
Mentari pagi bersinar sempurna, tatkala gadis berusia 17 tahun itu membuka mata, hari ini dia kembali bersemangat, dia menoleh pada sebelahnya, Aya masih terlelap. Kemudian dia turun dari ranjang dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan anak cerewet yang masih berada di alam mimpi.
Agnia keluar dari kamar, menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Ya, gadis remaja itu akan kembali masuk ke sekolah hari ini. Setelah hampir 2 bulan absen.
Bukan tanpa alasan, waktu 2 bulan itu memang ada jeda waktu, setelah program workshop bisnis selesai, pihak sekolah membebaskan anak didiknya untuk kembali memilih, mengambil pelajaran tambahan atau tidak.
Dengan tas yang tersampir dipunggungnya, Agnia keluar dari kamar, lalu menghampiri bi Nur yang tengah menyiapkan sarapan untuknya.
"Non Nia jadi pergi kesekolah hari ini?" tanyanya tanpa melihat sosok yang dia tanya.
"Iya Bi ... waktu bersantai sudah habis, nunggu depan udah harus ujian." jawabnya dengan mencuil pastel yang baru saja diangkat dari penggorengan.
"Bibi gak kerja?"
Bi Nur terdiam, dia belum berani mengatakan apa yang terjadi beberapa hari lalu pada Agnia, begitu pula Agnia.
"Bi?"
Bi Nur terperanjat, "Hah ... Non tanya apa?"
"Bibi kok Non, tapi nanti!" ujarnya dengan lirih.
Agnia mengangguk, sembari memasukkan pastel kedalam kotak bekal miliknya. Bi Nur menarik tipis bibirnya, melihat Agnia yang sudah dia anggap anaknya sendiri itu bersemangat.
"Bawa yang banyak Non, buat temen-temen Non disekolah!"
"Iya Bi ... tapi Nia gak akan bagiin cuma- cuma, Nia jualin nanti ahk!" ujarnya terkekeh.
"Eeeh ... ya jangan Non, masa udah cantik begini malah jualan disekolah! Nanti ketahuan tuan lebih berbahaya!"
Agnia terkekeh, namun tidak mengatakan apapun lagi, begitupun dengan bi Nur.
"Aku pergi ya Bi, ojek online ku udah dateng kayaknya!" ucapnya dengan memasukkan kotak bekal makanan kedalam tasnya.
Bi nur mengangguk, "Hati-hati ya Non!"
.
.
Agnia turun dari sepeda motor yang membawanya ke sekolah, setelah membayar ongkos, dia mengayunkan kedua kakinya masuk kedalam gerbang tempat dimana dia menuntut ilmu.
__ADS_1
Dengan menarik nafas panjang, menghirup udara segar dengan pemandangan yang dua bulan tidak dia lihat.
"Agnia?"
Beberapa orang menyapanya, ada juga yang memeluknya atau sekedar menyalaminya.
"Kemana aja lo? Sekolah sepi tanpa Lo, gak ada yang bening!" goda teman laki-lakinya.
"Ah lo bisa aja!" jawabnya dengan terkekeh.
Dari kejauhan, Cecilia dan juga Nita berlari menghampirinya, lalu menarik lengannya.
"Sini Lo!"
Mereka membawanya ke taman, menekan kedua hanunya hingga terduduk, Cecilia berdiri di hadapannya, begitu juga Nita yang berkacak pinggang.
"Lo tahu apa salah lo?" tanya Nita.
Agnia terkekeh, "Apaan sih kalian ini?"
"Lo tahu gak? Jawab...." tanya Nita lagi, kali ini kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Pertama, Lo ngilang gitu aja tanpa kabar! Kedua lo ngilang entah kemana! Ketiga lo ngilang dan bikin kita semua khawatir Nia!" ujar Cecilia dengan penuh penekanan.
Mereka berdua terlihat emosional saat tahu Agnia masuk sekolah, selama dua bulan mereka juga mencarinya kemana-mana, bahkan menemui Laras, ibunya.
"Guys ... gue gak ngilang! Ini buktinya gue ada." ujarnya masih dengan terkekeh.
"Lo bikin semua khawatir Nia! Astaga ... Lo ngilang, dan kita cariin lo kemana-mana! Lo kalau ada masalah cerita sama gue, Dateng ke rumah gue! Gak ngilang gini Nia!" Nita tak kuasa menahan tangisan, dia sibuk bicara dengan tangan menyeka air bening yang meluncur dari ujung matanya.
