Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 47


__ADS_3

Dering ponsel milik Agnia terus berbunyi, Regi, Serly, dan juga Adam, meneleponnya secara bergantian. Sementara Agnia masih enggan menerima telepon mereka, hingga menjadi pusat perhatian para pengunjung di mall itu.


"Angkat wei ... ponsel lo berisik!" ucap Nita.


Cecilia cekikikan, "Itu pasti teman-teman baik lo, iya kan!"


"Biar gue tebak, mereka panik dan ngerasa bersalah, mau minta maaf ke lo! Iya gak Cel?"


Cecilia mengangguk, "Lagu lama!!"


Agnia sama sekali mengabaikan panggilan ketiganya, "Dah biarin aja, males gue bahasnya! Dan mereka pasti udah bisa nilai dari video yang gue putar tadi!"


"Weh iya ... bisa- bisanya lo video-in padahal lo nyaris mati waktu itu!" kata Nita penasaran.


"Dan lo mana mungkin gak bisa ngelawan, sama gue aja lo berani, masa sama Vina takut weii!" timpal Cecilia, Nita menganggukkan kepalanya, "Betul tuh! Lo sengaja kan?"


Agnia justru tertawa, "Kalau gue ngelawan, gak bakal ada tuh video!"


Cecilia dan juga Nita saling menatap. Agnia mematikan daya ponsel miliknya, lalu memasukkannya ke dalam tas, "Gue cabut dulu ya! Takutnya yang punya mobil nyariin mobilnya!"


"Oke deh!" sahut keduanya.


Selepas kepergian Agnia, Cecilia juga mendapat telepon dari Serly, dia memperlihatkan layar menyala itu pada Nita, lalu mencibirnya, "Biarin aja lah! Gak usah ikut campur, urusan mereka ini."


Cecilia mengangguk, "Kita pergi aja!"


.


Sesampainya di tempat parkir, ponsel Agnia berdering kembali, kali ini kontak pak Sopian yang terpampang di ponselnya.


Kang BK Calling.


Agnia mendengus kasar lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, setelah menutup pintu barulah dia mengangkatnya.


'Halo Nia? Ini pak Sopian.'


'Iya udah tahu pak! Kenapa pak? Saya kan lagi di skors.'


'Bisa ke sekolah sekarang juga! Ini sudah gawat.'


Sopian terlihat panik, dengan suara berisik yang tidak karuan. Terdengar samar-samar meneriakan nama Vina. Agnia menjauhkan telepon dan melihat layar ponselnya, "Halo Nia! Secepatnya kemari!'


Panggilan tersebut akhirnya berakhir, Agnia mengerdikkan bahu, lalu memeriksa pesan -pesan beruntun dari ketiga temannya.

__ADS_1


'Nia please ke sekolah!'


'Nia, cepat ke sekolah, Vina udah ke gedung atas! Mau lompat! Dia terus manggilin lo!"


Kedua matanya terbelalalak saat membaca teks terakhir, "What... lompat dari gedung? Vina?"


Antara mau percaya atau tidak, Agnia pun menghidupkan mobil, lantas melaju dengan cepat kembali ke sekolah. Beruntung, mall tidak berada jauh dari sekolah.


Tak lama kemudian dia ke sekolah, keributan terjadi disana saat dia tiba, orang-orang memanggil namanya, serta menunjuk ke satu arah, Agnia ke luar dari mobil.


"Nia ... Nia! Ayo lihat Vina di sana, cepat!"


"Ribet banget hidupnya si Vina, dia yang salah dia yang berasa jadi korban dan bertingkah seperti orang depresi."


"Gue yakin dia udah gak punya muka disekolah ini! Kasian Agnia."


"Iya sih, gue juga sempet keracun sama omongannya. Tahunya dia sendiri...."


"Iya dan dia sekarang mau lompat, dih ... selamat kagak, jadi setan iya!"


Agnia mengedarkan kedua bola matanya, melihat para siswa berkumpul dilapangan basket, dengan kepala yang mengenadah ke atas semua.


"Vina!!"


"Vina ... Vin!!" Agnia melambai-lambaikan tangan ke atas berharap Vina melihatnya. Lalu dia masuk ke dalam dan menaiki tangga hingga berada di lantai 6, disana sudah ada pak Sopian sedang membujuknya, Serly, Adam yang khawatir juga Regi yang sibuk menelepon nomor Agnia, lalu sedetik kemudian melihat ke arahnya.


