
Pak Ali terkekeh melihat setumpuk uang dihadapannya, uang yang dia dapat kan dari seorang pria yang menukar teman kencannya hari ini, namun dia tidak menyesal, karena memang menganggap Agnia itu berbeda dari Cecilia yang sering menemaninya selama ini.
Dia terkesan dengan sosok Agnia.
"Daddy ...hah ... huh ... ada apa? Sudah aku bilang, aku gak bisa nemenin Daddy hari ini, tadi tuh perut aku sakit banget! Sekarang mana temenku? Kok gak ada...?" ujarnya saat baru saja datang.
Ali sengaja memintanya untuk datang, dan mengatakan terjadi sesuatu dengan Agnia, hingga Cecilia panik dan bergegas pergi, dia berdiri dengan memegangi pinggangnya dan berusaha mengatur nafas.
"Apa yang terjadi padanya Daddy?"
"Duduklah dulu, baru bicara!"
Cecilia menghempaskan bokongnya disamping pak Ali, dan bergelayut manja dengan melingkarkan tangannya.
"Jadi Dad?" tanyanya penasaran.
Pria tua itu mengernyit, lalu mengenadah kan tangannya pada pengawalnya, sang pengawal yang berdiri disampingnya pun menyerahkan ponsel padanya.
"Dia dibawa oleh pria tidak aku kenal!" ujarnya dengan memperlihatkan foto Agnia tengah di tarik seorang pria, Cecilia melongo,
Sial ... dia ketahuan Om Zian! Urusan gue bakal runyam gara-gara itu. Lagian om Zian kenapa bisa tahu Nia ada disini sih?
"Ya ampun."
"Apa kamu mengenalnya?"
Cecilia mengangguk, "Iya aku mengenalnya, tapi Agnia ...."
"Aku tahu!" ujarnya mengelus rambut Cecilia.
"Kmu bawa uang ini dan berikan padanya, bilang ini hadiah dari ku," ungkapnya lagi.
Membuat Agnia membelalakkan mata, "Uang sebanyak ini buat Nia?"
"Humm ... pria itu yang memberikannya! Dan kau yang nakal, kenapa menyuruhnya menggantikan mu." ujarnya dengan mencuil hidung Cecilia.
Cecilia mencebikkan bibirnya dengan manja, "Aku kan sudah bilang Daddy ... aku sakit!"
.
.
Malam semakin larut, lampu-lampu kota pun menyala, menyaingi pedarnya sinar bintang di langit yang terbentang, dan senja telah tenggelam, kembali ke peraduan dan tergantikan oleh cahaya bulan.
Suasana didalam mobil Zian pun tampak hening, hanya Kim yang sesekali mengeluarkan suara namun tidak dengan Zian dan juga Agnia, Gadis remaja itu menatap jalanan dengan berkali-kali menghela nafasnya panjang. Sementara Zian sesekali menatapnya dari spion.
__ADS_1
Udah ketinggalan ponsel, ketauan Zian, hampir dilecehkannya, dan tiba-tiba lihat phone book diponselnya. Haisss ... gini amat hidup lo Nia!
"Kau tenang saja, Kim akan membawa ponselmu besok pagi dan akan mengantarkannya ke tempatmu!" celetuk Zian, membuyarkan lamunan Agnia yang dipenuhi dengan berbagai pikiran.
Agnia enggan menjawabnya, dia bahkan tidak bergerak sama sekali dari posisinya, sementara Kim mengangguk, dan mengerti keinginan Bosnya itu.
"Katakan Nia, kau tinggal dimana sekarang?"
Agnia menoleh ke arah Kim, "Antarkan saja ke sekolah, atau Nia ambil ke hotel saja!"
"Tidak apa-apa Nia, aku yang akan mengantarkannya."
Gue gak bisa bilang kalau gue tinggal di apartemen Regi, yang ada nanti tambah runyam, Regi ... astaga, aku juga belum ngabarin dia.
"Kalau gitu, ya udah antar ke sekolah aja sekretaris Kim!"
Kim mengangguk dan mengulum senyum, sementara Zian menghela nafas, dengan begitu Kim pun tidak akan tahu dimana dia tinggal.
Tak lama kemudian, Zian menghentikan mobilnya di sebuah kafe, dia turun dan masuk begitu saja, sementara Kim dan Agnia menyusulnya dari belakang.
