Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 72


__ADS_3

"Nia ayo kita pergi!"


"Apaan sih!! Nia belum selesai makan maen tarik-tarik aja!" gumam Agnia menepis tangan Zian.


Regi ingin mencegahnya, namun dia juga tidak ingin terlalu ikut campur karena belum tahu dengan pasti siapa yang tengah bersama Agnia itu.


"Ya sudah Nia ... gue lanjut kerja lagi! Sampai ketemu di rumah." ujar Regi melambaikan tangan lalu kemudian kembali bergabung bersama teman-temannya.


Zian membelalak kan mata, dengan tangan yang mencengkram kuat jemari Agnia, "Apa maksudnya ketemu di rumah?"


"Awww ... sakit!"


"Apa maksud nya Nia? Kau tinggal bersama bocah ingusan itu?" tanyanya sekali lagi.


"Kalau iya emangnya kenapa? Om tidak punya hak mencampuri urusanku!" ujarnya dengan menepis tangan Zian.


Kim menggelengkan kepalanya saat Agnia beranjak pergi, dia keluar begitu saja meninggalkan mereka.


"Kau berlebihan Zian! Kau ingin dia tetap bersamamu tapi kau memperlakukannya dengan kasar."


Zian menoleh ke arah Kim, "Kau dengar sendiri tadi? Dia ... mereka tinggal bersama selama ini! Ini tidak bisa dibiarkan Kim, tidak bisa!" ujarnya menyusul Agnia.


Zian mengedarkan pandangan nya, mencari sosok gadis keras kepala itu, namun ternyata dia sudah menghilang dengan cepat.


"Sial ... kemana perginya!"


Setelah melakukan pembayaran, Kim pun menyusulnya keluar, dan menghampiri Zian yang tengah menggerutu tidak jelas.


"Kau lihat Kim ... sikapnya membuatku kesal dan muak!"


"Ya ... itulah Nia! Lantas kenapa kau masih ingin membawanya kembali pulang?"


"Itu ... ya itu karena aku khawatir, dia kan merusak hidupnya sendiri! Aku hanya peduli padanya?" ujarnya dengan menggaruk belakang kepala.


Kim berdecih, seketika Zian menatapnya tajam. Dia lalu kembali masuk kedalam dan mencari Regi.


"Maaf Regi baru saja pulang, jam kerjanya sudah selesai dari tadi." ujar seorang pemuda yang tengah membereskan alat-alat musik.


"Sial ... Mereka pasti pergi berdua Kim!"


Sekretaris Kim mengerdikan bahunya, "Tidak usah khawatir, Nia pasti bisa menjaga dirinya sendiri!"


"Tidak Kim ... aku harus mencari nya!"


Zian pun keluar dari kafe dan masuk kedalam mobilnya, Kim menyusulnya masuk dan Zian pun melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir.


"Makanya kalau cinta itu bilang!"


"Kim!!!"


.


.


Sementara Agnia menaiki sepeda motor bersama Regi yang kebetulan keluar dari tempat parkir.


"Gue kira Lo bakal pulang sama om lo itu Nia?"


Agnia mengerdik, "Enggaklah ngapain pulang sama dia?"


Regi yang hendak melaju pun menoleh, "Lah kenapa? Dia Om lo kan?"


"Hem ... entar deh gue cerita, sekarang jalan dulu aja!" jawabnya dengan menepuk bahu Regi.


"Kita pulang ke rumah nih?"


Agnia mengangguk, "Buruan!" ujarnya dengan menoleh ke arah pintu masuk kafe.


Regi pun melaju keluar, sesaat sebelum Zian keluar mencari mereka.

__ADS_1


Agnia menceritakan semua hal yang terjadi hari itu pada Regi, kecuali tentang siapa Zian. Untuk saat ini, memeng hanya Regi yang bisa dia percaya, Regi jugalah yang selalu ada saat dia membutuhkannya.


"Lo gila Nia!" Ujar


"Dia emang gila Gi!"


"Lo juga anj ... bisa-bisanya lo nolongin Cecilia, nolong sih nolong tapi jangan bodoh dong!" ujarnya geram.


Pasalnya Regi jelas tidak ingin terjadi sesuatu dengan gadis pujaan nya, ditambah pekerjaan Cecilia yang dia baru saja tahu.


"Gue cuma nolong dia sekali doang! Abis itu gue gak akan mau lagi!"


Regi menambah kecepatan laju motornya, dia kesal, gadisnya itu terlalu baik, saking baiknya, sering kali dimanfaatkan orang lain.


"Lo gak inget dimanfaatin sahabat Lo sendiri? Lo gak inget difitnah mereka. Gila lo Nia!"


"Udah deh gak usah marah-marah gak jelas!"


"Gimana gue gak marah coba, lo tuh ... Ahk!!" ujarnya dengan menutup kaca helm.


Regi kembali mengebut, saking mengebutnya, Agnia hampir terjengkang ke belakang,


"Lo gila Gi ... gue ampir jatoh!"


"Sorry Nia!"


Regi memperlambat laju kendaraannya, "Pegangan makanya! Ini motor bukan mobil sports kayak yang itu!"


Regi kenapa sih, aneh banget ... marah-marah gak jelas.


Tidak lama kemudian mereka sampai di apartemen, Agnia turun terlebih dahulu sementara Regi memarkirkan motornya,


"Kalau gak ada Om lo itu, lo gak tahu deh dimana saat ini sama tuh aki-aki!" sungut Regi.


Agnia terkekeh, "Gitu amat, gue juga mikir kali Gi!"


"Tau deh terserah Lo! Susah amat dibilangin!"


Regi terlihat diam saja, dia memang marah tapi dia juga tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Gi ... beneran marah sama gue?"


