
"Itu harus Nia tanyakan pada Daddy!" ujarnya terus melangkah bersama.
Sementara di dalam ruangan Zian, Dave yang duduk di sofa terus disalahkan oleh Zian karena datang tiba tiba beserta dengan Kim. Dia tidak ingin terjadi kesalah fahaman lagi dengan Agnia perihal itu.
"Sudah aku bilang! Aku kemari untuk urusan pekerjaan Zian! Bukan untuk macam macam, dan aku tidak tahu jika putriku juga ada di sini."
"Bukan itu masalahnya! Harusnya kau beri tahu aku terlebih dahulu jika ingin kemari hari ini. Dasar brengsekk."
"Heh ... berani sekali kau mengumpat pada mertuamu sendiri! Kualat kau nanti."
Zian mendengus kasar, "Terserah kau saja, aku masih sakit dan pasti akan kewalahan menghadapi putrimu jika dia marah lagi."
"Sudah tidak usah ribut lagi!" tukas Irsan.
Kedua pria yang tengah berdebat itu hanya mendengus kearah Irsan yang tengah membereskan peralatannya.
Tak lama pintu terbuka, ketiganya menoleh ke arah pintu dimana Agnia dan Kim masuk secara bersamaan. Zian secara sigap bangkit dari duduknya. Beranjak menyambut sang istrinya.
"Baby? Kim? Kalian...?"
"Kenapa? Kayak orang bingung gitu?" tanya Agnia.
Dave terkekeh, dengan tangan menepuk sofa agar Kim duduk di sampingnya. Namun Kim justru berjalan mendekati Zian.
"Katanya kau sakit? Apa kau tidak meminum suplemen dan vitamin mu?" ujar Kim, dia lantas menoleh pada Agnia, " Nia tolong ingatkan dia selalu ya." ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Zian.
"Tentu saja sekretaris Kim! Kau tenang saja!" jawab Agnia dengan terkekeh, tangannya melingkari lengan Zian yang tampak bingung karena keduanya terlihat akrab seolah tidak ada masalah seperti fikirannya.
"Baby ... kau sudah berbaikan dengan sekretaris Kim?" bisik Zian di telinga sang istri, pada saat Kim berbalik kembali dan menghampiri dokter Irsan.
"Memangnya Nia punya masalah apa sama sekretaris Kim?"
__ADS_1
Zian menggaruk tengkuknya, dia berfikir Agnia akan kesal saat melihat Kim, dan akan marah padanya karena hal itu. Namjlun ternyata tidak.
"Oh ... tidak baby! Aku fikir kau akan marah."
Agnia menengadahkan kepalanya kearah Zian, "Aku emang marah, tapi bukan sama sekretaris Kim, tapi padamu?"
Zian mengernyit, "Padaku? Aku salah apa?"
"Selalu lupa diri dan bekerja! Sampai gak sembuh sembuh." Agnia mencubit lengan Zian hingga pria itu meringis, namun juga dia memeluknya dengan erat. "Ayo ambil libur! Jangan kerja terus."
Zian mengangguk kecil, "Iya baby ... setelah semua urusanku selesai, aku akan libur bekerja."
Dave berdecak melihat keduanya yang terus bicara dengan bisik bisik dan tidak menghiraukan orang lain yang ada.
"Heh ... kalian sibuk berdua saja!"
Agnia menoleh ke arah suara dan terkekeh.
Kim juga menoleh, dia menggelengkan kepalanya.
"Rupanya kau sudah kembali Kim? Sudah puas bersembunyi hem?" tanya dokter Irsan dengan mendelik ke arahnya. "Kau bahkan memblokir nomor ku? Kau sengaja ya?"
"Bukan hanya nomor mu saja Irsan, nomor ku juga dia blokir!" seru Zian dengan memeluk Agnia dari belakang.
Irsan mendengus, "Keren sekali kau Kim!"
Kim hanya tersenyum datar, dia menepuk bahu teman satu fakultasnya itu dengan keras. "Dokter Irsan ...! Maaf ya."
"Sudahlah ... karena kau juga sudah kembali, aku juga akan pergi! Ruangan ini tiba tiba jadi panas." ujar Irsan dengan menenteng tas perlengkapannya. "Lebih baik aku kerumah sakit." ujarnya lagi lalu beranjak keluar.
Setelah kepergian Irsan, Kim duduk di sofa yang sebelumnya Irsan duduki, saling berhadapan dengan Dave yang menghela nafas namun kedua matanya tidak dia lepas dari wanita yang menjadi kekasihnya itu. Tak lama dia pun bangkit dan berpindah posisi menjadi disampingnya.
__ADS_1
"Nah ini lebih baik! Jangan jauh jauh dari ku sayang, nanti semua orang berfikir kita ada masalah."
Kim melihatnya datar, "Dave ... ingat kita kemari untuk menbicarakan pekerjaan. Kau bisa bersikap profesional kan?"
Mendengar hal itu Zian dan Agnia yang tengah berpelukan saling menatap. Lalu terkekeh bersamaan tanpa melepaskan pelukannya.
"Kau menyindirku Kim?" seru Zian sambil terkekeh.
"Sama sekali tidak! Aku bicara pada Dave."
"Sayang ... panggil aku sayang! Bukan Dave." ujar Dave dengan merentangkan tangan di sandaran sofa, dan perlahan tangan itu bergerak di bahu Kim.
"Dave!" ujarnya dengan kedua manik tajam.
"Iya iya ... aku bahkan belum menyentuhmu!" desisnya menarik kembali tangannya.
"Jadi bagaimana?" tanya Zian. "Kim kau berniat berhenti dari pekerjaanmu dan berkhianat padaku dengan bekerja pada Dave sekarang?"
Kedua mata Dave membola pada Zian yang kini duduk, sedangkan Agnia duduk disampingnya.
"Kau kan punya sekretaris handal sekarang! Apa salahnya Kim sekarang menjadi sekretaris pribadi ku! Iya kan sayang?" ujarnya beralih pada Kim.
"Gimana Ibu Kim?" celetuk Agnia dengan terkekeh, membuat ketiganya terbelalak kearahnya bersamaan.
"Apa? Nia hanya membiasakan diri!"
.
.
.
__ADS_1
Hai readers ... mohon maaf kalau othor up nya dikit dikit, othor lagi mengriweh sekali yaa. Harap maklum yaa. hehe