
Eehhhh... othor kok bikin cerita gak nyambung, banyak banget tebak tebak buah manggis wkwkwkkk.... nyebelin gak sih!! Niih buat kalian yang bawel banget wokwok... awas lho gak like dan komen yang banyak.
Cuuuss othor gak usah banyak omong. oke siap...
.
.
"Daddy ... awaaas!!"
Seketika Dave membanting stir kemudinya, hampir saja dia kelewat berbelok tanpa melihat truk yang datang dari arah berlawanan, akibat dari sorotan lampu spot LED dari truk besar itu yang menyilaukan kedua mata, hingga Dave menginjak pedal gas dengan kencang, dan mobilpun berhenti mendadak.
"Kau mau mati!!" seru supir truk, Dave terhenyak seketika
"Kamu baik-baik saja Nia?" ujarnya dengan menengok ke arah putri kandungnya yang terlihat shock.
"Daddy ...!" lirihnya dengan menatap wajahnya yang sayu.
"Apa Daddy nyetir sambil ngelamun? Daddy hampir membuat kita celaka ...!"
"Forgive me sweetheart ...! Ujarnya dengan menangkup kepala Agnia lalu memeluknya.
"Maafkan Daddy!"
Gue masih gak ngerti ... apa yang terjadi antara Daddy dan Zian, ini jelas bukan hal yang kecil. Tapi diantara mereka tidak ada yang ingin jelasin apa-apa sama gue!
Agnia merasakan degup jantung ayahnya kian berdetak tak karuan.
"Mending Nia aja yang bawa mobil!" Agnia membuat seat belt dan turun, lalu membuka pintu dimana Dave ayahnya duduk.
"Daddy ... pindah!" titahnya kemudian.
Dave merasa jantungnya tidak baik-baik saja, dia pun keluar lalu berpindah seat, membiarkan putrinya sendiri mengemudi.
"Kau yakin bisa mengendarai mobil Nia?"
"Ayolah Dad ... Nia sudah berumur 17 tahun!"
"Oke sweetheart, be carefully ok!"
Agnia masuk dan mulai melajukan mobilnya, dia merasa khawatir akan kondisi Daddynya yang shock tiba-tiba, "Aku rasa Daddy perlu cek kedokter!"
__ADS_1
Dave menyandarkan punggungnya disandaran seat, sejenak dia memejamkan matanya, "Tidak perlu ... Daddy tidak apa-apa!"
Keduanya kembali terdiam, walaupun Agnia sebenarnya menolak ikut dengannya, namun melihatnya saat ini, gadis itu pun tidak mampu berkata-kata lagi.
"Dad?"
"Pokoknya Daddy tetap tidak setuju kalau kamu berhubungan dengannya!" ujarnya tanpa membuka kedua matanya yang terpejam.
"Ya tapi kenapa? Bukankah semuanya ada alasan? Daddy tidak mungkin bersikap seperti ini, jika tidak terjadi apa-apa!" tukas Agnia dengan lirih.
Maaf sayang, Daddy benar-benar tidak siap jika kamu tahu kalau Daddy mu ini seorang pengecut busuk.
Tak lama mereka tiba di hotel dimana mereka menginap, dengan bergegas Dave turun dari mobil, disusul oleh Agnia dari belakang. Namun langkah mereka terhenti saat melihat Zian sudah berdiri dihadapannya.
"Mau apa lagi dia?"
Zian berjalan semakin mendekati mereka berdua, kali ini dia tidak akan tinggal diam dan akan memperjuangkan Agnia. Dave kembali murka, dia melangkah beberapa langkah, namun Agnia menahan lengan nya.
"Setidaknya Daddy bisa bicara baik-baik dengannya, bersikaplah seperti orang dewasa!" ujarnya menohok.
Malu, tentu saja ... Dave tidak menyangka putrinya bisa berfikir dewasa, bahkan lebih dewasa dari usia yang sebenarnya, sedangkan dia, masih bersikap egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Dengar Dave ... aku bersungguh-sungguh mencintai putrimu, dan kali ini aku serius."
"Ayo Nia!"
Agnia hanya bisa menatap lirih pada Zian saat melewatinya, dia menoleh kebelakang saat hendak memasuki pintu lift.
