
Dave menyimpan tabung hidran yang bahkan dia sendiri tidak bisa menggunakan nya, dia hanya memakai alasan kebakaran yang tengah terjadi di komplek perumahan baru dibelakang real estate property milik Zian, dia hanya mendengar sirine mobil pemadam kebakaran yang terdengar sangat nyaring dan ide gila itu timbul begitu saja saat dia rasa Zian terlalu lama berada di dalam kamar, serta teriakan dari Agnia yang dia dengar.
Setelah dia melihat Zian masuk kedalam ruangan kerja, dia berjalan kearah area mini bar disudut ruangan, mini bar dengan berbagai macam merk wine terpajang disana, bahkan wine dari negara negara penghasil wine terbaik juga ada disana.
Dave mengambil satu botol wine merah ternama, menuangnya kedalam sloki kecil lalu menenggaknya sekali teguk. Jangan tanya keasliannya, karena Dave mengetahui mana wine terbaik dan yang bukan karena dia peminum sejati.
Deru kendaraan terdengar berhenti didepan gerbang rumah Zian, mobil berwarna merah berhenti sempurna. Sesosok cantik dibalut dress hitam keluar dari dalam mobil dengan rambut hitam terombang ambing oleh angin malam disertai tatapan tajam dari kedua mata indahnya.
Tak
Tak
Bunyi high hills yang dikenakan olehnya memecah keheningan malam, bersuara keras dengan sedikit hentakan saat membentur porselen marmer yang di injaknya.
Dia masuk begitu saja kedalam rumah, tanpa perlu ijin dari sang pemilik rumah, bahkan hanya dia yang bisa leluasa keluar masuk dari rumah Maheswara.
Tanpa menunggu lama, dia langsung mengayunkan kakinya masuk, kedua matanya tajam menatap seisi ruangan dilantai dasar.
"Sekretaris Kim? Kau juga datang kemari?" Dave yang tengah duduk di mini bar membalikkan tubuhnya saat melihat seseorang masuk dengan bunyi high hills.
Kim mengayunkan kaki ke arahnya, dengan sedikit menyunggingkan senyuman.
"Ya aku datang kemari untuk meminta bantuan padamu tuan Dave!"
"Bantuan ku?"
Kim mengangguk, "Benar! Bukankah tempo hari kau sudah mengatakan ingin berteman denganku?"
"Itu benar ... lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu sekretaris Kim?"
"Temani aku ke pesta malam ini?"
Dave tersentak, wanita cantik namun selalu ketus dan to the point didepannya itu berdiri anggun, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku??"
"Benar! Siapa lagi selain kau dirumah ini? Aku tidak mungkin mengajak suami orang untuk menemaniku malam ini bukan?" jelas Kim, seolah yang dia maksud disini adalah Zian yang baru saja menjadi suami orang.
"Maksudmu Zian?"
__ADS_1
Kim terkekeh, "Benar bukan ... yang aku maksud adalah dia, dia sudah menjadi suami dari seseorang, yaitu putrimu!"
"Ya baiklah ... aku tertarik membantumu!" sela Dave dengan cepat, dia tidak ingin mendengar penjelasan dari Kim lebih panjang lagi mengenai Zian dan juga putrinya. "Bisakah kau memberiku waktu padaku untuk mengambil setelan jasku di apartemen?"
Tiba tiba pintu ruangan kerja terbuka, Zian muncul dari sana dengan tatapan sinisnya.
"Kau datang kemari Kim?"
Sekretaris Kim mengangguk, "Benar ... aku ingin meminta bantuan pada tuan Dave, untuk menemaniku ke pesta."
"Benarkah? Apa kau mau Dave?"
"Tentu saja tuan Dave mau, namun dia harus kembali ke apartemen untuk mengambil setelan miliknya. Bisakah kau meminjaminya?"
Zian tersenyum, "Sure!! Kalau dia tidak keberatan memakai milikku, rasanya aku masih memiliki stock setelan yang masih baru kan Kim?"
Sekretaris Kim mengangguk, "Ya ... stock kemeja tersimpan diruangan tuan Mahesa."
"Kau benar ... ambil lah Dave! Kau bebas memilihnya."
Dave memincingkan kedua matanya ke arah Zian, dia merasa curiga bahwa ini hanya akal akalan Zian semata, untuk meninggalkan mereka berdua agar tidak mengganggunya.
