Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 316


__ADS_3

Zian menggelengkan kepalanya, dia mengusap kening Agnia berulang kali dengan kedua mata berkaca kaca. "Sudah tidak apa apa, aku lega kau dan anak kita baik baik saja. Terima kasih karena sudah bertahan dan tidak menyerah."


"Kalian benar benar manis, saking manisnya sampai aku iri." Ujar Dokter Siska yang kembali memasukkan stetoskopnya ke dalam saku jubah putihnya, "Baiklah aku keluar saja, dan jangan dulu banyak bergerak Nia,"


Agnia mengangguk, begitu juga dengan Zian. Dokter Siska keluar namun kembali menoleh, "Malam ini, cukup berdua dulu dengan suamimu, besok aku baru izinkan keluarga yang lain melihatmu. Tidak keberatan bukan?"


"Tidak masalah, itu justru bagus!" Tukas Zian yang membuat Agnia tersenyum.


"Apanya yang bagus!"


"Tidak apa apa! Aku hanya merindukanmu Baby!"


Agnia menghela nafas, "Aku ingin lihat my baby boy."


"Hm ... Karena aku sudah melihatnya, aku mau kasih bocoran tentang bayi kita. Hidungnya mirip denganku, matanya juga, alisnya apalagi, tapi dia memiliki bibir sepertimu." ujarnya dengan ibu jari meraba bibir Agnia lembut.


"Kenapa semua mirip denganmu! Aku hanya bibir saja. Kau pasti mengada ngada."


"Enggak baby, itu benar." Zian tertawa, begitu juga Agnia.


"Hubby ...!"


"Hm ...."


"Sekali lagi maafin aku! Aku benar benar kekanak kanakan dan gak dewasa, sikapku juga!"


"Ya ... Aku mengerti! Itu memang sifat seusiamu baby, justru aku yang telah membawamu dalam situasi ini, seharusnya kamu menikmati masa muda, bukannya menjadi seorang istri dan ibu."


"Hey tuan Zian! Kenapa ngomong gitu? Nyesel yaa ... Awas aja!" Agnia mencubit lengannya keras, sementara Zian terkekeh, "Tidak ada kata menyesal saat aku bertemu denganmu Nia, mencintaimu dan menjadikanmu wanita satu satunya dalam hidupku. The last and forever."


Zian mengecup bibir Agnia sekilas, namun Agnia menarik ceruk leher Zian dan menciumnya lebih dalam.


"Tidurlah! Agar besok kondisimu segera membaik dan kita bisa melihat anak kita sama sama." Ujar Zian menempelkan dahi.


Agnia kembali tertidur setelah suster memberinya obat, sedangkan Zian tetap berada di sampingnya, dia bahkan tertidur dengan kepala menelengkup. Walaupun ranjang ruangan VVIP itu besar dan masih cukup jika dia naik disampingnya, namun Zian tidak melakukannya karena takut jika tanpa sengaja menyentuh jahitan Caesar di perut Agnia.


Hingga ke esokan pagi, Agnia membuka matanya tidak sabar, dia beranjak bangun namun malah meringis kesakitan.


"Aww .. Kenapa gue suka lupa diri!" ujarnya kembali terbaring dan mengelus perutnya.


"Baby ... Kau sudah bangun? Perutmu sakit?" ujar Zian yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Enggak kok. Gak apa apa, ayo kita ke ruangan bayi,"


"Tunggu sebentar, kau tidak bisa seperti itu. Aku akan mengambil kursi roda dulu." ujar Zian dengan cepat mencegah istri kecilnya yang hendak bangun kembali.


Namun saat Zian hendak membuka pintu, pintu itu terbuka lebih dulu, seorang suster membawa tempat bayi yang dikelilingi oleh kaca dan juga alat alat yang menggantung.


"Pagi Nia ... Gimana? Sudah lebih baik?"


"Do--dokter Sam?"


