
Zian mengulas senyuman, kedua maniknya meneduhkan. Perlahan dia ikut naik ke atas ranjang, merentangkan lengannya dan menepuknya pelan. "Kemarilah baby."
Agnia beringsut, terbaring dengan berbantalkan lengan Zian, tubuh kekar nan hangat disampingnya.
Tangan kiri Zian melingkar di pinggangnya, membuat kehangatan tubuhnya semakin menjalar. Sangat nyaman.
Gadis itu diam diam menatap, namun Zian sudah memejamkan kedua matanya.
"Tidurlah ... aku sudah berjanji tidak akan mengganggumu sampai ujian, dan itu tinggal sehari lagi besok." desisnya dengan masih terpejam.
"Hm ... besok Nia hanya satu pelajaran."
"Ok ... good lucky baby! Aku yakin kamu bisa lulus dengan nilai terbaik."
"Itu juga karena kau membantuku kan?"
Zian mengulas senyuman, walaupun kedua matanya terpejam, "Kalau begitu kau harus memberi hadiah untukku nanti."
"Hadiah?"
Zian mengangguk, dia membuka kedua matanya perlahan, lalu membisikinya sesuatu,
"Kita akan melakukannya sepanjang malam!" bisiknya pelan hingga kedua mata Agnia membola.
"Itu sih bukan hadiah!"
Zian semakin merekatkan pelukannya, seolah tidak ingin Agnia terlepaskan dari pelukannya.
"Itu hadiahku karena aku bisa menahannya hanya unyukmu baby!"
"Iiihhh ... jadi kalau sama yang lain gak bisa gitu?" ujar Agnia dengan mencubit perut Zian. "Aahh ... aku lupa kalau dulu kau itu---"
"Sudah jangan dibahas! Kita hidup maju ke depan, dan kamu masa depanku sekarang baby!"
Agnia mendengus, "Iiihhh gombal banget nih om om!"
Zian tergelak, "Aku om om tapi tidak pernah kalah dengan yang lebih muda, sekalipun itu Regi!"
"Iiihhh kok Regi lagi?"
"Terus siapa lagikalau bukan Regi? Adam yang diam diam akan menciummu di perpustakaan ...? Payah."
Agnia sontak kaget, dia menengadahkan kepala ke arah wajah Zian, "Adam? Kapan dia mau nyium Nia? Jangan ngadi- ngadi sayang."
"Hm ... saat kau tertidur di perpustakaan,"
Agnia mengaruk kepalanya karena dia tidak ingat sama sekali, bahkan dia tidak tahu Adam datang ke perpustakaan. Oh jadi orang yang dimaksud itu Adam, terus kalau dia tahu gue nyium Regi gimana.
"Tapi kan tidak jadi!"
"Memangnya kamu ingin?" Zian membola dengan tangan menggelitik pinggangnya, "Katakan kamu ingin dia menciummu baby?"
"Iihhh ... geli!"
"Kalau begitu katakan."
"Gak mungkin lah Adam berani nyium Nia, gak kayak kamu, nyosor nyosor!" jawabnya dengan menunjuk pipi Zian.
__ADS_1
"Itu sudah jelas karena kita...."
"Udah ah ... mau tidur! Kau kan bilang kita berada di masa depan,"
"Dasar nakal! Ya sudah kita tidur saja." ujar Zian dengan menutup kedua maniknya. Agnia mengangguk, dia pun tahu Zian tengah lelah karena pekerjaannya yang menumpuk, akhirnya dia memilih memejamkan mata untuk menyusulnya ke alam mimpi.
Kecupan hangat terasa di pucuk kepalanya, saat Agnia menutup mata, "Good night baby!"
"Good night my superman." Bibir Agnia tersenyum tipis dengan tangan yang ikut melingkari pinggang Zian.
Keesokan pagi
Kedua manik Agnia perlahan mengerjap, ranjang tempatnya terbaring terasa dingin, dia meraba ke arah samping, dimana Zian semalaman memeluknya. Namun tidak ada, disampingnya kini telah kosong.
"Kemana dia?"
Agnia turun dari ranjang, dan menemukan secarik kertas diatas nakas dengan segelas susu.
'Baby ... aku pergi duluan ke kantor, kalau kamu sayang aku, habiskan susunya ok!'
Tulisan Zian singkat dan jelas, dan tentu saja norak.
Agnia mengulas senyuman, dengan mengambil gelas berisi susu coklat itu,"Norak banget sih ih!" ujarnya lalu menenggak segelas susu coklat itu hingga tidak tersisa.
"Tapi gue juga bego! Mau aja kan disuruh habisin." gumamnya dengan menatap gelas kosong.
Tak lama kemudian, gadis berusia 17 tahun itu masuk kedalam kamar mandi, melakukan ritual bersih bersihnya. Hari ini hari terakhir ujian, dan dia sudah tidak sabar, hingga ritualnya dipercepat.
