
Aya duduk dikursi dengan kaki yang bergoyang goyang, dia bersenandung riang dengan bola mata yang kesana-kemari, dia juga melihat Agnia yang tengah mengantri di stand es krim yang tak jauh darinya.
Dari arah lift keluar seorang pria berjalan dengan 2 orang dan beberapa orang yang mengikutinya dari belakang, berpakaian rapi lengkap dengan memakai dasi, mereka berbicara dengan tetap melangkah, melewati gadis kecil yang tengah bernyanyi riang itu.
Tiba-tiba dia tertegun, menatap salah seorang pria yang berjalan paling depan yang menarik perhatiannya, dan teringat foto yang dia lihat tadi pagi di laptop milik Agnia.
"Itu pacarnya kak Nia ya!" gumamnya dengan turun dari kursi lalu berlari.
"Kak ... kak Nia!" teriaknya pada Agnia, namun segera menoleh pada rombongan yang semakin menjauh, dia tidak ingin kehilangan kesempatan.
Karena Agnia tidak juga mendengar, dengan cepat dia mengejar rombongan pria dewasa tersebut dan semakin menjauh dari posisinya.
Aya sempat mendengar suara Agnia yang memanggilnya, namun tidak menghentikan langkahnya mengejar pria-pria tersebut.
Beberapa pria itu masuk kedalam sebuah kafe. Aya terus mengikuti mereka dan tanpa sadar sudah jauh dari Agnia.
Para pria itu duduk disebuah ruangan yang dibatasi oleh kaca yang sangat lebar, hingga Aya masih bisa melihat ke arahnya, dan menyusulnya masuk.
"Dek ... Ade sama siapa masuk?" ujar seorang waiters padanya.
Aya dengan cepat menunjuk kearah mereka dan pelayan wanita itu pun mengangguk, "Ooh ... sama ayahnya ya!" Aya kembali mengangguk.
"Jangan jauh-jauh ya, nanti kamu hilang, dan kami repot." ujarnya dengan pergi meninggalkan gadis dengan kuncir rambut kiri dan kanan.
Aya menoleh ke luar, dia mulai takut karena Agnia tidak juga menyusulnya, dan sudah hampir menangis, karena berfikir dia tidak salah mengenali pria yang ada didalam foto Agnia, dia pun menghampirinya.
Para pria yang tengah meeting itu tidak menyadari jika Aya duduk dibelakang salah satu pria, mengamati wajah-wajah mereka.
Tak lama kemudian satu persatu dari mereka pun keluar, dan tinggal 3 orang pria, salah satunya yang dia fikir pacar Agnia.
"Kak ... kak!" gumamnya pada seorang pria.
"Apa?"
"Aya lihat foto kakak tadi pagi!"
Dua orang dihadapannya tertawa, "Zian kau mengenalnya?"
Aya melihat pada pria yang bertanya, "Jadi nama kakak Zian ya?"
Mereka kembali tertawa, "Kakak!! Gak salah ... panggil dia Om atau Daddy!"
Zian mendengus, "Sudah sana pergi! Kau mengganggu."
"Mana orang tuamu Nak?" tanya pria yang duduk dihadapan Zian.
"Ibuku sedang kerja, aku kesini dengan kak Nia!"
Deg
Zian terperangah saat mendengar kata Nia, Apa Nia yang gadis ini maksud adalah Agnia.
"Agnia?" tanyanya memastikan.
Aya menggelengkan kepalanya, "Bukan Agnia, tapi Kak Nia."
"Ya Nia yang kau maksud itu Agnia bukan?"
__ADS_1
"Bukan ... Nia aja!"
Kedua temannya itu kemudian tertawa lagi, "Apa yang kau fikirkan Zian!"
"Tidak ada!"
Aya naik ke kursi disamping Zian, dan mengamati wajahnya, "Kak Zian ganteng, tapi kok lebih tua!"
Zian melebarkan kedua mata, sementara kedua pria didepannya kembali tertawa.
"Dia baru sadar jika kau sudah tua tapi sayang masih jomblo."
Zian lagi-lagi mendengus, "Lebih baik aku pergi."
Zian bangkit dari kursi, lalu Aya ikut turun dan mengikutinya.
"Heh bocah, kenapa mengikutiku?"
"Aya gak mau ilang kak Zian!"
"Mana orang tuamu! Sudah sana pergi!" Zian keluar begitu saja meninggalkan Aya.
Gadis kecil itu berlari menyusulnya, "Astaga! Kau ini, jangan mengikutiku ... aku tidak mengenalmu!"
"Tapi aya mengenal! Aya lihat tadi pagi."