"Dasar orang aneh!" gumam Agnia saat melihat Zian yang masuk terlebih dahulu.
"Kamu tahu dia itu kenapa?" tanya Kim menggendeng tangannya.
"Gak tahu dan gak peduli! Dia orang paling aneh yang pernah Nia kenal."
"Huum ... sikapnya tidak bisa ditebak!"
"Mungkin kamu harus lebih mengenalnya, dia sebenarnya baik!"
"Harus lebih mengenalnya?"
"Hmm ... dia pria baik! Hanya saja sedikit egois, dan setelah kejadian yang terjadi kemarin, emosinya juga jadi tidak stabil, Nia bayangkan saja, di___!"
"Kim ... cepatlah aku sudah lapar!" seru Zian yang sudah duduk di kursi.
Agnia mendengus, dan mereka pun menyusulnya lalu duduk, Kim memanggil pelayan kafe untuk membawakan daftar menu, sementara Zian sibuk mengotak-ngatik ponselnya, dengan sesekali melirik Agnia.
"Agnia mau makan apa?" tanya Kim.
"Nia gak lapar, pesen minum aja!"
"Kau harus makan, jangan menyiksa diri! Kalau kau sakit, siapa yang akan mengurusmu!" tukas Zian dengan pandangan tetap pada layar putih menyala di tangannya.
Agnia mendengus ke arahnya, "Om Zian tenang saja, kalau Nia sakit! Gak bakal minta di urusin sama Om kok!"
__ADS_1
"Keras kepala!"
"Om pemaksa kehendak! Egois ...!"
"Kalian ini ribut terus sih!" ujar Kim dengan menggelengkan kepalanya.
Suara musik mengalun dengan indah, mengiringi suara vokal yang sangat merdu, sang vokalis bersuara merdu itu menyanyikan lagu berjudul Awas jangan jatuh cinta, milik Armada band.
Awas nanti jatuh cinta, cinta kepada diriku,
jangan ... jangan kau jodohku.... kamu terlalu membenci ... benci diriku ini ... Awas nanti jatuh cinta....
Suasana kafe yang tenang membuat Zian menatap Agnia diam-diam, lagu dari home band seakan tahu isi hatinya saat ini, sementara Agnia menoleh ke panggung dimana home band tengah beraksi, dan seketika kedua matanya terbelalak,
"Regi?"
Regi yang belum menyadari Agnia melihatnya dari sudut ruangan itu tetap fokus bernyanyi dengan hingga lagu berganti,
Ya ampun ternyata Regi juga punya band, pantes saja dia sering bilang nginep di studio pasti karena sering latihan band, dan jadi homeband kafe ini, tapi dia gak pernah ngomong sama gue ... eh emang gue siapanya, kenapa harus ngomong segala.
Agnia baru merasa lega, setelah melihat Regi dan juga suaranya yang sangat merdu itu, sedikit melupakan kekesalannya pada pria yang terus menatapnya diam-diam, yang juga tengah menikmati suara Regi.
Kim mengulum senyum saat melihat bosnya itu terus menatap ke arah Agnia diam-diam, sampai akhirnya pelayan datang membawa pesanan mereka, dan membuat Zian berhenti menatap Agnia.
Begitu pun dengan Agnia, dia menyantap makan malam yang terlambat itu dengan lahap
"Yang bilang tidak lapar!" gumam Zian, yang masih bisa terdengar jelas oleh Agnia.
Gadis itu mendelik ke arahnya, "Tadi memang tidak lapar, tapi sekarang Nia lapar! Bahkan ingin memakan daging manusia yang nyebelin banget!"
Zian mendengus, namun bibirnya terangkat membentuk garis tipis.
"Hai Nia ... Lo disini?"
Agnia menoleh, dan melihat Regi sudah berada di belakangnya, "Regi ... wah parah suara lo keren banget. Kok gue gak tahu sih lo suka nyanyi?"
Regi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ah ... biasa aja! Gak bagus ... bagus amat!"
"Eeh ... enggak kok! Beneran keren! Gue gak bohong."
"Ekhem!!"
Regi dan Nia menoleh ke arah Zian yang berdehem keras.
"Maaf ... kayak nya gue ganggu acara keluarga lo ya Nia! Maaf Om...." ujarnya pada Zian yang menatapnya dengan tidak suka.
__ADS_1
Zian bangkit dari duduknya, dan menarik tangan Agnia.
"Nia ayo kita pergi!"