
"Apa ini semua karena berebut sugar Daddy? Kenapa tidak cari yang lain? Yang lebih tampan misalkan?"
Agnia terhenyak, mendengar Zian mengatakan hal itu, meskipun berkali-kali sudah ia jelaskan namun tetap saja, pria dewasa itu tidak pernah sekalipun percaya padanya.
"Ya terserah Om saja lah, gue gak peduli! Misalnya Om Zian gitu? Mau bilang gitu kan?" ujarnya membuat Zian meringis.
"Dasar!"
Tok
Tok
Pelayan rumah mengetuk pintu kamar, mereka yang saling menatap itu mengerjapkan mata lalu menoleh ke arah pintu, Zian bangkit dan membuka pintu.
"Tuan, ada telepon dari non Dita! Katanya nomor ponsel Tuan tidak bisa di hubungi!"
Zian mengangguk, "Oke Bi aku kesana!"
Ujarnya dengan menutup pintu tanpa mengatakan apa-apa.
Agnia mendengus, "Belum tahu aja dia, kalau pawang betinanya itu gak bener! Haisss ... ngomong apa gue!"
"Non sarapan dulu!" pelayan rumah pun masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi semangkuk bubur dan juga segelas susu.
"Lho bi, Nia kan bisa jalan ke bawah, kenapa sarapannya dibawa ke kamar?"
Wanita paruh baya itu tersenyum, dia meletakkan nampan di atas nakas, "Tuan Zian yang suruh, katanya Non sarapan di kamar saja! Biar gak banyak gerak dan cepet sembuh."
"Bi, Nia gak apa-apa kok, lagipula yang sakit itu hati Nia!" ujar nya terkekeh.
Agnia membawa mangkuk bubur itu ke bawah, ujung mata mengunci sosok Zian berdiri ke pintu belakang, dia sedang berbicara di telefon dengan wajah berseri-seri.
"Pasti wanita itu sedang merayunya, huuh dasar bodoh! Mau aja dikibulin!"
Setelah selesai bicara dengan kekasihnya itu, Zian kembali ke dalam, dan melihat Agnia yang sudah berada di meja makan.
"Kau bandel sekali, aku suruh makan di kamar! Kenapa keluar?"
"Karena aku gak mau makan sendirian Om."
Zian menghela nafas, percuma berdebat dengan gadis kecil itu, dia selalu punya cara dan jawaban untuk menimpalinya.
"Pacar Om masih di New York?"
"Heeem ... kontrak 3 bulan di sana?"
Agnia membelalakkan matanya, "3 bulan?"
"Iya 3 bulan? Sesuai dengan kontrak yang sempat aku baca!"
"Apa Om tidak takut kalau dia it---" Agnia menghentikan ucapannya,
"Apa?"
Kasian banget sih, dikibulin sampe 3 bulan, bodoh banget lagi lo.
__ADS_1
"Hari ini aku mau ke kantor, kau jangan kemana-mana, jangan pergi tanpa seizinku! Kau mengerti."
Agnia mengangguk, lagi pula aku mau kemana, aku kan sedang di skors, mana malu lagi muka kena cakaran semua. Surat itu, astaga aku lupa. ah lupakan, aku tidak akan peduli.
Selesai sarapan, Zian benar-benar pergi, dan Agnia hanya duduk-duduk di rumah, bermain ponsel dan apapun yang dia ingin lakukan.
Drett
Drett
Ponselnya berdering, Agnia yang tengah bermain game pun berdecak, karena merasa terganggu.
"Regi? Ngapain dia telepon gue?"
'Halo ... kenapa Gi?'
'Nia, lo kemana? Hari ini kan perlombaan di sekolah lo, kok lo nya gak ada?'
'Ah ... iya Gi, gue gak sekolah!'
'Jadi kabar itu bener Nia? Gue sempet denger tentang kasus lo, rame gitu nyampe ke sekolah gue! Tapi gue yakin lo gak kayak gitu.'
Ujung mata Agnia mulai menganak, baru Regi yang percaya padanya, namun karena berapa ksli dikecewakan temannya, Agnia tidak ingin terlalu percaya begitu saja.
'Thanks Gi, kalau lo percaya gue gak kayak gitu! Tapi semua orang sudah lihat buktinya kan? Dan gue gak bisa ngelak lagi!'
