Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 167


__ADS_3

...Banyak yang penasaran siapa itu sekretaris Kim?..hihihi, ...


...Ayana Hakim, atau biasa dipanggil Kim itu cewek ya...dia gak suka dipanggil Ayana hakim, sukanya di panggil Kim. hihihi ( Peace). jangan lupa like, komen ya, gift juga kalau boleh... makasih semua....


Agnia mengambil ponselnya, dengan iseng dia mengambil foto keduanya dari belakang, Kim mencuci piring, sedangkan Dave mengeringkan piring yang sudah di bilas. Setelah itu Agnia kembali ke kamar, dia menatap satu persatu foto yang dia ambil. Bak seorang profesional, dia memperhatikan ekspresi wajah Dave dan juga sekretaris Kim.


Namun tidak berlangsung lama, karena saat itu juga ponselnya berdering, kontak nomor ponsel Zian tertera di layar ponsel yang berada dalam genggaman nya.


Bibir Agnia melengkung, dia pun menempelkan ponselnya tepat pada telinga.


'Ya ....'


'Sudah pulang?'


'Belum ... aku masih di rumah Daddy, dan makasih karena makanan yang kau kirim!'


'Sama sama, itu tidak seberapa dengan apa yang aku dapatkan.'


'Apa memangnya yang kau dapatkan?'


'Melihatmu bahagia Nia!'


Agnia mengulum senyuman, entah itu hanya bualan atau sekedar ucapan belaka, namun ucapan Zian memang benar adanya, saat ini memang saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya, kembali merasakan kasih sayang kedua orang tua yang selama ini hilang.


'Nia ... kau tidur?'


'Tidak ... aku hanya, ah iya. Apa kau tahu, Kim masih ada disini! Kim dan Daddy lagi cuci piring, apa kau tahu Kim sudah punya pacar atau belum?'


'Entahlah Nia, aku tidak mengurus hal itu!'


'Payah, kenapa Om gak tahu! Padahal sekretaris Kim tahu segalanya tentang Om!'


Terdengar helaan nafas lembut diseberang telepon, Zian menghela nafas pelan dengan pertanyaan dari gadisnya itu yang menurutnya tidak penting dia tahu ataupun tidak. Walaupun dia tahu, Kim tidak pernah dekat dengan seorang pria mana pun, bahkan tidak pernah berkencan. Namun hal itu tidaklah etis untuk dia bicarakan.


'Bagaimana kalau kita menjodohkannya dengan Daddy? Apa Om setuju?'


Kali ini helaan nafas, terdengar lebih kasar, lebih tepatnya Zian mendengus.


'Nia sayang, hubungan kita saja belum jelas! Bagaimana bisa kamu memikirkan hubungan orang lain.'

__ADS_1


Agnia tergelak, 'Benar juga! Tapi itu ide bagus kan?'


Keduanya saling terdiam dengan pemikiran masing masing, hingga Zian berdehem beberapa kali.


'Apa kita akan terus membicarakan Kim dan Dave?'


'Iih ... gak perhatian banget sama sekretaris sendiri, padahal dia perhatian banget sama Nia!'


Agnia merubah posisinya menjadi terlentang di atas ranjang, lalu dia mengambil guling dan memeluknya.


'Ya itu kita fikirkan nanti, aku meneleponmu karena aku merindukanm Nia, ya sudah kamu istirahat ya, aku harus mengecek pekerjaanku.'


Agnia mengangguk seolah Zian ada di hadapannya, tak lama kemudian sambungan telepon berakhir dan Nia melemparkan ponselnya begitu saja.


"Padahal ini pasti akan seru! Daddy sama sekretaris Kim!" Gumamnya dengan mengeratkan pelukannya pada guling.


"Tapi apa Daddy masih punya perasaan pada Mommy? Dia saja tadi cium kepala Mommy!" Gumamnya lagi. "Tahu ah ... pusing! Apa semua pria begitu?" lanjutnya lagi dan kali ini menenggelamkan wajahnya dalam guling.


Sementara itu Dave dan Kim selesai mencuci piring, Kim pamit untuk pulang, dia memakai kembali blazer berwarna hitam yang sebelumnya dia lepas. Tidak lupa mengambil tas miliknya.


"Mr Dave? Aku harus segera pergi! Terima kasih untuk makan malamnya," Kim menundukkan sedikit kepala lantas melangkah menuju pintu.


"Sama sama sekretaris Kim!" sahut Dave memegang handle pintu.


Namun Dave tidak kunjung menutup pintu, dia justru mengejar Kim yang sudah melangkahkan kakinya beberapa langkah menuju lift.


"Sekretaris Kim?"


Kim menoleh kearah suara, "Ya?"


"Ada yang ingin aku tanyakan!"


