Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 35


__ADS_3

"Aku akan mencari tahunya lagi! Dan aku yakin dia bukan gadis yang kau fikirkan Zian!"


Kim memang merasa Agnia tidak seperti yang dia fikirkan, namun Zian sepertinya maaih belum percaya.


Zian bangkit dari duduknya, "Aku masuk lagi, Untuk menemaninya!"


Kim hanya mengeluarkan suara gumaman, "Hmmm...."


Tidak percaya padanya, tapi maunya lengket, menemani katanya. ucap Kim dalam hati dengan menahan senyum.


"Baiklah ... bagaimana kalau aku pulang saja, kau bisa kan bawa dia sendirian?" ucapnya kemudian.


Zian kembali masuk, dan melihat Agnia sudah dalam posisi duduk bersandar di atas ranjang, dengan tatapan kosong. Dia pun kembali duduk dikursi samping ranjang.


"Apa yang kamu fikirkan hem?"


Agnia menggelengkan kepala.


"Baiklah, kalau kamu belum mau cerita, lebih baik kita pulang." ajaknya.


Setelah beberapa saat, perawat akhirnya datang dan membuka infus ditangannya, lalu memperbolehkan mereka untuk pulang.


"Ini resep yang harus anda tebus, untuk obat luka pada keponakan anda, Tuan!" ujarnya dengan menyerahkan selembar kertas.


Huuh ... perawat ini percaya saja, jika bocah ini keponakanku!


.


"Kau bisa jalan sendiri? Atau perlu kursi roda?"


"Sekeretaris Kim mana?"


Zian membawa barang-barang milik Agnia, "Dia sudah pulang duluan!" Agnia menganggukkan kepalanya.


"Aku bawa kursi roda dulu!"


"Gak usah, Nia jalan saja! Yang luka hanya ini, kaki Nia gak sakit!" ucapnya dengan menunjuk pipinya.


"Baiklah."


Mereka pun keluar dari rumah sakit, dengan Zian yang membawa barang-barang di tangan nya, sementara Agnia melenggang didepannya.


"Wow ... aku seperti mengantar majikan!" gumamnya.


Dari luar, Iyan berjalan masuk, tepat saat Zian dan juga Agnia hendak keluar. Dia mengernyit melihat Zian yang mau membawa barang-barang milik orang lain.

__ADS_1


"Kau sudah datang?" tanyanya pada Iyan.


"Ya ... aku baru saja akan tidur! Tapi sekeretaris mu mengancamku!" ujarnya dengan mendengus.


"Bagus, Kim memang selalu bisa ku andalkan." ucapnya dengan menyimpan barang-barang Agnia dilantai.


"Bawa!" ucapnya kemudian.


Kedua mata Iyan membola, menatap dua tas yang basah itu, lalu mendengus kembali.


"Jauh-jauh kemari hanya untuk membawa barang! Kenapa tidak sekalian saja dia yang bawa!" gumam Iyan dengan mengambil barang dan menyusul mereka yang juga terlebuh dahulu keluar.


.


Malam semakin larut, dan hujan pun sudah mulai reda, dibalik kursi menumpang, Agnia mulai tertidur kembali, sementara bahu Zian yang berada disampingnya, menjadi sandaran kepalanya.


Agnia merasa nyaman, dia terlelap sepanjang perjalanan ke rumah Zian, melupakan sejenak perjalanannya hari ini. Diantara kebingungan demi kebingungan dan juga kecewa pada semua orang. Dan tidak pernah menyangka ada sosok Zian yang mampu menopangnya saat ini.


Mungkin Agnia hanya merindukan sosok Ayah, kasih sayang, dan juga kehangatan, atau mungkin hanya terbawa suasana saja? Entahlah.


Karena dalam lelapnya Agnia melingkarkan tangan dipinggang milik Zian, membuat Iyan yang melihatnya di spion mengulum senyum,


"Makin lengket!!" ucapnya pelan, namun masih bisa Zian dengar, dan seketika menendang kursi jok kemudi.


"Kau nyetir saja! Tidak usah melirik-melirik ke sini!!" Iyan mengangguk, namun bibirnya melengkung ke atas.


Tak lama kemudian mobil berhenti di depan rumah Zian, Iyan melirik ke belakang dimana kedua orang berbeda generasi itu terlelap dengan saling memeluk.


