Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 203


__ADS_3

Keduanya kembali berjalan menuju ke rumah Zian, berjalan bersisian dengan Regi yang tampak terlihat tegar. Sampai di ujung jalan, mereka bertemu dengan Cecilia juga Nita yang sengaja menunggu mereka.


"Kalian di sini juga?" Tanya Agnia.


"Iya ... kita ya kita jagain__" ucapan itu terhenti karena Cecilia menyinggung lengan Nita, dia tidak mungkin mengatakan jika Zian menyuruh mereka untuk memastikan bahwa Regi tidak menyentuh Agnia sedikitpun. Regi tertawa, lagi-lagi dia menutupi kegelisahan hatinya, kesedihan yang kini dirasakannya setelah tambatan hati yang dia tunggu telah menjadi milik orang lain, dan dia harus menyerah begitu saja karena nyatanya dia sudah memilih jalannya sendiri.


"Ya udah yuk balik, gue di gigitin nyamuk nih dari tadi!" ujar Cecilia berjalan dengan menarik tangan Nita, dibelakangnya Agnia berjalan lurus diikuti oleh Regi,


"Nia ... gue boleh minta sesuatu?"


Gadis berumur 17 tahun itu mengernyit, "Apaan lo jangan minta yang aneh-aneh!"


Regi tertawa, "Enggak lah enggak aneh kok!"


"Awas lo ya macem macem!"


"Astaga Nia ... gak percaya amat sama gue! Gue gak macem-macem, palingan cuman semacam doang!"


"Apaan?"


Agnia berdebar debar, takut akan Regi yang meminta sesuatu yang tidak bisa dia berikan, atau tiba tiba minta peluk atau bahkan cium. Agnia hanya terdiam, melihat hal itu Regi kembali melirik Agnia diam diam, dengan senyuman yang dia ulas datar,


"Gue cuma pengen ketemu sama suami lu boleh kan?"


"Hah ....??"


Cecilia dan juga Nita menoleh bersamaan saat Regi mengucapkan kata suami.


"Apa Gi? Suami?"


Regi mengangguk, "Emang iya kan?"


"Sumpah demi apapun Agnia Sarasvati! Lo udah kawin ... maksud gue Lo udah nikah?" Seloroh Cecilia dengan wajah kaget dengan kedua mata membola tidak percaya.


"Emangnya kalian belum tahu?" Regi bertanya dengan wajah yang sulit diartikan, lagi lagi Agnia juga merahasiakan hal tersebut termasuk pada Cecilia dan juga Nita.


Regi menoleh ke arah Agnia, dia menjadi takut jika ucapannya akan membuat masalah baru karena nyatanya kedua sahabatnya itu pun tidak tahu.


"Sorry Nia ... gue kira mereka udah tahu!"


"Gak apa apa Gi ... emang gue berencana kasih tahu kalian hari ini!" Tukas Agnia kembali berjalan.


Kedua sahabat Agnia menganga tidak percaya, selama mereka hidup dari dompet seorang pria yang haus belaian dan juga butuh teman hiburan, tidak pernah sekali pun mereka mendapatkan tawaran sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Tidak pernah juga yang memberikan mereka jaminan masa depan walaupun hanya sekedar janji belaka, yang mereka inginkan hanya kesenangan sesaat.

__ADS_1


"Gue gak nyangka kalau Nia lebih profesional dibandingkan kita Ce! Sekali pancing, dapet ikan kakap, lah kita cuma keringetan doang." gumam Nita yang terus menoleh ke belakang. "Ya ampun, mana tadi gue sempet sempetnya ngajakin barter"


"Ya lo sih bego masih aja di piara sendiri!" timpal Cecilia tertawa.


Zian berdiri mematung didepan rumah menunggu mereka kembali, hampir satu jam dia menunggu dengan resah dan nyaris menyusulnya, namun niat itu di urungkan karena takut Agnia semakin marah dan kesal.


Pria bertubuh tegap itu menyorot, saat melihat ke empat orang remaja yang berjalan mendekati nya. Kedua matanya seketika membola saat Regi berjalan bersisian dengan Agnia.


"Gi gue harap Lo gak macem macem pas ngomong sama Zian!" gumam Agnia saat mereka sampai di depan gerbang.


