
Entah harus tertawa atau justru menahannya, menurut gadis seusai Agnia, Zian itu norak kalau sudah berbicara, dia bahkan kerap memperlihatkan keabsurtan nya. Walaupun ya, hanya Agnia yang tahu itu. Namun juga tidak dapat di pungkiri berkali kali Zian membuatnya terpesona.
"Hm ... ternyata udah mulai pikun yaa!"
"Enak saja bicara! Aku tidak terlalu tua baby! Kenapa bilang pikun segala." sungut Zian menepikan mobilnya karena mereka sudah sampai di rumah.
"Ya ... kenapa juga lupa cita cita waktu kecil! Nia kan ingin tahu."
Zian membuka seat belt yang di kenakannya, lantas mencondongkan tubuhnya ke arah samping. "Kalau kau tahu janji tidak akan tertawa?"
"Hah?"
"Berjanji lah agar tidak tertawa saat aku mengatakannya."
Agnia mengulurkannya jari kelingking nya, dengan mengulum senyuman. "Janji!"
"Cita citaku waktu kecil itu ingin jadi superman, karena dia keren, rambutnya rapi dengan menggunakan pomade rambut, walaupun terbang kemana mana, aku tidak pernah melihatnya berantakan!" terang Zian menghela nafasnya panjang.
"Serius? Superman?"
"Hm ... superman, aku fikir dia memang nyata dan ada! Sampai aku dan Kim berdebat hebat saat itu, sampai kakek menghukum kita berdua."
"Ppfffttt ...!"
"Kau sudah janji baby!"
Agnia menutup mulutnya sendiri, dia benar benar tidak kuat menahan tawanya,
"Baby ... kau curang! kenapa tertawa!"
"Enggak...ppppfftt ... siapa yang tertawa? Aku tidak tertawa ya."
Kedua tangan Zian menggelitik pinggang Agnia, hingga gadis itu terpingkal pingkal. "Baby ... itu tertawa!"
"Aku tertawa karena kau menggelitikku sayang! Bukan menertawakanmu yang bercita cita jadi superman." Agnia terus tertawa, hingga ujung matanya basah,
"Bagaimana kalau relasi bisnis dan semua orang, Zian Maheswara ... pemilik hotel di mana mana pernah bercita cita ingin jadi superman." ujar Agnia dengan tangan merentang, hingga Zian kembali menggelitik pinggangnya dengan leluasa.
"Nia ... baby! Sudah jangan di bahas!"
"Hahahaa ... ya iya ... ampun! Nia gak bakal bilang lagi!"
Zian menghentikan gelitikannya, "Benar?"
"Iya janji yuan superman. Hahahahah!" Agnia membuka pintu lantas berlari masuk kedalam rumah, sementara Zian mendengus pelan dengan dua ujung bibir yang terangkat.
"Dasar...!"
Dia lantas keluar dari mobil, tidak lupa membawa tas dan juga laptop Agnia yang ditinggalkannya begitu saja di dalam mobil. Dia masuk kedalam rumah, membawa barang barang Agnia.
__ADS_1
Sementara gadis itu tengah duduk di ruangan tv, duduk bersama Aya dan menonton film kartun. Zian menggelengkan kepalanya, "Baby ... kau harus belajar, bukankah besok masih ujian?"
"Ya sebentar lagi tuan superman?"
"Niaaa!!!" seru Zian yang berjalan di anak tangga menuju ke kamarnya di atas.
Agnia tergelak, membuat Aya mengernyit heran, "Kak Nia kenapa? Kok ketawa ketawa terus!"
"Enggak Aya! Kak Nia hanya teringat film superman, iya juga ya kenapa rambut dia gak pernah berantakan!" Mulut Agnia mencebik dengan menatap langit langit ruangan tv. Sedangkan gadis kecil disebelahnya hanya menatapnya heran.
Setelah beberapa waktu, Agnia baru kembali ke kamar, dia mencari Zian namun tidak ada, hanya suara gemiricik air di arah kamar mandi, dan sudah dipastikan Zianlah yang tengah mandi.
Gadis itu duduk di meja rias yang selama ini dia jadikan meja belajarnya, membuka laptop dan mulai belajar.
Tiba tiba dia merasa ada tangan dingin dan basah menangkup dibelakangnya, tangan kekar yang bertumpu di ujung meja rias dan menempeli punggungnya.
