Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
BSB_9


__ADS_3

Skip sampai kampus.


Jam kuliah masih kurang dari satu jam lagi namun kedua gadis cantik yang kadang kurang anggun itu sudah sampai kampus.


Berjalan menuju taman sambil menunggu waktu masuk.


"Ndah gimana jadinya? lo ngak mau mikir dulu gitu?"


Ines ingat ada kakak angkatan yang menyatakan perasaan pada Indah dan hanya di tanggapi senyuman saja lalu hanya bilang mau fokus kuliah dulu.


Lagian kalau di terima juga tidak akan mengganggu waktu kuliah, ibarat kata Ines hari itu jadikan penyemangat kuliah jangan jadikan beban.


"Ngak ah Nes, tugas kuliah banyak.


Tuh dosen ngak rela pisah ama kita kayak nya masa udah bentar lagi mau skripsi ngasih tugas kayak ngajak gelud,"


Ngeluh Indah yang seminggu terakhir ini tugas banyak sekali hingga dia harus tidur malam terus buat menyelesaikan.


Bukan ngeluh atau apa hanya saja Indah malas tidur malam atau bisa jadi dia akan bangun siang dengan di temani mata panda.


"Ya di manfaatin lah Ndah, minta bantuin bikinin tugas lo,"


Dasar punya kepala mikir apa coba.


Mau manfaatin orang dengan alasan menerima perasaan dia, hey Nes perasaan tidak sebecanda itu buat di permainkan.


Perasaan bukan ajang main main atau di ajak becanda.


Ini perasaan lo bukan arena bermain yang bisa di coba dulu dan kalau tidak betah bisa di tinggal, perasaan bukan seperti itu ya.


Juga Indah tidak ada rasa jadi mana mungkin mau menerima.


Tidak mau menyakiti atau tersakiti nanti.


"Otak gue masih bisa di gunakan Nes,"


Itu nyindir apa, apa katanya barusan otaknya masih bisa di gunakan, jadi maksudnya.


"Maksud lo otak gue ngak berguna gitu?"


Indah tidak ada ngomong gitu tadi Nes, jangan salah paham.


Kamu saja yang sensian orang nya.


Masa gitu saja ambil kesimpulan sendiri, benar kali ya otaknya kurang guna.


Kasian cantik cantik ck ck.


"Emosian aja lo kayak cewek PMS,"


Berdecak kesal sambil geleng kepala sama tingkah Ines yang memang kadang berfikir beda dari Indah.


"Kok lo tau gue PMS lo ngintip ya,"


Kurang kerjaan kali ya ampun sampe harus ngintip segala.


Mau di gaji berapa ngintip gitu segala.


Sabar Ndah otak sahabat kamu lagi tidak berada di tempat nya jadi harus di perbanyak sabar.


Ibarat kata ya otak Ines itu lebih sering lari dari poros ketimbang diam di tempat.


Cukup lama ngobrol hingga kelas mereka mulai.


F'Corp.


Jam sudah menunjukan waktu makan siang.


Frans masih berkutik sama komputer yang masih menyala di depannya.


Benar kata Frans hari itu kalau pekerjaan nya tidak ada habis nya seperti kejombloan dia.


Direktur kok ngenes gitu ya.


"Pak bos ngak makan siang?"

__ADS_1


Masuk ruangan bos tapi tidak ketuk pintu, karyawan tersayang ya gitu suka seenaknya.


Mengingat sudah masuk waktu makan siang namin Frans belum menunjukkan akan bergerak dari tempat duduk nya atau mau menjeda sebentar pekerjaan itu.


"Kerjaan gue masih numpuk gini gimana mau makan coba,"


Bicara tanpa melihat lawan bicara.


Lagian ninggalin sebentar itu kerja juga tidak ada yang marah sama dia, kan bos.


Kerjaan yang tidak ada habis beda dengan kesehatan yang bisa dwon kalau kurang asupan yang masuk dalam badan.


Kerjaan mah tidak akan ada habisnya selama kita masih hidup.


Maka jangan terlalu fokus sama kerjaan sempatkan waktu buat diri sendiri juga.


"Udah ayok, kita makan dulu,"


Dengan berani nya Farid menarik tangan Frans lalu membawa keluar dari ruangan itu dan tidak lupa menitip pesan pada sekretaris Frans buat membereskan ruangan itu sebelum mereka kembali.


"Cuma lo tau ngak bawahan yang kurang ajar,"


Gerutu Frans yang tiba tiba di tarik seperti anak kecil di tarik emaknya saat malas makan.


"Iya dan cuma sama lo gue lakuin ini,"


Iya lah sama siapa lagi coba, kan bos Farid cuma Frans seorang.


Kan cuma Farid bawahan yang berani sama atasan bahkan keluar masuk ruangan nya tanpa izin kalau orang lain mana berani coba.


Tujuan Farid hanya caffe dekat kantor saja agar tidak makan waktu dan dekat juga.


