Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 124


__ADS_3

"Maafkan Mommy sayang, seharusnya mommy tidak melampiaskannya padamu." Laras mengelus lembut kepala putrinya yang kini menangis terseguk dipelukannya, Agnia Agnia tak mampu berkata-kata, sebagai anak dia tidak mengerti permasalahan yang terjadi dimasa lalu antara kedua orang tuanya karena tidak ada yang memberitahunya mengenai hal ini, dia hanya tahu orang tuanya bercerai sejak dia masih kecil. Laras pun tidak pernah mengatakan apa penyebabnya, dan sejak saat itu perlakuan terhadapnya mulai berubah.


"Mommy melakukan banyak hal yang menyakitimu, karena mommy terlalu sakit hati karena Daddymu! Daddy hanya memikirkan dirinya sendiri, dan tidak mau peduli dengan apa yang Mommy rasakan!" Tapi tolong jangan pergi nak, Mommy janji akan memperbaiki diri dan menjadi ibu yang baik buatmu! Jangan tinggalkan mommy dan pergi jauh dengan Daddymu." lirihnya lagi.


Agnia terdiam, hanya isak tangis yang terdengar menyautinya, Laras kembali merengkuh putri yang telah dia sia siakan itu hanya untuk membuat dirinya sendiri puas, dengan begitu Dave akan datang dan menyesali semuanya, namun bukannya menyesal, Dave malah menyalahkannya habis-habisan.


Setelah beberapa waktu, keduanya kembali tenang, dan disaat itulah Dave kembali masuk kedalam kamar.


"Laras ... untuk kali ini, kita fikirkan putri kita, aku akan membawanya bersamaku kesingapura agar kau leluasa melakukan apapun yang kau mau! Dan Kau jangan khawatir, untuk beberapa waktu aku akan berada di negara ini. Dan Nia tinggal bersamaku selama itu."


"Kau tidak akan membawanya ke Singapure! Aku tidak mengijinkannya, dia tetap berada disini dengan ku!" Laras menatap mantan suaminya dengan nanar, keduanya terdiam hingga Agnia membuka mulutnya.


"Kenapa kalian memutuskan sesuatu hal tanpa melibatkan ku! Hem ... apa aku tidak punya hak untuk memutuskan sendiri keinginanku? Mom ... Dad?" Ucapan Agnia membuat keduanya terdiam untuk sesaat.


Jika ditanya tentu saja Agnia ingin tinggal bersama keduanya, berkumpul layaknya2 keluarga yang utuh, saling menyayangi dan memberikannya hujaman kasih yang selama ini dia harapkan, namun semua hanya harapan belaka, keduanya tidak mungkin bisa kembali bersama. Ditambah Agnia tahu jika Dave memang sudah memiliki keluarga baru di singapura.


"Nak, apa yang kamu itu inginkan? Katakanlah."


"Daddy dan Mommy sudah tahu apa keinginanku dan kalian tidak mungkin bisa mengabulkannya, jadi untuk sementara, Nia tidak ingin tinggal bersama Daddy maupun Mommy. Nia akan tinggal sendiri!"


Keduanya tersentak kaget mendengar penuturan Agnia, gadis yang masih berusia 17 tahun.


"Tapi sayang? Singapura tempat yang cocok untukmu, untuk masa depanmu dan study mu."


"Tidak Dave, aku tidak akan membiarkan anakku diasuh oleh perempuan itu! Tidak akan!"


Agnia berjingkat turun dari ranjang, dan berdiri ditengah ,"Kalau kalian masih terus bertengkar aku akan pergi kerumah bi Nur! Dan gak akan kembali kerumah ini atau kerumah Daddy. Lebih baik kalian lupakan Nia, anggap saja kalian tidak pernah punya anak!" sentak Agnia keluar dari kamar dan masuk kedalam kamarnya sendiri.


.


.


Keputusan Agnia sudah bulat, dia ingin hidup mandiri dengan tinggal sendiri tanpa Daddy dan mommynya, daripada melihat mereka kembali ribut dan memperdebatkan dimana dia akan tinggal setelah ini, dan terus akan meributkan sesuatu hal yang Agnia tidak tahu.

__ADS_1


Keduanya saling menatap satu sama lain setelah melihat anak mereka yang bicara seperti itu,


"Kali ini mengalahlah Laras, begitu juga aku yang akan mengalah! Kita sudah lama menyakiti putri kita dengan keegoisan kita sebagai orang tua!" ujar Dave dengan menyusul Agnia keluar.