"Bos kita sampai!"


Zian membuka kedua matanya, dan langsung menatap wajah Agnia yang jaraknya dekat, tangannya terulur menyentuh bekas luka sobek dan juga penuh cakaran itu. Dan tak menunggu lama, dia menggendong Agnia masuk ke dalam rumah, menuju ke atas dimana kamar yang biasa gadis itu tempati.


Sementara Iyan, membawa barang-barang milik Agnia masuk, menyusul bosnya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.


"Yan ... apa sudah ada kabar dari orangmu?"


"Pagi ini baru akan mencarinya ke hotel dimana dia menginap! Dan langsung akan memberi kita informasi jika sudah mendapatkannya."


Zian mengangguk, "Mungkin dia terlalu sibuk mengurus pekerjaannya, hingga seharian ini tidak mengabariku lagi!"


Iyan mematung, dia tidak dapat memastikan jawaban apapun untuk pertanyaannya, selama Zuan tidak melihatnya langsung, dia tidak akan percaya begitu saja, apalagi mengenai Anandita tersayangnya.


.


"Daddy?"

__ADS_1


Lagi- lagi Agnia bergumam, memanggil sang ayah yang setahun belakangan ini sudah tidak menghubunginya, karena dia baru saja mempunyai keluarga baru.


Zian yang menungguinya di sofa terhenyak dengan suara lirih gadis yang mengigau di tengah malam menjelang pagi itu.


Tak lama kemudian, Agnia turun dari ranjang, berjalan lalu ambruk di sofa. Membuat Zian yang melihatnya terheran.


"Dia mengigau juga berjalan pada saat tidur." ujarnya dengan berdecak.


Namun kali ini bibirnya semakin melengkung, menganggap panggilan itu ditujuan untuknya. Siapa yang tidak mau mempunyai sugar baby seperti Agnia. Eeh.


Zian memindahkan kembali gadis yang baru berusia 17 tahun itu ke atas ranjang, lalu merapikan anak rambut yang memenuhi dahinya.


"Pantas saja, dia kembali demam!" gumamnya.


"Daddy? Nia mau ikut Daddy aja, bolehkan?" gumam Agnia, dengan mata terpejam.


"Tentu saja Nia, kamu boleh ikut Daddy!" gumam Zian dan mengelus lembut pucuk rambutnya, lalu kembali mendaratkan bokongnya di sofa.


Keesokan paginya, Agnia terbangun, dia menatap Zian yang tertidur di atas sofa, dengan kaki yang menjulur melebihi sofa.


"Kenapa dia tidur disini?"


Agnia mengerdikkan bahunya, dia tidak menghiraukan keberadaan Zian di kamarnya, selagi dia tidak berbuat macam-macam padanya.


Gadis itu turun dari ranjang, mengambil ponsel yang dia dia simpan di dalam tasnya lalu kembali ke atas ranjang.


Dia membuka video saat dirinya menjadi bahan perundungan di sekolah, beberapa foto yang disebarkan, dan kemudiaan foto-foto dirinya saat bersama Serly dan juga Vina.


Dia mukai menghapus foto saat dia bersama Serly dan juga Vina, walaupun dia sendiri belim tahu motif Serly padanya, namun dia juga merasa bersalah karena menuduh Serly yang menyebarkan foto dirinya.


"Sorry Serl, gue masih belum percaya sama lo! Apalagi sama cowok lo!"


"Dan lo Vin ... lo tunggu aja tanggal mainnya!" Lo akan nyesel karena berurusan sama gue." ucapnya dengan terus menggulir galeri foto.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" ujar Zian mengagetkan Agnia, dia mendengar semua yang di ucapkan oleh Agnia, bahkan memperhatikan raut wajah kesal dan juga marahnya.


Gadis itu sontak kaget, "Udah deh Om, jangan bikin Nia tambah kesel!"


Zian beranjak dari sofa dan mendudukan diriinya di tepi ranjang.


"Apa ini semua karena berebut sugar Daddy? Kenapa tidak cari yang lain? Yang lebih tampan misalkan?"


.


.

__ADS_1


Halo ... seperti biasa, author mau minta maaf karena telat balas komen, terima kasih banyak buat dukungannya, jangan lupa like, komen, gift atau vote barangkali. hehe


__ADS_2