Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 157


__ADS_3

Sesaat Agnia menatap ke luar, dimana Dave duduk dengan wajah lesu, Kim menunggu jawaban nya, dia juga merasa lega, karena Dave tidak bertindak jauh seperti tadi.


"Apa boleh?" Agnia menoleh kearahnya, Kim mengangguk, dia yang memang melaju dengan pelan itu kemudian menepi.


"Tentu saja."


Sebelum Agnia keluar, dia menarik nafas panjang terlebih dahulu, seolah mengumpulkan keberanian dan keyakinan sebelum berhadapan dengan ayahnya itu. Tak lama dia turun, perlahan lahan berjalan mendekat.


Dave yang tertunduk lesu itu kini menatap bayangan seseorang yang menutupi teriknya matahari. Kemudian menatap sepasang sepatu berwarna putih, lalu mendongkak ke atas.


"Nia?"


Dave berhambur memeluknya, dengan Isak tangis yang terdengar menyedihkan, dia seakan tidak peduli orang orang berlalu lalang yang melihat ke arahnya. Dave tetap memeluknya bahkan mengeratkan pelukannya.


"Nia maafkan Daddy! Daddy sayang Nia, sayang sekali. My sweetheart." lirihnya dengan terus mengelus rambut dan punggung Agnia. "Mungkin kesalahan Daddy dimasa lalu tidak termaafkan, tapi Daddy benar-benar menyesal.


Agnia masih terpaku ditempatnya, dia sama sekali tidak bergerak, apalagi membalas pelukan ayahnya itu, gadis itu juga menahan diri sekuat tenaga agar tidak menangis, walau hatinya merasa teriris karena mendengar suara lirih penuh penyesalan dari Dave.


"Nia bicaralah sayang! Daddy tahu, dilubuk hatimu yang terdalam, kamu juga menyayangi Daddy bukan?" ujarnya dengan kedua tangan memegangi bahu putrinya itu.


Kim memerhatikan mereka dari balik spion, dia juga heran kenapa Agnia menghampiri Dave namun tidak mengatakan apapun, dia hanya diam dan membisu. Akhirnya dia turun dari mobil dan berjalan menghampiri mereka berdua.


"Nia ... waktunya pergi!"


Agnia sekilas menoleh, lalu berjalan mundur dengan perlahan, masih tanpa kata, tanpa kembali melihat ke belakang, dia berjalan dan masuk kedalam mobil. Kim menganggukkan kepalanya ke arah Dave.


"Pulanglah tuan Dave, beristirahatlah!"


Tak lama Kim pun berbalik, berjalan masuk kedalam mobil, meninggalkan Dave yang tertegun melihat putrinya sendiri mengacuhkan dirinya sedemikian rupa.


Mobil kembali melaju, setelah beberapa waktu, Agnia tak lagi menahan dirinya sendiri, kini dia menangis sesegukan dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Kim menoleh ke arahnya sebentar, lalu menyodorkan tissu.


"Sekretaris Kim? Apa Nia sudah jadi anak durhaka? Nia ingin punya keluarga yang utuh kayak orang lain!

__ADS_1


"Tidak Nia, aku mengerti sikapmu pada tuan Dave karena kamu menyayanginya, kamu hanya perlu memberikan waktu agar dia bisa berubah. Memberi kesempatan padanya agar membuktikan dirinya menjadi Daddy yang kau inginkan. Bukan begitu?" ungkapnya dengan menepikan kembali mobilnya. "Maaf kalau aku salah menebak, aku juga tidak punya keluarga dari kecil, keluargaku hanya kakek Zian dan tuan Zian sendiri." ungkapnya lagi.


Agnia mengangguk pelan, perlahan dia menyusut air matanya, "Sekretaris Kim benar, walau Nia benci Daddy, tapi Nia juga menyayanginya, Nia hanya ingin Daddy tahu, dan Daddy mengerti, juga Daddy berubah!"


Kim mengelus bahu gadis yang masih terisak itu dengan lembut. "Kamu gadis yang hebat Nia!"


.


.


Malam hari, Dave kembali ke hotel tempat dia menginap, dengan pakaian dan rambut berantakan, juga bau alkohol yang menyengat dari tubuhnya. Dilobby hotel, Arkhan berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang, menatap tajam putra satu satunya yang baru turun dari mobil dengan sempoyongan.


Seorang petugas lobby berjalan mendekatinya hendak membantu, namun Arkhan mencegahnya.


"Biarkan dia!" serunya membuat petugas itu mundur seketika.


"Dad?" ucap Dave saat melihat Arkhan.


Plak


Plak


"Kau memang tidak berguna Dave! Anak tidak berguna!! Aku malu mempunyai anak seperti mu, hanya bisa mencoreng nama baik keluarga."


