
Frans dan Farid balik lagi ke kantor setelah urusan di luar selesai.
Saat di depan lobby Frans langsung keluar mobil tanpa menunggu Farid yang baru saja memberhentikan mobil.
"Lo kira gue supir, main tinggal aja,"
Menyusul Frans yang hampir masuk lift.
"Yang bilang lo supir siapa? lagian jadi laki kok lelet,"
Lemes amat tuh pak punya mulut.
Mana ada lelet, jelas jelas mobil baru berhenti dan belum sempat mematikan mesin malah di katai lelet, jitak boleh tidak ya.
"Untung lo bos gue,"
Gerutu Farid ikut masuk lift berdiri di samping Frans.
Mereka pergi tidak membawa supir sebab tidak nyaman juga hanya dekat lalu yang lebih pedih bisa bisa nanti tuh si bos bilang 'laki kok manja, dekat ini minta di antar supir'.
Ck supir di gaji kan buat ngantar kita kemana saia bukan, kalau tidak buat apa di pekerjakan mau makan gaji buta.
"Iya gue beruntung jadi bos lo dan bisa juga menindas sesuka hati,"
Dasar bos jahara tidak berperasaan, pantas masih jomblo sampai sekarang.
Farid melirik sinis Frans, lalu dia berfikir kenapa dia bisa sahabatan sama dia dan lebih parah jadi bos lagi.
Malang kali nasib orang yang bekerja sama dia termasuk Farid sendiri.
"Iya gue juga beruntung kadang bisa menindas bos juga, karyawan mana coba yang berani sama bos kecuali gue,"
Lift terbuka Farid buru buru masuk ruangan nya.
Frans juga masuk ruangan sendiri lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda sebab meeting tadi.
Hingga bunyi dering benda pipih yang canggih itu membuyarkan fokus dia.
Cukup lama berdering hingga Frans bosan mendengar baru dia jawab.
👨🦱Hallo.
... Hallo Frans, apa kabar?
👨🦱Siapa? jangan basa basi.
...Masa kamu udah lupa suara aku sih, jahat.
👨🦱Owh, ada apa?.
... Aku udah balik, aku kangen.
Aku tunggu di restaurant xx nanti malam jam delapan.
Sambungan itu terputus sebelum Frans menjawab iya atau menolak.
Frans masih menimbang apa dia akan datang atau tidak.
Tapi jauh dalam lubuk hatinya dia masih menaruh rasa sama orang yang barusan menghubungi dia namun di satu sisi ada rasa kecewa terselip di hatinya.
Cinta tak sampai dulu kini menghampiri lagi, apa kalau dia menuruti yang lalu akan membaik atau justru sebaliknya.
__ADS_1
"Di saat rasa itu udah mulai menipis kamu malah datang lagi buat menambah hingga gue bingung,"
Menyandarkan badan pada sandaran kursi, mood bekerja sudah hilang kini hanya ada fikiran kacau di kepala.
"Perempuan itu ribet ya, lebih ribet dari setumpuk dokumen,"
Pindah duduk dekat jendela mengabaikan dokumen yang segera minta di selesaikan.
Cih, Kadang ada rasa menyesal pernah menaruh rasa sama perempuan itu jika akan meninggalkan luka dalam dada.
Semerepotkan ini apa jatuh cinta dan harus siap terluka juga.
"Ke ruangan gue sekarang,"
Langsung menutup panggilan setelah bicara.
Tidak lama pintu ruangan itu terbuka tanpa mengetuk atau minta izin dulu, siapa lagi pelakunya kalau bukan Farid asisten yang sering di nistakan sama atasan sendiri, untung di gaji.
"Kenapa wajah lo kayak gitu? putus cinta? kan jomblo,"
Tidak seperti biasa Frans memasang wajah masam kan biasa dia yang bikin orang berwajah masam kenapa sekarang kebalik.
Apa sudah terjadi sesuatu.
"Dia balik Far,"
Lesu Frans dengan memandang jauh ke depan terdengar hembusan nafas kasar dia.
"Jadi karna dia balik lo lesu gini? ayolah sekarang ngak zaman patah semangat gitu.
