan kedua matanya, gadis yang kini menjadi istrinya itu memang gadis pemberani.
"Melakukannya didepan orang lain? Seperti ini?" Agnia membuka kancing kemeja yang dikenakan Zian satu persatu. "Atau seperti ini?" Kekehnya saat kemeja yang setengah terbuka itu dia tarik hingga dada berbalut singlet putih itu kini terlihat.
Zian mengulum senyuman, gadis pemberani itu bisa berubah nakal dan menggemaskan. Agnia mencondongkan tubuhnya, mengecup lembut dada Zian yang setengah terbuka hingga pria itu harus menelan saliva. Tak lama Agnia turun dari pangkuannya. Dia kembali mencondongkan tubuhnya, "Atau ini? Hem ...?"
__ADS_1
Sretttt
Resleting celana Zian telah dia buka, tepat saat diantara kedua pangkal paha yang semakin menonjol. Agnia menyentuhnya dengan ujung telunjuknya lalu dia dengan gerakan slow motion lagi dia jilat telunjuknya sendiri.
"Hem ...? Kau mau yang mana tuan Ziandra?" Agnia berdiri dengan berkacak pinggang,
"Ya ya aku percaya kau bisa melakukannya bahkan di depan orang banyak! Tapi cukup ... aku tidak mau."
"Kenapa? Yang tadi menantang siapa? Pake segala dikasih hadiah yang gak bisa Nia tebak."
Zian memijit pelipisnya, dia telah salah menantang orang, dan tidak bisa dia bayangkan jika Agnia melakukannya didepan banyak orang. Bukan takut penilaian orang lain terhadap istri kecilnya, tapi justru lebih takut jika orang lain menjadikan Agnia sebagai fantasi liar nya.
Zian menggelengkan kepalanya, "Tidak ... jangan lakukan hal seperti tadi didepan banyak orang."
"Kau sendiri yang menantang tadi hubby!" ujarnya terkekeh saat Zian terlihat menahan sesuatu yang tiba tiba menyerangnya.
"Tidak jadi! Lupakan saja."
"Terus ini bagaimana?" Ujar Zian melirik resleting celananya, juga kemeja yang telah terbuka berantakan.
"Atasi sendiri lah ... suruh siapa menantang Nia!" Kekehnya lagi dengan beranjak dari duduknya lalu mengambil ipad yang ada di atas meja kerja.
"Baby ayolah! Kau ini tidak bertanggung jawab sekali!"
"Jangan salahkan Nia dong! Salah sendiri itu!" Agnia menoleh lalu tergelak.
Zian beranjak mendekati Agnia dan memeluknya dari belakang.
"15 menit lagi meeting Hubby!"
"Tanggung jawab dulu! Kau yang membuatku begini."
Agnia tergelak dengan menarik pergelangan Zian yang melingkar dipinggangnya, "Nanti aja!"
__ADS_1
"Sekarang!"
"Nanti!"
Agnia terus tergelak, hingga terdengar suara ketukan di pintu. Zian mendengus kasar lalu merapihkan kemejanya, karena sudah dipastikan ketukan itu dilakukan oleh staff yang memberitahu jika meeting akan di mulai.
"Maaf Tuan ... tamu udah datang dan menunggu anda di ruang meeting." ujar salah satu staff yang membuka pintu setelah di persilahkan, kedua matanya melirik kemeja Zian yang masih berantakan.
"Hm ... kau boleh pergi!"
Setelah pintu kembali tertutup, Agnia kembali tergelak, dia membantu mengancingkan kemejanya lalu merapikan dasi yang dikenakan Zian.
"Kau harus menggantinya dua kali lipat nanti malam." ujar Zian dengan terus menatap wajah Agnia.
"Eh ... mana ada begitu! Kau yang kalah. Kenapa jadi aku yang harus tanggung jawab."
"Baiklah ... kalau gitu aku akan bwrtanggung jawab, aku akan menggantinya tiga kali lipat nanti malam."
"Dasar otak mesum!" Agnia mencubit pinggang Zian, namun dia menggigit bibir bagian dalamnya.
"Jangan lakukan itu jika hanya ingin menggodaku!"
Agnia terkikik kembali, lalu mencibir ke arahnya. "Gemes sendiri kan jadinya?"
Zian menarik kepala Agnia dengan merekatkan kedua tangan di pipinya, lalu dia melumaat gadis itu dengan rakus. Hingga Agnia kewalahan, pria itu menghentikan aksinya saat Agnia nyaris kehabisan nafas.
"Itu baru hukuman yang setimpal karena berani menggodaku tadi!"
Ujarnya menyapu bibir Agnia yang sedikit membengkak. "Ayo pergi!" ujarnya lagi menarik jemari Agnia.
Agnia tersungut, liptin yang baru saja dia pakai rasanya kembali berantakan, dan Zian tidak memberi kesempatan padanya untuk merapikannya, malah mengajaknya ke ruangan meeting.
"Kau sudah datang?" sapanya pada seseorang saat pintu ruangan meeting terbuka.
__ADS_1