Regi menatapnya, "Gue seneng nih! Seneng banget ... gak marah sama sekali! ujarnya dengan penuh penekanan.


"Gi jawab gue serius dong!"


"Gue gak marah Nia, gue gak ada hak untuk itu!" ujarnya dengan turun dari motor.


Agnia mengernyit, "Maksudnya?"


"Ya gue emang gak ada hak kan buat marah!Sekalipun gue pengen banget marah sama Lo! Itu karena gue khawatir Nia, gue gak mau Lo kenapa-napa, gue gak bisa ngebayangin kalau sampai terjadi sesuatu sama Lo." ucapnya dengan memegang kedua bahu Agnia.


Keduanya saling menatap, dalam diam, semakin dalam dan lama, mengacuhkan orang-orang yang tengah berjalan di sekitar mereka,


"Gue sayang sama lo Nia!"


"Gue tahu Gi, lo selalu ada buat gue! Lo juga banyak bantuin gue." ucap Agnia menepuk bahu Regi dengan terkekeh.


"Tapi rasa sayang yang gue miliki buat lo lebih dari itu Nia, gue cinta sama lo."


Hening, Agnia membisu seketika, dan menatap jauh kedalam kedua manik Regi yang teduh.


"Gi...." Lirihnya.


"Gue gak minta Lo jawab, gue hanya ingin ngungkapin perasaan gue aja, terlepas lo punya perasaan apa sama gue saat ini."


"Gi ... ta___"


Regi menempelkan jari telunjuk di bibir Agnia, "Lo gak usah jawab apapun Nia. Yang penting sekarang, lo tahu perasaan yang gue punya buat lo."

__ADS_1


Jemari Regi menyelusup di sela leher Agnia, dengan ibu jari yang mengelus kulit pipinya dengan lembut. "Lo harus jaga diri lo baik-baik Nia! Gue gak mau terjadi sesuatu hal yang buruk sama lo, kalau lo ijinkan, gue pengen jagain lo 24 jam!"


"Thanks Gi ...! Tapi gue bukan pos satpam yang dijagain dua puluh empat jam dijagain! ujarnya mencairkan suasana yang mulai canggung.


"Sial ... bisa-bisa nya Lo mikir hal itu! Dasar konyol lo Nia!" Regi mencubit pelan pipi Agnia.


"Maafin gue Gi dan makasih lo selalu ada buat gue."


Regi mengangguk, "Kita masuk!"


Agniapun ikut mengangguk pelan, namun mereka tidak juga bergerak dari tempatnya, hanya saling menatap dengan seutas senyum dari bibir keduanya. Dan Regi bergerak perlahan ke arah Agnia dan mendekatkan wajahnya.


"May i...?"


Agnia enggan menjawab, sampai Regi semakin memberanikan diri dan mendekat. Namun tiba-tiba Regi merasa tubuhnya limbung seketika ke arah belakang,


Bughhh


"Jangan berani-berani menyentuh Nia ku!"


Agnia membelalakkan kedua mata, saat melihat Zian sudah berada dihadapannya dengan tatapan bak seekor Alpha yang menyerang kawanan lawan untuk mempertahankan kekuasaannya.


"Om Zian!" seru Agnia dengan menarik lengan Regi.


"Apa? Kau menyukainya juga? Itu sebabnya kau diam saja saat dia menyentuhmu Nia?"


"Maaf Om, aku han___"


"Diam! Aku tidak bertanya padamu!" tunjuknya pada Regi


"Apa sih Om, Om gak perlu ikut campur dalam hidup aku! Om bukan siapa-siapa aku! Ayo Gi, lebih baik kita pergi." ujar Agnia menggandeng tangan Regi.


Namun secepat kilat Zian menarik Agnia dan membawanya, membuat Regi tidak tinggal diam,


"Jangan kasar dong!" Regi mendorong bahu Zian, walaupun tubuh Zian tidak bergeming sekalipun.


"Tidak usah ikut campur!"


"Om lepasin gak!" Agnia dengan suara intonasi lebih tinggi.


"Kau pulang bersamaku titik!"


"Kalau Nia gak mau?"


Zian mendekat ke arah Agnia, "Maka aku akan memukul bocah ingusan itu didepanmu! Aku kan membuatnya babak belur atau sekalian membuatnya sekarat, Hem!"


Agnia melebarkan kelopak matanya, "Dasar penjahat!"


"Pilih saja, pulang dengan ku atau dia babak belur!"


Agnia tidak punya pilihan lain, walaupun Zian sudah keterlaluan, dan dia juga tidak ingin melibatkan Regi dalam masalah ini, hingga dia memutuskan pulang bersama Zian.


"Oke tapi Nia perlu ngomong dulu sama Regi! Gimanapun juga Regi yang udah nolongin Nia waktu Om ngusir Nia dari rumah!"


Deg


Zian baru tersadar, sikap yang ditunjukan Agnia adalah imbas dari perbuatan dia sendiri yang sudah berlebihan, bahkan sampai mengusirnya, Zian pun mengangguk, dan melepaskan lengannya.


Agnia berjalan menghampiri Regi, dengan tatapan yang sulit diartikan Regi melihat kearahnya.


"Sorry Gi ...!"


Regi mengangguk, "Jaga diri lo Nia, hubungi gue kalau ada apa-apa,"


Agnia berhambur memeluk Regi, "Thanks Gi ... gue bakal selalu inget kata-kata lo!"


"Gue bakalan selalu ada buat Lo Nia!"


Sementara Zian berdecih, dengan seringai di bibirnya menatap mereka berdua.

__ADS_1


"Padahal hanya digertak begitu saja! Kamu terlalu baik sama semua orang Nia, kecuali padaku!"


__ADS_2