
"Ayo ... jangan membuang waktu!" ucapnya lagi.
Agnia menghela nafas, dengan berkali kali memejamkan matanya. Sikap Zian kali ini menurutnya lebih norak, dengan macam macam syarat yang harus dia lakukan.
Perlahan Agnia pun mendekat, kepalanya terangkat dengan posisi duduk yang sedikit berjingkat.
"Hem ... disini!" ujar Zian mengulum senyuman.
Agnia mendaratkan bibirnya tepat di pipi Zian, namun bibir itu justru malah basah, dan Zian terkekeh, setelah benda kenyal itu terlepas.
"Iihh ... kau kan mintanya di pipi, kenapa jadi di bibir!" Ujar Agnia menyusut bibirnya perlahan.
Pria berumur 34 tahun itu masih terkekeh, "Seketika syaratnya ingin aku rubah!"
"Iiihhh ... om nyebelin banget!"
Zian menginjak pedal rem, "Eeihh ... syarat ke dua, jangan panggil aku Om lagi!"
"Terus apa?" Agnia merungut, dengan bibir yang mengerucut, membuat Zian kembali terkekeh,
"Kenapa aku tidak bisa marah ataupun kesal sekarang padamu Nia!"
"Baguslah! Itu artinya Om ... ehh maksudnya___"
"Apa? Mau panggil apa?"
"Sayang? Cinta? My hubby? Aaahkk ... norak tahu!"
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu! Kau harus mengubahnya, aku tidak mau terus dipanggil Om olehmu."
Sejenak Agnia berfikir, kata kata panggilan yang umum dan sering dia dengar terlalu membosankan, dia ingin sesuatu yang berbeda.
"Kalau kamu tidak bisa menemukannya sekarang aku tunggu sampai besok, ingat jalan xxx sepulang sekolah! Jangan sampai terlambat,"
"Memangnya ada apa? Gak mungkin kan aku terus ikut meeting, yang ada nanti Om dicap sebagai seorang yang tidak profesional."
"Kamu akan tahu besok!" ujarnya dengan kembali melajukan mobilnya.
Keesokan pagi.
Riuh suara terdengar jelas dari arah atas, kelas yang berada di lantai dua kini berjejer rapi siswa siswi yang menatap ke arahnya, lalu semua nya menyorakinya. Agnia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi, dan sudah pasti ini ulah Serly. Terlebih kemarin baru saja melihatnya, Cecilia dan juga Nita berlari ke arahnya,
"Nia ... Lo harus lihat sesuatu! Ayo ikut gue!"
"Gue fikir gue tahu siapa yang ngelakuin hal ini!' ujar Agnia saat melihat fotonya bersama Zian yang masuk kedalam kantor perusahaan dari belakang, juga beberapa foto lain yang ternyata posisi Zian selalu pada posisi membelakangi Agnia.
"Gue tahu fikiran lo Nia!" "Serly!" Tebak Cecilia. "Kali ini Lo gak bisa diem aja Nia! Lo harus kasih pelajaran buat dia agar dia gak terus menerus kayak gitu ke Lo! Munafik!"
"Dia sengaja nyebarin foto Lo ini tanpa kasih caption apa apa! Dia sengaja ngegiring asumsi yang lain buat mikir Lo itu cewe gak bener, lihat aja ini!" Cecilia menunjuk satu foto dengan posisi Zian yang membelakanginya, tentu saja wajah Zian tidak terlihat, dan itu yang
"Tapi gue gak punya bukti Ce! Kalau dia yang yang nempelin foto foto ini! Gue juga gak bisa main asal tuduh, walaupun gue bilang kalau cowo itu om Zian!" Agni meraup wajahnya, "Sherly .... dia juga kemarin lihat gue di mall waktu gue dan Om Zian cari sesuatu. Dia terus ngikutin gue walaupun gue udah bilang gue cuma nganter!"
"Dasar munafik! Pengen gue jadiin rempeyek tuh mukanya sok alim sok baik padahal munafik." timpal Nita dengan kedua tangan mengepal.
"Dan gue masih heran aja sih lu masih bisa temenan sama orang kayak gitu!"
__ADS_1
Agnia terdiam, pelan pelan dia mencabuti foto yang menempel itu lalu memasukkannya kedalam tas. Dia memang menyadari jika sikapnya pada Serly terlalu lemah, dia selalu menganggapnya Serly melakukan hal itu hanya karena iri karena dia lebih dekat dengan Cecilia dan juga Nita. Namun kali ini sikap nya benar benar keterlaluan.
Agnia pun bergegas berlari ke kelas untuk mencari Serly, namun dia tidak menemukannya.
Setelah beberapa waktu Serly datang, dia melangkah masuk dengan wajah tanpa dosa dan berpura pura kaget saat melihat beberapa orang masih membicarakan Agnia dan sosok pria yang ada di foto.
"Cara lo norak Serl!" sentak Agnia saat Serly masuk kedalam kelas.
"Maksudnya?"
"Lo gak usah pura pura bego deh! Gue udah terlalu bodoh karena nganggap lo udah berubah sejak Vina gak ada! Nyatanya gue salah!"
Serly terlihat kaget, "Apa yang gue lakuin ke elo karena gue peduli sama Lo Nia! Kedua temen Lo itu yang jadi racun buat lo tapi lo gak sadar itu Nia! Lo tega ninggalin gue hanya buat temen temen Lo yang ja langg itu! Mereka itu toxic!"
Cecilia mendorong bahunya, "Heh ... Lo masih gak sadar juga? Yang toxic itu Lo, dasar munafik!"
Agnia menarik Cecilia, dia menahan Cecilia agar dia tidak perlu meladeni Serly.
"Gue bener bener gak nyangka kalau lo ngelakuin hal kayak gini Serl! Lo gak inget sama kejadian Vina! Lo tahu gue gak bakal diem aja Serl!" Ujarnya dengan ketus, bahkan kedua nya saling menatap tajam, bagi Serly semua berawal dari persahabatan yang rusak dan penyebab nya adalah Cecilia dan juga Nita.
Mereka yang bikin lo berubah Nia! Mereka yang bikin lo jauh dari gue, mereka juga yang bikin lo benci sama gue. Batin Serly.
"Harusnya lo gak ngelakuin itu Serl! Lo gak cuma bakal kehilangan Agnia selamanya, tapi gue yakin Lo bakal kena masalah dari sekolah! Lo tahu Pak Zian adalah om nya Nia! Dia pasti gak bakal diam!"
"Lo yang harusnya diam Dam! Buat apa Lo sok peduli sama gue! Lo sama aja kayak Mereka!'
Agnia maupun Serly sama sama keluar dari kawasan sekolah, tidak ada yang mengikuti sekolah hari ini.
__ADS_1
"Gue ada ide!'