Regi sontak kaget, dia mengenal Agnia dari sekolah menengah pertama, dan dia tahu Agnia seperti apa.
'Gue pengen ketemu lo, bisa gak hari ini?'
'Sorry Gi, gue gak bisa!'
'Enggak bukan gitu!'
'Gue samperin lo deh! Kasih lokasi lo, abis lomba gue ke sana!'
'Tapi Gi!!!'
Tut
Regi memutuskan sambungan teleponnya, dan membuat Agnia kebingungan, "Gimana ini, dia gak mungkin aku suruh kesini!"
Sementara itu
Zian turun dari mobil yang dikemudikan oleh Iyan, bukan dikantor apalagi dihotel miliknya, melainkan di sekolahan. Ya Zian datang ke sekolah Agnia, dengan membawa surat panggilan orang tua.
Seluruh mata menatap ke arahnya, apalagi siswa perempuan yang histeris melihatnya, ketampanan Zian, rambut kelimis yang di sisir ke belakang, postur tingginya, wajahnya, hidung mancungnya, dan semua yang ada di dirinya, membuat Zian terbilang sempurna.
Zian membuka kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya, membuat mereka semakin histeris, saat melihat kedua matanya yang mempesona.
"Siapa sih itu?"
"Wow ... melting gue!"
"Ya ampun pagi-pagi udah dapet yang seger-seger!"
__ADS_1
Zian mengulum senyum saat melihat para gadis SMA itu histeris karenanya, apalagi disana sedang banyak siswa dan juga siswi yamg berkumpul di luar kelas.
"Bos ... sepertinya sedang ada kegiatan! Banyak siswa dengan seragam yang berbeda." gumam Iyan.
"Bagus, lebih banyak yang melihat, lebih bagus! Mereka tahu dan melihatku!"
Iyan mendengus kasar, "Harusnya aku tidak bicara begitu tadi!"
Iyan bertanya pada seorang siswa yang melintas mengenai ruangan pak Sopian.
Siswa itu menunjuk sebuah ruangan di atas.
Iyan mengangguk, sementara Zian hanya diam.
"Katanya diatas bos!"
"Hm ... aku mendengarnya! Ayo pergi."
Mereka harus berjalan melewati selasar gedung untuk sampai diruangan bimbingan konseling itu. Dan tentu saja, lebih banyak lagi yang menatapnya.
Tok
Tok
Iyan mengetuk pintu ruangan, hingga pak Sopian muncul dari dalam.
"Silahkan masuk," ujar Sopian mempersilahkan.
Iyan membiarkan bosnya itu masuk terlebih dahulu.
"Aku kesini karena surat panggilan ini!" ucap Zian yang sudah duduk dengan kaki yang menopang.
Sopian mengambil surat itu lalu membukanya, "Maaf apa anda wali dari siswi bernama Agnia Sarasvati?"
Zian mengangguk, "Anda bisa lihat, aku kemari membawa surat itu bukan?"
Sopian mengangguk, dan mulai berbicara mengenai kasus yang menimpa Agnia.
"Dia itu siswa berprestasi, dan pihak sekolag sangat menyayangkan sikap dia akhir-akhir ini!"
"Apa pihak sekolah tidak menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu? Bersama siapa saja dia berteman, atau mungkin perlu anda panggil teman-temannya dia, sekalian aku ingin mendengar langsung kesaksian mereka tentang keponakanku."
"Bisa saja, namun pihak sekolah sudah mengambil keputusan ini dengan banyak pertimbangan, salah satunya informasi yang kami dapat dari orang-orang, dan beredarnya foto-foto tersebut. Dan jelas informan harus kami rahasiakan, untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan dikemudian hari!"
"Maksud anda, rumor yang menimpa Agnia karena ada nya pelaporan?"
Sopian mengangguk. "Disertai bukti foto."
Apa Agnia punya musuh? Dan luka-luka itu sepertinya dia dapat dari seseorang disekolah ini.
.
Vina yang berjalan di depan ruangan BK itu menghentikan langkahnya, dan berpura-pura mengikat tali sepatu.
"Vin, gue mau ngomong?"
__ADS_1
Vina tampak terkejut dengan kehadiran Serly, namun dia langsung berdiri,
"Ngomong aja Serl, kamu kenapa?"