Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 136


__ADS_3

"Heh cocok bebek, gak usah kepo deh lo! Lo itu sahabat macam apa sih! Gue heran sama Nia, bisa-bisanya dia masih nganggep lo itu sahabatnya!" seru Nita yang berjalan mendekati Serly yang tengah berada di ambang pintu kelasnya.


Gadis berambut pendek itu memperhatikan Serly yang sedang mengobrol dengan Dave, ucapan mereka tidak terlalu jelas namun saat menyebut Nia dan Zian, Nita tahu jika gadis yang terlalu suka ikut campur dan membocorkan rahasia temannya sendiri tengah membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Agnia.


Dia menoleh kearah suara yang membuat teman teman dikelasnya ikut melongo keluar, "Ngapain lo? Suka-suka gue lah, kenapa lo sewot! Lo mau di depak juga sama kayak sahabat lo?" tukas Serly dengan cibiran.


"Oh gue tahu, lo Berdua ya kan yang ngenalin Agnia sama om nya itu, secara kalian kan juga seorang sugar baby ...!" tambahnya lagi.


Ingin sekali Nita menjambak rambut panjangnya Serly, kalau perlu menarik bibirnya sampai sepuluh Senti kemudian di ikatnya agar tidak banyak bicara, terlebih dia saat ini tidak ada teman, karena Cecilia masih kena hukuman skorsing selama 3 hari, padahal Serly hanya diberikan 1 hari saja, hanya karena dia siswi yang tidak pernah terkena masalah, berbeda dengan Cecilia yang memang suka berbuah ulah.


"Jangan lo fikir gue takut sama lo, orang munafik! Gue cuma gak mau nyari ribut disekolah,"


"Dih emang lo takut sama gue kali! Kalau gue mah jelas, gak ada yang gue takutin!" cibir Serly membuat Nita semakin geram.


"Nit lo mending balik ke kelas, gak usah lo ladenin dia!" seru Adam dari belakang Serly lalu kembali masuk tanpa sedikitpun melihat Serly.


Begitu juga Nita yang berbalik arah dan memilih pergi, sementara Serly menatap nyalang pada Adam yang kini telah duduk di bangkunya.


"Apaasih kamu! Bukannya belaain aku, malah belain Nita!" sentak Serly yang berdiri dihadapan Adam.


"Gue gak belaain Nita, gue juga gak sudi belain lo, gue cuma gak mau lihat yang ribut lagi kayak kemaren."


"Tapi Nita duluan! Bukan aku yang mulai!"


"Terserah, gue gak peduli!" jawab Adam yang memilik sibuk dengan ponsel ditangannya.


Merasa diabaikan Serly berlalu pergi dengan menghentakkan kakinya, dia kembali duduk dengan wajahnya yang merengut.


Adam lama- lama nyebelin banget, dikit aja dia gak peduli lagi sama gue,


.


.


Setelah tidak mendapati putrinya disekolah, Dave kembali ke rumah Laras, dia turun dari mobil dengan amarahnya, menggedor pintu rumah mantan istrinya itu dengan keras.


Laras membuka pintu dengan kesal, gedoran keras membuat dia yang tengah berlatih yoga terganggu.


"Dave? Ada apa lagi?" tanyanya heran saat melihat mantan suami nya itu berdiri dengan resah.

__ADS_1


Dave sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, dia justru masuk kedalam rumah dan menyisir ruangan.


"Ini semua gara-gara kau, apa kau tahu jika Nia berhubungan dengan pria yang lebih tua? Bahkan dia hampir setua kita Laras!"


Laras terperangah, "Apa maksudmu Dave?"


"Nia ... telah berhubungan dengan pria tua, Bahkan pria itu hendak menikahinya, aku tidak akan setuju ... aku akan membawanya ke Singapura hari ini juga!"


"Tidak bisa Dave, kau sudah berjanji padaku, akan memberikan semua keputusan ini pada putri kita. Apa kau akan mengingkarinya lagi?"


"Aku berubah fikiran, lebih baik Nia aku jodohkan dengan anak relasi Bisnisku disana, dari pada harus membiarkannya menikah dengan Zian."


"Zian?"


"Kau mengenalnya juga? Atau mereka sudah menemuimu?"


"Aku tahu, dia pernah datang kemari!" gumam Laras, dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria yang masih dia cintai itu.


"Kurang ajar! Ternyata Zian nekat juga dengan datang kemari!" jawab Dave dengan sama-sama bergumam.


