Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 73


__ADS_3

Karena gertakan Zian akhirnya Agnia menurut dengan kembali ikut pulang bersamanya, walaupun dirinya masih sakit hati karena Zian sempat mengusirnya.


Agnia masuk kedalam mobil, sementara Zian bergegas mengelilingi pintu sebelahnya, dan Regi hanya menatap mereka berdua hingga mobil yang dikemudikan Zian menghilang dari pandangannya.


Suasana didalam mobil pun dirasa cukup menegangkan, walaupun sebenarnya Zian hanya asal menggertak saja. Dia merogoh sesuatu dari dalam saku nya dan memberikannya pada Agnia.


"Ini ponselku!" ujarnya dengan merebut kasar dari tangan Zian.


"Iya ponselmu!" lirih Zian dengan seutas senyum ke arahnya.


"Jadi gak ketinggalan di hotel?"


Zian menggelengkan kepalanya, dengan garis lurus dari bibirnya, "Jelas ketinggalan makanya ponselmu berada di tanganku!"


Gue gak ngerti sumpah magsudnya apaan.


Agnia hanya mengernyitkan dahi, Zian kemudian kembali menoleh, "Magsudnya kamu ketinggalan ponsel, tapi aku melihatnya dan membawanya! Mengerti?" ujarnya dengan lembut, seolah tahu isi hati Agnia.


Makin aneh Lo, tadi marah-marah sekarang sok baik begitu,


"Berarti dari awal ponsel ini emang udah sama Om?"


Zian mengangguk,


Sialan kan apa coba magsudnya


Agnia kembali terdiam, sementara Zian mengukir sedikit senyum. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ini suasana hatinya berubah karena Agnia yang ikut serta dengannya.


Zian menghentikan mobilnya saat sampai dirumahnya. Rumah yang hanya ditinggali olehnya sendiri, yang rencananya akan ditempati olehnya dan Anindita jika mereka sudah menikah nanti.


"Rencananya aku akan pindah rumah, ke rumah yang lebih kecil dari ini, bagaimana menurutmu?" tanyanya.


Hening


Tidak ada suara sahutan dari seat disebelahnya, Zian menoleh, "Astaga ... ternyata tidur!"


Entah dari kapan Agnia tertidur, Zian akhinya menggendongnya masuk, lalu naik dan membuka pintu kamar yang sempat ditinggali Agnia.


Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan perlahan, lalu menyelimutinya.


"Maafkan sikapku yang berlebihan dan juga sering keras terhadapmu, aku juga tidak tahu kenapa aku jadi begini, semoga kamu mengerti." ujarnya dengan mengelus pipi Agnia yang tengah terlelap.


Setelah mematikan lampu kamar, Zian keluar dan masuk kedalam kamar nya sendiri.


Tok


Tok


"Zian buka pintunya ... Zian!"


Samar-samar terdengar suara orang yang memanggil nya diluar, Zian menyibakkan tirai kamar dan melihatnya.


"Dita? Mau apa lagi dia datang kemari?" ujarnya dengan menutup kembali tirai.


Zian masuk kedalam kamar mandi dan menghiraukan Dita yang masih terus berusaha mengetuk pintu.


"Zian kemana sih, aku lihat mobilnya sudah ada , dia pasti ada didalam!"


Wanita dengan tinggi tubuh yang semampai itu merogoh ponsel dan berusaha menghubungi nomor Zian. Namun ternyata nomornya tidak dapat dihubungi.


"Sial ... Zian sepertinya memblokir nomorku! Nomornya tidak bisa di hubungi lagi." gumamnya dengan kesal.


.

__ADS_1


.


Keesokan pagi


Agnia terbangun dikamar yang ditempatinya dirumah itu, tidak ada yang berubah dari sejak dia terakhir meninggalkan nya, bahkan pakaian-pakaian pemberian Kim masih tergantung rapi di dalam lemari.