Setelah selesai bersiap siap, dia keluar dari kamar dan turun ke bawah, dimana sudah ada Aya di meja makan. Gadis kecil yang selalu jadi teman bermain sekaligus jadi teman bertengkar.
"Aya sudah bangun? Mau kemana pagi pagi udah rapi?"
"Aya mau sekolah?"
"Enggak ... mau cari sekolah aja!"
"Iya maksudnya cari sekolah buat nanti Aya sekolah kan?"
"Ooh ... Iya!" Deretan gigi putih diperlihatkannya, lalu menyuapkan seepotong roti dengan selai coklat.
"Iih dasar Aya!" Agnia mencubit pelan pipi Aya yang menggemaskan dan Aya menepisnya.
"Iihh ... kak Nia! Sakit ...!"
Bi Nur datang ke arahnya, memberikan boks berisi pastel kesukaannya, dan menyerahkannya. "Nih Non ... bibi bikin pastel kesukaan Non Nia, buat disekolah!"
"Makasih ya bi!" Agnia memasukkannya kedalam tas, lalu mengambil selembar roti.
"Om Zian peegi jam berapa bi?"
"Pagi pagi sekali Non! Katanya banyak urusan hari ini di kantor, sepertinya sibuk sekali semenjak sekretaris Kim pergi cuti.
"Iya Om Zian udah berangkat tadi! Terus bilang, nanti Kak Nia diantar sama supir, sekalian Aya dan ibu pergi. Iya bu ya!"
"Iya bi? Ada supir?"
"Supir kantor katanya Non,"
__ADS_1
"Aya pinter banget sih! Makin gemees deh...." ujarnya dengan menggusel kedua pipi gadis kecil berusia lima tahun itu.
"Iihhh ... kak Nia!! Nanti bedak Aya berantakan."
Bi Nur tertawa, begitu juga Agnia, "Ya gak apa apa orang cuma bedak bayi ini! Lagipula Aya pake bedak banyak amat udah kayak kue moci."
Gadis kecil itu merengut, "Biarin tapi Aya cantik!"
"Lebih cantik kak Nia! Weee ..."
Agnia bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar, Aya menyusulnya dengan roti yang masih di pegang.
Bi Nur menggelengkan kepalanya, namun juga tersenyum, merasa sangat beruntung Zian menyuruhnya dan juga putrinya tinggal di rumah ini dan memperlakukannya dengan baik, bahkan menyayangi Aya walaupun mereka kerap bertengkar. Ditambah dengan Agnia yang juga menyayanginya.
Tak lama mereka masuk kedalam mobil, dengan supir yang sudah berada di balik kemudi.
"Pagi Non Nia ... pagi Aya!" sapanya saat keduanya masuk bersamaan, namun masih saja terus bertengkar.
"Pagi pak."
"Kak Nia geser, nanti ibu dimana duduknya!"
"Ibu didepan aja Aya!"
"Sama pak supir?"
"Iya disamping pak supir!"
"Oh ..."
Agnia menggelengkan kepalanya lagi, fikirannya melayang pada ucapan Zian yang ingin segera membuatnya memiliki anak setelah lulus. Dan menatap Aya. Masa gue berantem terus nanti sama anak gue. Gak kebayang deh.
Setelah Bi Nur masuk kedalam mobil, barulah mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan pagi hari yang masih belum terlalu ramai itu, posisi sekolah tujuan Bi Nur dan Aya lumayan dekat dengan sekolah Agnia, jadi mereka bisa pergi bersama sama.
Tak lama mobil sampai di sekolah Agnia, gadis itu mencubit pelan pipi Aya sebelum turun, membuat Aya menyembulkan kepalanya dan berteriak marah, sedangkan Agnia terkekeh dengan melambaikan tangan.
"Dah Aya!"
Mobil melaju kembali, dengan Aya yang akhirnya melambaikan tangannya, Agnia berjalan masuk sambil terus melambai, hingga dia menabrak Cecilia yang sedari tadi menunggunya.
"Eeh sorry Ce!"
Cecilia berdecak, seraya membersihkan sepatunya, "Mata lo!"
"Kemana daddy ganteng lo Nia? Kok bareng Aya?" Tanya Nita.
"Ngantor! Sibuk banget!"
"Wah ... kebetulan! Kita bisa hangout bareng nih,"
Mereka bertiga berjalan masuk dengan saling menggendeng lengan. Begitu juga dengan beberapa siswa yang baru saja datang.
"Lihat entar deh! Soalnya gue ada urusan!"
"Jangan bilang lo masih ada urusan sama Regi?" tuduh Nita dengan kedua mata yang membulat.
"Apaan ih Regi! Urusan gue udah selesai sama dia! Jaketnya udah lo anterin kan Ce?"
__ADS_1
Cecilia menyunggingkan bibirnya, lalu menatap Agnia dan Nita bergantian, "Belum ...!"