
Brukk
Dengan cepat Adam menahan pinggangnya agar tidak terjatuh. "Sorry ... gue gak sengaja!"
"Tidak apa-apa Dam! Aku yang salah kok, karena jalan tidak lihat-lihat." gumam
Vina tertunduk dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya, Serly yang datang dari belakang menarik tangan Adam. "Ngapain sih mesti pegang-pegang segala!"
Adam sendiri gelagapan, Serly tidak sadar jika dia melakukan hal itu di depan Vina, sementara Vina pun belum mengetahui hubungan mereka.
"Kalian...?"
"Udah deh, gak usah ikut campur, mending lo ikut gue ke kantin Vin!" Ujar Serly yang mulai panik sendiri. Dia menarik tangan Vina dan keluar dari perpustakaan.
"Kamu sama Adam?" tanyanya pelan.
"Apa ... udah deh! Gak usah mikir aneh-aneh! Dan lo gak usah cerita apapun. Anggap lo gak pernah lihat Vin!"
Jadi selama ini Serly deket sama Adam, apa Nia tahu hal ini, kalau tahu mungkin Nia akan marah, berarti Nia belum tahu tentang mereka. Buktinya dia Fine-fine aja.
Vina hanya mengangguk, tak lama mereka masuk ke kantin, dan kembali duduk ditempat Agnia tengah duduk menyantap nasi goreng.
"Sorry, lo kelamaan ... jadi makan siang lo gue abisin Serl, keburu dingin. Tapi tenang aja gue udah pesenin lagi buat lo!"
"Sorry Nia, gue lama ya! Iya toiletnya tadi tuh penuh gitu jadi gue nunggu agak lama gitu!" jawab Serly, "Iya gak Vin?" lanjutnya lagi dengan kerlingan ke arah Vina.
"Heh ... iya, penuh!"
Agnia tetap menyuapkan nasi goreng, tanpa melihat keduanya yang tengah salah tingkah.
"Gue gak nanya tuh! Terserah lo-lo mau kemana juga, udah pada gede ini! Gue duluan yaa, makanan kalian udah gue bayar!" seru Agnia kesal.
Dia lantas beranjak dari kursi dan keluar dari kantin, meninggalkan Serly dan Vina begitu saja. Serly mengejarnya, dia bahkan mencekal lengan Agnia.
"Lo kenapa sih Nia? Lo marah sama gue? Gara-gara gue lama di toilet?"
Agnia menepiskan tangannya dengan keras, "Gak tuh ... buat apa? Gak ada alasan buat gue marah sama lo!"
"Tapi lo terlihat kesal sama gue! Lo juga pergi gitu aja Nia!"
Agnia mendengus, "Gue ... kesel sama lo? Buat apa...?"
"Iya gue ngerasa lo jadi aneh, lo beda Nia! Apa karena Cecilia...?"
"Apaan sih Serl...!"
Apa mesti gue bongkar kebusukan lo sekarang Serly, lo sebenarnya sahabat gue atau bukan? Tega banget sama gue.
Agnia tetap berjalan meninggalkan Serly begitu saja, walaupun dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Nia ... Agnia!" teriak Serly.
Aaghk ... kurang ajar si Nia, sok banget jadi orang.
.
__ADS_1
.
Zian kembali ke rumah setelah mengantarkan Agnia ke sekolah. Entah kenapa juga dia ingin melakukannya. Sebelum keberangkatan Dita, dia sengaja mengambil libur dan tidak masuk kantor, sekali pun sekretaris dan asistennya terus menerus menelepon. Berkali-kali dia mengabaikan ponsel yang berdering di atas dashboard mobilnya, namun ponsel dari asistennya terus saja berdering.
'Sudah aku bilang, aku tidak akan masuk apapun yang terjadi, aku ingin menghabiskan waktu dengan Dita, sebelum dia pergi ke luar negeri.'
'Tapi bos...!'
'Tidak ada tapi, lakukan saja perintahku!'
Iyan terdengar menghela nafas panjang, kemudian sambungan ponselnya dia matikan.
"Mengganggu saja!"
Tak lama Zian masuk kedalam rumah, dan berjalan ke kamarnya.
"Baby dari mana saja?" tukas Dita saat dia membuka pintu kamar.
"Aku mengantar Nia ke sekolah,"
Dita yang baru selesai mandi pun mendekati Zian, "Ooh ... aku kira kamu ke kantor hari ini!"
