Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 197


__ADS_3

Gerakan impulsif dari Cecilia membuat Regi heran, Nita membelalakkan mata sementara Agnia masih mengunyah tak peduli.


"Ce ... tissu banyak kali! Ngapain lo ambil dari tangan gue!" Seru Regi kesal.


"Gak sempet!! Ingus gue keburu nongol! Lo mau lihat ingus gue? Atau gue peperin ke seragam Lo!"


"Jorok Lo Ce!" Nita menepuk lengannya, dia masih tidak mengerti tingkah aneh Cecilia,


"Dari pada lo bego!!" Ucapnya dengan menghembuskan nafas lega karena sosok yang dia lihat itu telah melewati lorong kantin dan sudah menghilang dari pandangan.


Nita mengerdikkan bahu, gelagat aneh dari Cecelia yang menurutnya tidak bisa dia mengerti dibandingkan dengan perasaan tidak nyaman saat melihat Regi yang begitu perhatian pada Agnia.


Gue bisa bayangin, gimana perasaan Regi saat tahu Agnia udah gak suci lagi. Batin Nita bicara asal berdasarkan apa yang dia lihat, dan juga Agnia yang tidak menyanggahnya sama sekali.


"Siang ini kalian mau pada kemana?" Tanya Regi.


Semua saling menatap, mereka memang tidak ada rencana kemana mana. Nita dengan antusian mengangkat tangannya, "Gimana kalau kita nonton!"


"Setuju!!! Gue ikut mungpung lagi free." Timpal Cecilia, "Yuk Nia! Lo juga ikut!!"


Agnia tidak menjawab dia hanya melihat sebentar lalu membolak balikkan ponselnya, "Gue mesti tanya dulu sama orang rumah!!" jawabnya kemudian.


Cecilia ingat satu hal, sosok yang dia lihat tadi. "Eeh iya juga sih! Lo harus ijin dulu Nia!"


Agnia mengangguk, sementara Regi masih menatap wajahnya lekat lekat.


"Gak usah lo pelototin terus Gi! Kalau jodoh gak bakalan kemana!" celetuk Nita yang sedari tadi memperhatikan Regi.


Uhuk


Kali ini Agnia yang tersedak, Regi dengan cepat membuka botol air mineral dan memberikan padanya.


"Kalian pada kenapa sih hari ini! Kok kesedak gantian terus dari tadi!" ujar Regi yang kini menepuk nepuk tengkuk Agnia.


Agnia menepiskan tangan Regi, dia merasa risih saat tangannya berada ditengkuknya, dia juga merasa takut jika Regi bisa melihat lehernya.

__ADS_1


Gila ... bisa bahaya kalau Regi lihat leher gue.


Dengan cepat Agnia bangkit dari duduknya, dia mengambil tas dan juga ponselnya yang sedari tadi membisu, tidak ada pesan maupun telefon dari pria yang katanya suaminya itu, Bodo amat deh, hari ini gue ikut mereka nonton aja.


"Yuk cabut!! Katanya mau nonton film di bioskop! Gue lagi pengen nonton horor nih! Yuk ah ... keburu sore!" ujarnya.


Cecilia terlihat bingung, baru saja melihat Agnia yang katanya harus meminta izin terlebih dahulu justru sekarang berinisiatif untuk mengajak mereka menonton horor, tapi dia juga enggan mengatakan apa-apa, dia bangkit dan mengikuti Agnia yang sudah melangkah keluar disusul oleh Regi lalu Nita.


Semoga pak Zian sibuk di ruangan guru, dan gak lihat kita. Cecilia berdoa dalam hati.


Kedua gadis yang dikeluarkan dari kelas lebih dulu itu berjalan paling depan, di belakangnya Regi berjalan di samping Agnia dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celananya.


"Tapi kayaknya gue cowoknya sendirian deh! Gak enak banget." ujar Regi, mereka berjalan turun dan menuju lorong kelas kelas yang sudah hampir kosong melompong, hanya ada beberapa siswa yang masih belum pulang.


"Gak apa apa kali Gi ...! Lo simpan aja motor Lo disini, Lo bareng kita pake mobil!" Kata Nita menoleh kebelakang.