Dengan langkah gontai, Agnia masuk kedalam kamar mandi, untuk melakukan ritual bersih-bersihnya. Ada yang berbeda disana, botol shampo racikan sendiri itu kini penuh, Agnia mengernyit, mencoba mengingat terkahir kali memakainya, "Kok penuh, ini kan udah kosong pas gue keluar dari sini! Apa Om Zian yang bikin?" ujarnya dengan menghirup aroma sabun hotel yang dicampur dengan bahan aroma terapi yang menjadi khasnya, dengan aroma yang sama seperti racikannya sendiri.


Gadis itu mengerdik lalu melanjutkan kegiatannya sampai selesai. Tak lama kemudian, dia pun keluar dengan menggulung rambutnya ke atas kepala.


"Astaga gue lupa! Gimana gue pergi kesekolah! Sedangkan baju seragam dan juga tas gue ada di apartemen Cecilia, gue juga sampe lupa ngabarin Cecil, mereka pasti mikir gue gak jadi nolongin dia!" gumamnya dengan menatap pantulan dirinya di kaca.


Tok


Tok


Suara pintu kamarnya diketuk, Adnia membukanya dan melihat bibi pelayan rumah sudah berdiri dihadapannya dengan memegang satu stel seragam sekolah.


"Bibi...?"


"Non Nia ... apa kabar Non? Masih terlalu pagi lho Non ini!"


"Baik Bu, bibi sendiri gimana? Iya nih Nia mau ke rumah temen Nia dulu ambil barang Nia."


Wanita paruh baya itu tersenyum, "Baik ... baik, semua baik Non, yang gak baik itu menghuni rumah ini justru." dia terkekeh, "Maaf Non, bibi lancang bicara!" ujarnya lagi dengan menepuk mulutnya sendiri.


Agnia mengernyit tidak mengerti apa yang dia maksud namun juga enggan bertanya lebih lanjut. " Oh iya itu seragam Nia kan?"


Bibi mengangguk, "Iya Non! Bibi simpan ya dilempari yaa."


"Oh gak usah bi, Nia mau pake langsung aja, makasih ya Bi, tapi kok ada disini?"


"Lho memangnya tuan gak bilang?"


"Tuan Zian kan yang minta dikirim dari sekolah Non sendiri kemarin, katanya punya Non sudah kekecilan. Nih udah semua bibi siapkan," ujarnya dengan menunjuk boks baju yang berisi seragam olahraga dan pakaian lain untuknya.


Agnia bertambah mengernyit, "Coba Bi, Nia mau lihat,"


Benar saja, ukuran baju seragam itu lebih besar dibandingkan yang selama ini dia pakai, walaupun tidak terlalu kebesaran, namun cukup membuat aneh bagi Agnia yang selama ini memakai seragam yang nyaris ketat, memperlihatkan lekuk tubuh yang semakin bertumbuh pesat.


Tuan Zian sengaja minta dikirim pihak sekolah.


Agnia menghela nafas, "Apaan sih maksudnya? Kebiasaan, sok perhatian lagi." gumamnya.


"Ya sudah, Bibi tinggal dulu ya Non, mau menyiapkan sarapan."


Agnia menganggukkan kepalanya, "Iya Bi ...!"


Setelah beberapa saat Agnia keluar dengan seragam sekolah lengkapnya, lalu melirik ke arah pintu Zian dan bergegas turun. Dia berniat langsung pergi ke sekolah tanpa memberi tahu Zian.


"Udah siap ternyata?" seru Zian yang baru saja keluar dari kamarnya.


Agnia menoleh, menatap Zian yang hanya memakai t-shirt berwarna putih dan jeans berwarna biru.


Agnia mengulas sedikit senyum di bibirnya, itu pun karena Zian yang memasang senyum lebar dipagi hari, membuat Agnia lagi-lagi merasa perubahan Zian yang terlalu cepat itu sangatlah aneh.