"Tunggu aku ... aku pasti akan membawamu kembali!" gumam Zian dengan jelas, Agnia mengangguk pelan, lalu kedua masuk kedalam lift, menuju kamar dimana dimana mereka menginap, Dave membereskan semua barang miliknya, Agnia hanya berdiri menatap ayahnya, dia sama sekali tidak ingin ikut.
"Ayo Nia kemasi barangmu!"
"Nia gak akan pergi kemana-mana!"
"Nia ... jangan menguji kesabaran ku! Kau akan ikut denganku, tempat ini sangat berbahaya untukmu!"
"Tempat ini berbahaya, atau Daddy takut Nia tahu sesuatu dari apa yang selama ini Daddy sembunyikan?" ujarnya lagi- lagi menohok Dave.
"Apa yang kau bicarakan Nia? Kau jangan terpengaruh oleh ucapan pria itu, semua omong kosong!" tukasnya dengan terus memasukkan barang kedalam koper.
"Apa Daddy sedang takut? Sampai Daddy buru- buru ingin pergi?"
__ADS_1
Dave berdiri kearahnya, dia tidak bisa pungkiri jika putrinya itu sangat lah cerdas seperti ibunya, dia bisa membaca situasi dengan cepat.
"Dengar Nia ... apapun yang kamu dengar, Daddy harap, kamu lebih mempercayai ucapan Daddy!"
Agnia melipat kedua tangannya didepan dada, "Kalau begitu Daddy ceritakan padaku!"
Dave menjadi salah tingkah, akibat dari ucapannya yang kini kembali menyerangnya kembali, Agnia semakin curiga, kedua matanya memicing menatap pria berusia 37 tahun itu.
"Daddy? Nia bisa cari tahu sendiri jika Daddy tidak bisa menceritakannya!"
"Nia dengar, semua itu masa lalu dan Daddy mengaku salah, tapi sudahlah ... tidak perlu di ungkit lagi." Dave menghela nafas, "Daddy ingin kamu ikut hari ini juga!"
"Zian memang benar, Daddy hanya mementingkan diri sendiri, begitu juga dengan ucapan mommy! Daddy benar-benar egois, dan hanya peduli diri Daddy sendiri!" Ujar Nia melempar tas miliknya, "Dengar Daddy ... hidup Nia sudah keras! Nia terbiasa hidup lantung lantung ditempat orang, hanya Zian dan teman- teman Nia yang perduli! Sedangkan Daddy? Baru saja datang dan sok peduli dengan hidup Nia, apa Daddy menyimpan banyak rahasia? Seperti yang dikatakan mommy? Benar begitu?"
Dave tertegun, dia memejamkan mata mendengar ucapan putrinya.
"Apa kamu benar-benar menyukai pria yang lebih tua darimu itu Nia?" tanyanya balik.
"Daddy tidak usah mengalihkan ucapanku!"
Dave masih enggan mengakui apa yang sebenarnya terjadi, dia berkacak pinggang dengan satu tangan memijit pelipisnya.
"Baiklah ... kita tidak akan pergi malam ini!"
.
Pagi pagi sekali Agnia sudah berdiri didepan pintu rumah milik Zian, dia pergi dari hotel saat Daddynya masih tertidur pulas, karena masih terlalu pagi, dipastikan bi Nur belum datang, Zianpun masih tertidur. Gadis itu nekad berjalan berputar dan mengambil tangga lalu menaikinya, dia naik keatas balkon kamar yang sempat ditinggalinya.
Setelah sampai diatas, dia mencongkel kunci jendela dan masuk kedalam melalui kaca jendela.
"Bi Nur masih saja lupa memeriksa jendela dikamar ini! Atau jangan-jangan kamar ini tidak pernah dibukanya lagi." gumamnya dengan meloncat.
"Nia? Apa yang kamu lakukan?"
Tetiba dirinya mematung, dengan gigi yang berderet rapi, menatap Zian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.
"Aku___ aku...!" Agnia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
"Aku baru saja akan menyusulmu kesingapura!" ujar Zian dengan menarik tubuh Agnia kedalam pelukannya.
Hingga dada yang segar dan masih terasa dingin itu membuat Agnia berkali-kali harus menelan saliva nya sendiri.
__ADS_1
"Jangan-jangan kau kabur dari Dave?"
Agnia mengangguk, "Astaga Nia...!"