Jadi mau lo sekarang apa?"
Biar ngeselin tapi banyak sisi baik juga.
"Dia ngajak ketemu nanti malam, gue harus apa coba?"
Ayolah ini Frans kali, jangan jadi lemah hanya karna seseorang.
"Ngajak ketemu ya datang lah gimana sih lo, tapi cukup katakan apa yang ingin lo bilang selama ini lalu langsung ambil keputusan.
Gue nggak mau ya lo kembali sama dia, nggak sudi.
Masa lo cemen gini selain ngeselin lo juga mau merangkap jadi direktur labil, cih,"
Sudah ngasih semangat malah menyematkan ledekan lagi, tidak ikhlas ya ngasih solusi.
Frans berfikir iya juga, pantang bagi dia kembali sama orang yang sama meski sebelumnya belum menjalin hubungan.
"Atau nggak lo ajak orang lain pura pura jadi pacar lo agar dia sadar kalau dia sudah nggak punya tempat di hati lo, beres kan,"
Tambah Farid mengasih ide, agar Frans bisa terlepas dari masa lalu yang belum usai itu dan bisa membuka hati buat yang lain.
"Mana ada perempuan yang mau di ajak mendadak dan waktu udah mepet lagi cari dimana coba?"
Tidak semudah itu mencari perempuan yang mau di ajak kerja sama dan ini juga sudah sore dan waktu tinggal beberapa jam lagi.
Merepotkan sekali dia, buat datang lagi coba lebih baik menghilang saja buat selamanya.
"Nanti gue bantu cari deh, yuk pulang siap siap tenang gue temenin kesana,"
Akhirnya mereka pulang buat acara nanti malam.
__ADS_1
Malam Hari.
Baru selesai magrib Ines datang kerumahnya Indah dengan wajah masam.
"Assalamu'alaikum, Bu Indah ada?"
Di depan hanya ada ibu Indah yang duduk sendiri tanpa Indah, kemana dia?.
"Wa'alaikumsalam ada Nes langsung masuk sana,"
Jawab ibu menyuruh Ines masuk kedalam.
Ines masuk menuju kamar Indah yang sedikit terbuka.
"Ndah temenin ke restauran xx yuk mau beli sesuatu,"
Ajak Ines dan Indah lagi nonton drama di laptopnya.
"Dekat dekat sini aja kan bisa Nes, lagian ini juga udah malam,"
Tolak Indah lagi malas keluar.
"Tapi orang yang minta maunya beli di sana Ndah, ngeselin tau ngak,"
Rajuk Ines duduk di samping Indah lalu secepat kilat laptop itu sudah berpindah tangan dan di matikan Ines.
"Siapa?"
Lagian siapa yang kurang kerjaan nyuruh orang malam malam gini, ya walau belum malam kali baru habis magrib.
"Itu yang lagi ngidam dan minta gue yang beli, merepotkan tau,"
Kakak sepupu Ines datang berkunjung dan lagi menginginkan sesuatu dengan Ines harus membelikan.
Tidak tau diri padahal punya suami yang bisa di suruh.
"Bentar gue ganti baju dulu,"
Indah tidak tega membiarkan Ines pergi sendiri maka akan dia temani.
"Dandan dikit Ndah, ntar kita di kira ngemis lagi di sana bukan membeli,"
Tempat yang akan mereka datangi cukup mewah maka pakaian harus sedikit bagus agar tak di kira minta minta.
Masa cantik cantik di kira pengemis.
Selesai ganti baju dan pamitan mereka berangkat menuju tujuan.
Sampai sana Ines memakirkan motornya tepat di sebelah mobil sport yang baru datang juga.
Tanpa permisi orang yang baru turun mobil itu menghampiri Indah dan menarik masuk kedalam.
"Eh eh ini apaan main tarik aja,"
Protes Indah yang tidak diterima di tarik seperti sapi gini.
"Bantuin gue kali ini aja, dan lo urus temannya,"
Jawab orang yang menarik Indah dan menyuruh temannya mengurus Ines yang masih bengong melihat Indah di tarik.
Bersambung.
__ADS_1