"Ayo tuan Dave, aku akan memilihkan setelan yang cocok untukmu." Kim mengajak Dave ke kamar yang berada tidak jauh dari ruangan kerja Zian, ruangan yang tidak pernah Zian masuki, ruangan yang selama ini hanya dipakai untuk menyimpan barang barang milik Mahesa. Sang kakek dari Zian.
Zian tersenyum jahat, dia menatap keduanya dari belakang dan menunggu mereka hingga selesai dengan duduk di mini bar. Mencecap sedikit wine dari botol yang sebelumnya sudah dibuka oleh Dave.
Kim mengambil satu set setelan berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya lalu memberikannya pada Dave.
"Aku rasa ini cocok, posturmu tidak jauh berbeda dengan tuan Zian!"
"Benarkah?" Tangan Dave terulur mengambil hanger jas dari tangan Kim.
"Lalu apa yang membedakan kami sekretaris Kim?"
"Kau lebih tahu tentang hal itu tuan Dave!"
"Haissh ... bukankah kita sudah berteman? Kenapa masih memanggilku begitu! Tidakkah kau bisa sedikit santai Kim?"
Kim mengulum senyuman, dia berusaha mengontrol dirinya dengan anggukan kecil.
__ADS_1
"Benar Dave! Kau lebih tahu masalah itu."
"Bagus Kim ... itu artinya kau benar benar menganggapku teman ... baiklah, aku akan berganti pakaianku dulu."
Dave berjalan keluar dari ruangan Mahesa, namun Kim mencegahnya, dengan tak sengaja menarik lengannya. "Tunggu ... kau bisa menggantinya di ruangan ini saja! Biar aku yang keluar dan menunggumu selesai."
Dave mengulas senyuman saat Kim berbicara dengan lengan yang masih dia pegang, tampak raut kaget dari wajahnya sendiri, "Maaf ... aku tidak sengaja!" ujarnya lagi melepaskan tangannya dari lengan Dave, setelah itu Kim bergegas keluar dari kamar.
Brakkkk
Suara tas yang dia gebrakan diatas meja mini bar dimana Zian tengah duduk.
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin terlibat apapun dengannya! Lalu bagaimana mungkin kau menyuruhku membawanya dari sini agar tidak terus mengganggumu dan istrimu!" Sungut Kim dengan kesal. "Aku harus pergi ke acara temanku saat kau mengetikan pesan sialan itu padaku!" ujarnya lagi dengan memijit keningnya dan satu tangan berkacak pinggang.
"Ayolah Kim ... hanya kau yang bisa membantuku saat ini! Aku hanya bisa mengandalkan mu Kim! Kau pasti bisa."
"Kau pasti bisa! Mudah sekali mulutmu bicara tuan Ziandra Maheswara yang terhormat,"
Zian tergelak, Kim memang kerap memanggil namanya dengan lengkap saat merasa kesal pada dirinya, namun dia tidak pernah menolak apa yang dia perintahkan, termasuk saat ini.
"Ayolah Kim! Minimal untuk malam ini, setelah itu aku tidak akan melibatkan mu!"
Sekretaris Kim berdecak, "Ini yang terakhir kalinya atau aku akan mengundurkan diri jadi sekretarismu dan pergi keluar negeri dimana kau tidak bisa memerintahku."
"Deal ...!!!" Zian mengulurkan tangan ke arahnya, baginya ancaman dari seorang Kim hanya gertakan belaka, dia tidak pernah meninggalkannya sekalipun, dan tidak akan pernah terjadi.
Kim mendengus lalu menepis tangan bosnya itu, "Kau memang nakal! Dan kakek selalu tahu seperti apa dirimu. Hingga aku tidak bisa mengatakan tidak padamu."
"Bukankah itu bagus Kim! Rencana ini juga akan memperjelas apa yang kau rasakan padanya, kenali saja dia dan kenali hatimu Kim. Mungkin dia cocok untukmu."
"Cih ... aku ku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Zian tergelak kembali, seiring keluarnya Dave dan berjalan kearah mereka.
"Setelan itu sangat cocok untukmu Dave! Serius." ujar Zian saat Dave mengancingkan tiga kancing pada jas yang dikenakannya.
"Berhentilah memuji ... aku tahu maksudmu Zian!"
Zian menggelengkan kepalanya, "Aku tidak punya waktu luang untuk membalas semua keusilanmu Dave, aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan." timpal Zian beranjak dari duduknya. "Selamat bersenang senang ayah mertua ... Kim!" ujarnya lagi melambaikan tangan lalu menghilang di balik pintu ruang kerja dengan terkekeh.
__ADS_1