Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 261


__ADS_3

Setelah Agnia kembali keluar, Zian baru mengunci pintu kamar mandi. Melakukan ritual bersih bersihnya seperti biasanya, namun kepalanya masih terasa berat dengan tubuhnya yang terasa demam.


Agnia berjalan mondar mandir didepan kamar mandi, menunggu suaminya hingga keluar dari sana. Dan tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Zian berjalan keluar.


"Beneran gak apa apa?"


Zian mengangguk, namun kembali mendudukkan bobot tubuhnya di sofa. Kepalanya semakin berat dengan tubuh yang justru menggigil.


Agnia menempelkan punggung tangannya di kening Zian, dan hasilnya terasa panas. Dia juga menempelkan alat pengukur suhu tubuh.


"Ku bilang juga jangan mandi! Malah mandi ... udah tahu demam!" ujar Agnia menggerutu kesal.


Zian hanya membisu dengan kedua mata yang terpejam, telinganya mendengar sang istri yang terus menggerutu.


"Diamlah baby! Kepalaku pusing mendengar ocehanmu."


"Eeh ... aku ini perhatian! Gak bersyukur banget diperhatiin."


"Bukan begitu sayang, kepalaku pusing." gumamnya dengan mata yang masih terpejam, dia menjatuhkan kepalanya dipangkuan Agnia. "Aku ingin disayang sayang ... dielus elus! Bukan di marahi." ujarnya lagi dengan menarik tangan Agnia ke atas kepalanya, lalu di gerakkan maju mundur.


Agnia menghela nafas, dia pun mengelus kepala Zian sesuai permintaannya. "Emangnya kalau dielus elus gini sembuh? Kan harus sarapan dan minum obat, jadi hari ini gak perlu ke kantor dulu."


"Pasti sembuh ... obatku hanya kau baby." gumamnya pelan.


"Masih gombal aja padahal lagi sakit, ini pasti gara gara kecapean. Kerja terus sih! Udah jadi bos juga, orang itu kalau jadi bos ya kerja nya nyantei, datang ke kantor tanda tangan, udah balik gak usah mikir." Agnia masih terus menggerutu.


"Gak semudah itu Baby." jawabnya masih dengan mata terpejam di pangkuan sang istri.


"Tinggal nyuruh mudah kok!"


"Baby!"


"Iya ... iya aku diem!" sungut Agnia pada akhirnya, dia menyandarkan punggungnya disandaran sofa dengan terus mengelus kepala Zian.

__ADS_1


Sampai entah berapa lama, Agnia membuka matanya, dan kaget karena dirinya sudah berada di atas ranjang, dan justru ketiduran.


Mati gue ... kenapa malah kebablasan. Zian sudah tidak ada di kamar, namun sarapan yang dia siapkan untuknnya sudah habis, begitu juga dengan pakaian kerja yang dia siapkan tadi sudah tidak ada. Agnia turun dari ranjang, lalu bergegas keluar dari kamar lalu turun dengn cepat.


"Bi Nur ... Bi?"


Yang dipanggil tidak menyaut, namun Aya yang tengah bermain boneka ditengah tengah ruangan menoleh.


"Kak Nia? Kenapa teriak teriak? Ibu tadi lagi di belakang. Lagi nyapu." jawabnya polos.


"Aya ... Aya liat om Zian?" Tanyannya dengan menghampiri gadis kecil yang tengah duduk dilantai itu.


"Om Zian?" Agnia mengangguk. "Lihat kok! Tadi baru saja Om Zian pergi ke kantor!"


"Baru saja pergi?"


"Iya baru saja pergi!" jawabnya diulangi.


"Kok Om Zian gak bilang Kak Nia sih!" Agnia kembali berdiri dengan wajah tidak karuan, mengingat Zian tengah demam tapi memaksakan diri pergi ke kantor.


"Tapi ibu udah kasih jahe sama Om Zian tadi, sebelum pergi. Aya liat tadi."


"Minuman jahe?"


"Iya minuman Jahe. Gak enak!" terangnya dengan bergidig.


"Tetep aja kan kalau sakit harus istirahat."


"Kak Nia sakit?"


"Bukan! Tapi Om Zian."


"Om Zian sakit? Kok pergi ke kantor sih! Harusnya kan pergi ke dokter. Kenapa kak Aya gak larang Om Zian? Ibu juga." ujarnya membuat Agnia serikit kesal karena harus terus menjawabnya.

__ADS_1


"Aya juga enggak!"


"Kan aya gak tau!" ujarnya lagi dengan kedua tangan yang dia rentangkan setengah.


"Tau deh terserah Aya." Agnia kembali ke atas dan meninggalkan gadis kecil itu begitu saja.


"Ih kak Nia gak jelas!" gerutu Aya meneruskan permainannya dengan boneka.


Agnia masuk kedalam kamar, lalu menyambar tas selempangnya dan kembali keluar. Tak lupa memesan ojek online saat menuruni tangga.


"Non Nia? Mau kemana?"


"Bi Nur? Ini bi Mau ke kantor om Zian."


"Tidak usah Non ... tadi tuan pesan sama bibi, suruh Non jangan kemana mana. Tunggu dirumah saja."


"Tapi dia aja kekantor masih demam Bi! Maksain banget kan! Bukannya istirahat dirumah." terang Agnia dengan terus berjalan.


"Iya tuan memang begitu Non, tapi mana bisa diam di rumah. Apalagi sekarang tidak ada sekretaris Kim!"


"Ya udah ... Gak ada sekretaris Kim, Nia juga bisa kok!" ujarnya dengan terus melangkah keluar. "Nia pergi Bi!"


"Non nanti Tuan marah kalau Non tetap pergi!"


Agnia menoleh, "Enggak bakalan! Dia aja nekad pergi ke kantor kok! Kenapa Nia gak boleh?"


Bi Nur hanya bisa menghela nafas, dia tidak bisa melarang Agnia jika sudah begitu. Hampir dua bulan pernah tinggal bersamanya, dia cukup tahu bagaimana sifat gadis yang kini jadi istri majikannya itu. Sementara Agnia keluar rumah dan membuka gerbang lalu menghampiri supir motor yang terihat menunggunya dengan terus menggerutu.


"Emangnya cuma sekretaris Kim yang bisa! Kalau sekretaris Kim yang ngomong aja, dia pasti nurut!"


.


.

__ADS_1


Dikit dulu yaa readers ... othor mengriweh lagi di RL, jangan bosen nunggu othor hihihi... makasih buat dukungannya, maaf othor belum sempet balas komen. Kalian terlope lope deh.


__ADS_2