
Dengan gontai Agnia mengikuti langkah ayahnya masuk kedalam rumah, kedua tangannya bertaut menandakan dia tengah dilanda cemas, bukan apa-apa. Karena setelah ini sudah dipastikan kedua orang tuanya akan bertengkar, dan itu yang selalu dia takutkan, perdebatan berujung saling menyalahkan, pertengkaran yang tidak ada habisnya, dan itu pula yang sering dia lihat dari dulu.
"Ayo Nia ... come on! Kamu masuk duluan, Daddy tunggu disini, Daddy sedang malas bertengkar dengan Mommy mu!"
Agnia menghela nafas panjang, lalu berjalan masuk. Kedua netranya menyisir ruangan, tidak ada tanda tanda keberadaan mommy nya.
Bi Yum datang dari arah belakang dengan setengah berlari, berhambur memeluk gadis berusia 17 tahun itu.
"Astaga Non ... non baik-baik saja kan?"
Agnia mengangguk, "Mommy ada bi?"
"Ada Non tadi bibi lihat sedang berenang dibelakang! Non ... Non Nia mau pulang kan sekarang dan tidak pergi lagi?" tukas Bi Yum, dia tidak tahu jika ucapannya baru saja di dengarkan oleh seseorang dari balik pintu.
Agnia memejamkan mata, "Bi ... jangan bilang apapun! Di luar ada___"
"Apa maksudnya untuk tidak pergi lagi?" Dave menerjang pintu dan merangsek masuk. Membuat Agnia maupun pelayan rumah tersentak.
"Tu__ tuan Dave?"
"Katakan apa maksud ucapan mu Yum?"
"Daddy ... mungkin Daddy salah denger, bi Yum gak bilang begitu!" ujar Agnia menahan lengan ayahnya.
"Aku tidak salah dengar Nia, ayo jelaskan pada Daddy apa yang dia maksud! Apa selama ini kamu tidak tinggal dirumah?" tanya Dave berang.
Agnia dan bi Yum saling menatap, dengan tatapan sulit diartikan. Bagaimana pun juga Agnia tidak ingin kedua orang tuanya kembali bertengkar.
"Nia? Jawab Daddy?" gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, dia hanya menundukkan kepalanya, Dave menghela nafas, "Yum? Jelaskan padaku ada apa?"
Bi Yum menatap Agnia yang melihat ke arahnya dengan sedikit gelengan kepalanya, gadis itu berharap bi Yum yang merawatnya sejak kecil itu tidak mengatakan apapun pada ayahnya yang akan membuat kedua orang tuanya kembali bertengkar. Namun lain halnya dengan bi Yum, dia yang selama ini tahu keadaan anak dari majikannya itu diperlakukan buruk oleh ibu kandungnya sendiri dan memilih menceritakan semua nya pada Dave.
Dave terhenyak saat mendengar jika Agnia selama ini hidup di luar, dan tinggal seorang diri, tanpa dipedulikan oleh ibunya, dia berdecak tidak percaya menatap putri satu satunya itu yang kini terseguk menangis.
__ADS_1
"Sekarang mana dia?"
Dave mengayunkan kakinya keruang makan, lalu keluar menuju kolam renang yang berada disamping rumah.
"Laras!!!"
Laras yang tengah berenang sontak kaget saat seseorang memanggil namanya dengan teriakan, disusul oleh Agnia yang berada dibelakang ayahnya dan menahan lengannya.
"Daddy ... sudah, lebih baik kita pergi saja! Jangan bertengkar lagi." ujar Agnia dengan menangis.
"Apa kau sudah gila? Ibu macam apa kau ini Laras? Kau menelantarkan anakmu sendiri!" tukas Dave semakin emosi.
Laras naik ke tepi kolam, dan memakai batrobe miliknya, dia kembali berjalan dengan santai menghampiri mantan suaminya yang telah menceraikannya.
"Kenapa kau selalu bilang dia anakku? Apa dia bukan anakmu juga Dave? Apa kau sekarang baru peduli padanya?" ujar Laras dengan mengikat tali dikedua sisi pada bathrobe yang dikenakannya.
Dave merasa heran, kenapa wanita itu begitu tenang, padahal dia yang membuat anaknya sendiri menderita.
"Hati? Kau bicara hati padaku Dave? Apa kau tidak salah? Harusnya kau berkaca, kenapa aku seperti ini Dave?"
"Mom ... Dad, please ... jangan bertengkar lagi!" lirih Agnia dengan Isak tangis, dalam rengkuhan Bi Yum.
