
"Tapi ...?"
"Tolong Kim, hanya kau yang bisa aku andalkan saat ini!"
Kim menghela nafas, "Tapi aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kau katakan! Aku tidak percaya kamu yang menghamilinya, selain itu, aku tidak pernah melihatmu dengan Jasmine. Kamu pasti bohong!"
Zian tertunduk, "Dave...!"
"Dave?"
Zian mengangguk, "Dave tidak mau bertanggung jawab! Dan akulah yang justru membantu hubungan mereka Kim, aku juga bersalah dalam hal ini!"
Kim sontak kaget, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dan sekarang bertambah heran dengan Zian yang justru akan bertanggung jawab.
"Tidak ... kamu tidak boleh melakukannya Zian! Kamu mau kakekmu tahu dan kembali anfal, aku tidak setuju ... kenapa tidak kamu suruh Dave yang bertanggung jawab! Kenapa harus kamu?"
"Dave sudah menikah Kim!"
"Astaga ...! Mimpi apa aku semalam, berkali-kali merasa kaget, jantungku saja hampir copot." gumamnya sendiri, karena apa yang dia dengar.
Tiga hari sudah Jasmine dirawat inap di Rumah sakit, hanya Zian yang datang menemaninya, sesekali Kim datang bersamanya, kondisi Jasmine pun berangsur membaik, dia sudah diperbolehkan pulang setelah hasil pemeriksaan menyeluruh keluar. Namun kala itu Jasmine belum mengetahui jika Zianlah yang akan bertanggung jawab.
Perdebatan kerap terjadi antara Zian dan juga Kim yang tidak setuju dengan langkah yang diambilnya untuk menikahi Jasmine, Usia yang masih terlalu muda, dan kondisi kakeknya yang mempunyai riwayat jantung menjadi alasan Kim menolak mentah-mentah ide Zian.
"Kita saja tidak tahu cara mengurus persyaratan pernikahan Zian ... bagaimana?" "Kamu yang harus cari tahu Kim, tolonglah, bantu aku!"
Usia remaja yang minim informasi dan seluk beluk persyaratan pernikahan membuat mereka kembali dilanda kebingungan, mau tidak mau Zian memberitahu kedua orang tua Jasmine mengenai keadaan putrinya, dia juga yang mengatakan akan bertanggung jawab atas semuanya tetapi tanpa sepengetahuan dari kakeknya.
__ADS_1
Walau Kim menolak setuju, dia pun tidak punya pilihan lain kecuali membantunya dari awal. Jasmine sempat menolaknya, namun Zian berkali-kali meyakinkannya kalau dia akan sungguh sungguh bertanggung jawab.
Cinta? Tidak ... tidak ada rasa cinta di segala tindakan yang dilakukan Zian, walaupun sempat menyukai Jasmine, namun perasaannya hilang begitu saja saat Jasmine menjadi kekasih Dave, sahabatnya, bodohnya dia. Semua dia lakukan hanya sebatas bertanggung jawab karena dialah yang membantu Dave saat pria berumur 20 tahun itu ingin pergi mengencaninya, dia pula yang menjadi alat agar Dave bisa keluar dari rumah dan menemui Jasmine, dia juga yang menjadi kambing hitam saat Dave ketahuan sering membolos saat kuliah hanya karena bertemu Jasmine, semua dia lakukan karena rasa bersalah yang teramat besar.
Kebencian terhadap Dave tak hanya tumbuh dihati Zian, namun juga di hati Kim, dia tidak akan pernah bisa memaafkan Dave yang pengecut yang membuat Zian harus berkorban sebanyak itu.
Zian dan Jasmine hanya menikah di kantor catatan sipil, yang hanya dihadiri oleh kedua orang tua Jasmine dan Zian hanya berdua dengan Kim. Entah dari mana kakeknya tahu soal pernikahannya itu, yang jelas hari itu juga, dimana Zian telah mengucap janji pernikahan, sang kakek tiba dengan amarah yang membuncah.
Ujian seakan belum puas menerpa gadis malang bernama Jasmine, sang kakek terus menyalahkannya karena tidak pandai menjaga diri, juga menyalahkan Zian tanpa tahu yang sebenarnya.
Hingga keluarga satu-satunya Zian itu kembali anfal dan dilarikan ke rumah sakit, tak hanya itu selang tiga hari berikutnya, sang kakek meninggal dunia. Kematian kakek Zian membuat Jasmine yang saat itu usia kandungannya berusia lima bulan mengalami depresi. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri karena menyeret Zian dalam masalahnya, hingga sang kakek meninggal tanpa tahu jika Zian tidak bersalah akan hal itu.