"Kalian tidak usah ke ruangan bayi, aku kemari khusus membawanya untuk kalian," Dokter Sam menyuruh suster untuk mendekatkan inkubator dimana bayi merah itu menggeliat.


Agnia menatapnya nanar, dia melihat Zian yang menganggukkan kepalanya. "Ini ...?"


"Iya baby ... Ini anak kita!"


Agnia tersenyum haru, air mata bahagia lolos begitu saja tanpa dia sadar saat melihat anaknya sendiri.


"Kondisinya semakin bagus, tapi masih belum bisa dibawa pulang, dia akan di rawat di sini sampai keadaannya memungkinkan untuk kembali pulang, tapi tenang saja. Kalian bisa mengunjunginya setiap saat." terang dokter Sam.


"Kau lihat kan sekarang, dia benar benar mirip denganku." Zian kembali terkekeh.

__ADS_1


"Baiklah, aku harus visit ke ruangan lain, semoga kau cepat pulih Agnia." ujar Sam yang sudah berbalik ke arah pintu.


"Dokter Sam ... Maksudku Om, aku mau minta maaf karena aku...!"


"Aku sudah tahu Nia, semuanya! Maafkan Serly yaa. Kamu melakukan hal itu karena Serly yang memulainya."


"Om Sam udah tahu kalau aku pernah me---"


Dokter Sam mengangguk, "Temanmu yang mengatakan semuanya pada ku, saat Serly di rawat di rumah sakit. Dan aku baru ingat saat kemarin temanmu datang kemari, mereka yang menceritakannya, dan aku bisa faham."


"Cecilia dan juga Nita?"


"Mungkin, aku lupa namanya."


"Maaf ya Om."


"Sudah tidak apa apa!"


"Jadi itu alasanmu tidak mau diperiksa olehnya?" Zian bisa menduga apa yang terjadi, "Apa dokter Sam itu pria yang ada di video itu?"


Agnia mencubit lengan Zian, "Hubby!"


"Iya baiklah, aku tidak akan bicara lagi soal itu." ujar Zian terkekeh


Dave dan Kim masuk dengan tergesa gesa. Mereka berdua tidak sabar menunggu dari semalam.


"Daddy?"


"Sweetheart? Gimana kondisimu? Apa orang ini perlu aku hajar lagi?"


"Daddy ... Dia suamiku!"


"Yang ada kau aku hajar. Brengsekk!" balas Zian, tentu saja dia tidak ingin mengalah walau itu mertuanya.


Kim berkacak pinggang, dia juga menatap tajam ke arah Zian, "Heh ... Jangan melakukan hal bodoh pada suamiku, dia sudah merasa cemas dari kemarin karena hal ini."


"Heh ... Brengsekk, jangan membentak istriku!" timpal Dave.


"Tentu saja karena dia suamiku sekarang! Sudah Dave, jangan di dengarkan lagi."


Agnia yang tengah menatap bayinya itu menoleh, dia tersenyum melihat keluarganya berkumpul, walau pun keributan mereka jiga sulit di hindari.


"Nanti kalau Ayahmu, kakek dan nenek mudamu sedang ribut, jangan didengar yaa! Kita maen saja. Ok!" Gumam Agnia pada Bayi yang belum diberi nama itu.


"Wah kehangatan keluarga ini membuatku iri!" Carl datang membuka pintu, bersama asisten Zian yang membawa koper kecil berisi pakaian Zian dan juga Agnia. Matanya menyapu seisi ruangan mencari seseorang. "Aku tidak melihat Laras. Kemana dia?"


Kim berjalan untuk melihat bayi di dalam inkubator disamping ranjang Agnia.


"Dia masih di sebelah, mungkin sebentar lagi keluar." ujar Dave yang mengikuti Kim kemanapun dia melangkah.


"Lucu sekali, wajahnya mirip kalian berdua."


"Iyakah? Katanya yang mirip denganku hanya bibirnya saja."


"Tidak dia mirip denganku! Halo jagoan, ini Opa muda." Dave melihat ke arah Kim, "Apa aku setua itu dipanggil Opa?"


