
"Jangan lari atau kau akan menyesal."
"Dasar pria tua pemaksa, suka mencampuri urusan orang lain." gumam Agnia dengan menatap tajam pada Zian, sedangkan pak Ali terlihat santai dan juga terkekeh.
"Seperti nya kau dalam masalah besar gadis kecil, aku sudah menduga kau ini sangat berbeda dengan yang lain."
Zian merogoh dompet dari saku celananya, dan
mengeluarkan semua uang yang ada didalamnya, lalu memberikannya pada Pak Ali, "Kalau kurang, kau boleh mencari ku!!" ujarnya dengan menempelkan uang tersebut pada dada Pak Ali dengan kasar, lalu dia berbalik dan menggenggam tangan Agnia, membawanya masuk ke dalam mobil lalu melaju dari sana.
Pak Ali terlihat menggelengkan kepalanya, "Anak muda yang terbakar api cemburu!!" ujarnya memberikan uang tersebut pada pengawalnya.
"Kita pulang, seperti nya gula darahku naik!"
.
.
Agnia mencebikkan bibir, dengan tangan melipat di depan dada, bagaimana bisa dia ketahuan pada saat seperti itu, menambah penilaian Zian terhadap nya bertambah buruk, diam-diam dia melirik Zian yang masih mengatupkan bibirnya, dengan rahang yang mengeras menahan marah.
Begitu pula dengan Zian yang melirik Agnia, lalu dia menghembuskan nafasnya panjang.
"Aku akan menghabiskan semua uangku agar kau berhenti bekerja seperti itu Nia! Apa yang kau inginkan Hem?"
Agnia menoleh ke arahnya dengan tajam lalu membuang muka ke arah sebaliknya, Kata-katanya selalu nyakitin.
"Kau dengar aku Nia? Jangan berpura-pura tidak mendengarnya!"
Gadis itu hanya mendengus, membuat Zian kembali menghela nafas, "Kau ini keras kepala sekali Agnia! Dasar gadis liar, aku menyelematakanmu lagi."
Brakk
Agnia menendang dashboard, "Memangnya kenapa? Apa aku harus berteriak, joged- joged atau tepuk tangan sambil bilang, terima kasih Om, pahlawanku ... karena lagi-lagi nyelametin aku dari pria-pria tua! Begitu?" ujarnya dengan tatapan tajam. "Kenapa kau peduli padaku? Bukankah urusan kita sudah selesai?"
Deg
Zian berseringai, persoalan apa pun akan menimbulkan perdebatan jika bersama Agnia, dan dia selalu lupa kalau Agnia bukanlah gadis penurut.
"Apa yang kau lakukan itu salah Nia! Lebih baik kau berhenti sekarang!" sentaknya.
Bagaimana gue akan berhenti, memulainya saja belum.
Zian melajukan mobilnya dengan cepat, lalu dia masuk ke dalam basement sebuah hotel, menghentikan mobil lalu keluar, berjalan ke arah pintu membukanya lalu merangsek tangan Agnia dan menariknya kasar.
"Lepas ... kau mau apa?"
__ADS_1
"Zian brengsekk!!"
Zian tidak menggubris perkataan Agnia, dia terus memegangi tangan Agnia dengan keras, lalu membawanya masuk ke dalam lift,
"Apa kau tidak memikirkan nasib keluarganya?" Ujarnya dengan menurunkan intonasi suara.
Agnia mendengus kasar,
"Kau tidak tahu apa-apa Zian, dan tidak udah so peduli padaku?!"
Ting pintu lift terbuka, Zian menarik tangan Agnia hingga ke satu pintu, lalu membawanya masuk ke dalam.
Brakk
Pria yang tengah di liputi marah itu menghempaskan tubuh Agnia ke atas ranjang, dengan kedua kilatan tajam menatap Agnia.
"Iya aku tidak ingin peduli padamu lagi, tidak akan mencampuri urusanmu lagi!!" ujarnya dengan membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Zian ... apa yang kau lakukan?" tanya Agnia dengan terus mundur hingga ujung sandaran ranjang.
"Bukankah sikapku salah karena masih peduli padamu? Maka aku akan melakukannya hari ini," ujarnya dengan melempar begitu saja kemeja yang dia kenakan, membuat dada bidang miliknya terekspose dan Agnia semakin takut.
"Kau sudah gila!"