"Kau tidak ingin mandi baby?" bisiknya di telinganya, membuat bulu bulu tengkuknya meremang seketika.
"Mau kok ... sebentar lagi!"
"Atau kau mau kita___" Zian sengaja menggantung ucapannya, namun dengan sengaja dia meniup tengkuk Agnia lembut.
"Ma____"
"Tapi sayang, kau sudah menertawakanku tadi!"
"Itu kan___"
Iihh ... kurang ajar, kenapa dia melakukan hal itu, tadi bilang enggak.
Agnia mempunyai kesempatan untuk berbalik, dia menelan saliva saat melihat dada Zian yang masih dingin dan basah, wajahnya segar dengan rambut basahnya.
"Kau berani bermain main denganku tuan Superman!"
Zian mendengus pelan, "Jangan mengatakan hal itu!"
Agnia melangkah maju dengan jemari terulur di dada bidang Zian, menyusuri kulit dengan bulu yang kian meremang. "Kau___" Agnia sedikit berjinjit, dengan kepala yang dia miringkan lalu berbisik di telinganya.
"Kau ... tidak akan mendapatkanku malam ini!"
Setelah mengatakan hal itu Agnia berlari masuk kedalam kamar mandi, suara gelak tawanya terdengar membahana, Zian terpaku ditempatnya, menstabilkan degup jantungnya yang masih berirama kencang. Bukankah aku yang sedari tadi berniat mengerjai istriku karena dia terus menertawakanku? Kenapa aku juga yang kena. Batin Zian dengan terus menelan saliva.
Tak lama Agnia keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan batrobe dan juga handuk yang menutupi rambutnya yang basah, terlihat Zian tengah duduk bersandar di atas ranjang dengan ipad di tempatnya.
"Tuan superman!"
"Baby hentikan!"
Agnia terkekeh, dia mengambil pakaiannya lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi, namun saat hendak menutup pintu kamar mandi, tangan Zian menahannya.
__ADS_1
"Apa? Aku mau memakai bajuku!"
"Kenapa harus dikamar mandi?"
"Terus?"
"Lakukan didepanku! Atau aku akan mengganggumu sepanjang malam."
"Saayang... please, besok aku masih ujian!"
Zian mendengus lagi, sedangkan Agnia hanya terkekeh kecil. "Baiklah baby!"
Zian berbalik, dia kembali duduk di ranjang, memeriksa kembali ipadnya, namun membuat Agnia merasa kembali bersalah.
Setelah memakai pakaiannya, Agnia kembali keluar.
"Hubby?"
"Hum ...!"
Gadis itu mendekatinya, dia menangkup kedua pipinya, "My Hubby my superman!"
"Nia ... ayolah! Aku harusnya tidak mengatakannya padamu!"
Agnia tergelak, namun tiba tiba terdiam dengan menatapnya lekat, "Forgive me ... for yesterday, today, and so on."
Raut wajah cantik dengan dua bola mata bulatnya membuat jantung Zian kembali berdegup kencang, ucapannya juga sangat manis, dan tidak dibuat buat.
"Hem ...?"
"Of course baby! Maafkan aku juga...!"
Agnia melingkarkan kedua tangan di pinggang Zian, begitu pun dengan Zian, dengan lembut dia mengecup pucuk kepalanya.
"Sekarang belajar lah dengan giat, biar cepat lulus, kuliah dan menjadi ibu dari anak anakku."
Agnia mencubit pinggangnya, "Kok beda lagi doanya, tadi perasaan cuma cepet lulus terus kuliah,"
"Sekarang bertambah satu, karena aku akan menahannya selama kamu ujian!"
Agnia mengangkat wajahnya, "Serius?"
"Hem ... aku tidak akan bermain main, kau harus belajar dengan sungguh sungguh supaya bisa masuk universitas unggulan sesuai keinginanmu."
"Makasih my Superman."
Zian mencubit pipinya lembut, hingga Agnia meringis, "Sakit!"
"Itu karena terus memanggilku begitu!"
__ADS_1
"Kenapa malah dicubit, bukannya di cium!" goda Agnia dengan kembali tergelak.
"Jangan terus memancingku! Atau kau ku buat hamil sekarang juga."