Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 84


__ADS_3

Seseorang turun dari mobil sports berwarna putih, berjalan menghampiri Agnia yang mematung didepan pintu masuk kafe tersebut,


"Nia ... ayo kita pulang!"


Agnia tersentak, dia mengenadahkan kepalanya ke arah suara, sosok tinggi tegap yang kini mengulurkan tangan kepadanya.


"Om Zian...!"


"Ayo, pulang bersamaku!"


Agnia meraih tangan Zian, dan pria dengan mata teduh itu menggenggamnya erat.


"Om ... aku kan su___"


"Aku khawatir padamu Nia! Jadi tolong, toh aku tidak mempersulit dirimu bukan?" ujarnya menyela ucapan Agnia yang belum selesai.


Agnia menghela nafas, benar apa yang dikatakan Zian, mungkin pria itu hanya khawatir padanya, dia juga tidak masuk kedalam dan memperkeruh keadaan,


"Om tahu sekarang masalahmu! Lain kali, jangan pernah bertindak seorang diri Nia, jangan gegabah, atau kau akan kesulitan sendiri."


Agnia hanya terdiam, tatapan nya beralih pada ruas jalan yang dia injak, langkahnya yang mengikuti langkah Zian yang sudah beberapa langkah didepannya.


Zian membuka pintu mobil, "Masuklah!"


Agnia masuk kedalamnya dan membanting punggungnya di seat mobil. Perkataan wanita itu kembali terngiang, walaupun tidak dengan jelas menyebut nama ibunya, tapi secara tidak langsung kata selingkuhan suaminya tersemat pada sang ibu. Laras.


Mami, Nia gak tahu apa yang Mami cari! Kalau Mami cari kebahagiaan, Nia rasa Mami tidak juga mendapatkannya dari pria itu, yang jelas adalah suami dari wanita lain, pun dengan harta, Mami punya segalanya.


Tanpa dia sadari, tangan Zian mengelus punggung tangannya dengan lembut, "Masalah mu sungguh berat, tapi kamu begitu kuat Nia, aku bangga padamu."


Agnia menoleh, "Om lihat semuanya?"


Zian mengangguk, "Maaf, aku tidak bermaksud!"


Agnia kembali menatap jalanan, dengan mengangguk kecil.


"Bagaimana dengan ayahmu?"


Terlihat bahunya naik lalu turun perlahan, Zian tahu Agnia tengah menghela nafas, seolah tengah mengeluarkan udara yang dirasa menyesakkannya itu.


"Lupakan, aku tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga mu lebih dalam, tapi jika kamu memerlukan bantuanku, bicaralah padaku Nia." ujar Zian melajukan mobilnya.


Untuk sesaat, keheningan menerpa mereka berdua didalam mobil, Zian sibuk dengan kemudi dan sesekali melirik Agnia yang hanya diam saja. Sedangkan gadis itu tengah dilanda kerinduan yang teramat dalam pada kedua orang tuanya, ditambah hubungan mereka saat ini sangatlah buruk.


"Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" ajak Zian.


"Kemana?"

__ADS_1


"Kamu kan sudah janji mengajak Om ke pasar malam! Bagaimana kalau sekarang saja kita kesana."


Agnia tampak berpikir, wajahnya seketika berubah, "Tap___!"


"Atau kamu ingin ikut berlibur saja, kita keluar negeri atau ke luar kota? Hem....!"


Zian mencoba menghibur Agnia, walaupun gadis belia itu tidak juga merasa terhibur.


"Ayolah, aku sudah tidak sabar untuk melihat pasar malam yang kau katakan itu, aku penasaran dengan apa yang kau katakan! Bagaimana Hem ... kita berangkat sekarang saja ya."


Akhirnya, Agnia mengganggukkan kepalanya. "Ya udah!"


Zian mengulum senyum, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arah pasar malam yang Agnia tunjukan.


.


.


Agnia terperangah, melihat ke arah pasar malam yang tampak ramai, orang-orang berlalu lalang dengan ceria, kemudian dia keluar dari mobil, dengan Zian yang mengulurkan tangan ke arahnya, "Ayo ... aku sudah tidak sabar untuk melihat-lihat."


Untuk sesaat, fikiran Agnia yang tengah memikirkan keluarganya, teralihkan oleh suasana ditempat itu, dengan Zian yang hadir untuk menemaninya.


"Aku mau naik itu? Apa itu namanya?" ujar Zian menunjuk sebuah perahu yang terombang-ambing.