"Ayo sarapan dulu! Malah bengong," ucapnya dengan menarik lembut jemari Agnia dan menggenggamnya sepanjang turunan tangga menuju ruang makan.


"Om ... Om gak gila kan?"


Zian mengernyit, "Kok gila?"


Agnia melepaskan tangannya, "Ya hari ini Om beda aja, apa Om salah minum obat!"

__ADS_1


Zian terkekeh, "Jadi Nia maunya Om baik apa galak Nih! Galak salah, baik juga malah dibilang gila. Dasar kamu tuh yaa!"


Eeeh ... dia malah senyum-senyum.


Batin Agnia saat melihat Zian yang terlebih dahulu duduk di meja makan.


Agnia menarik kursi di hadapannya, masih dengan menatap heran ke arah Zian yang tampak berseri-seri, mengambil sepotong roti, mengolesinya dengan selai stobery lalu menyimpannya di piringnya.


"Makan yang banyak! Biar gak jajan sembarangan, apalagi jajanan kantin yang serba pedas!" ujarnya dengan kembali mengambil selembar roti untuknya sendiri.


Agnia yang masih terheran semakin heran karena sikapnya itu. Tapi juga dia akhirnya memakan roti yang telah disiapkan Zian.


"Terima kasih!" ujar Zian dengan tersenyum, sebagai cibiran karena Agnia tidak mengucapkan apa-apa.


"Ah ... eeeh ... makasih!" ujarnya tergagap, setelah paham jika Zian menyindirnya.


"Makan yang banyak! Susunya juga,"


Senyum itu masih terpasang jelas di wajah Zian yang berseri-seri, membuat ketampanan nya bertambah. Dengan gurat rahang tegas, bentuk hidung yang lancip, dan mata dengan bulu agak lentik, iris hitam tajam, alis tebalnya. Pandangannya jauh lebih meneduhkan dari kemarin. Sikapnya pun berubah drastis.


Agnia masih belum percaya, jika dihadapannya itu adalah Zian, pria pemaksa yang suka seenaknya bicara.


"Nia ... makan rotinya! Kamu mau terlambat ke sekolah?"


Agnia mengerjapkan mata, tersadar jika dia melamun karena perubahan Zian. Dia pun melanjutkan kegiatan sarapannya sampai habis.


"Kita pergi sekarang?"


"Nia pergi sendiri aja Om! Om Zian emangnya gak ngantor?"


"Ke kantor lah, tapi setelah mengantarmu ke sekolah."


"Ya udah Nia bisa pergi sendiri!"


"Tidak Agnia, biar Om yang nganter, Nia duduk manis, biar Om yang nganter oke?"


"Ta___"


"Jangan membantah lagi." ujarnya beranjak dari duduk.


"Udah Non, gak apa-apa, asal kan nurut, tuan Zian itu sebenarnya baik, baik sekali."


Agnia tersentak, "Bibi, bikin kaget aja!" ujarnya setelah melihat bibi pelayan sudah berada di belakangnya.


"Maaf Non, tapi bibi ikut gemes lihat Tuan yang tampak senang itu. Wajahnya bikin adem." jawab nya dengan telapak tangan menempel di dadanya.


"Ada-ada aja bibi ini! Ya udah Nia pergi sekolah ya Bi."


"Iya Non ... hati- hati yaa!"


Agnia keluar dari rumah, melihat Zian yang sudah berada di mobil yang tengah menyala, Agnia masuk dibelakangnya dengan keraguan.


"Nia ... duduk didepan! Aku gak mau dikira supir mu!" ujarnya tanpa menoleh.


"Sepertinya memang bener, Om salah minum obat deh!"


.


.


.


Terima kasih buat yang setia nungguin, Author minta maaf belum bisa kasih yang kalian minta untuk up yang banyak. Semoga kedepannya bisa yaa Hihihi

__ADS_1


Selalu dukung author yaa❤️


__ADS_2