"Apa yang kau bicarakan! Sudah sana cari orangtuamu!" Zian kembali berjalan.
Kedua temannya itu keluar dan menyusulnya, "Bagaimana ini? Aku harus pergi sekarang!"
"Ya aku juga!"
"Lebih baik kita antar ke meja informasi saja." ucap salah satu dari mereka.
Aya mulai berkaca-kaca, dia hampir menangis, "Aya mau kak Nia, gak mau ke meja informasi."
Zian menggerutu tak jelas, lalu merogoh ponselnya. "Lebih baik aku hubungi Kim! Aku tidak ada waktu mengurus hal tidak penting ini!"
Aya semakin menangis, membuat satu dari teman Zian itu menggendongnya, namun dia tidak mau, dia memegang ujung jas milik Zian.
"Sepertinya dia memang mengenalmu, atau dia berfikir dia mengenalmu Zian!"
Zian yang tengah menghubungi sekretarisnya itu mendongkakkan kepalanya ke arah Aya yang berdiri sejajar dengan kakinya.
Dia menghela nafas, lalu berjongkok. "Jangan menangis lagi, kalau anak yang sering menangis itu nanti dimakan hantu."
Aya berusaha menahan tangisannya, dan menyusutnya perlahan, "Hantu?"
"Hantu pemakan anak- anak cengeng!" ujarnya lagi.
"Kak Zian bohong!"
"Untuk apa aku berbohong? Itu benar, kalau tidak ayo kau coba saja terus menangis!"
Kedua temannya itu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada naluri kebapak an."
"Aku tidak mengenalnya, dan dia bukan anakku!" ucap Zian dengan kembali berdiri.
__ADS_1
Aya mulai berhenti menangis, karena takut hantu pemakan anak-anak yang dikatakan oleh Zian, "Aya mau pulang!"
Zian berjalan kembali dengan Aya yang masih memegang satu ujung jasnya, sementara kedua temannya sudah pergi terlebih dahulu.
"Sudah jangan pegang!"
"Tapi kak Nia bilang, kalau kita naik skalator, harus pegangan tangan, kak Zian kan gak pegang tangan Aya."
"Kak Nia Kak Nia! Aku tidak tahu kak Nia mu itu!" gumamnya kesal.
"Kak Nia itu baik, juga cantik, dia juga pintar ... sering ngajarin Aya main hitung-hitungan."
"Ya terserah kau saja! Aku tidak peduli!" gumamnya lagi.
"Tapi kak Zian difoto yang Aya lihat masih muda, dibelakangnya ada pasar malam. Terus kak Zian pake baju putih, tapi kak Nia masih pake baju sekolah." ujar Aya polos.
Ucapannya itu membuat langkah Zian terhenti, "Pasar malam?"
Aya mengangguk, "Iya pasar malam, Aya sering diajak ibu ke pasar malam, kalau ibu libur bekerja ... Aya naik kuda poni, terus beli gula-gula."
"Lalu kak Nia ikut?"
"Kak Nia belum ada, belum pulang kerumah!"
Zian semakin tertarik dengan apa yang diceritakan gadis kecil itu. Dia membawa Aya duduk disebuah kursi.
"Kak Nia mu itu belum pulang? Memangnya kemana?"
"Mana Aya tahu, kan kak Nia nya gak cerita!"
Sial ... bagaimana bicara dengan anak-anak agar bisa mengerti.
"Rumahmu dimana?"
"Ada ... dibelakang rumah besar dan tinggi!" ujarnya dengan terus melihat ke arah lain.
Foto ... ya foto Nia.
Zian merogoh ponselnya dan membuka galeri foto miliknya. "Apa Kak Nia mu seperti ini?"
Aya menatap layar ponsel yang tengah menyala itu, "Iya ... itu kak Nia! Kan Aya bilang apa, Kak Zian itu pacar Kak Nia kan! Tapi kak Nia bilang gak boleh bilang pacar-pacaran."
Zian tersentak, dia pun berhambur memeluk Aya yang terus bicara itu, betapa senangnya saat dia mendengar gadis yang selama ini dia cari ternyata sama.
"Sekarang kita cari kak Nia ku."
"Kak Nia Aya ...!"
"Ya terserah, Nia mu itu adalah Nia ku!" ujarnya dengan menggendong Aya, dan mereka menuruni eskalator.
"Nia ... aku tidak sabar melihatmu!"
.
.
.
__ADS_1
Yah ... Aya gak bisa jaga rahasia ya readers, ketauan dong! wkwkwk .... jangan lupa like dan komen yaa. Makasih semua.