"Itu ombak banyu namanya! Om gak pernah ke pasar malam seperti ini?"


Setelah mendapatkan 2 buah tiket mereka menunggu hingga giliran mereka tiba, Zian sempat membeli gula-gula berukuran besar dan dia berikan pada Agnia.


"Om kita mau naik ini lho nanti susah pegangnya!"


"Tidak masalah nanti aku yang pegang. Ayo!"


Belum tahu aja dia, gimana serunya naik permainan ini. Awas saja kalau sampe dia malu-maluin, apalagi beli gula-gula sebesar ini, bisa-bisa terbang mengenai orang lain.


Mereka akhirnya menaiki ombak banyu, dengan posisi paling depan sesuai pilihan Zian, Agnia hanya mengiyakan lalu tergelak, dia tahu bagaimana sensasi duduk dibagian paling depan.


Perahu besar yang tergantung disisi kiri dan kanan itu mulai bergerak, Zian tergelak, dan dengan santai memakan gula-gula manis berwarna pink itu.


Hingga lama kelamaan benda itu bergerak lebih cepat dari perkiraan nya, Zian berteriak kencang, begitu juga Agnia yang tertawa melihat Zian yang terlihat shock.


"Nia kau tidak bilang! Kalau benda ini bisa seperti ini!" serunya dengan mencengkram besi pegangan yang ada di depannya.


Gula-gula yang dia pegang pun terlepas begitu saja dan jatuh entah kemana. Agnia tertawa hingga terpingkal.


"Tolong hentikan benda ini! Hei ... kau petugas! Hentikan benda ini sekarang juga!"


Agnia semakin tergelak, hingga mengeluarkan air mata, sedangkan Zian marah-marah tidak jelas. Tak lama kemudian, benda itu berhenti bergerak. Zian turun begitu saja meninggalkan Agnia yang masih dibelakang.

__ADS_1


"Gimana seru kan Om?"


Zian berdecak, "Seru apanya? Benda itu membuat jantungku hampir copot."


"Ini kan permainan pilihan Om sendiri, ku kira Om tahu!"


"Mana aku tahu Nia, benda itu bergerak secepat itu, bagaimana kalau tali pengamannya lepas, aku akan terlempar sangat jauh, huh ... tubuhku pasti akan remuk."


Agnia tergelak kembali melihat Zian yang berjalan dengan kesal.


Kan gue juga bilang apa? Awas aja malu-maluin gue, ternyata bukan hanya malu, tapi dia juga norak.


"Ya udah kalau gitu kita pulang saja, nanti Om malah nyusahin lagi!"


"Heh ... mana bisa begitu! Kita belum naik semuanya!"


Agnia mendengus, "Nanti teriak-teriak lagi! Malu tahu Om."


"Tidak, asal bukan yang tadi!"


Zian berjalan kembali, melewati beberapa pedagang aksesoris. Dan berhenti saat Agnia berhenti disebuah gerai yang berisi gelang-gelang.


"Lucu ini!" ujarnya menunjukan sebuah gelang berwarna hitam dengan manik manik yang juga berwarna hitam.


"Ini apa? Seperti tali sepatu!" seru Zian membuat penjaga gerai itu melihat ke arahnya dengan tajam.


"Om! Ih ... Om gak tahu seni sih! Ini tuh keren tahu, kreasi anak muda berbakat! Memang bahannya sederhana, tapi estetik kan."


"Ya terserahlah, kalau kamu ingin membeli tali sepatu itu."


Agnia mendengus, dia memilih 2 gelang yang sama lalu membayarnya, meskipun Zian memberikannya uang untuk membayar, tapi gadis itu menolaknya, dan membayarnya sendiri.


"Mana tangan Om!"


Zian mengernyit, "Ih ... lama, orang cuma mau pasang ini! Dan Om akan lihat gimana kerennya gelang ini saat dipake."


Agnia memasangkan gelang yang menurut Zian hanya sebuah tali sepatu dengan manik-manik hitam dipergelangan tangannya.


"Nih ... lihat! Cocok sekali kan! Ini memang berbeda dengan aksesoris dari mall ataupun luar negeri yang mahal, tapi coba lihat, ini justru lebih bagus saat Om pake."


Zian menatap gelang tali yang terpasang di pergelangan tangannya dan berdecak kagum.


"Not bad!" gumamnya.


Dia pun beralih pada Agnia yang tengah memasangkan gelang yang satu lagi ditangannya sendiri dengan susah payah.


"Biar aku yang memasangkannya."

__ADS_1


__ADS_2