Zian tergelak, begitu juga Carl. Mereka sama sama menutup mulut saat Dave melihat ke arahnya.


"Memangnya kau mau di panggil apa Dave? Kau kan jelas jelas opa dari Anakku. Iya kan Biru Sagara Maheswara."


"Biru?" Agnia melirik ke arah Zian, "Biru Sagara Maheswara?"


Zian mengangguk, "Kau tidak suka baby?"

__ADS_1


"Suka sekali, itu bagus hubby."


"Maheswara? Haisss ... Kenapa tidak ada nama belakangku!"


"Segera lah membuatnya sendiri dan mencampuri urusan keluargaku lagi Opa Dave."


Mereka tertawa bersama, begitu juga dengan Laras yang baru saja masuk.


"Wah kalian tertawa tanpa mengajakku."


Carl menyambutnya, "Cucu Mu sudah diberi nama."


"Ah ... Ayolah, kenapa kau selalu bersikap seolah kita dekat!" Laras menghampiri Agnia dan memeluknya, "Kau hebat sayang, anakku yang nakal!" ujarnya lalu mencuil hidung mancungnya.


Agnia terkekeh, kembali memeluk ibunya dengan erat.


"Makasih Momy, dan maafin Nia."


Laras mengangguk, "Tentu saja anakku."


***


Setelah kepergian semua orang, Zian membantu Agnia berganti pakaian, dia juga menyuapinya saat makan dan memberinya obat ketika suster datang.


"Hubby, apa tidak masalah kalau Biru ada di sini?"


"Tidak! Justru itu usul dokter Sam, lagi pula alat alatnya juga terpasang lengkap di sini. Jadi kita tidak usah khawatir ya."


Agnia mengangguk, "Bisakah Nia ketemu Cecilia dan Nita? Nia harus minta maaf."


"Mereka sudah memaafkanmu Nia, jangan khawatir. Kau bisa ketemu setelah keluar dari rumah sakit oke, karena di sini ada Biru dan aku khawatir dia terganggu karena banyak orang yang datang."


"Baiklah tuan khawatir sayang, aku gak akan ngeyel dan maksain diri lagi," ujarnya memeluk tubuh Zian


"Terima kasih kalau kau semakin mengerti apa yang aku lakukan itu semata mata demi kebaikanmu dan juga anak kita."


"Aku melakukan ini karena anakku. Bukan kamu." Agnia terkekeh, semakin erat dia melingkarkan tangannya.


"Heh ... Mana bisa aku bersaing dengan anakku sendiri."


"Kau harus lebih mengalah sekarang, sama aku dan anak kita." Agnia menengadah menatap Zian.


"Tentu saja baby ... Untukmu dan untuk anak kita apapun akan aku lakukan."


Zian mengecup kening Agnia sangat lama.


"Makasih, My superman."


...Tamat...


***


...Akhirnya, author selesai dengan kisah mereka( sedih sampe gak bisa ngomong) ya ...begitulah, author terlalu cinta sama mereka. Berat sih, tapi memang harus yaa, dari pada bikin readers nanti bosan. Wkwkw....


...Eeit jangan sedih, masih ada nopel ongoing author ya, jangan lupa mampir ke sana. Kalau enggak author makin sedih....


...Terima kasih buat semua yang udah dukung author dari awal sampe hari ini dan terus kasih author dukungan. Kalau ada kekurangan sudah pasti tidak ada kembaliannyaa readers. Wkwwk...


...Kalau ada sumur di ladang, ya pasti adaaa sih wkwk....


...Dahlah author bingung mau ngetik apa lagi. Sampai ketemu di novel ongoing author yang lain....


...^ I'm sugar Baby...

__ADS_1


...^ Love You Mr Amnesia...


...Cerita Cecilia berlanjut di I'm Sugar Baby, gak kalah seru dan seruuu banget pokoknya. Cusss meluncurr...


__ADS_2