"No honey, aku sudah janji kan menghabiskan waktu denganmu! Sebelum kamu pergi." ujarnya dengan menangkup kedua pipi Dita.
"Tapi aku pergi hari ini Baby, perjalanan dipercepat, mereka ingin aku datang lebih awal."
Zian mengeryit, "Kenapa begitu, disurat kontrak kan tidak ada, kau berangkat sesuai jadwal saja!Hem...."
Anindita merengut, dengan menatap datar ke arahnya, membuat Zian menghela nafas dan akhirnya mengangguk setuju.
"Bukankah kita sudah sepakat?"
"Baiklah ... baiklah, aku akan menunggumu pulang! Bersiap-siaplah, aku akan mengantarmu."
Perempuan dengan tinggi semampai itu menggelengkan kepalany, "Managerku akan menjemputku, kamu tidak perlu mengantarkanku, oke baby,"
"Kenapa, bilang pada dia kau dengan ku! Aku tidak mau tahu!" Zian memilih membuka pinty balkon dan berdiri memandang langit dengan warna kebiruan.
Dita berdecak pelan, dia menyusul Zian ke luar balkon, perlahan dia melingkarkan tangan dipinggang milik Zian.
"Aku tidak mau kamu mengantarkanku, karena karena nanti kita akan sedih baby!" lirihnya.
Zian membalikkan tubuh menjadi menghadap ke arahnya. "Honey, tapi aku ingin mengantarmu,"
Dita menggelengkan kepalanya, "Aku akan baik-baik saja, setelah sampai New york aku akan menghubungimu segera."
Zian tidak lagi mengeluarkan kata-kata, dia hanya menatap lekat kekasihnya itu. Begitupun dengan Dita, semakin lama pandangan mereka semakin dalam, Zian menyambae bibir sen sual miliknya, ********** dengan lembut, begitu juga Dita yang tidak mau kalah membalas belitan Zian.
"Aku harus siap-siap Baby,"
Zian yang has ratnya telah menyeruak, tiba-tuba harus terhenti begitu saja. "Honey, sebentar saja!" Dengan ujung mata melirik tempat tidur.
"Maaf Baby, aku harus pergi! Kita lanjutkan nanti yaa." ucapnya mengecup pipi Zian.
.
__ADS_1
.
Benar saja tidak lama dari situ, manager Dita datang menjemputnya, pria gemulai dengan kemeja bermotif bunga itu masuk begitu saja.
"Princes yuhuuu ... waktu nya pergi!"
Zian mendengus kasar menatapnya dari atas,
Dita mendorong koper keluar dari kamar Zian, "Baby ... don't be sad, aku juga akan kembali!"
"Princes come on ... lambreta deh!"
"Heh, ubur-ubur! Bisa gak sih lo gak berisik." seru Zian dengan kesal.
"Hey tuan perkasa! Aku kesini mau jemput Princes Anandita, gak ada urusan sama iyey!"
"Dia pacarku, tentu saja urusan ku!"
Dita hanya terkekeh melihat keduanya yang terus ribut setiap kali bertemu. Entah kenapa Zian selalu tidak suka melihatnya, karena manager itu, Zian harus terpisah dari pacarnya.
"Baby ... udah deh! Jangan diladeni."
"Kau juga Rose...." tunjuknya pada manager yang tengah berdiri dengan berkacak pinggang.
Zian berdecih, "Cih ... Rose! Rosidin!!"
Rose mendelik, "Princes ... laki mu gak asik! Masa dia panggil nama lengkap akikah sih!" gumamnya pada Dita yang sudah berada dihadapannya.
"Ayo pergi! Ribut terus." Dita menoleh pada Zian, " Baby ... aku pergi ya!" ucapnya dengan memeluk Zian.
"Aku sudah merindukanmu Honey!"
Rose mendecih, "Berangkat juga belum!"
.
.
Setelah kepergian Dita dan managernya, Zian memilih ke ruangan kerja. Namun dia hanya memandangi foto Dita yang ada di atas meja.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu honey!"
Tok
Tok
"Tuan....!"
Zian membuka pintu, pelayan rumahnya sudah berdiri diambang pintu.
"Ada apa?"
"Ini Tuan, ada pesan dari non Nia, katanya dia akan pulang terlambat, karena ada tugas sekolah!"
"Ya terserah lah."
__ADS_1