Mereka berdua akhirnya berjalan masuk kedalam lift, dan tiba di lantai dasar, namun Dave mengarahkan Kim untuk duduk di lobby apartemen yang tidak besar itu.


"Apa yang ingin kau tanyakan Mr Dave?"


"Aku hanya ingin tahu! Bagiamana Zian hidup selama 17 tahun ini?"


Mendengar pertanyaannya, Kim terlihat mengulum senyuman, dia tahu ke arah mana ke ingin tahuan Dave mengenai Zian. Seolah dapat membaca fikiran Dave.

__ADS_1


"Apa kau sedang mengkhawatirkan putrimu?" tanya sekretaris Kim,


Lama terdiam, Dave menghela nafas perlahan. Duduknya pun terlihat tidak nyaman, dia mencoba mencari posisi yang menurutnya nyaman untuk bicara.


"Ya aku sangat mengkhawatirkan putriku! Aku takut apa yang terjadi dimasa lalu, terulang dan menjadi karma untukku. Ini tidak mudah sekretaris Kim!"


Kim hanya diam mendengarkan, terlihat sorot matanya menatap Dave. Pria itu memang terlihat resah dari sejak terakhir mereka bertemu, sikap arogan dan menyebarkannya pun tidak tampak, yang ada hanya seorang ayah yang khawatir pada anak gadisnya.


"Kau tahu sekretaris Kim, semua ini tidak mudah untukku! Aku yang penuh dosa masa lalu dan ingin memperbaiki semuanya dari nol demi putriku. Putri kandungku, kejadian tempo hari dimana Agnia tidak mengakui keberadaan ku begitu mengguncangkan hati dan pikiranku yang selama ini hanya berfikir dia bahagia karena aku bisa memenuhi semua kebutuhannya dengan materi. Hingga sosok ayah yang dia cari tidak dia temukan, dan aku fikir dia menemukan sosok itu ada pada Zian."


Kim masih mendengarkan dengan seksama, cukup diam dan mendengarkan semua perkataan Dave.


"Aku hanya takut, Zian main main, hidup putriku masih sangat panjang! Dan aku takut apa yang terjadi pada Jasmine di masa lalu, terjadi pada putriku." terangnya lagi.


Kali ini Sekretaris Kim melengkungkan bibirnya, sangat manis membuat Dave terkesima sendiri karena rasanya baru melihat Kim tersenyum seperti itu.


"Maaf ... tapi aku senang melihatmu khawatir seperti ini! Kau juga sudah banyak berubah Mr Dave."


"Aku mengerti keresahanmu Mr Dave, tapi ada satu hal yang kau lupa, kau tentu mengenal Zian di usia mudanya, kau juga tahu seperti apa sikapnya dia saat menyukai seorang gadis bukan?"


Dave mengangguk, "Dalam hal itu justru aku merasa khawatir."


"Mr Dave, Zian memang tidak lebih baik dari mu, tapi apa kau lupa, disaat Jasmine hamil dan kau meninggalkannya, dia ada untuknya, dia melindunginya, walaupun tanpa cinta dia menikahinya, bertanggung jawab atas apa yang seharusnya kau lakukan. Bahkan dia tidak mengelak saat kakeknya mencercanya dengan makian! Apa yang kau fikir jika itu terjadi dengan Agnia? Yang justru dia lindungi dan jaga dengan perasaan cinta di dalamnya? Tidakkah kau mengerti juga Mr Dave?"


"Satu hal lagi, Zian bukan pria yang bermain main dengan perasaannya sendiri." kali ini ucapan Kim menohoknya, bagaimana tidak baru saja dia berniat memperbaiki hubungan nya dengan Laras, namun kembali tergoda saat melihat Kim yang merona dan juga slash tingkah didepannya, berfikir jika Kim punya ketertarikan padanya.


"Saat orang lain mengenal hatinya sendiri, dia tidak akan mudah menyakiti orang lain, karena tentu saja dia kan merasakan bagaimana jika disakiti." ungkapnya lagi lagi menohok.


Dave terdiam, menatap sosok wanita yang tidak mudah dia tebak apa yang ada di fikirannya, sikap diam namun menghanyutkan, dan ucapannya terkadang tajam.


"Ada lagi Mr Dave?"


Dave menggelengkan kepalanya, Kim pun bangkit dari duduknya,


"Kalau begitu ... aku permisi Mr Dave! Selamat malam."


Setelah melihat punggung wanita itu menghilang, Dave kembali masuk kedalam lift menuju unitnya, dengan memikirkan apa yang diucapkan Kim, ucapan Zian sendiri dan tentu saja putrinya Agnia.


"Tidak ada lagi alasanku untuk tidak menyetujui hubungan mereka."

__ADS_1


__ADS_2