Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 142


__ADS_3

"Bisa bisanya ...!"


Zian masih mengulum senyumannya, kedua alisnya naik turun berulang kali, ketampanannya terlihat berkali lipat saat dia melinting kemeja yang dikenakannya sebatas lengan, membuat Agnia berkali-kali mengerjapkan kedua matanya saat netra mereka saling beradu.


"Kenapa?"


"Apa?"


Zian yang mengetahui jika gadis yang berdiri dihadapannya itu tengah salah tingkah pun semakin ingin menggodanya, gadis berusia 17 tahun itu tampak menggemaskan.


"Iya kan ... kamu merindukan aku Nia? Ayo mengaku saja!" ucapnya dengan melangkah maju hingga lebih dekat. "Hem ...?" gumamnya lagi.


"Enggak ... Nia kesini untuk itu ...!" tunjuknya pada modul yang tergeletak di atas meja.


"Baiklah ... kalau memang kamu benar-benar kemari hanya untuk tugas sekolah." Zian berbalik arah lantas mengambil jas milliknya yang tersampir pada sandaran kursi kekuasaannya, dia memakainya lalu kembali berbalik.


"Aku ada meeting sebentar lagi! Kamu bisa tunggu disini atau....!" tukasnya, dia ingin melihat bagaimana reaksi Agnia.


"Oke ... Aku tunggu disini saja!"


Zian mengangguk, lalu berpura-pura sibuk dengan tumpukan berkas yang tadi sempat diberikan oleh Kim, sementara ujung matanya melirik Agnia, dengan menahan senyuman.


"Aku pergi!" ujarnya dengan mengecup lembut pipi Agnia.


Agnia memejamkan matanya, "Bego ... bego ... ngapain juga gue tunggu disini!" gumamnya dengan menepuk kedua pipinya, "Keliatan banget gue emang pengen ketemu dia ... Nia lo bego ih!" rutuk nya lagi.


Zian yang keluar dengan terkekeh itu masuk kedalam ruangan Kim, dengan berkas yang bahkan sama sekali belum dia buka sedikitpun.


"Apa ada yang salah?" tanya Kim saat Zian duduk begitu saja di sofa yang terletak disudut ruangan.


"Memangnya aku tidak boleh menunggu disini!"


Kim menatapnya heran, "Apa yang kau tunggu? Hari ini tidak ada jadwal meeting maupun bertemu siapapun."


"Nia...!" gumamnya dengan senyuman tercetak jelas diwajahnya.

__ADS_1


"Nia?"


Zian mengangguk, "Dia ada diruanganku! Aku menyuruhnya menunggu disana!"


"Kau ini ada ada saja!" Tukas Kim dengan decakan pelan.


"Aku hanya ingin menggodanya saja! Dia sangat menggemaskan Kim."


"Ya sudah ... kau tunggu apa lagi? Segeralah menikah, usiamu sudah terlalu matang!"


Pria yang terus melirik jam tangan dipergelangan nya pun berdecih, "Lalu bagaimana denganmu? Kau lebih matang dari ku Kim!"


Kim hanya mendengus pelan, dengan terus memperhatikan bosnya itu dengan seksama, baru kali ini dia terlihat sangat menahan diri saat berhadapan dengan seorang perempuan yang dia sukai.


"Aku memang akan segera menikahinya, tapi setelah urusanku selesai, dia juga masih harus menunggu ujian sekolahnya Kim," gumamnya sendiri, tanpa ditanya.


Sementara Nia berjalan mondar mandir diruangan Zian, idenya datang dengan alasan modul sangat tidak masuk akal, malah membuatnya menunggu dengan perasaan yang tidak karuan.


"Harusnya gue tadi pergi aja! Kenapa mesti bilang gue pengen nunggu! Ini udah hampir setengah jam, tapi dia belum kembali juga." gumamnya.


