
"Kau membangunkannya lagi!"
Agnia tergelak, "Memang itu yang aku inginkan! Bikin Om kesusahan sendiri menuntaskannya."
Agnia segera turun dan tertawa, lalu berlari ke atas dengan lidah terjulur mengarah pada Zian, lalu masuk kedalam kamarnya sendiri.
"Sial ... Nia!!"
Agnia tertawa kencang didalam kamar, hingga tawanya terdengar sampai ke bawah, Zian kesal bukan main, dia harus bersolo untuk segera menuntaskan nya. Lagi.
"Sial ... dia selalu begitu! Hanya bisa membangunkannya tanpa bisa menidurkannya lagi!" ujarnya naik dan masuk kedalam kamarnya sendiri.
Sementara setelah keluar dari rumah Zian, Regi tidak lantas pergi begitu saja, dia kembali setelah memastikan mobil yang dikemudikan oleh sekretaris nya itu kembali keluar dan menghilang.
Untuk sesaat, Regi berdiam diri didepan rumah Zian dan menatapnya lama. Ada yang aneh dari Om dan keponakan nya itu, ditambah dengan ucapan Zian yang mengatakan dirinya kan kecewa dan patah hati.
Memangnya Nia sudah punya pacar? Sampai saat ini pun dia tidak mengatakan apa-apa dengan perasaannya, kenapa om nya Nia bisa bilang begitu tadi.
Regi pun kembali melaju dengan pertanyaan yang berseliweran di fikirannya, namun tidak juga mendapat jawaban yang masuk akal.
.
Beberapa hari kemudian
Agnia melonjak kegirangan saat mendapat panggilan dari salah satu perusahaan yang di kirimi proposal untuk workshopnya. Pagi itu juga dia bersiap-siap.
Dengan memakai rok sepan berwarna hitam dengan sedikit belahan di belakangnya, serta atasan putih yang sangat pas membalut tubuhnya yang seksi. Membuatnya terlihat lebih dewasa dengan lekuk tubuh berbeda dari teman-teman seumurannya.
Agnia menghentakkan sepatu high hill dengan tinggi 5 Senti itu di anak tangga menuju ke bawah, membuat Zian yang tengah duduk di meja makan itu menoleh, dan terpana melihat Agnia.
"Mau pergi kemana dengan pakaian ketat seperti itu?"
"Aku ada panggilan untuk kerja nyata Om, tukas akhir sekolah yang tempo hari aku ceritain!"
Zian mengangguk, "Oh ... itu!"
"Tapi pakaian itu terlalu mini Nia? Kau bisa membuat semua mata laki-laki melompat keluar!" imbuhnya lagi.
"Berlebihan banget sih Om!"
Agnia menarik kursi dan duduk, mengambil selembar roti lalu mengolesinya dengan selai stobery.
"Ganti pakaian mu Nia! Kau ini akan mengundang banyak lelaki hidung belang untuk menggodamu!"
Agnia tergelak, "Om ... please deh! Pria hidung belang mana yang berani godain Nia! Kecuali Om Zian."
"Jadi menurutmu aku ini pria hidung belang Hem?" menarik hidung mancung Nia.
__ADS_1
"Bukan, tapi Om- Om mesum!" Agnia tergelak dengan menggosok hidungnya yang gatal karena ditarik oleh pria yang duduk disampingnya,
Zian berdecak. "Kamu selalu memancing kesabaran ku Nia!" ujarnya dengan menggigit roti yang berada ditangan Agnia. "Selain hobi membangunkan ular pyton, kau juga membuatku terus saja kesal."
"Hei Ppttff... kenapa gak bikin sendiri! Lagi pula mana tahu aku itu sejenis ular pyton atau pun hanya cacing sawah."
Zian bangkit dari duduk dan tersenyum, membuka ikat pinggangnya sedikit lalu mendekat, "Kau mau lihat?"
Agnia mendorong kursi yang diduduki lalu bangkit, "Enak saja! Mataku yang suci ini akan ternoda begitu melihatnya!"
Zian mendengus kesal, "Dasar licik! Dia terus memancingku tapi tidak pernah mau melihatnya sedikitpun!"
Zian menyusulnya keluar. "Ayo ... aku antar kau sampai ke kantor! Sekaligus aku ingin melihat siapa yang berkuasa disana, kalau sampai ada yang berani mendekatimu ... aku akan menghajarnya saat itu juga."
