
Zian tertegun dengan mulut terkunci, entah apa yang harus dia katakan pada Agnia tentang Serly. Walaupun dia juga tahu, hubungan keduanya sudah tidak lagi baik seperti dulu, tapi Zian yakin Agnia pasti akan sedih jika tahu.
"Hubby! Heh ... Malah bengong!"
"Ah ... Tidak! Tidak apa apa."
"Apaan kata Cecilia?"
"Serly sudah keluar dari rumah sakit! Dan sekarang sudah di rumah, jadi kita tidak perlu ke rumah sakit."
Agnia mengernyit, "Gitu ya! Bagus deh! Jadi kita tidak usah ke rumah sakit?"
Zian ragu untuk menjawabnya, tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko. Dia pun terpaksa mengangguk pelan.
"Ya ... Sepertinya tidak perlu!"
"Ihh ... Padahal aku udah mandi!"
Zian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia pun mengambil ponsel miliknya dan menunjukan sesuatu pada Agnia.
"Apaan nih? Tiket nonton? Ini kan film yang pengen banget aku tonton." ujar Agnia dengan kedua mata berbinar, film itu memang sudah tayang beberapa hari yang lalu, dan Agnia berencana menonton mengajak teman temannya, namun karena suaminya yang semakin over protektif itu lah maka dia tidak jua pergi menonton.
__ADS_1
"Kita pergi?"
Agnia mengangguk bahagia, dengan wajah berseri seri bak seorang anak kecil yang mendapat hadiah.
"Mau mau!! Tunggu Nia mau ganti baju dulu."
Zian mengangguk, melihat Agnia yang bergegas membuka pintu lemari dan menyambar pakaiannya tanpa memilih. "Tidak usah buru buru, kita masih punya banyak waktu baby."
"Ya ... Nia udah gak sabar pengen nonton film itu tahu!"
Maaf Serly, aku tidak memberi tahukan keadaanmu yang sebenarnya, karena aku juga harus menjaga kondisi istri dan anakku. Semoga kau tenang di sana, maafkan Agnia dan juga aku. Kalau waktunya sudah tepat, aku pasti akan memberitahunya dan kita berdua akan datang ke tempat peristirahatan terakhirmu. Batin Zian, walaupun ada rasa bersalah pada dirinya, tapi saat ini hanya itu yang menjadi pilihannya.
Maafkan aku baby, aku tidak ada niatan berbohong padamu, semua aku lakukan untukmu dan anak kita. Batinnya lagi dengan terus menatap Agnia yang kini tengah merias wajahnya.
"Baby! Kau mau piknik atau nonton?" Zian terkekeh karena sikap Agnia menggemaskan dengan mulut mengunyah.
"Keliatan banget yaa udah lama gak nge mall dan jajan camilan sebanyak ini." Agnia ikut tertawa saat sadar apa yang dia lakukan itu.
Dua kantong besar berisi camilan kini di bawa Zian, mereka masuk ke dalam studio bioskop setelah petugas tiket melakukan panggilan.
"Kok sepi banget sih! Jangan bilang kau menyewa bioskop ini?" tuduhnya pada Zian dengan kedua mata memicing curiga.
__ADS_1
Zian terkekeh, "Aku hanya menyewa satu baris kursi!"
Agnia mencubit lengannya keras, "Sama aja bohong, satu baris ini berisi 20 kursi, tahu gitu aku kasih tahu teman temanku dan bisa nonton bareng, kan lumayan kita dapet untung!"
Zian mengernyit, "Kenapa untung?"
Agnia duduk di kursi, yang di tunjukan petugas bioskop yang mengantarkannya, dia menatap Zian yang tengah menyimpan dua kantong besar itu di kursi kosong.
"Ya kau lihat sekarang, malah kantong itu yang duduk di situ! Itu rugi namanya, Padahal kita bisa menjual tiket itu lagi ke semua temen temen Nia. Kan jntung jadinya." Jelas Agnia.
Zian terkekeh, "Dasar! Kenapa kau tidak mengambil kelas bisnis ekonomi saja baby! Aku lihat kau cocok dibagian penjualan. Segala ingin kau jual."
Agnia tertawa dengan terus memukul lengan Zian dan menjumput hidung mancungnya.
"Aku jadi inget Serly! Dulu waktu sekolah menengah pertama, dia suka bantuin aku jual kertas jawaban soal ulangan ke kelas lain." ucap Agnia yang tiba tiba mengingat Serly, "Semoga dia baik baik aja!"
Zian menggenggam tangannya erat, merasa bersalah karena menyembunyikan kabar buruk itu.
"Kita kesana nanti, sekarang lebih baik kita nonton. Hem!"
***
__ADS_1
Sampai hari terus berlalu, namun Agnia masih belum tahu jika Serly sudah tidak ada lagi, selain tidak ada kabar lagi dari Cecilia maupun Nita mengenai kebenaran itu. Bahkan hingga saat ini, dia tidak pernah lagi bertemu maupun mengatakan hal yang sebenarnya.