Kalau cuma makan siang doang buat apa jauh jauh kalau ujung ujungnya sama yaitu kenyang juga.


Sampai caffe Farid memesan makanan buat mereka berdua tidak lupa secangkir latte sebagai penutup.


Namun saat mereka lagi asik makan seseorang duduk di kursi kosong sebelah Frans.


"Ternyata jodoh ngak kemana ya,"


Ujar orang itu dengan tidak tau malu nya.


Baginya bicara sama orang yang tidak penting hanya buang buang waktu dan tenaga.


"Frans,"


Panggil dia lagi dan masih sama Frans diam tidak terusik sama suaranya.


Ck, sudah di cuekin masih saja bertahan sudah putus ya urat malu.


Mana harga diri sebagai perempuan jangan terlalu murah nanti di tawar lagi kan jatohnya nyungsep.


Dengan cepat Frans menyelesaikan makanan dan malas meneguk latte itu dan segera pergi dari sana.


Farid buru buru ikut mengejar Frans yang mulai jengah setelah membayar makanan mereka.


"Mau muntah gue Rid,"


Baru mengeluarkan suara setelah hanya mereka berdua sekarang.


Emang ya hanya sama orang tertentu Frans mau mengeluarkan suara dia yang mahal itu atau malas bicara sama sembarangan orang.


"Lo hamil Frans? sama siapa? kok bisa?"


Satu getokan Frans kasih sama Farid dengan percuma tidak perlu bayar.


Ya kan dimana mana getokan memang gratis.


"Lo punya otak ngak sih Rid, nanya itu yang bener aja lo kira gue laki apa an bisa hamil segala.


Ngehamilin mungkin bisa,"


Secara dia laki laki normal, ya kali bisa hamil pula.


Hellow apa kata dunia direktur Frans terkaya, tertampan, mapan masa bisa hamil yang ada nanti dunia geger mendengar berita ini.

__ADS_1


"Emang udah pernah lo hamilin orang?,"


Tuhan tolong ambil sahabat dia ini dan ganti sama yang lebih waras dikit.


"Lo yang mau gue hamilin, mau?


Sumpah stok sabar Frans tidak sebanyak itu juga jika harus menghadapi otak Farid yang kadang hanya ada seperempat.


Udah seperempat kadang lupa du lo gunakan maka lengkap sudah derita Frans kalau bicara sama dia.


Backs to campus.


Kelas hari ini berjalan dengan lancar tanpa halangan.


Satu persatu penghuni kelas mulai keluar dan berjalan menuju gerbang dan ada juga yang pulang menggunakan kendaraan sendiri.


"Ndah tunggu,"


Panggil seseorang dari belakang.


Indah menoleh lalu menghela nafas pelan.


Dia lagi, fikir indah.


Sebagai tidak mau di cap sombong atau sok maka indah berhenti dan menunggu orang itu.


"Gue antar pulang ya?"


Ajak orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah cowok yang pernah Indah tolak.


Belum kapok juga ternyata masih mau berjuang.


"Sorry gue ngak bisa ninggalin Ines sendiri,"


Tolak Indah halus tidak mau terlalu dalam menyakiti perasaan dia.


Dengan Indah tolak saja perasaan nya mungkin sudah jadi pukulan telak buat dia dan kini Indah menolak dia antar pulang.


Mereka tidak punya hubungan special dan juga bukan teman dekat jadi Indah merasa kalau tidak nyaman pulang bersama dengan lawan jenis.


Namun tiba tiba hp Indah berdering dan langsung di angkat.


👩‍🦰Hallo


👩‍🦰Iya ini juga baru keluar kelas, iya langsung pulang kok, sama Ines lah emang sama siapa lagi.


👩‍🦰Udah ah nyebelin, Indah juga kangen.


Sambungan itu berakhir.


"Sorry ya gue duluan, yuk Nes,"


Menarik tangan Ines dan meninggalkan dia yang masih mencerna apa yang dia dengar barusan.


Apa itu pacar Indah, makanya dia menolak dia.


Sial ternyata pacar orang ternyata.


"Siapa tadi Ndah, pake bilang kangen lagi?"


Ines penasaran sama orang yang menelpon Indah barusan dan sekarang mereka sudah di halte menunggu bus.


Tidak seperti biasa Indah menelpon sampai bilang kangen, kenapa tiba tiba dan aneh saja Ines dengar.


Sama pacar mana mungkin, kan sama sama ngenes status mereka berdua.


"Kakak,"


Ya memang kakak Indah yang telpon dan sengaja membalas ucapan kangen itu tapi bukan itu maksudnya Indah tapi kangen berantem sama kakak nya.


"Dasar pintar skali memanfaatkan keadaan,"


Menolak seseorang secara halus lah agar tidak terlalu meninggalkan luka berkesan dan agar orang itu juga tau kalau dia sudah ada yang punya.


Tapi disini posisi Indah kan beda, dia tidak punya pasangan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2