"Duduklah, aku akan buatkan minum untukmu! Kau terlihat kacau sekali!" tawar Laras, dia kembali mengayunkan kakinya menuju ke dalam dan menyuruh asisten rumah tangga membuatkan minuman, lalu dia kembali dan melihat Dave yang tengah duduk dengan memegangi kepalanya.


"Tidak ada, aku hanya memikirkan Nia saat ini, aku mencarinya seharian ini dan tidak menemukannya dimana-mana, bahkan disekolahpun tidak ada.


Laras tampak biasa saja, dia tidak terlihat khawatir maupun kaget mendengarnya. Agnia memang sudah lama sekali tidak tinggal bersamanya. Dan dia tidak peduli dengannya, sekolahnya bahkan hidupnya.


"Ini memang kesalahanku! Aku tidak pernah peduli padanya! Bahkan aku tidak tahu masalah pendidikannya saat ini." lirih Laras.


"Jelas ini salahmu! Kau memang tidak becus mengurus anak!" sentak Dave.


"Dan kau tahu alasannya bukan? Kau ... kau lah penyebabnya Dave, apa kau masih tidak sadar juga? Aku memang salah, tapi kau lebih salah dalam hal ini.


Lagi-lagi mereka berdebat masalah yang sama, dan tidak ada yang mau mengalah, membuat keduanya emosi dengan sesuatu hal yang sama, tidak ada penyelesaian dan juga solusinya sama sekali.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah Laras, Agnia menghela nafas berat saat melihat mobil ayahnya terparkir didepannya.


"Daddy ada didalam! Lebih baik Om pulang saja, aku tidak mau kalian kembali ribut."


"Kau tenang saja, tidak akan ada keributan lagi." ujarnya terkekeh.

__ADS_1


Sebelum Agnia turun dari mobil, Dave sudah melangkah keluar dari rumah dan menghampirinya. Dia mengetuk kaca mobil dengan keras.


"Nia ... cepat keluar!" bentaknya dengan terus menggedor kaca.


"Ya ampun ... lihatlah dia! Emosi sekali!" Zian terkekeh melihat sahabat kecilnya itu diliputi rasa emosi yang seharusnya tidak perlu ada.


"Om! Jangan bercanda!"


Zian masih terkekeh, "Keluarlah, aku akan menyusulmu!" ujarnya dengan mematikan mesin mobil.


Tak lama kemudian, Agnia keluar dari mobil, Dave lantas menariknya masuk, kedalam rumah, Zian bergegas menyusulnya masuk.


"Lepas Dad! Nia bisa jalan sendiri!" ujar Agnia dengan berusaha melepaskan tangan ayahnya.


"Nia ... semalam Daddy sudah katakan bukan, jangan pernah menemuinya lagi!"


"Kenapa? Apa Daddy takut semuanya terbongkar?"


Ucapan Agnia membuat Dave terperanjat, tatapannya berlaih pada Zian yang berdiri diambang pintu, lalu kembali menatap sang putri.


"Kenapa? Benar kan apa yang Nia bilang? Daddy itu ketakutan, Daddy bersikap begini bukan semata- mata karena Daddy khawatir pada Nia! Tapi Daddy hanya khawatir pada diri Daddy sendiri! Daddy jahat! Nia benci Daddy ...! Nia gak nyangka Daddy kayak gitu!"


"Apa yang kamu katakan Nia? Apa kamu lebih percaya pada pria itu dibanding Daddymu sendiri?" kilah Dave dengan tatapan menyalang pada Zian.


Laras sendiri terdiam, dia menarik tangan Agnia yang kini menelengkup diceruk lehernya dengan menangis.


"Ada apa Dave?" ujarnya pada Dave, "Nia? Katakan ada apa?"


Agnia terus menangis, "Lebih baik Daddy pergi dari hidup Nia! Nia gak sudi punya ayah kayak Daddy! Nia juga gak akan pernah mau ikut apalagi tinggal sama orang yang tidak bertanggung jawab kayak Daddy. Nia gak akan mau ngakuin kalau Nia punya Daddy!"


Dave menatapnya dengan sendu, entah kenapa hatinya perih mendengar putrinya sendiri mengatakan hal tersebut, kata-kata yang langsung menghujam bak belati tepat dijantung hatinya.


"Nia?!"


.


.


.

__ADS_1


Gimana rasanya tidak di akui ayah oleh anakmu sendiri babang dave ? wkwkwk itu belum seberapa Dave, belum getokan getokan palu dan doa doa jahat makemak online reader terlope lope othor wokwok... rasain.


__ADS_2