Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 170


__ADS_3

Seperti biasa Agnia harus menunggu Zian yang tengah mengurus beberapa pekerjaannya, namun kali ini dia tidak menunggu di ruangan Zian seorang diri, melainkan ikut bersamanya di dalam ruang meeting, duduk disamping Zian yang tengah meeting dengan beberapa koleganya.


"Apa yang harus aku lakuin? Masa hanya diam aja kayak patung, malu tahu!" bisiknya saat seorang tengah menjelaskan laporan yang dia bawa.


"Kamu hanya perlu diam dan menemani saja! Sedikit sedikit nanti kau juga belajar dari hanya melihat!" jawab Zian.


Dia juga akhirnya tahu, bagaimana repotnya Zian jika mengurus semua laporan disaat bersamaan, butuh konsentrasi tinggi dan juga analisa untuk memberikan keputusan.


Diam diam dia melirik Zian yang tengah serius, yang bisa dia lihat di saat jadinya berkerut. Tangannya lincah dan juga penglihatannya tajam.


Ganteng banget calon suami gue ini, eeeh. Batin Agnia dengan terkekeh dalam hati.


Dia juga tidak melihat Zian yang selalu berfikiran mesum dan seenaknya bicara, dia hanya melihat sesosok pria dewasa yang fokus bekerja.


Dan juga Kim yang berdiri dengan anggun, sangat elegan namun tajam, semua menjadi perhatian nya. Hal kecil yang berkaitan dengan perusahaan dan juga Zian, pekerjaannya tidak pernah salah dan dia juga teliti walaupun sekecil apapun.


Hingga meeting selesai, dan semua orang yang berada diruangan itu satu persatu berdiri saat Zian hendak keluar lebih dulu, dia menggenggam tangan Agnia dan membawanya keluar, diikuti oleh Kim yang berada di belakangnya.


Diruangannya, Dave sudah menunggu. Dia memang sengaja tidak memberi tahu Zian terlebih dahulu, terlebih Dave tidak tahu jika Agnia juga berada di sana.


"Daddy?"


"Nia ... kau juga ada disini sayang?"


"Iya Dad ... sekalian tadi pulang sekolah ikut Om Zian kemari." Jawabnya dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


Dave menghela nafas, "Memangnya kau tidak bosan, disekplah bertemu, disini juga kau ikuti." ucapnya dengan mencuil hidung nya. "Daddy ingin bicara dengan Zian sebentar, bolehkan?"


Agnia mengangguk, sesaat Zian masuk dinikuti oleh Kim, dan mereka berdua sama kagetnya.


"Dave?"


"Aku ingin bicara denganmu Zian!"


"Tentu ... Kim!" ucap Zian menyerahkan berkas ditangannya pada Kim, Kim sendiri hanya mengangguk lalu kembali keluar dari ruangan, dia tentu saja tidak ingin bersinggungan dengan Dave apalagi dalam posisi berdua seperti hari kemarin. Agnia ikut bersama Kim keluar, memberikan waktu pada ayahnya agar berbicara berdua pada Zian.


Zian pun hanya melirik wajah ketidak sukaan Kim yang terlihat sesaat sebelum pergi, dan mereka berdua menghilang dibalik pintu.


"Duduk Dave! Apa yang hendak kau katakan padaku?" Zian duduk disofa diikuti oleh Dave.


"Kau pasti sudah tahu Zian ... putriku pasti sudah mengatakannya padamu bukan! Kulihat dia sangat terbuka padamu, dan aku harap kau tidak mengecewakanmu."


Zian mengulas senyuman, "Sejujurnya aku tidak pernah peduli kau merestui kami atau tidak, tapi aku hargai jika akhirnya kau memberikan restu itu, dia sangat senang, dan tidak ada kebahagiaanku selain melihat Nia bahagia."


Dave berdecih, "Sebagai seorang pria kau tentu harus mendapat restu orang tua dari wanita yang kau cintai bukan! Kenapa kau bersikeras tidak membutuhkan restuku Zian. Bagaimana saat kau menikahinya tanpa aku?"


Zian tergelak, "Apa itu penting untukmu saat ini?"


Dave mengangguk, "Sangat penting, aku baru saja menyadari betapa pentingnya arti seorang anak Zian!"

__ADS_1


"Aku mengerti ... ku harap penyesalanmu yang terlambat ini membuatmu benar benar berubah Dave."


"Semua kulakukan untuk putriku, sampai aku sadar seperti ini, ya walaupun ini sangat terlambat ku lakukan Zian, harusnya aku lakukan dari dulu, pada Jasmine dan putriku yang berada di kandungannya."


"Setidaknya kau melakukan hal terbaik saat ini Dave! Dan aku juga ikut senang."


Dave mengangguk, "Jadi kau masih perlu restu ku atau tidak Mahesa."


"Hei itu ayahku, dasar Arkhan! Kenapa kau masih menyebutkannya."


Keduanya tertawa, saling memanggil nama ayahnya adalah kebiasaan mereka saat dulu jika sedang berdebat maupun bercanda.


"Sekali lagi aku minta maaf! Dan juga rasa terima kasihku karena telah menjaga putriku dengan baik."


"Sama sama ayah mertua!" jawab Zian dengan kembali tergelak.


"Haissh ... kita hanya berbeda usia empat tahun, rasanya tidak enak ditelinga saat kau memanggilku begitu!"


