Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 251


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, akhirnya hari kelulusan Agnia tiba. Gadis itu tampak senang dengan kabar yang dia terima. Ditambah kabar gembira lainnya yang dia terima melalui email berkaitan dengan diterimanya dia di universitas ternama lewat jalur prestasi.


Wajahnya berbinar diatas layar laptop yang masih menyala, begitu pun dengan kedua matanya yang membola.


Agnia segera mengecek situs resmi universitas favorit di kota itu dan mengecek siapa saja yang masuk ke sana.


Zian yang baru saja membuka pintu pun sontak kaget karena Agnia berteriak kegirangan. Hingga dirinya melompat lompat lalu memeluk Zian.


"Ada apa?"


"Nia lulus dengan nilai bagus! Terus lulus juga ujian di universitas jalur prestasi. Dan Nia udah cek ... nama Nia udah ada disana!" ujarnya dengan senyum sumringah.


"Wow ... baiklah! Selamat baby, dari awal aku sudah yakin kau akan masuk kesana." ujar Zian dengan menjumput hidung Agnia hingga gadis itu meringis.


"Hum ... Nia seneng banget! Nanti Nia mau ke rumah Daddy, terus ke rumah Momy."


Zian mengangguk, "Aku akan mengantarmu."


"Gak usah! Nanti aku bareng sama Cecilia dan juga Nita. Sekalian mereka mau belajar disini. Mereka juga mau masuk ke universitas tapi jalur seleksi."


"Benarkah?"


Agnia mengangguk lagi, "Iya hubby!"


"Bukan ke karaoke dan mabuk kan?"


"Emang boleh?"


Zian mengurai pelukannya, dia lantas membuka setelan jas nya lalu menyimpanya diatas sofa. "Tidak!"


Agnia mendengus, "Terus ngapaian ngomong!"


Tak berselang lama, suara Bi Nur memanggil namanya serta mengetuk pintu kamar. Agnia membuka pintu dan mendapati wanita paruh baya itu berdiri di depan kamarnya dengan membawa secangkir kopi.


"Ya Bi?"


"Itu Non ... teman teman Non Nia sudah datang."

__ADS_1


"Oh ya ... nanti Nia turun! Itu kopi siapa bi?"


"Kopi tuan Zian non!"


"Biar Nia yang bawain! Makasih ya bi." ujarnya dengan mengambil nampan dari tangan Bi Nur lalu kembali masuk.


Dan Zian ternyata sudah berada di kamar mandi, karena terdengar gemericik air dari dalam, serta suara Zian yang tengah bersenandung ria. Agnia meletakkan gelas kopi itu diatas nakas, lalu dia menyiapkan pakaian untuknya.


Jangan ditanya apa saat ini Agnia sudah terbiasa saat mengambil kain segitiga milik Zian, dia selalu tidak ingin melihatnya saat mengambil barang itu. Dan tepat pada saat pintu kamar mandi terbuka.


"Ada apa baby?"


Zian melangkah keluar hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya saja.


"Enggak ... Nia lagi siapin baju."


"Oh ... biar aku saja!" ucap Zian dengan merengkuh bahu Agnia lalu mengecup pucuk kepalanya. "Tidak usah repot repot menyiapkan semua pakaianku, itu hal mudah yang bisa aku lakukan sendiri." sambungnya lagi.


"Issh ... padahal kan Nia lagi belajar jadi isyri yang lebih baik lagi, tapi semua kau lakukan sendiri!"


"Ada yang aku lakukan berdua denganmu! Membuat anak!" ujar Zian dengan tergelak.


Zian masih tertawa, dia lantas mengambil celana jeans berwarna navy, "Ada juga yang kau lakukan. Jadwal kantorku bahkan oleh mu sekarang! Iya kan?"


"Itu kan beda, ini kan masalah rumah tangga hubby!"


"Baby ... tidak perlu mempermasalahkan hal kecil ini! Oke ... masalah pakaian bukan hal penting. Kau tidak harus melakukannya. Hem?" Ujarnya kembali mengecup pipi Agnia.


"Aku tidak akan menuntut hal remeh begini pada istriku, menyiapkan sesuatu yang sebenarnya aku pun masih bisa sendiri."