"Apa sih norak banget!"
Mereka keluar dari rumah, lalu masuk kedalam mobil. Gadis yang tengah bersemangat itu merapikan riasan wajahnya di spion mobil, riasan sederhana yang hanya memakai bedak dan juga liptin di bibirnya.
"Sudah jangan terlalu cantik! Aku tidak mau menambah saingan!"
Agnia mendengus pelan, lalu menoleh ke arah Zian yang berbicara tanpa melihat dirinya. Pria itu kemudian menoleh dan mengedipkan satu mata ke arahnya.
"Sumpah Om itu ngeselin! Nia gak percaya kalau Zian yang selalu galak itu ternyata freak kayak gini!"
Zian tergelak, "Berarti kamu itu beruntung, bisa tahu sisi Ziandra Maheswara yang lain, yang semua orang tidak tahu!"
Agnia hanya mendengus kesal, lalu melipat tangannya didepan dada. Sementara Zian menginjak pedal gas agar mobilnya melesat lebih cepat.
"Dia sedang mengurus anak perusahaan!"
Agnia hanya beroh ria,
Ponsel Agnia tiba-tiba menjerit didalam tas, diapun merogohnya lalu menempelkannya didaun telinga.
'Kenapa?'
'Lo dimana? Gue udah didepan kantor Golden globe.'
'Dijalan ... mungkin 5 menit lagi sampai!'
'Oke gue tunggu.'
'Hmmp.'
Setelah sambungan telepon terputus, Agnia kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Siapa?"
__ADS_1
"Biasa ... Cecilia."
Zian mendengus, namun juga tidak mengatakan apa-apa.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka kamu bergaul dengan mereka, mereka akan membawa pengaruh buruk padamu, bagaimana kalau mereka membuatmu harus meladeni pria-pria tidak jelas lagi!"
"Om ... apa sih! Selama ini hanya mereka yang tulus berteman denganku, sementara teman yang aku anggap tulus buktinya begitu kan! Udahlah lagi pula aku bisa jaga diri kok! Mana mau aku sama mereka."
"Kamu maunya sama aku saja kan! Iya?"
"Dih ... apaan sih!!"
Zian mengulum bibirnya, dengan tangan yang terulur mengacak kepala Agnia. "Jangan nakal!"
"Beres bos!" ujar Agnia yang sudah tidak merasa canggung lagi saat Zian berlaku seperti itu.
Dia sendiri kadang masih heran, hubungan apa yang terjalin diantara mereka, selama ini Agnia hanya tidak tahu perasaan apa yang dirasakan saat bersama Zian, terlebih saat mereka tengah bermesraan pun, otak dan hatinya selalu bertolak belakang.
Mobil berhenti tepat didepan kantor yang lumayan besar, Golden globe adalah perusahan bisnis perhotelan yang cukup berpengaruh dikota ini.
"Om bukan pemilik Golden globe kan?"
Zian menarik bibirnya melengkung, "Kau tenang saja, itu bukan milikku! Tapi jika kau ingin aku jadi pemiliknya, aku bisa membuatnya serupa, kau bisa masuk ke perusahaan perhotelan milikku. Tidak usah disini!"
Agnia berdecak, "Baiklah tuan Zian yang terhormat, aku pergi dulu! Bye....!"
Agnia keluar dan disambut oleh Cecilia dan juga Nita.
Mereka bertiga senang karena bisa mengambil projek yang ditempat yang sama, pasti akan menyenangkan jika ada teman, pikir mereka.
Zian mencondongkan tubuhnya lalu menurunkan kaca jendela.
"Cecilia?"
Orang yang namanya dipanggil menoleh, dia pun mencondongkan kepalanya, "Ya ... kenapa?"
"Jaga dia untukku! Jangan biarkan dia diganggu orang!"
"Beres Om!"
Agnia berdecih lalu menyikut Cecilia, "Lo maen buras-beres buras beres aja! Lo dukung gue, bukan malah dukung dia!"
Nita tertawa, "Dia jelas akan dukung siapa yang lebih banyak memberikannya keuntungan!"
"Sialan lo!!"
__ADS_1
Ketiganya tertawa lalu masuk kedalam pintu kantor, sementara Zian menggelengkan kepalanya, setelah melihat ketiganya menghilang, baru lah dia menancap pedal gas kembali, dengan satu tangan memegang ponsel.
"Kim?"