
"May I kiss you?"
Kim membisu, bagaimana bisa melakukannya dengan orang yang bahkan tidak memiliki perasaan apa apa. Walaupun Kim pernah melakukannya, itu karena pengaruh alkohol.
"Maaf Dave! Aku belum bisa." ujarnya dengan melepaskan tangan Dave yang masih menggenggam jemarinya.
Dia bangkit dari duduknya, "Aku harus pergi!"
"It's ok Kim! Aku bisa mengerti, tapi aku pastikan kau tidak hanya melupakan Zian, tapi kau akan segera memiliki perasaan. Karena apa? Aku baru saja jatuh cinta padamu." ungkap Dave dengan mengulas senyuman.
Kim mengangguk, "Aku pergi dulu Dave!"
"Aku akan mengantarmu!"
"Tidak usah! Aku bisa sendiri." kata Kim dengan berjalan ke arah pintu, tangannya sudah memegang handle namun Dave lebih dulu memutarkannya, hingga tangan mereka kembali beradu.
"Tidak. Aku bilang aku bisa sendiri Dave!"
Kim keluar lebih dulu, disusul oleh Dave yang bahkan tidak peduli penolakan Kim.
"Kau kekasihku sekarang! Dan aku berkewajiban menjagamu walaupun aku tahu kau bisa sendiri!" ujarnya dengan menggenggam tangan Kim dengan paksa, membuat Kim menoleh dan menatap wajah Dave, pria itu melengkungkan bibirnya, "Iya aku tahu ... kau bisa menjaga dirimu lebih baik daripada aku menjaga diriku sendiri, dan jarak dari sini ke tempatmu juga tidaklah jauh! Tapi bisakah kau setutu saja? Tidak menolak seperti ini? Membuat hatiku sakit!" ungkapnya dengan satu tangan memegang dadanya.
Kim mendengus, namun dia akhirnya membiarkan Dave berjalan disampinganya.
"Ini menjadi hari pertama kita menjadi sepasang kekasih dan berjalan bersama. Bukankah itu menyenangkan sayang?"
Kim hanya terdiam sampai mereka masuk kedalam lift, dan turun ke bawah. Begitu juga didalam lift, Dave terus berbicara yang menurut Kim hangalah omong kosong.
"Kim ... kau mau aku panggil sayang atau honey atau apa? Katakan padaku." tanyanya saat pintu lift terbuka, mereka berjalan ke lobby perusahaan.
"Dave hentikan! Kita bukan anak remaja yang berfikir nama panggilan itu sangat penting!"
"Baiklah kalau begitu! Aku akan memanggilmu sayang mulai hari ini!"
"Terserah kau saja Dave!"
Dave mengulum senyuman, dengan terus berceloteh meskipun Kim tidak juga peduli apa yang dia katakan kerena itu tidaklah penting.
"Malam ini aku merasa senang Kim. Dan aku harap kau juga be---" ucapan Dave terjeda, dengan langkah mereka yang tiba tiba terhenti saat melihat sesosok pria tegap berdiri dengan tangan berada disaku celananya.
__ADS_1
"Zian?" Lirih Kim.
Sepersekian detik mereka saling menatap, lalu Zian melangkah ke arah mereka tanpa mengalihkan pandangannya pada Kim.
"Kim. Are you ok?"
Kim mengangguk, perlahan dia melepaskan tangannya dari genggaman Dave, namun Dave justru merekatkan jarinya. Dia tidak ingin melepaskan tangan Kim sedetikpun.
"Ya ... I'm ok!"
"Maaf!"
Kata maaf keluar dari mulut Zian, walaupun dia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.
"Kau tidak seharusnya meminta maaf padaku, aku yang salah disini."
"Dave bisakah aku bicara berdua dengan Kim?" ujarnya menatap Dave.
Dave menghela nafas, dan mengangguk kecil sebagai persetujuan, namun Kim menolaknya.
"Bicara saja disini! Biar dia juga mendengarnya, aku tidak ingin membuat kesalah fahaman." Ujar Kim menahan tangan Dave agar tidak meninggalkannya berdua saja dengan Zian, dia benar benar tidak tahu harus berkata apa jika berhadapan dengannya. Kim berfikir lebih baik Zian tidak tahu perasaannya dibandingkan sekarang, mereka seperti dua orang asing yang baru saja bertemu. Kecanggungan pun melanda keduanya.