"Tapi Kim boleh! Dia bahkan nyiapain pakaian kantormu, bahkan segala sesuatu untukmu berjalan sesuai."


"Itu beda sayang! Kim tidak menemaniku 24 jam, itu karena memang pekerjaan Kim sebagai sekretaris juga asisten pribadiku. Kau kan istriku, tugasnya hanya menemaniku, menyayangiku, mencintaiku dan melahirkan anak anakku." terang Zian dengan mengabsen jari jemarinya saat menyebutkannya satu persatu. "Memasak, menyiapkan pakaian, atau hal hal remeh itu cukup bi Nur saja!"


Agnia menatap Zian dengan seksama, entah dia harus senang karena Zian tidak pernah menuntutnya menjadi istri yang menyiapkan segala sesuatunya dirumah, atau harus sedih karena merasa dirinya hanya menemani diranjang saja.


"Kenapa diam?"

__ADS_1


"Enggak Nia hanya bingung apa Nia harus senang apa sedih! Harusnya kan Nia kan juga ikut nyiapin."


Zian tergelak, "Lebih baik kamu mandi baby! bukankah teman temanmu sudah menunggu dibawah?"


"Astaga ... Nia jadi lupa kan!"


"Kufikir kau ingin kita----" ujarnya dengan menunjuk ke arah ranjang dengan lirikan matanya genit.


"Iiih ... dasar mesum mulu! Dah ah, Nia ke bawah dulu ya!"


Zian mengangguk, namun tak berhenti terkekeh melihat gadisnya itu keluar kamar dengan handuk yang tersampir di bahunya.


Agnia turun, dan berjalan ke arah depan dimana kedua temannya sudah menunggu.


"Astaga ... lo belum mandi?" seru Nita.


"Iya ... sih! Lo dari tadi ngapain! Gue fikir lo lagi dandan, dari tadi padahal gue bilang Bi Nur."


Agnia merekatkan gigi putihnya yang berjajar rapi. "Gue gak usah mandi deh! Masih cantik ini!"


Cecilia dan juga Nita saling pandang lalu mengerdikan bahunya masing masing. "Serah lo deh!"


"Betewe ... selamat ya Nia!! Lo udah masuk universitas tanpa harus rempong belajar lagi dan ujian lagi." Nita memeluknya disusul oleh Cecilia yang ikut memeluk keduanya. "Hooh ... enak banget jadi lo Nia! Udah gak perlu pusing, ada yang bantuin pula kalau tugas lo nanti susah! Secara ada yang siap siaga buat bantuin lo siang malam."


Keduanya tertawa dengan apa yang di ucapkan oleh Cecilia.


Ketiganya lantas mengurai pelukannya lalu duduk kembali duduk,


"Udah yuk buruan ... gue udah siap belajar nih!" ujar Nita mengambil laptopnya di dalam tas.


"Tanggal 12 kan seleksi tahap pertama?" tanya Cecilia pada Agnia.


"Gue sih lihat begitu! Nih gue udah siapin kisi kisi pelajaran buat kalian. Biar gampang nanti belajarnya." Agnia juga menyimpan dua buku besar diatas meja, beserta modul modul yang dia buat sendiri saat sebelum ujian, dan itu sangat berguna jika hendak ikut seleksi masuk universitas.


Keduanya fokus belajar, dengan sesekali melihat ke arah Agnia yang menerangkan apa yang mereka kurang paham. Zian memperhatikannya dari dalam, lalu tersenyum melihat sang istri yang tidak ragi memberikan ilmu yang dia miliki pada teman temannya, walaupun kedua temannya itu bukan teman yang baik dalam segi pergaulan. Dan selama ini, Zian hanya memperhatikannya, dia juga tidak nisa melarang Agnia berteman dengan mereka, karena nyatanya mereka tidak memberikan pengaruh buruk hidup mereka pada Agnia.


"Om Zian lagi ngapain hayo disini? Ngintip ngintip." ujar Aya yang baru saja muncul dari belakang.

__ADS_1


Zian merekatkan jari telunjuknya tepat pada bibirnya, "Suuthh ... Aya diam! Ini urusan orang dewasa, udah sana mandi! Ini udah sore."


"Aya bilangin Kak Nia yah, Om Zian nguping disini."


__ADS_2