
Di parkiran.
Ines hanya melongo melihat Indah di tarik sama orang yang tidak di kenal.
Dia baru memakirkan motor dan Indah sudah di tarik orang.
Kecantikan Indah yang tidak bisa di tolak atau salah orang.
"Indah di tarik sama siapa tuh, wah ngak bener nih kayaknya, kalau Indah di culik nanti gue kasih tau ibu gimana atau bisa aja nanti ibu minta ganti,"
Pemikiran Ines main jauh sekali, mana ada orang mau menculik di daerah rame lalu membawa masuk ke dalam restauran lagi.
Ines bermaksud menyusul tapi sebuah cekalan tangan menghentikan gerakan dia.
"Ini apa an lagi main pegang aja,"
Kesal Ines saat ada yang memegang dia.
Menoleh kebelakang bermaksud melihat siapa yang sudah berani memegang tangannya.
"Handsome,"
Cicit Ines terpesona sama ke tampanan orang yang memegang dia.
"Iya gue memang tampan,"
Balas orang itu yang tak lain adalah Farid yang ikut datang bersama Frans.
Dia sudah di beri tau Frans tadi saat baru sampai dan menyuruh Farid mengurus Ines lalu dia menggunakan Indah sebagai pacar bohongan.
"Bisa lepas ngak, megang bentar aja kalau lo suka gue yang repot loh,"
Siapa juga yang bakal suka coba.
Tapi iya juga kan kecantikan Ines tidak beda jauh sama Indah dan pesona kedua sahabat itu sulit di tolak meski kadang punya mulut suka los.
"Tapi sayang nya udah suka duluan gimana dong,"
Gombal Farid yang sukses membuat pipi Ines bersemu namun tidak jelas sebab di sekitar sana sedikit minim cahaya.
"Basi tau ngak, awas sana gue mau nyusul sahabat gue ntar di culik lagi,"
Pegangan tangan itu tidak mau Farid lepaskan dan justru semakin kuat.
"Ngak apa sahabat lo aman sama sahabat gue, sekarang lo ama gue aja.
Yuk masuk,"
Menggandeng tangan Ines yang tidak bisa di lepas meski Ines berontak.
Ines hanya ngikut sebab dia juga mau masuk malah leburu Indah di tarik orang.
"Awas aja pulang pulang sahabat gue lecet gue tuntut kalian,"
Ancam Ines yang terkesan tidak main main.
"Dijamin aman, mau pesan apa?"
Menyodorkan buku menu pada Ines.
__ADS_1
"Saya pesan ini ya mbak tapi di bungkus,"
Farid menyerngitkan dahi, buat apa di bungkus kan lebih enak makan di tempat.
"Kok di pesan, enakan makan di tempat?"
Ines hanya menggeleng kepala tanda menolak.
"Buat orang ngidam,"
Jawab Ines singkat.
"Kan belum gue apa apain kok usah ngidam aja?"
Getok jangan ya tuh kepala.
"Buat orang ngidam om, bukan gue yang ngidam.
Telinga om masih normal kan?"
Jelas Ines penuh penekanan.
Sabar Nes orang sabar jodoh nya handsome.
"Oh, bilang kek dari tadi.
Kita belum kenalan panggil gue Farid,"
Mengulurkan tangan lalu di balas Ines.
"Ines,"
Ines malas bicara banyak sekarang, dia ingin segera pulang.
Selesai urusan disana Farid mengantar Ines pulang, sebelumnya dia sudah meminta orang buat mengantar mobil nya tidak mungkin dia mengantar Ines menggunakan motor Ines apa kata kenalan dia nanti kalau keluar rumah menggunakan motor, ntar di kira udah miskin lagi.
Skipp pulang.
Sepanjang jalan pulang Indah hanya diam saja, selain sama orang asing dia juga malas bicara sama orang yang sesuka hati sama dia.
Merasa tidak di hargai saja sebagai pemilik badan.
Walau dari keluarga biasa namun Indah tau apa sopan santun dan kalau mau minta tolong sama orang harus permisi dulu jangan seperti Frans yang langsung narik Indah padahal tidak kenal hanya pernah bertemu beberapa kali tanpa yang ada hanya debat dengan Indah yang banyak bicara.
Setelah Indah bilang dimana alamatnya dia diam lagi.
"Marah?"
Frans fokus sama jalan tanpa melihat Indah saat bertanya.
Indah hanya diam tidak niat mau menjawab atau bilang satu patah kata pun.
Malas bicara atau marah sama Frans.
Kan sudah bilang makasih juga, masa mau di perpanjang juga masalah nya, pendendam ya Ndah tapi tidak juga.
Lagi tidak mood mungkin.
"Asal om tau ya, gue ngak suka ya di kasarin kayak tadi.
__ADS_1
Gue manusia om bukan hewan,"
Boleh tidak Indah memukul makhluk tampan yang lagi nyetir di sebelahnya.
"Udah jangan lebay, lagian lo juga ngak apa.
Dan satu lagi jangan panggil gue om nama gue Frans F-R-A-N-S,"
mengeja huruf satu persatu agar ingat di kepala Indah.
Geli mendengar ada orang yang manggil dia om berasa ketuaan.
"Ngak mau om om om,"
Mengulang kata om agar Frans makin kesal.
"Terserah biar tapi jangan salah kan om om ini akan membuat lo jatuh cinta nanti,"
Frans sudah bertekad akan membuat Indah jatuh cinta sama dia sebagai bentuk rasa kesal dia di panggil om.
"Ngak takut om, tapi kalau kebalik siap siap ya om gue tolak,"
Lagi main taruhan sekarang, hey ingat hati dan perasaan tidak bisa di ajak becanda ya yang ada nanti malah makin menyakiti dan lebih parah tidak mau mengakui perasaan sendiri.
"Gue ngak akan suka sama lo, lo bukan tipe gue.
Lo ngak liat cewek tadi aja gue tolak apa lagi lo yang ngak ada apa apa nya ini,"
Ada nyesek tapi bukan sesak nafas.
Jangan terlalu percaya diri, kadang kenyataan lebih menyakitkan tau.
"Ya ya percaya, yang bilang ngak tipe tapi narik gue tadi siapa?
Masih terasa lo om ini sakit nya,"
Menyodorkan tangan ke samping Frans.
Kini posisi Indah duduk agak menyamping ke arah Frans dan lupa kalau dia masih kesal.
"Itu tadi terpaksa, jangan besar kepala,"
Elak Frans memang benar, dia tidak fikir panjang mau narik Indah tadi.
Saat baru tiba di parkiran dan melihat Indah ide itu muncul gitu saja tanpa di rencanakan.
Mobil terus melaju dan tidak lama tiba di dekat rumah Indah sebab mobil tidak bisa masuk ke sana.
"Makasih om dan balik sana om ngak baik keluar malam malam,"
Indah turun dan melangkah masuk kesana dan tidak jauh juga sudah ada Ines yang menunggu.
"Ndah lo ngak apa kan? ngak di apa apain kan?"
Cerca Ines melihat Indah sudah sampai dimana dia menunggu.
"Ngak apa Nes, nih liat masih utuh kan,"
Ines mengantar Indah dulu pulang sebab tadi dia yang jemput ibarat kata tanggung jawab sebab tadi jemput dari rumah maka antar kan balik lagi.
__ADS_1
Setelah mengantar Indah baru Ines pulang juga namun sebelum menunggu Indah tadi pesanan orang ngidam sudah duluan Ines hantarkan.
Bersambung.😘