
Sejak saat itulah Agnia tinggal dirumah sederhana milik bi Nur, pelayan rumah Zian yang setiap hari bekerja pulang pergi dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, dia pun jadi lebih dekat dengan gadis kecil bernama Aya, gadis yang rotinya dia curi saat lapar.
Zian tidak menyadari bahwa ditempat bi Nur lah Agnia bersembunyi saat ini, tempat yang tanpa sadar terlupakan olehnya. Setiap hari Bi Nur mengambil satu persatu barang yang dibutuhkan oleh Agnia, pun dengan masakan yang tidak pernah disentuh oleh majikannya.
"Non, bibi pergi dulu! Non jangan lupa kunci pintunya ya, Bibi jadi takut sendiri ini!"
"Maaf ya Bi, Nia jadi ngerepotin bibi! Setelah Nia mengurus semuanya, Nia akan pergi."
Bi Nur mengusap lengannya, "Ya ampun, bukan gitu ... bibi justru takut Non ketahuan dan tuan Zian makin marah pada Non, bibi belum tentu bisa bantu Non lagi kalau sampai itu terjadi."
"Gak apa-apa Bi, semoga selamanya tidak ketahuan."
"Sabar ya Nak! Kalau jodoh tidak akan kemana, lagi pula bibi setuju kalau Non Nia bersama tuan Zian." ujarnya mengulum senyuman.
"Bibi apaan sih!" ketusnya. Sementara Bi Nur hanya tersenyum, setelah itu dia pun pergi, dan Agnia mengunci pintu rumah lalu masuk kedalam kamar.
Dia mengeluarkan laptop miliknya, ada puluhan email masuk padanya, namun dia abaikan begitu saja, dirinya baru merasa ketenangan saat berada dirumah itu, walaupun rumah itu kecil, tidak ada AC seperti dirumahnya maupun rumah Zian. Namun Agnia merasakan kehangatan keluarga yang dia cari selama ini.
"Kak Nia sedang apa?"
Gadis cilik berusia 5 tahun itu mengucek kedua matanya, lalu melongo ke layar laptop yang tengah menyala.
"Itu pacar Kak Nia ya?"
Nia memiringkan wajahnya, menatap foto foto dirinya saat dipasar malam bersama Zian. "Eeh ... anak kecil tahu pacar-pacaran! Udah sana mandi!" ujarnya menutup kembali laptop miliknya.
"Iya kan pacarnya kak Aya!"
Aya mencebikkan bibirnya, "Kalau udah mandi, Aya mau jalan-jalan!" ujarnya turun dari ranjang.
Agnia menggelengkan kepalanya, membayangkan bagaimana dirinya yang selama ini hanya seorang diri yang tidak punya kakak maupun adik. "Repot juga punya adik! Apalagi adiknya kayak Aya."
Gadis kecil itu menoleh, lalu menjulurkan lidah ke arahnya.
Ting
Notifikasi email kembali masuk, Agnia kembali membuka laptopnya dan melihat notifikasi tersebut.
"Daddy?"
__ADS_1
'Nia ... are you Ok? Kenapa nomor kontakmu tidak bisa Daddy hubungi! Minggu depan Daddy ke Indonesia, Daddy harap kita bisa bertemu, dan menghabiskan waktu bersama. See yoU sweetheart.'
Agnia tertegun setelah membaca email dari pria yang jadi cinta pertama untuknya, sekaligus pria yang pertama menyakitinya dengan meninggalkan dirinya.
Daddy pasti gak tahu keadaan gue! Dan Mami benar-benar gak peduli lagi ke gue! Apa dia gak khawatir sama sekali. Apa jangan - jangan gue bukan anak kandungnya?
Segala pertanyaan berseliweran dalam benaknya, kemudian dia menutup kembali laptop tanpa membalas pesan surel itu.
Sementara Zian menatap layar ponsel ditangannya, seseorang suruhannya memberikan informasi jika dia menemukan ponsel dan dompet milik Agnia.
Zian bukannya senang, dia malah bertambah khawatir karena mereka hanya menemukan barang-barang Agnia, pria berumur 34 tahun itu takut terjadi sesuatu pada gadis yang dia cintai itu.
Zian keluar dari ruang kerjanya, dan berpapasan dengan bibi pelayan rumah.
"Astaga Tuan!"
Zian terdiam, melihat bi Nur yang baru saja datang itu terlihat ketakutan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ti--tidak Tuan!" ujarnya dengan tertunduk, jujur, dia saat ini merasa takut ketahuan. Ketakutan yang teramat besar yang akan membuat Zjan marah sekali padanya.
"Ti--tidsk tuan! Bibi hanya kaget saat melihat Tuan Zian!"
"Hm ...!"
Setelah itu bibi Nur berlalu dengan cepat, jika dia berlama-lama disana, dia akan takut jika dirinya keceplosan, bahkan membuat semuanya berantakan.
"Bi ... aku mau tanya sesuatu!"
Bi Nur sontak berbalik, dia kaget setengah mati dengan pertanyaan Zian.
"Ya?"
"Apa Nia pernah kemari saat aku tidak ada dirumah?"
Pertanyaan dari pria tinggi itu membuatnya terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Memangnya kenapa Tuan? Apa ada barang-barang non Nia yang hilang?"
__ADS_1
Jawaban pelayan rumah yang sudah bekerja hampir 30 tahun itu membuatnya mengernyit, "Memangnya ada barang Nia yang hilang?" Zian justru berbalik bertanya.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, "Ti--tidak tahu Tuan! Aku hanya masuk untuk membersihkan ruangan. Itu saja!"
Membuat Zian semakin mengernyit, "Aku tidak menuduhmu!"
Mati aku, pertanyaan tuan Zian sangat menjebak! Apa dia tahu.sesuatu.
Zian kembali melangkah, menyambar kunci mobil diatas nakas, dan membuat bibi Nur itu pun terlihat menghela nafas, "Syukurlah, lebih baik Tuan Zian tidak bertanya sesuatu yang membuatku bingung sendiri menjawabnya!"
Zian menghubungi orang suruhannya untuk terus mencari keberadaan Agnia. Namun tetap saja, gadis itu tidak ditemukan. Dan ponsel kembali menjerit, dia menatap layar pipih itu lalu menempelkannya didaun telinganya.
"Ada apa Kim?"
"Kau dimana? Aku harus mengambil berkas yang ku tinggalkan kemarin di rungan kerja mu."
"Ambil kesana saja! Aku sudah berada diluar rumah!"
Kim mengernyit, "Kau mau mencari Nia lagi? Kemana?"
"Entahlah ... yang pasti aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan terus mencarinya sampai ketemu."
.
.
Kim masuk ke dalam rumah Zian, dimana bi Nur tengah membersihkan halaman belakang, dia masuk begitu saja kedalam ruangan kerja Zian. Namun tiba-tiba, kedua matanya penasaran dengan layar putih dari benda pipih milik bi Nur yang tengah mengisi daya.
Bi Nur sedikit berlari dengan menatap pintu ruangan kerja yang sedikit terbuka, dan sosok Kim berada diambang pintu.
"Bi Nur! Bisa ku lihat ponselmu?"
.
.
.
Hai readers ... maaf yaa hari ini up gak maksimal lagi, karena RL yang menyita banyak waktu. huhuhu
__ADS_1