
Zian baru saja memasukkan kembali ponsel kedalam saku celana, setelah mendapat laporan dari sekretarisnya jika Wang sudah diberhentikan. Sementara tatapannya lurus ke arah Regi yang juga menatapnya dengan tajam.
"Beri tahu padaku jika kau mendapatkan kabar dari nya!" ujarnya dengan memberikan kartu nama pada lelaki yang menjadi rivalnya itu kemudian dia berbalik pergi.
"Tunggu!"
Langkah Zian terhenti saat itu juga, "Ada yang ingin gue tanya sama lo!"
Tidak sedikitpun Regi merubah panggilannya pada orang yang lebih tua dihadapannya itu, entah kenapa Regi merasa aneh dengan hubungan antara Om dan keponakannya itu. Pertanyaan yang selalu berputar dikepalanya yang tidak pernah mendapat jawaban apa-apa dari Agnia, ditambah perkataan terakhir Zian yang terus terngiang-ngiang.
"Gue harap lo jawab jujur, apa Lo benar-benar Om nya Nia?"
Zian berbalik, "Apakah penting?"
Lalu pria itu kembali berjalan keluar dari gerai aksesoris, dan meninggalkan Regi begitu saja.
"Sangat penting, karena gue cinta sama Nia! Dan gue gak bakal biarin orang lain nyakitin dia termasuk lo!" teriaknya.
Zian tetap mengayunkan kakinya tanpa menoleh lagi, dia hanya tersenyum kecut saat mendengar teriakan dari Regi, lalu masuk kedalam mobilnya.
"Andai kamu tahu Nia, semua orang peduli padamu! Tapi hanya aku yang akan memiliki mu." gumamnya lalu menyalakan deru mesin kendaraannya.
Zian kembali melaju, dengan manik tajam menyisir ruas jalan, berharap menemukan sosok gadis yang telah memenuhi ruang hatinya saat ini, yang begitu dia rindukan selama berhari- hari.
Semua orang pun mencari gadis riang itu, bak ditelan bumi, dia menghilang begitu saja. Membuat Zian berfikir ada seseorang yang sengaja membantunya, tapi siapa yang berani melakukannya.
"Apa dia menyusul ayahnya pergi ke Singapure?"
Dia pun menepikan mobilnya ditepi jalan, lalu menghubungi seseorang, untuk mencari tahu keberadaannya disingapure. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya.
Setelah kepergian Zian, Regi kembali menghubungi no Agnia, namun sekalipun tidak pernah diangkatnya.
Flashback on
"Gue coba untuk ngertiin lo, itupun kalau lo izinin gue tahu semua masalah lo, gak setengah-setengah Nia!" Regi menggenggam tangan Agnia.
"Sorry Gi ... tapi!!"
"Kalau lo gak siap cerita semua sekarang, gak apa-apa!"
"Thanks Gi, gue bersyukur punya lo sebagai temen baik gue, tapi maaf ... gue gak bisa cerita banyak sama lo saat ini! Gue harus pergi!" Agnia tertunduk.
__ADS_1
"Nia ... lo tahu gue ada buat lo! Lo bisa cerita apapun sama gue, lo mau kemana? Lo bisa tinggal ditempat gue, apartemen gue aja masih tetep kosong, lo tinggal disana aja ya." Regi membujuk gadis cantik yang kini sudah bangkit dari kursi taman, dia pun berjalan menghalau agar gadis itu tidak pergi.
Kalau gue ke tempat Regi, Zian pasti nemuin gue dengan mudah, dan gue gak mau itu terjadi.
"Nia please! Jangan pergi."
Tatapan Regi meneduhkan, membuat Agnia yang menatapnya pun menghela, namun itu saja tidak cukup membuat Agnia berubah fikiran. Niatnya pergi jauh sudah bulat, dia tidak ingin kembali ke rumah Zian, ataupun kembali menumpang ditempat teman-temannya.
"Maaf Gi ... gue tetep harus pergi!"
"Nia ...!" Regi memeluk tubuh Agnia dari belakang, "Kalau itu udah keputusan lo untuk pergi, lo pasti ngerasa itu lebih baik, gue bisa ngerti, tapi please lo tetep kabarin gue ya!"
Agnia berbalik dan mengurai pelukan lelaki yang dia anggap sahabatnya itu. "Pasti, lo akan jadi orang pertama yang gue kabarin Gi! Bye."
Regi pun hanya bisa menatap punggung gadis yang dia cintai itu semakin menjauh, dan menghilang. Dia hanya bisa menghela nafas berat setelah kepergiaannya, berfikir masalah yang menimpanya kali ini lebih berat dari sebelumnya, karena Agnia tidak menerima tawarannya untuk kembali tinggal di tempatnya.