"Terserah Daddy bicara apa! Aku sudah tidak peduli. Selama ini Daddy selalu mengatur hidupku, semuanya tanpa kecuali!" Dave berjalan lurus menuju lift mengabaikan Arkhan.


"Kau memang tidak tahu berterima kasih! Aku mengatur semuanya agar hidupmu tentram Dave, kau sendiri yang menghancurkannya!"


"Kau tahu apa tentang hidupku Dad? Kau justru membuatku menjadi seorang pengecut! Aku bahkan meninggalkan seorang anak tak berdosa demi memenuhi keinginanmu, kau yang membuatku menjadi seorang pecundang! Tidakkah cukup Dad? Hidupku sudah hancur, semua yang aku cintai pergi."


"Itu karena kebodohanmu sendiri Dave!"


Dave keluar dari lift, dengan Arkhan yang terus mengikuti dari belakang, hingga mereka masuk kedalam kamar hotel dan masih terus berdebat.

__ADS_1


"Kebodohan ku adalah aku tidak bisa menolak semua keinginanmu Dad! Tapi tidak untuk sekarang, aku tidak mau lagi."


"Kau akan membiarkan Zian menguasai perusahaan begitu saja? Termasuk putrimu sendiri? Kau memang bodoh Dave, kau sama seperti ibumu, manusia bodoh!"


Dave tidak menyangka, ayahnya yang keras dan juga egois melebihi dirinya sendiri sampai hati menghina ibunya yang tidak lain istrinya sendiri yang bahkan sudah meninggal.


"Jangan kau hina ibuku! Tidaklah cukup kau membuatnya menderita semasa hidupnya karena keegoisan mu?" Dave merangsek kerah kemeja ayahnya.


Arkhan menepis tangan putranya dari bajunya, "Kau bicara seperti itu seolah kau juga tidak egois Dave!"


Dave tergelak dengan suara yang menggelegar, "Sikap egoisku sama seperti mu, tidak lah kau sadari itu? Kita sama sama egois, dan wajar jika semuanya hancur tanpa tersisa sekarang bukan?"


Arkhan mengepalkan tangannya, dia tidak habis fikir akan sikap Dave sekarang ini, dia tidak lagi patuh seperti biasanya, menceraikan Laras, menikahi Karina walaupun dia mati matian menolaknya. Dan sekarang, membiarkan perusahaan jatuh ke tangan Zian begitu saja.


"Semuanya pergi dad! Jasmine dan anakku, Nia putriku, Karina, bahkan perusahaanku. Tidaklah Dad sadar semua karena keegoisan kita? Terlebih Dad yang selalu memaksakan kehendak Dad padaku!" Lirih Dave dengan membanting kan tubuhnya disofa.


Membuat Arkhan geram melihatnya, "Kau sendiri penyebabnya Dave, jangan salahkan aku!"


Dave kembali tergelak, "Ya semua salahku dad... salahku! Selalu salahku, Dad tidak pernah salah, dan semua kehancuran ini salahku, tapi aku tidak berniat mengambilnya kembali, biarkan semuanya hancur, semuanya Dad," Dave mulai meracau, selain efek alkohol, dia juga sudah tidak peduli apa yang dikatakan ayahnya itu, memang benar, sikap otoriter ayahnya juga membuat diri dan hidupnya berantakan, semua keinginan ayahnya yang harus dia penuhi sedari kecil, tanpa bertanya, tanpa meminta pendapatnya, bahkan memutuskan segala sesuatu tanpa persetujuannya, semua mempengaruhi kehidupan Dave, hingga akhirnya saling menyalahkan satu sama lain.


"Aku menyesal mengandalkan mu Dave!"


"Aku tidak peduli lagi Dad! Aku hanya ingin putriku, aku hanya ingin Nia kembali menganggap ku ayah, aku tidak akan peduli lagi denganmu." ucap Dave dengan meracau kemana mana.


"Aku juga tidak akan peduli pada hidupmu Dave, aku akan kembali ke Singapura!"


"Pergilah dad! Pergi urus perusahaanmu dan keinginanmu yang lain, tidak usah hiraukan aku. Aku tidak akan kembali kesana."


.


.


.

__ADS_1


Hai readers, maaf yaa othor belum sempat bales komen, up pun hanya 1 bab, karena selain dikejar RL, othor juga gak enak badan.(Padahal udah tak kasih royko tetep gak enak)wkwk.


Makasih semua atas dukungannya yang luar biasa, gak bosen like dan komen walau jarang dibalas, juga gift dan vote tanpa diminta...lope lope Segede gaban buat kalian.❤️


__ADS_2