"Nia ...Akhirnya Lo datang!" ujar Regi yang menghampirinya.


Serly berhambur memeluknya, "Nia ... maafin gue!" Agnia hanya tersenyum datar, kedua matanya menyorot ke arah Vina yang sudah berantakan tidak karuan.


"Vina ngapain lo? Jangan macam-macam Vin!"


Vina menatap Agnia dengan nanar, "Maafin gue Nia!"


Saat itu juga Vina melangkah ke udara, dia ingin melenyapkan nyawanya sendiri dengan cara melompat dari lantai 6 gedung sekolah.


Agnia dan Serly terperangah, begitu juga Adam dan juga Regi.


Sopian yang jaraknya paling dekat dengannya berlari begitu saja, menangkap tangan Vina, hingga dia tersangkut dengan tubuh yang sudah hampir jatuh.


Semua orang yang berada di bawah berteriak histeris melihatnya, begitu juga Agnia dan juga Serly.


Regi berlari membantu Sopian memegangi tangan Vina, dan akhirnya menarik tubuhnya hingga ke atas, mereka berhasil menyelamatkan gadis itu.

__ADS_1


Agnia dan Serly berlari ke arahnya, sedangkan Vina sudah tidak sadarkan diri. Semua orang kini mengetahui kebenarannya, siapa yang bersalah dan siapa yang difitnah.


Pak Sopian melarikan Vina kerumah sakit, bersama beberapa orang yang ikut dengannya, sementara Agnia kembali berjalan ke arah mobil. "Gue gak bisa jahat sama orang!" lirihnya pelan.


"Nia?"


Serly berlari ke arahnya, "Lo mau maafin gue kan? Gue juga sama-sama tertipu omongan Vina."


Agnia berseringai, "Tertipu? Atau lo juga ikut iri sama gue! Sampai lo nyembunyiin hubungan lo sama Adam dari gue, kenapa?"


"Lo fikir kalau gue bakalan rebutan cowok sama lo? Lo fikir gue bakal gak suka lo punya cowok! Kenapa?! Gue tanya sekarang kenapa?"


"Karena gue tahu Adam juga suka sama lo, bahkan dia lebih suka lo dari pada gue!"


Agnia berdecih, "Lo takut kalah saing dari gue?"


"Gue emang iri karena lo, otak gue yang pas-pasan ini, selalu kalah dari lo! Padahal gue itu sahabat terbaik lo kan! Gara-gara si Vina juga, gue jadi ikut-ikutan."


Agnia berjalan lebih mendekat, hingga mereka saling berhadapan, "Kurang baik apa gue sama lo! Kurang tulus apa gue sama lo Serl, disaat terpuruk gue ... semua orang menjauh termasuk lo! Gue gak habis fikir sama lo Serl, lo salah tapi tetep nyalahin Vina, lo itu sama aja! Munafik."


"Maafin gue Nia!"


Adam menghampiri mereka, "Lebih baik kita ke rumah sakit, kita lihat Vina!"


Agnia dan juga Serly terdiam untuk beberapa saat, lalu menatap Adam.


"Gue gak ikut! Kalian aja...." Ujar Agnia berbalik arah dan masuk ke dalam mobilnya kembali.


Meninggalkan keduanya yang masih terpaku.


"Agnia benar, lo itu sama aja kayak Vina! Tapi lo lebih parah, saat kebusukan lo ketahuan, lo bukannya ngakuin, tapi lo lempar tangan, lo nyalahin orang!"


"Satu lagi, gue nyesel milih lo jadi pacar gue! Dan mulai detik ini, Kita Putus!!" ungkap Adam lalu meninggalkan Serly bergitu saja.


"Dam ... maafin aku! Aku gak mau kita putus Dam, aku gak mau!" teriaknya.


Adam tidak menghiraukan seruan Serly, dia juga menyesal selama ini, selalu menuruti kemauan Serly dan termakan omongannya. Adam bergegas menaiki motor dan menyusul yang lain ke rumah sakit.


Tinggallah Serly seorang diri, dia menangis menyesali perbuatannya.


"Nyesel kan lo!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2