Zian membuka pintu perlahan, dan menemukan gadis itu tengah tertidur dengan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu duduk disampingnya dengan jarinya terukur merapikan rambut berantakannya.


"Dasar aneh ... harusnya dia bisa langsung mengatakannya saja!" gumamnya pelan.


Zian menatapnya lekat, memperhatikan wajah nya, hidung mancungnya, kedua mata dengan bulu mata lentik, alisnya dan berakhir pada bibir tipis merah delima yang selalu membuat nya tergoda.


Perlahan Zian semakin mendekatkan kepalanya, dia hendak mengecup bibir tipis yang sudah dipastikan rasanya akan manis. Namun tiba-tiba Agnia mengerjapkan kedua matanya dan seketika Zian terpaku ditempatnya.


Agnia mengerjapkan mata, dia lantas membenarkan posisi duduknya hingga punggungnya tegak dengan kedua tangan merapikan rambutnya.


"Maaf aku malah tidur dikantormu!" ujarnya dengan bangkit, namun karena badannya tidak seimbang, ditambah rasa kaget karena baru saja terbangun dari tidurnya, Agnia justru ambruk dipangkuan Zian.


Agnia tersentak, dia segera bangkit namun dengan cepat Zian menahannya dengan tangan melingkar dipinggangnya.


"Tidak usah buru-buru ... kamu baru saja bangun!"

__ADS_1


Agnia merasa panik, ditambah kini jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya berubah merona dengan jarak yang amat dekat.


"Katakan kalau kamu memang merindukanku Nia?"


Agnia terdiam, namun kedua matanya tidak lagi bisa berbohong, dia memang merindukan pria dewasa yang kini menarik perlahan dagunya.


Perlahan Zian mendekatikan kepalanya kembali, merekatkan pelukan hingga tubuh Agnia semakin dekat, setelah itu dia menyapu bibir tipis merah delima itu dengan ujung ibu jarinya.


Desir demi desir dalam darah keduanya perlahan menyeruak, hingga entah bagaimana caranya, kini kedua benda basah itu saling bertaut lembut, sangat lembut hingga membuat Agnia semakin terbuai, dengan kedua mata terpejam seolah menikmati setiap detik lidah Zian yang kian membelit, mengimbangi permainannya yang belum seberapa itu.


Begitu juga dengan Zian, walau dirasa Agnia masih kaku, namun dia belajar dengan cepat, dan bisa mengimbanginya. Mereka baru berhenti setelah Agnia terlihat kesusahan bernafas.


"Semakin lama permainanmu semakin bagus!" ujar Zian setengah berbisik.


Agnia mencubit pinggangnya hingga pria itu meringis, lalu Zian tergelak dengan menarik lembut kepalanya dan memeluknya.


Ahhk ... entah gimana muka gue setelah ini, malu banget pasti, keliatan banget kan kalau gue juga sebenarnya menginginkannya dari tadi.


.


.


Keduanya keluar dari ruangan Zian dengan tangan saling menggenggam. Walaupun Agnia berusaha melepaskannya namun Zian justru lebih kuat menahan nya.


"Kamu kan tidak memakai seragam Nia ... orang lain tidak akan tahu kalau kamu masih sekolah, tapi sudah semakin mahir." Bisik Zian terus menggodanya.


Agnia membulatkan kedua matanya, ingin sekali dia menyumpal mulut Zian karena ucapannya.


"Iih ... nyebelin banget! Aku gak akan mau kemari lagi!"


Beberapa orang karyawan menatap mereka, dengan banyak pertanyaan, namun Zian seakan tidak mau peduli, dia terus menggenggam tangan gadis kecilnya.


"Kalau kamu tidak mau kemari lagi, aku akan memberikan nilai C untuk semua tugasmu disekolah!" ancamnya begitu mereka keluar dari gedung.


"Hei ... mana bisa begitu!"

__ADS_1


"Bisa saja ... karena aku yang menentukannya!"


__ADS_2