Keduanya kembali tertawa, kali ini lebih membahana daripada sebelumnya. Dave mengulurkan tangan pada Zian, "Sekali lagi maafkan aku!"


Zian pun menjawab tangannya dengan kuat, "Apa itu artinya kau sudah berdamai dengan masa lalu Dave?"


"Aku benar benar tidak bisa memaafkan diriku dimasa lalu Zian, sampai hari ini!" Lirihnya, "Tapi yang sudah pernah aku katakan padamu, aku tidak ingin berbuat kesalahan itu untuk kedua kalinya! Yaitu pada putriku Agnia." lanjutnya lagi.


Zian mengangguk, "Aku turut senang mendengarnya sekarang! Kau banyak berubah."


"Bagaimana dengan kabar ayahmu Dave?"


"Justru itu aku kemari Zian, kau masih memberinya jabatan di perusahaan yang sudah kau merger, padahal kau bisa saja mengganti semua staff dan juga pimpinan disana."


"Seperti katamu, kebahagian Nia lah yang aku fikirkan Dave, bagaimanapun juga tuan Arkhan adalah kakeknya, dan akan menjadi kakek mertuaku!"


Dave tergelak, "Oh ... God, sungguh aku masih tidak percaya, kau akan jadi menantuku Zian!"


Keduanya kembali tergelak, hingga Zian yang tengah menenggak air mineral itu tersedak.


Setelahnya mereka kembali membicarakan sedikit tentang pekerjaan, Zian memang memarger perusahaan Arhkan namun tidak mengganti infrastruktur yang sudah berjalan sebelumnya, dan dia banyak bertanya pada Dave tentang hal itu, walaupun Dave tidak lagi ingin menduduki jabatan apapun disana.


"Kapan kau akan menikahinya Zian? Aku sarankan setelah dia lulus kuliah saja!" ucap Dave saat keduanya selesai membicarakan masalah pekerjaan.


"Kau gila Dave! Usiaku berapa kalau menunggu selama itu?" sungut Zian dengan kedua mata terbelalak.


"Jadi?"


"Biar aku yang mengurusnya, kau hanya tinggal menyaksikan, jangan lupa beri tahu ibunya."


Intercom diatas meja berbunyi, nomor satu menjadi sambungan dari ruangan Kim, Zian pun mengangkatnya.


"Makan siang siap! Agnia juga sudah lapar."

__ADS_1


"Baiklah ... aku kan turun sekarang."


Sambungan terputus, Zian mengembalikan intercom pada tempatnya.


"Ikut aku Dave ... kita makan siang."


Dave menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, aku akan menemui Laras dikantornya."


Zian akhirnya mengangguk, "Kau berniat kembali padanya?"


"Entahlah, aku belum tahu. Niat itu memang ada, tapi kurasa Laras tidak ingin kembali padaku!" Ucapnya mengikuti Zian yang melangkah keluar.


"Atau kau memiliki niat lain?"


"Apa maksudmu?"


"Ah ayolah Dave ... aku tahu bagaimana dirimu! Kau mungkin tertarik pada sekretaris Kim." ujarnya menohok.


"Lebih baik kita bicarakan kau dan Nia saja! Urusan itu biar nanti saja."


Zian tertawa, mereka melangkah ke arah satu ruangan yang sengaja Kim gunakan untuk makan siang mereka dan beberapa kolega yang ikut meeting sebelumnya, makan siang biasa dan cukup santai. Disana juga sudah ada Agnia yang tengah menikmati salad. Kim berdiri didepannya dengan elegan seperti biasa.


Zian menghampiri gadisnya, mengecup pipinya dari arah belakang dan tentu saja membuat Agnia kaget, dan langsung berbalik arah menghadapnya, dengan kedua mata terbelalak.


Dave berdecak dan menyenggol lengannya, "Setidaknya kau menghargai ayah mertuamu ini Zian!"


Zian tergelak, ucapan Dave membuat Agnia semakin kaget, dan dia berhambur memeluknya. "Daddy!"


"Yes sweetheart ... Daddy sudah bicara dengan Zian, dan selebihnya dia yang akan mengurusnya."


"Makasih Daddy! I love you." Agnia mengurai pelukannya dan menatap Zian dengan nanar.


"Kau curang, tidak pernah mengatakan hal itu padaku!" goda Zian membuat Dave tergelak. Namun tatapannya tertuju pada Kim yang bersikap biasa saja dengan wajah datarnya.


"Sekretaris Kim?"


"Mr Dave?"


Dave mengulurkan tangannya, namun Kim hanya menatap tangan yang menggantung tanpa tahu maksudnya.


Zian menarik Agnia dan mengajaknya makan siang, dia juga sengaja membiarkan keduanya agar Kim bisa tahu apa yang dirasakan oleh hatinya saat bersama Dave.


"Terima kasih! Karena ucapan mu aku tahu diri dan juga faham sekarang kenapa putriku memilih Zian," ucap Dave.


"Tidak masalah Mr Dave."


Dave melihat perubahan dari wajah Kim, saat dia sendiri bersikap biasa dan tidak terus menatapnya, Kim hanya berdiri menghadapnya, sangat berbeda sekali saat kemarin, tidak ada rona kemerahan dikedua pipinya, dia juga tidak melihat Kim yang salah tingkah.


Kim memang benar benar tidak bisa ditebak.

__ADS_1


__ADS_2