Didalam kamar, Agnia mengeluarkan koper kecil miliknya dan memasukkan barang yang dia butuhkan, dia tidak membawa banyak. Hanya barang yang penting yang akan dia gunakan.


"Gue benci semua orang dirumah ini! Gue benci mommy ... gue juga benci Daddy! Gue gak minta dilahirkan dan jadi beban mereka, gue mau keluarga yang utuh yang saling menyayangi dan bahagia." gumamnya dengan menyambar barang- barang miliknya diatas meja.


Tok


Tok


Suara ketukan terdengar pada daun pintu berwarna pink tersebut.


"Aku hanya akan tinggal dengan Daddy selama Daddy berada di sini, setelah Daddy kembali ke Singapure, aku akan tinggal sendiri!" ujarnya masuk kedalam mobil, Dave menghela nafas, dia tidak ingin membuat purirnya kembali kecewa dan membuat hubungannya semakin memburuk.


"Daddy akan siapkan apartemen buatmu, dan jangan menolak!"


"Enggak Dad, aku akan tetap tinggal bersama bi Nur!"


Agnia menghela nafas berat, tanpa bisa membantah ayahnya lagi, kini mobil melaju dengan cepat mengarah ke rumah Bi nur untuk membawa barangnya yang tersimpan disana.


Karena akses jalan yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, Dave menepikan mobilnya di samping ruko yang sedang tutup, pria itu terperangah saat tahu putri satu satunya tinggal di sebuah rumah petak, yang terletak di pesisiran kota.


Mereka berjalan masuk kedalam gang menuju sebuah rumah. Dave semakin terperangah melihat rumah kecil yang ditempati putrinya itu.


Astaga, selama ini putriku sendiri memilih tinggal ditempat seperti ini, karena keegoisanku dan juga Laras. Padahal kami berdua mampu untuk memberikan rumah sebesar apapun untuknya. Maafkan Daddy Nak! Batin Dave menyesal.


"Selama ini kau tinggal disini sayang?"


Agnia mengangguk, "Iya ... walaupun rumahnya kecil, tapi disana hangat. Percuma rumah besar tapi selalu kosong dan sepi." ujarnya dengan wajah berbinar saat melihat Bocah kecil berlari kearahnya dengan berteriak.


"Kak Aya? Kak Aya...."

__ADS_1


"Aya tidak usah berlari seperti itu nanti kamu jatuh." Agnia harus ikut berteriak agar terdengar oleh Aya yang sudah berlari dari kejauhan.


Brukk


"Aya ... gimana kalau Aya jatuh?" Seru Agnia saat Aya berhambur memeluk kakinya.


Dave mengernyit melihatnya, "Siapa dia?"


Aya menatap pria tinggi tegap itu dengan kepala yang mengenadah.


"Dia Aya, anaknya bi Nur!" ucapnya dengan wajah sumringah.


"Halo Aya ...?" sapa Dave dengan melambaikan tangan kearahnya.


"Kak Aya, ayo cepetan ke rumah....!"


Aya mengabaikan sapaan pria yang disamping Agnia, dia memilih menarik tangan Agnia agar mereka cepat masuk.


"Aya ... ini Daddy kak Nia, Ayo kenalkan dulu." ucapnya dengan tubuh yang dicondongkan kearah Aya.


Gadis kecil itu menjawabnya dengan sedikit berbisik. "Nanti saja ... Aya malu! Kita ke rumah dulu saja, disana___"


"Ada ada saja Aya ini ... tumben banget malu, biasa juga malu - maluin." cicit Agnia teringat terakhir kelakuan Aya saat bertemu Zian.


"Cepetan kak ... kita masuk!!"


Dave menghentikan langkahnya dan memperhatikan keduanya dengan menggelengkan kepalanya, dirinya tampak begitu malu dan juga merasa tidak becus sebagai orang tua, karena putrinya sendiri lebih di sayangi oleh orang lain ketimbang dirinya sebagai ayahnya.


"Daddy ... kenapa diam disitu? Ayo ...!" Dave mengangguk, dan kembali berjalan menyusul.


"Ibu ... Kak Nia pulang!"


"Lho Aya, ibu udah pulang emangnya?" tanya Agnia heran.

__ADS_1


"Iya ...tapi___!"


__ADS_2