Keduanya menatapnya sekilas, lalu kembali saling menatap, "Kau tidak lihat dia Laras?"
Laras hanya berdecih, lalu berbalik, mengambil handuk kecil yang berada diatas kursi santai kemudian melenggang masuk.
Dave mencekal lengannya, "Aku belum selesai bicara Laras, apa kau sengaja berbuat seperti ini untuk mencari perhatianku?" ujarnya menohok.
Laras menepis tangan Dave dengan berseringai, "Apa pedulimu Dave, selama ini pun kau tidak mengurusnya!"
Laras kembali berjalan masuk, dan untuk kedua kalinya dia mencekal ibu dari putrinya itu, "Dengar Laras! Kalau kau tidak mengurusnya aku akan membawanya dari sini!"
Laras terhenyak, dia memang ingin mencari perhatian Dave yang selama ini tidak pernah peduli lagi padanya, hingga dia melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan mengorbankan perasaan putri yang dilahirkan dari rahimnya itu, namun tujuannya bukan membuat kembali menyadari kesalahannya, tapi malah akan membawa Agnia pergi, dan sudah dipastikan dia tidak akan bertemu dengannya lagi jika itu terjadi.
__ADS_1
"Kau bilang apa? Membawanya pergi? Kau tidak sadar juga Dave? Kau yang meninggalkan kami demi wanita lain, dan kau sekarang datang untuk membawanya pergi?" sentaknya dengan mendorong dada Dave hingga pria tegap itu mundur beberapa langkah.
"Jadi benar? Kau melakukan semua itu karena ingin mencari perhatianku Laras! Kau gila, aku memang salah karena meninggalkan kalian berdua, tapi aku tidak ingin melakukan kesalahan kedua kalinya dengan membuat anakku tumbuh dengan ibu macam dirimu Laras!"
Laras berjalan meninggalkan Dave yang masih berbicara itu, dia memilih masuk kedalam kamar, Dave menyusulnya dengan mendorong pintu kamar dengan kasar hingga Laras ikut terdorong.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau sampai membawanya pergi Dave! Kau tidak punya perasaan Dave!" ujarnya dengan menangis, ditangannya kini ada sebuah botol kecil berisi obat obatan milik nya, dan kedua tangannya sudah merasakan tremor, "Aku tidak main-main Dave, aku akan menenggak semua obat ini dihadapanmu!"
"Kau memang gila Laras! Kau fikir apa yang kau lakukan itu bagus!" Dave merebut botol obat dari tangan mantas istrinya itu dengan paksa, mendorong tubuhnya hingga terjerembab diatas ranjang.
"Daddy ... Mommy sudah! Hentikan!" Sergah Agnia yang masuk kedalam kamar dengan menangis semakin kencang melihat Laras yang menangis histeris dengan tubuh yang tertelengkup di atas ranjang.
"Nyonya!" gumam Bi Yum dengan menatap nanar disamping Agnia.
Dia ikut menenangkan Agnia, tapi dirinya juga khawatir dengan keadaan majikannya itu. Dave meraup wajahnya dengan kasar lalu berbalik keluar dari kamar dengan memukul keras pintu yang dilewatinya.
Entah apa yang dirasakan pria berusia 37 tahun itu saat ini, dia ingin sekali marah karena Laras yang tidak peduli dengan Agnia, namun di sisi lain, dia juga bersalah karena selama ini meninggalkan mereka dan hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri, hingga membuat Laras depresi.
"Mom...!" Agnia naik keatas ranjang dan memeluk ibunya yang juga tengah menangis. Mereka berdua saling berpelukan dan menangis tergugu.
"Maafkan Mommy sayang! Mommy melakukan semua ini karena mommy kecewa dengan Daddy mu, dia tidak pernah memikirkan perasaan Mommy, dan mommy melampiaskan nya padamu!"
.
.
.
Nah ... kan ada penyebabnya kenapa Laras gak peduli sama anaknya sendiri, karena dia kecewa sama suaminya yang gak peduli dirinya, Jadi kewarasan seorang ibu itu memang harus dijaga yaa.
Banyak cara buat menjaganya, salah satunya baca novel... wokwok, mending halu halu ria yaa bestie, atau hiling hiling yang lagi in...wkwkwk, karna RL yang banyak nyita esmosi.
Kayak othor yang baru bisa up, karena mengriweh di RL hihihi, semoga kalian gak ngambek yaa.✌️ seperti biasa, othor juga telat balas komen, atau hanya like atau gak semua othor blesin. kebanyakan atau nih betewe.
__ADS_1