"Gue emang harus cari tahu, masalah apa yang lo alami saat ini Nia."
Flashback Off
Regi benar-benar tidak tahu, kemana Agnia pergi, tempat yang dia tuju dan masalah apa yang terjadi. Setelah mencoba menghubungi Agnia yang tidak pernah sekalipun mendapat balasannya itu, Regi kembali ke bergabung pada teman-temannya.
Jam pun terus berputar, terangnya matahari mulai meredup, berhenti menjadi penerang dan berganti dengan senja yang mulai muncul menghiasi langit biru.
Saat ponselnya bergetar hebat, Zian dengan cepat meraihnya, berharap siapapun memberikan informasi mengenai gadisnya itu. Namun hampir semua informasi yang dia dapatkan nihil. Orang suruhannya pun sama sekali tidak menemukan sedikitpun mengenai Agnia, begitupun dengan orang yang dia suruh ke Singapure, Agnia tidak ada disana.
"Nia ... sebenarnya kamu dimana? Bagaimana aku bisa menjelaskan semua kesalah fahaman ini jika kamu saja tidak ada." gumamnya.
Zian menghela nafas berat saat sampai dirumahnya, lagi-lagi rumah yang masih saja sepi, tidak ada teriakan dan tawa yang selama hampir 2 bulan menemaninya itu.
Zian masuk kedalam rumah, lalu melewati meja makan begitu saja, walau bibi pelayan yang setiap hari menyediakan makanan, tidak pernah berubah sedikitpun.
"Tuan ... beberapa hari ini makanan selalu utuh! Makanlah, jangan menyiksa diri seperti ini. Agar bisa mencari Non Nia dan membawanya pulang!"
"Untukmu saja, bawa pulang untuk anakmu!" ujar Zian tanpa menoleh, dia masuk kedalam kamar dan tidak keluar lagi.
Dan seperti biasa, dia yang akan membawa makanan itu pulang kerumahnya, membaginya dengan tetangga, setelah membereskan semuanya sudah dipastikan dia akan kembali pulang, dan rumah itu semakin hening.
Zian membaringkan tubuh lelahnya di ranjang, dengan menatap wajah Agnia yang memenuhi layar berukuran empat koma tujuh inci dalam genggamannya.
Kim masuk begitu saja, kedalam ruangan yang kini redup. Dia lantas keatas dan mencari Zian, mengetuk pintunya kemudian berdiri didepan kamar Zian.
__ADS_1
Pria itu muncul setelah pintu terbuka, "Kau menemukannya?"
"Sama sekali tidak, ini sangat aneh, Nia menghilang begitu saja!"
Zian mendengus kasar, lalu berjalan menuruni tangga, "Aku sudah bilang padamu! Jangan kembali sebelum menemukannya!"
"Dan sepertinya aku melewatkan sesuatu! Dia tidak mungkin menghilang jika tidak ada membantunya!" sambung Zian lagi.
"Maksudmu?"
"Kau pasti yang menyembunyikan Agnia! Benarkan?" tuduh Zian.
"Kau sudah gila! Kenapa aku? Untuk apa?" ujarnya dengan mendelik.
Pria yang mulai kehabisan akal itu mengacak rambutnya sendiri. "Entahlah ... mungkin!"
"Tuduhan tidak beralasan bisa kujadikan perkara! Bisa-bisanya kau menuduhku tuan Zian!" ketus Kim.
"Lalu kemana dia Kim? Apa kau tidak merasa aneh, dia menghilang begitu saja? Bocah ingusan itu pun tidak tahu keberadaan nya! Lalu siapa yang membantunya bersembunyi?"
Sementara gadis cantik yang dicari hampir semua orang itu tengah tertawa, dengan wajah berseri menyembunyikan segala permasalahan yang menimpanya selama ini.
"Udahan ah main petak umpet nya!"
"Yah kak Nia curang!" ujar seorang anak kecil dengan bibir mencebik.
"Kita main yang lain aja gimana?"
"Pasti kak Nia ngajak main hitung- hitungan, Aya gak mau!" anak kecil itu merajuk, dia berlari ke dalam kamar sang ibu.
"Nah kan Aya maen letak umpet lagi, kak Nia hitung sampe 3 ya!"
Agnia mengendap-ngendap masuk kedalam kamar, berpura-pura tidak melihat gadis kecil yang tengah menelengkup dibawah selimut, hanya ujung kakinya yang terlihat bergerak-gerak.
"Aya mana ya? Kok ilang!"
.
.
.
__ADS_1
Nah sekarang tahu kan othor umpetin Nia dimana? Biarin aja Zian nyari-nyari dulu😅 mohon sabar, alurnya memang lambaaaat