"Sudah jelas, karena sekarang Kim adalah kekasihku Zian! Dia tidak ingin aku salah faham!" ujar Dave dengan percaya diri.
Kim tidak mampu melihat wajah Zian, namun wajahnya tegak dengan punggung lurus ke depan. Menatap jalanan yang kala itu kosong melompong.
"Kenapa harus pergi Kim? Tidakkah menyayangiku sebatas saudara seperti sebelumnya saja? Bukankah kita saudara Kim?"
Dave tertohok, ternyata dia yang salah mengerti dengan pertanyaan Zian tadi. Dia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan aku Zian."
Zian terdiam lagi, padahal banyak hal yang ingin dia ucapkan padanya, terlebih hubungan mereka yang tidak ingin berubah sama sekali. Namun lagi lagi dia juga merasa canggung.
"Kembali lah Kim! Menjadi Kim yang aku kenal. Yang tidak pernah meninggalkanku karena kita bersaudara. Maaf karena aku tidak bisa membalas perasaanmu bahkan tidak memiliki perasaan lebih untukmu." Ungkap Zian. "Dan satu lagi pekerjaanmu belum selesai! Jadi kembali lah besok ke kantor."
Sesudah mengatakan hal yang baginya pun membingungkan, Zian berbalik dan meninggalkan keduanya begitu saja, dia tidak sedikitpun menoleh kearah belakang. Dan melajukan mobil.
"Bodoh...! Kau selalu saja begitu, baru juga meminta maaf, tapi kau sudah menyuruhku masuk kantor! Aku masih cuti Ziandra Maheswara!" Seru Kim dengan suara keras.
__ADS_1
Dave menepuk nepuk bahunya pelan, dengan kedua mata yang mengikuti laju kendaraan Zian yang semakin bergerak menjauh.
"Iissh ... benar benar dia itu! Dia bahkan tidak berpamitan pada mertuanya." gumam Dave.
Sementara Kim masih mengatur nafasnya agar dia tidak sentimentil atau bahkan lebih parah dengan menangis saat itu juga. Tapi dia sedikit lega, walaupun Zian tahu perasaannya kini, dia tidak berubah.
"Setidaknya kau lega Kim!"
Kim tidak menjawabnya, dia kembali berjalan lurus dan menyebrang, Dave masih mengikutinya dan berusaha menyamai langkahnya.
"Kim tunggu aku sayang!"
Kim menoleh, "Besok pagi, berolah raga sebelum pergi ke kantot Dave! Aku tidak suka pria lelet." ucapnya lalu kembali mengayunkan langkahnya masuk kedalam gedung apartemen.
Dave mengulum senyuman, walau terdengar kaku dan datar, namun Kim mulai memperhatikan dirinya. "Kita jogging bersama?"
Namun Kim tidak memberikan jawaban, Dave harus bergegas mempercepat langkahnya dan berhasil menyamai langkah wanita yamg sulit di tebak itu sebelum semakin menjauh.
Mereka masuk kedalam lift yang terbuka, Dave menekan angka nomor lima, lantai dimana unit Kim berada.
"Kenapa kau tahu lantai unitku berada Dave?"
Dave terkekeh, "Kita bertetangga gedung Kim! Cukup mudah menemukan unitmu. Bahkan dari jendela kantor saja aku masih bisa melihatmu, begitu juga dengan dirimu. Bisa melihatku sesuka hatimu, terlebih saat ini kita sepasang kekasih yang akan menikah!"
Kim mendengus, "Itu tidak akan lama Dave ... aku akan kembali ke apartemenku. Tidak ada lagi alasanku untuk sembunyi kalau Zian sudah mengetahuinya."
Dave mengangguk, "Itu lebih baik sayang!"
Kim menoleh, begitu juga dengan Dave yang menatapnya dengan kedua alis yang turun naik.
Tapi aku masih bingung apa aku harus kembali ke kantor atau tidak! Itu pasti akan membuat kami kembali canggung seperti tadi.
Lift terbuka, Keduanya keluar dari lift dengan Dave yang menggenggam kembali tangan Kim menuju unitnya.
"Sekarang aku kembalikan kata kata yang pernah kau ucapkan dulu. Berdamailah dengan dirimu dan masa lalu mu. Dan jemputlah kebahagian mu sendiri Kim." ujarnya saat Kim membuka pintu unit.
Kim kembali menoleh, namun hanya bisa terdiam menatap pria didepannya.
"Dan tentu saja kebahagian kita Kim!"
__ADS_1