Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 294


__ADS_3

Zian sampai di puncak gedung dengan atap terbuka, hamparan langit berbintang menghiasi malam di negeri melayu yang terletak di semenajung malaka itu, masih bertetangga sebenarnya dengan tanah air, negara yang menjadi destinasi bagus untuk para turis. Terlebih tempat tempat keren yang akan Zian tunjukan pada Agnia keesokan pagi.


Honey Moon? Jelas bukan, ini hanya secuil kejutan kecil yang akan Zian berikan, mulai dari pengumuman pernikahan secara live di acara akbar itu, kotak merah yang dia siapkan sejak jauh jauh hari, hotel berbintang lima dengan view paling keren yang telah dia siapkan, sebelum kejutan besar yang tengah dia rancang. Namun semua gagal karena Agnia tiba tiba menghilang tanpa sebab, tanpa tahu apa yang terjadi bahkan disaat hubungan mereka baik baik saja.


Zian mengedarkan pandangannya kesegala penjuru rootfoot selebar lapangan Volly dengan bantal bantal besar yang biasa di jadikan bantalan duduk, namun kosong, tidak ada siapa siapa disana, terlebih karena disana tengah ada acara perhelatan besar, dan tentu saja tidak akan membuka roottof untuk umum kecuali tamu undangan. Dan tamu undangan telah keluar dua jam lalu.


"Nia ... Astaga! Kau dimana baby!" ujar Zian mengigit jari yang terkepal kuat dengan keras. "Aku sangat khawatir padamu juga anak kita, jangan begini baby! Please kembalilah."


"Tuan, aku sudah mencari di sebelah sana, tapi tidak ada orang disana, termasuk istri anda." ujar petugas yang membantunya mencari Agnia, dengan menunjuk arah kiri dari rooftop.


"Di sana juga tidak ada siapa siapa tuan!" Ujar petugas yang lain.


Zian menghela nafas, Ini tidak mungkin, Nia pasti ada disini, dia masih di sini. Tapi dimana? Ayo Zian ... berfikirlah. Zian membatin seiring otaknya bekerja lebih keras mencari dimana istrinya berada.


Dia juga sudah memastikan jika tidak ada konspirasi dalam hilangnya Agnia, atau bahkan penculikan yang sempat beredar dikalangan para tamu. Sekalipun hal itu terjadi, entah semurka apa Zian. Berbeda jika Agnia sendiri yang berinisiatif untuk tiba tiba pergi atau bahkan menghilang, seperti sekarang.


"Cari lagi lebih teliti!" serunya pada kedua petugas itu.


"Baik!"


Dreett


Dreett


Ponselnya kembali berdering, dia merogohnya lalu menempelkan ponselnya pada telinganya tanpa melihat siapa yang menelepon.


'Bagaimana? Istrimu sudah ketemu?'


Mendengar suara di ujung telepon, Zian baru menatap layar ponsel yang tengah menyala itu. Dan baru mengetahui jika Carl yang meneleponnya, dia pun kembali menempelkannya lagi pada daun telinganya


'Belum Carl! Aku sudah mencarinya kemana mana.'


'Cobalah untuk tenang Zian! Fikirkan pelan pelan, aku sudah pastikan jika Istrimu belum meninggalkan gedung itu, dia masih ada disana entah tersesat atau sengaja bersembunyi.'


'Sembunyi? Untuk apa dia sembunyi Carl? Kau jangan ikut gila seperti Dave.'


'Hei ... aku tidak gila! Ini hanya pengamatanku saja setelah melihat rekaman yang Kim kirim padaku. Sepertinya dia agak kecewa dengan acara yang kau hadiri itu,'

__ADS_1


'Dan aku sudah bilang bukan! Langsung pada intinya saja, tapi kau tidak menurut.'


Terdengar Carl mendesahh, sementara Zian menghela nafasnya berat.


'Kau tahu kan, kenapa acara ini aku jadikan sebagai alasan? Istriku pasti akan curiga jika aku tidak mencari pengalihan, kau tidak tahu dia itu sangat pintar menganalisa keadaan Carl! Dan ini hanya pengalihan kejutan untuknya.'


'Iya dan sekarang kau yang mendapat kejutan dengan hilangnya istri pintarmu itu! Sampai kau tidak tahu dia sembunyi dimana.'


Zian kembali memutuskan sambungan dengan Carl secara sepihal, karena dirasa pembicarannya tidak berguna sama sekali, apalagi tidak membantunya menemukan Agnia.