Seluruh dunia Zian hancur seketika, diusia mudanya dia harus kehilangan satu satunya keluarga yang tersisa, mulai belajar bisnis dan perusahaan yang ditinggalkan oleh kakeknya, juga menemani Jasmine yang tengah menjalani pengobatan mental. Lagi-lagi hanya Kim yang berada disisi, sesuai janjinya pada mendiang kakek Zian.
"Jaga dia Kim! Anggap seperti adikmu sendiri, kalian sama-sama tidak mempunyai keluarga lagi."
Ucapan terakhir dari seorang pria tua yang mengurus dirinya, membawanya dari panti asuhan karena ingin Zian kecil yang merengek tidak punya teman, menyelamatkan kehidupannya bahkan menyekolahkannya.
Agnia menangis tergugu didepan Zian yang duduk di hadapannya, kedua manik hitam menatapnya dengan sendu, saat mengingat kejadian itu.
"Maafkan aku Nia! Seharusnya aku tidak menjelek jelekkan Dave ayahmu!" ujarnya dengan tertunduk.
Agnia menatapnya, tidak ada kebohongan yang bisa dia tangkap dari raut Zian yang kini sulit diartikan, dirinya juga ikut hancur saat mendengar semua kenyataan dari Zian mengenai ayahnya sendiri, dimana ayah yang dia kira hanya mengabaikan dirinya karena perceraian yang terjadi diantara kedua orang tuanya itu justru juga mengabaikan anak yang saat itu bahkan masih didalam kandungan. Seorang anak tanpa dosa yang tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya, seorang anak yang bahkan belum melihat indahnya dunia.
Air bening terus mengalir dari ujung pelupuk matanya, dia terus menangis karena ikut merasakan bagaimana menjadi Jasmine dan anak yang diabaikan oleh orang yang notabene ayah kandungnya.
Sementara Zian terduduk ditepi ranjang, ingatannya terhadap Jasmine, kakek dan juga Dave. Ucapan Kim kala marah saat Dave menelepon Zian di hari ke tiga kematian kakeknya.
__ADS_1
Walaupun kau pergi ke ujung dunia, dosamu tetap akan mengikutimu, kau mengabaikan tanggung jawabmu dan membuat satu satunya keluarga Zian pergi. Takdir baik akan kembali pada orang baik, begitu juga sebaliknya.
"Om ... apa mommy tahu juga hal ini?" ucapnya dengan terisak, membuyarkan lamunan Zian.
"Entahlah Nia ... Aku tidak tahu, aku tidak pernah melihat ayahmu sejak hari itu, apalagi mommy mu yang sama sekali tidak aku kenal."
"Terus apa anaknya Daddy itu masih hidup?"
Zian menggelengkan kepalanya, "Dia ikut ibunya saat akan dilahirkan!" lirihnya dengan terus menatap Agnia
Gadis itu berhambur ke dalam pelukan Zian tanpa berhenti menangis, Zian yang dia kenal mesum dan galak itu ternyata mempunyai hati yang benar- benar baik, rasa peduli dan juga tanggung jawab. Sisi baik yang baru saja dia tahu, sementara ayahnya sendiri, sangat egois bahkan tidak hanya menyakiti ibunya, dia juga menyakiti wanita lain sebelum ibunya.
"Nia benci Daddy!! Benci banget, lebih baik Nia gak punya Daddy dari pada harus mengakui Daddy itu Daddy Nia!" ujarnya dengan terus terisak.
Zian mengusap punggungnya lembut, "Bagiamanapun Dave itu ayahmu, tidak ada yang bisa memutuskan hubungan antara kalian!"
Agnia mendongkak, "Bisa ... asalkan Nia nikah sama Om! Daddy akan marah besar, padahal kesalahan itu murni kesalahan Daddy, dia hanya takut rahasianya terbongkar saja dan menghancurkannya sendiri!"
Zian mencubit pangkal hidungnya lembut, "Giliran mau diajak nikah hanya karena ingin melihat Daddy mu itu marah! Dasar."
.
.
.
.
__ADS_1
Dave kurang ajarr banget kan... wkwkwk syukurin lo Dave... nyebelin sih!
Jangan lupa like dan komennya yaa bestie.. makasih.