Cecilia masih bisa menahannya, namun hidung dan kedua pipinya sudah terlihat merah.
"Lo ngeselin Nia! Lo gak anggep kita temen lo ya?"
"Astaga ... ngomong apa sih kalian?"
"Lo bener Ce ... kita aja yang anggap Lo temen bahkan sahabat kita, tapi lo tetep gak nganggap kita kayak kita nganggap lo!" ujar Nita lagi.
Agnia menundukkan kepalanya, "Gue tahu gue salah guys, tapi waktu itu gue gak ada pilihan lain, ponsel gue ilang, gak bisa hubungin kalian, dan gue lagi kacau!"
Seketika kedua gadis yang berdiri dengan berkacak pinggang itu berhambur memeluknya, lalu menangis tergugu.
__ADS_1
"Lo tahu gak Nia ... gue berfikir buruk tentang lo, lo pergi bunuh diri lah, pergi nyusulin bokap lo lah di luar negeri, sampai gue fikir lo udah bosen hidup!" ucap Cecilia.
"Apaan sih! Mana ada yang begitu, gue masih bisa bertahan sejauh ini ... lagi pula kan kita lagi masa tenang juga disekolah, bisa online juga! Gue juga udah email pak Sopian, ya walaupun telat beberapa hari ... tapi gue udah beresin tugas gue!" ungkap Agnia.
"Tetep aja! Lo bikin kita khawatir, lo tahu gak!"
"Iya gue paham, maafin gue yaa guys, bikin kalian khawatir in gue!"
Mereka bertigapun saling memeluk, lalu kembali tertawa, "Lo emang bener-bener Nia! Kacau...!" tukas Cecilia menyeka wajahnya yang basah.
"Cuma lo yang bisa bikin Si Cecil nangis kayak gini Nia! Sampai dia gak bisa kerja!" Nita terkekeh, sedetik kemudian tawanya menggelegar karena Cecilia menoyor kepalanya. "Sialan Lo!"
"Emang iya kan? Lo libur beberapa minggu, sampe disusulin pengawal Daddy lo itu, sampe lo ngumpet di bagasi!" tambah Nita dengan tawa renyahnya.
Agnia ikut tertawa lalu menoleh pada Cecilia "Beneran? Lo gak engap?"
Mereka bertiga kembali tertawa dan menceritakan semua hal dan melepas rindu. Seseorang datang, menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Nia? Lo kemana aja?" Serly memelukny erat, "Lo lupa sama gue? Gue nyariin lo Nia!" ucapnya kemudian.
"Mana ada lupa Serl, gue gak kemana-mana kok!" Jawabnya dengan membalas pelukan Serly, walau nyatanya, rasanya berbeda saat ini.
"Buktinya lo lebih milih duduk dan ketawa bareng mereka dibanding gue! Padahal gue yang sahabat lo bukan mereka." ujar Serly lagi.
"Lo demen banget nyari gara-gara Serl!" tukas Cecilia.
"Tau nih gak punya otak, moment kayak gini lo masih nyari ribut!" tambah Nita.
Agnia berdiri, menghadap mereka bertiga yang mulai ribut, "Udah guys ... jangan berantem lagi please! Kalian bertiga sama-sama sahabat gue, Serly gue mohon sama lo ... gak mesti ngomong kayak gitu! Yuk ke kelas, gue udah kangen tempat duduk gue." pungkasnya lagi.
Ke empat remaja itu pun berjalan masuk, walaupun Serly terlihat tidak senang dengan kedua gadis yang kini tertawa dengan merangkul Agnia, dia mendengus pelan saat Agnia menarik lengannya agar langkah mereka sama.
"Gue ke kelas dulu guys!" ujar Agnia saat berada di lorong yang memisahkan mereka.
Cecilia dan Nita pun mengangguk, "Ketemu dikantin nanti ya Nia! Sendiri aja gak usah bawa perusuh!" seru Cecilia, yang dibalas delikan dari Serly.
Agnia menarik tangan Serly, "Udah deh ... Serl, ayo! Gue kangen anak-anak dikelas!"
Serly tersungut mengikuti langkah Agnia yang menarik dirinya masuk kedalam kelas.
"Oh my God!"
__ADS_1