Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 83


__ADS_3

"Om ...!"


Zian masih merengkuh bahu Agnia, menenggelamkan kepala Agnia lebih dalam lagi, "Kau hanya milikku Nia! Hanya untukku!"gumamnya pelan.


"Om ...." Lirihnya.


Zian menarik dagu Agnia, hingga menghadap ke arahnya, perlahan dia menyambar lembut bibir ranuum merah muda yang sedari pagi menggodanya, wangi stobery kembali menyeruak dari bibir tipis yang kini mulai basahh itu.


Sejenak, Zian terdiam. Menunggu reaksi Agnia, yang juga tertegun karena gerakan tiba-tiba itu. Perlahan namun pasti pria yang jauh berpengalaman itu bergerak dengan perlahan, menyusupkan liddah dan mulai menyusuri setiap inci rongga didalamnya.


Jantung Agnia berdegup kencang, ingin dia mendorong tubuh Zian dan berlari masuk ke kamar, namun gerak tubuhnya seolah berkata jangan. Ci u man pertama untuknya itu begitu lembut dan membuatnya hanyut.


Kedua tangan Zian menyusup disela leher Agnia, dengan kedua ibu jari mengelus lembut pipinya, membuat Agnia semakin terbuai, namun dia tidak bergerak sama sekali, dia hanya terdiam begitu saja, menunggu Zian berhenti dengan sendirinya.


Merasa Agnia tidak melakukan apa-apa, Zian menghentikan kegiatannya, dengan ibu jari menyusut ujung bibir yang terlihat lebih memerah itu.


"Maaf ...! Aku khilaf."


Agnia mengerjapkan kedua mata, dia melepaskan tangan Zian, mengambil tas dan laptop lalu berlari masuk kedalam kamar.


Agnia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dadanya masih terasa berdetak kencang,


"Bego lo Nia! Kenapa diam aja, lo nikmatin banget ciu man Zian!" gumamnya dengan menyentuh bibirnya sendiri.


Sementara Zian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, lagi-lagi dia tidak bisa menahan dirinya sendiri, ditambah kata-kata Regi yang terus terngiang-ngiang di telinganya.


"Bodoh sekali jika kita mencintai seseorang tapi membiarkannya dengan orang lain, aku yang akan membahagiakannya!" gumamnya lalu naik dan masuk kedalam kamarnya sendiri.


Bibi pelayan rumah tampak heran, kedua suara yang tadi terdengar kini menjadi senyap kembali, hidangan makan siang pun tampak utuh, dan keduanya tenggelam di kamarnya masing- masing.


.

__ADS_1


.


Hampir setengah jam Zian hanya mondar mandir didalam kamar, dia merasa resah karena Agnia tidak kunjung keluar dari kamarnya. Tepat jam 7 malam, Agnia keluar dari kamar dengan berpakaian rapi, tasnya pun sudah tersampir dibelakang punggungnya.


Mendengar pintu sebelah terbuka, Zian pun ikut keluar, berharap Agnia yang keluar dari kamar, dan benar saja, Agnia sudah rapi itu keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana Nia?" ujar Zian saat membuka pintu kamarnya.


Agnia menoleh ke arah Zian, "Nia mau ke rumah temen dulu ya Om, ada tugas yang mesti Nia kerjakan."


Zian mengernyit, "Kerumah teman? Siapa?"


"Ya ada temen Nia, ya udah Nia pergi dulu yaa!"


"Aku akan mengantarkanmu!"


Langkah Agnia terhenti, dia kembali menoleh, "Tidak perlu Om, Nia udah pesen ojek online. Orang nya udah nungguin! Dan ingat, Om gak perlu nyusul karena Nia pasti akan pulang."


"Please Om ... Nia ingin sendiri! Dan jangan menyusul apalagi mengikutiku!" Agnia pun berlalu meninggalkan rumah, sementara Zian terpaku ditempatnya.


"Apa karena perbuatanku tadi siang padanya?"


Agnia menghela nafas saat keluar dari rumah, dia pun menaiki ojek yang sudah menunggunya.


Tak lama kemudian, Agnia tiba disebuah Cafe, dimana ada seseorang tengah menunggu nya.


Kedua manik hitam itu menyisir ruangan, dan mendapati orang yang menunggunya duduk seorang diri. Tak lama Agnia menghampiri wanita yang diperkirakan seumuran dengan ibunya itu.


"Permisi."


Wanita itu mendongkak, dia kemudian beranjak dari duduknya lalu menghadap Agnia, kedua bola matanya menajam, menatap Agnia dari ujung kaki hingga ujung kepalanya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Jadi kau selingkuhan suamiku?" ujar Wanita itu tanpa basa basi, tangannya melayang hendak menampar Agnia, namun gadis itu berhasil menangkis tangannya lalu menghempaskan nya, dengan menyunggingkan bibirnya, dia lalu mendaratkan dirinya di kursi dihadapan wanita yang diketahui bernama Indri.


"Duduklah ibu, kita bicara baik-baik karena aku kemari untuk memberikan ini!" ucap Agnia dengan menyodorkan sebuah kartu padanya.


"Rupanya kau masih muda! Tapi kenapa suka sekali bermain-main dengan suami orang? Dan ini apa?"


Tidak ada bantahan ataupun sanggahan yang keluar dari mulut Agnia, dia masih menanggapinya dengan santai, "Ini adalah uang suami anda."


Wanita itu terhenyak mendengarnya, "Uang suamiku?" wanita itu mendengus, "Kenapa kau kembalikan padaku! Apa kau sedang berusaha mengambil hatiku?"


Agnia tergelak, "Untuk apa aku mengambil hatimu Bu! Aku mengembalikan ini karena anda yang lebih berhak atas uang ini!"


Wanita itu berdecih, "Murah hati sekali kau ini! Dan sepertinya kau sedang bersandiwara dan bersekongkol dengan suamiku untuk mempermudah jalan berselingkuh dengan suamiku! Benarkan?"


Sekali lagi Agnia tersenyum, "Terserah apa yang ibu katakan, tugas ku sudah selesai, aku permisi dulu!"


Agnia bangkit dari duduknya, tanpa meminum air yang tersedia untuk nya, dia tidak ingin berlama- lama ditempat itu.


Wanita itu ikut bangkit dari duduknya, "Tunggu, kau jangan senang dulu. Kemurahan hatimu saat mengembalikan uang ini tidak berarti apa-apa bagiku! Dan kau juga harus ingat jika kau bukan satu-satunya wanita yang menjadi selingkuhan suamiku! Jallangg yang lain pasti akan aku temukan satu persatu!"


Agnia masih mencoba tersenyum, dengan mengepalkan tangannya. Yang dia bicarakan pasti Mami.


"Kalau begitu, kau buang saja suami brengsekk mu itu! Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak layak dipertahankan! Permisi."


Agnia keluar dengan langkah kaki yang panjang, dia menghela nafas, mencoba menetralisir dirinya sendiri.


Agnia kembali memesan ojek online, dan menunggunya dengan berdiri di pinggir jalan,


"Aku harap Mami akan sadar, jika pria itu tidak pantas untukmu Mi." gumam Agnia dengan menatap layar ponselnya yang tengah menyala, dia menekan foto profil yang tengah terpasang. dimedia sosialnya milik ibunya.


"Nia kangen Mami!"

__ADS_1


__ADS_2