Namun ucapan Carl ada benarnya, raut wajah bahagia saat di pesawat hingga raut bahagia itu berubah saat masuk kemudian duduk. Agnia terus bertanya acara apa yang dia hadiri ini.


"Apa kau kecewa karena acara ini tidak sesuai dengan apa yang kamu bayangkan baby? Apa kamu sudah menduga jika aku akan memberikan kejutan untukmu sampai kamu berekspetasi dan kecewa pada saat semua tidak sesuai dengan ekspetasimu baby?" Zian mengepalkan tangan lalu menepuk nepukannya di dahinya, mencoba terus berfikir dari keadaan.


"Kamu terus bertanya tapi aku tidak juga mengatakannya baby! Sampai kamu sepertinya berfikir yang tidak tidak!" gumamnya lagi. "Iya kan baby? Oh ... god!! Lalu dimana kamu saat ini sayang?"


Zian terdiam sesaat, tak lama dia beranjak pergi dari sana dan turun kembali. Dia masuk kedalam lift, dengan semua kemungkinan berseliweran dalam kepalanya.


Setelah menekan tombol bernomor satu, Zian menyandarkan punggungnya di dinding lift, tak lama dia merogoh ponsel untuk menghubungi Kim.


Nada sambung berdering namun tidak juga diangkatnya, hingga Zian berkali kali harus mendial nomor Kim.


Hati Zian mencelos saat suara Kim terdengar, 'Kau dimana Kim?'


'Aku masih di pantry!'


'Tunggu aku disana.'


Belum sempat Kim menjawab, Zian telah lebih dulu kenutup sambungan telepon itu, kemudian dia kembali mencoba menelepon nomor kontak Agnia namun tidak aktif juga.


Ting


Pintu lift terbuka, dia bergegas keluar dan dan bertanya dimana pantry berada pada seorang petugas yang tengah ikut mencari Agnia.


Setelah mendapat informasi arah, dia pun melangkahkan kaki nya dengan mantap menuju Pantry.


Dia berpapasan dengan Dave dan juga Laras yang baru saja keluar dari lift sebelahnya,

__ADS_1


"Bagaimana? Kau menemukannya?"


"Belum? Dan aku pastikan aku akan menemukannya Dave!" Ujar Zian melangkah lebih dulu meninggalkan keduanya.


"Ayo pergi!" ajak Laras menarik lengan Dave.


Mereka pun mengikuti kemana Zian pergi, dengan harapan yang sama yaitu menemukan putri kandungnya.


Zian berjalan mengarah ke dapur yang terletak di lantai satu paling ujung, begitu juga Dan dan Laras.


"Kim? Kau menemukannya?" Tanya Zian tepat saat mereka berpapasan di pintu masuk.


Kim menggelengkan kepalanya pelan, "Aku sudah mencarinya di dalam, dan tidak ada sepertinya Nia tidak mungkin berada di dapur yang panas."


Dave melihat ke arah Kim, dia merasa bersalah pada wanita yang tengah di kencani dengan komitmen saling membantu itu, namun justru dia membuatnya terluka.


"Kim? Ak---"


"Aku akan mencarinya sekali lagi." ujar Zian mendorong pintu masuk kitchen yang pasti tengah sibuk.


"Aku ikut--"


Ucapan Kim terjeda karena Zian lebih dulu masuk dan dia kembali mengikutinya dari belakang. Mengabaikan Dave yang bahkan belum selesai bicara itu.


Dave dan Laras pun mengikutinya masuk, dan melihat seseorang yang di sinyalir sebagai kepala dapur itu menghamiri Zian dan juga Kim.


"Maaf Tuan! Tapi sepertinya istri anda tidak akan mungkin ke sini, kalaupun iya ... aku pasti bisa mengenali orang asing yang masuk kemari. Jadi silahkan pergi, karena kami sedang sibuk." ujarnya dengan tegas.


Namun Zian justru menatapnya tajam, pandangannya lalu menyapu ruangan yang penuh kepulan asap itu.


"Hentikan semua aktifitas memasak kalian dan semuanya keluar sekarang juga!"


.


.


Lah ngapain om nyuruh semua orang yang lagi sibuk di dapur buat keluar, mau di maki maki emak emak yang lagi ngupas bawang keknya nih si om. wkwkwk

__ADS_1


Nih othor 3 bab meluncur hari ini buat kalian terlope lope. Makasih buat dukungannya yang warbyssh.


__ADS_2