"Lo tenang aja!"


Zian menghampiri Agnia dan mengulurkan tangannya, seraya melihat ke arah Regi.


"Sekarang kau tahu siapa aku! Jadi mulai sekarang berjaga jaraklah dengnnya."


"Kebetulan sekali! Aku memang ingin bicara dengan mu!" ujar Regi seutas senyum.


"Apalagi yang hendak kau tahu?"


"Gak ada yang mesti gue tahu lagi ... gue udah tahu semua." jawab Regi dengan berjalan lurus berhadapan dengan Zian.


"Hanya saja ... jika Lo tanya apa yang pengen gu e lakuin saat ini, gue bakal jawab, gue pengen pukul Lo dua kali. Satu pukulan buat Nia, satu lagi buat langkah gue yang akan gue hentikan disini."


Memang benar, dilihat dari postur tubuhnya mereka sangat berbeda, dari tenaga pun apalagi. Namun terlihat dari wajahnya Regi tampak serius.


"Kau pasti bercanda! Sudah sana, kau lebih baik pulang dan belajar yang benar!"


"Hm ... tentu! Tanpa kau suruh pun aku akan belajar!"


"Hm ...dan jangan lagi dekati Ni__"


BHUG


Pukulan Regi tepat pada wajah Zian, pria itu lengah bahkan Regi tanpa aba aba langsung memukulnya, Agnia berteriak, begitu juga Cecilia dan juga Nita.


"Udah gue bilang kan dari tadi! Itu pukulan pertama buat Nia ... Lo jaga Nia baik baik!"


"Regi??


Agnia menghampiri mereka, namun Zian melarangnya, alhasil Agnia dan kedua sahabatnya hanya melihat dari arah samping.


"Dasar bocah tengil! Berani sekali kau memukul ku!" ucap Zian dengan menyapu ujung bibirnya, "Lumayan juga pukulan mu!"

__ADS_1


Bhugg


Regi kembali memukul Zian, dia benar benar meng ambil keuntungan saat Zian lengah, "Yang kedua ini rahasia!"


Regi mengulas senyuman, dia menepuk kedua tangannya setelah memukul Zian. Agnia menghalaunya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Gue gak suka lo lakuin ini Gi!"


"Nia minggir, aku bisa mengatasi bocah itu!" Zian menarik tangan Agnia.


"Enggak ... Nia gak mau kalian saling nyakitin."


"Nia ... Lo gak usah takut! Gue hanya mukul dia dua kali, dan itu ga seberapa."


Setelah mengatakan hal itu Regi pergi begitu saja, dia naik ke atas motornya lalu melaju dengan kecepatan tinggi.


Sementara Agnia melihat luka diwajah Zian, "Gak apa apa kan?"


Zian menggelengkan kepalanya, "Gak berasa!"


"Kenapa gak dilawan sih! Minimal pukul dia sekali karena kurang ajar!" sungutnya kesal.


Zian mencubit hidungnya pelan, "Kalau aku lawan, dia bisa mati dengan sekali pukul ...!!"


"Eeh ... benar juga!" gumam Agnia, "Tapi ini beneran gak sakit?"


"Enggak Baby ... pukulan nya lumayan, tapi belum seberapa keras! Dan aku pastikan kau yang akan marah kalau aku memukulnya sampai babak belur." ujar Zian dengan mencubit pipi Agnia.


Agnia melingkarkan kedua tangan di pinggang Zian, "Makasih!! Aku minta maaf karena sikap Regi yang kurang ajar kayak tadi!"


"Hei ... kenapa malah minta maaf?" Zian merengkuhnya dan mengecup pucuk kepala sang istri.


"Astaga ... tolonglah kalian ini mengerti perasaan kami! Jangan mengumbar!" Seru Nita dengan kedua mata mendelik.


"Iya sih Om ... ehh Pak Zian, kalau mau mesra mesraan di dalam kamar aja! Jangan di depan kami ... gak kuat lihatnya."


.


.


.


Terimakasih kalian yang udah dukung othor ... lope lope deh buat kalian ... hari ini up normal dulu ya 2 bab aja hihihi ... Dan kalau sempet mampir juga di karya othor yang lain. Makasih

__ADS_1



__ADS_2