Brukkk
Agnia sontak terhenyak saat dirinya seorang berada dibawah Kungkungan pria yang tengah emosi itu, bahkan jarak mereka sangat dekat, dengan hidung yang nyaris bersentuhan.
"Aku bisa baik, tapi aku juga bisa gila! Tinggal kau pilih, mau yang mana?"
Agnia menggelengkan kepalanya, dengan mata yang sudah menganak sungai, "Jangan lakukan ini Zian ...!!"
"Kenapa Hem? Kau tidak ingin melakukannya denganku, tapi kau melakukannya dengan orang lain?"
Agnia terus menggelengkan kepalanya, dengan isak yang mulai terdengar lembut, "Aku tidak pernah melakukannya?"
"Benarkah? Mana ada yang mau mengaku!" ujarnya dengan membuka kancing yang menutupi tubuh Agnia bagian atas.
Agnia meremas seprei, dia tidak terima Zian memperlakukannya seperti ini, namun melawanpun tidak bisa.
"Berapa aku harus membayarmu untuk ini?"
Zian menenggelamkan kepalanya di ceruk putih milih Agnia, mengecupnya sedikit demi sedikit.
Wangi ini ... wangi yang membuatnya candu, membuatnya terus ingin menghirupnya dalam-dalam, sementara Agnia membuang wajah ke arah lain, "Lepaskan Zian, aku akan membencimu seumur hidupku jika kau melakukan hal ini padaku!"
__ADS_1
"Kau fikir aku peduli Nia?"
Ujarnya dengan menyusupkan tangan dibalik kancing yang sebelumnya dia buka.
jantung Agnia berdebar lebih kencang, dengan dada yang turun naik dengan hebat, air yang menganak sungai itupun berhasil terjun bebas, membasahi seluruh wajahnya.
"Zian aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!!" lirihnya dengan terus berusaha berontak.
"Terserah, aku tidak akan peduli! Kau memang layak mendapatkannya Nia."
Agnia terus meronta, namun jangankan seimbang, tenaga Agnia tidak ada apa-apanya dibandingkan Tenaga seorang pria yang tengah marah, dengan has rat yang membelenggunya.
"Berhentilah menangis Nia!!" Ujarnya dengan menyambar bibir Agnia dengan kasar, lalu melahapnya rakus.
Walaupun Agnia berusaha memberontak sekuat tenaga, namun tidak membuat Zian menghentikan kegiatannya.
"Aku mohon ... jangan lakukan itu Zian! Jangan....!" Lirihnya dengan suara Isak yang semakin mengencang.
"Aaahhhgggkk!!!"
Zian bangkit dari tubuh Agnia begitu saja, lalu dia masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya, " Shhitttt ... apa yang aku lakukan?" ujarnya dengan menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Kau tidak waras Zian!!" gumamnya dengan tangan mengepal.
Brakk
Dia meninju cermin kaca hingga pecah berantakan. Sementara Agnia yang tengah perapihkan pakaian melonjak kaget, dia sangat ketakutan, hingga berfikir untuk pergi dengan segera, namun, pintu kamar telah terkunci, dan dia tidak bisa membukanya.
Tubuhnya merosot ke lantai, dengan menenggelamkan kepalanya di antara lutut, dia menangis sejadinya.
Ceklek
Setelah hampir 45 menit Zian berada di kamar mandi, akhirnya dia keluar, kedua matanya langsung tertuju pada Agnia yang tengah bertelengkup dengan memeluk lututnya di dekat pintu.
Zian menghela nafas, lalu menghampirinya, dengan bertumpu pada satu lututnya dia menghadap Agnia.
"Maafkan aku Nia!! Tidak seharusnya melakukan hal yang tidak pantas seperti ini, aku memang bodoh!"
"Aku memang salah, maafkan aku Nia! Tidak seharusnya aku mengusirmu tempo hari, dan membiarkanmu hidup seperti ini! Kamu mau kan maafin aku?"
"Dan aku sangat marah setelah melihatmu pergi dengan pria tua yang pantas menjadi kakekmu itu!"
"Aku tidak melakukan apapun dengannya, aku hanya mendengarkan dia bercerita tentang hidupnya, anak-anaknya juga mendiang istrinya, aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan itu!" Sentaknya dengan mendorong tubuh Zian ke arah belakang
"I hate you Zian!"
__ADS_1