"Iya gak apa apa Gi ... lagian cirkle pertemanan kita juga cuma segini gini aja!" timpal Cecilia.


"Iya nih nggak papa kali Gi, Lo gak bakal kita per kosa kok!!" celetuk Nita lagi yang membuat ketiganya tertawa


"Lo bawa motor?" tanyanya balik.


"Iya gue bawa motor! Gue udah lama ya gak boncengin Lo Nia! Gimana kalau lo bareng gue aja! Biar mereka duluan." tawar Regi padanya.


Om Zian sama sekali gak ngabarin gue, padahal hari ini hari kedua gue jadi istrinya, kebangetan banget tuh orang.


"Nia gimana?" tanya Regi lagi.


"Hmm ... ok___"


"Agnia Sarasvati!"


Baru saja akan mengiyakan ajakan Regi, Agnia harus tersentak kaget dan menghentikan langkahnya, bahkan tubuhnya sedikit berjingkat.


Suara bariton yang berasal dari sosok yang dia kenal bahkan dia tunggu tunggu kabarnya terdengar dari arah belakang. Gadis itu menoleh, begitu juga dengan Regi dan kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Kan!!! Gue bilang apa ... mati kan!! Elah!" gumam Cecilia.


Zian menatap Regi dengan sorot mata yang tajam, Gadis itu merasakan akan ada hal yang tidak beres jika dia tetap disana.


"Ikut keruanganku sekarang!" ujar Zian dengan nada kesal, lalu berbalik dan mengayunkan kakinya menuju ruangan guru.


Agnia menoleh pada Regi dsn kedua sahabatnya,


"Sorry banget, gue mesti nemuin om gue dulu ... kalian duluan aja ke bioskop oke!!" ucapnya dengan melangkah mengikuti Zian yang sudah berjalan semakin jauh.


Agnia masuk kedalam ruang guru dimana semua guru sudah tidak terlihat, hanya ada sosok berkemeja hitam yang kini duduk menopangkan satu kakinya diatas kaki yang satunya lagi.


"Kamu mau kemana dengan mereka? Bioskop? Nonton horor?? Hem...?" ucap Zian ketus.


"Iya ... emangnya kenapa? Orang dari tadi nungguin gak ada kabar! Padahal ponsel Nia keluaran terbaru, tapi sepinya melebihi kuburan." Gadis itu menjawabnya dengan nada yang sama ketusnya.


Zian terdengar menghela nafas, "Ada sedikit masalah dikantor, aku harus menyelesaikannya, saat aku hendak mengirim pesan, justru pak Sopian menelepon ku dan menyuruhku segera datang kemari.


Agnia duduk dikursi kayu dihadapan meja Zian, "Emang gak ada niat aja! makanya Nia pengen ikut mereka nonton film."


"Kemarilah! Maafkan aku! Aku benar benar sibuk tadi pagi, ada dua meeting yang harus aku urus." Tangan Zian terulur pada Agnia, gadis itu beranjak dari duduknya lalu mengikuti Zian yang menariknya hingga duduk dipangkuan nya.


Agnia merengut, "Padahal bisa aja kan kalau cuma ngetik chat bentar doang."


Zian mencuil hidungnya, "Iya ... lain kali aku akan mengabarimu baby!"


Agnia justru mendengus kasar saat Zian memanggilnya dengan sebutan itu.


"Dengan panggilan itu, om akan ingat mantan terindah Om itu! Nia gak mau dipanggil baby!' Ujarnya mengalungkan kedua tangan pada leher Zian.


"Astaga Nia ... apa itu akan jadi masalah? lagi pula bukan aku yang memanggilnya begitu, dia yang memanggilku begitu! Tapi sekarang panggilan itu keluar dari mulutku sendiri hanya untukmu." terang Zian panjang lebar. "Kamu juga curang! Karena sampai saat ini terus memanggilku dengan sebutan Om!" ujarnya lagi dengan terkekeh.


"Eeh kenapa gak malah bahas itu! saku kemari karena pak Sopian memberitahuku mengenai foto yang disinyalir itu fotoku."


"Aku udah tahu siapa yang menyebarkannya."

__ADS_1


"Termasuk juga siapa yang membuat video itu?"


__ADS_2