
Zian menggelengkan kepalanya, rasanya has rattnya sudah berada di ubun ubun, sampai melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara sang istri masih terus terkekeh melihat melihat ke arahnya, pria yang menikahinya itu tampak tegang dengan wajah resah.
"Biar aku yang mengemudi!" katanya dengan sengaja.
"Jangan gila Nia ... kau ingin aku melakukannya disini?" sentak Zian yang masih terus berusaha mengontrol dirinya sendiri.
"Eeh ... mana ada! Nia hanya ingin bantu!"
"Benar kau ingin membantu baby?"
Agnia mengangguk, dia bisa menyetir sementara membiarkan Zian duduk agar senjatanya tidak tegang.
"Kalau begitu kemarilah!"
Gadis itu masih belum mengerti, fikirannya dengan Zian nyatanya berbeda, tidak ada bantuan yang bisa dilakukan saat keadaan genting saat ini kecuali,
"Eh ... bukan itu maksud Nia!" ucapnya saat melihat Zian menunjuk pangkal pahanya dengan tatapan matanya.
"Lantas apa Nia?"
"Ya om bisa istirahat, kalau Nia nyetir. Biar rileks dan itu...." ujarnya dengan menunjuk senjata di balik celana Zian yang semakin terlihat. "Kenapa bangun sekarang!"
"Mana bisa begitu baby! Tidak ada jalan lain selain ...!"
"Apa?" Agnia menutup bagian dadanya dengan kedua tangan, "Jangan macam-macam, kita ini ditengah jalan."
"Tidak lagi!" gumam Zian membelokkan kendaraannya masuk kedalam basement hotel, membuat Agnia yang kini manik hitamnya membola.
"Astaga!"
Zian menghentikan mobilnya, namun tidak tidak keluar juga. Sementara Agnia menoleh ke kiri dan ke kanan, basement tampak sepi. Hanya ada beberapa mobil saja. Dadanya terasa samakin bergemuruh, dengan terus melirik Zian, pria itu membuka seat beltnya. Menatap Agnia dengan lekat, dia menarik tengkuk Agnia, dengan tangan yang lain berusaha membuka seat belt yang melingkari pinggangnya.
Menyambar bibir Agnia dan melummattnya rakus, "Baby!! Aku sudah tidak bisa lagi menunggu."
Dia langsung menggerakkan Seat mobil yang diduduki istrinya itu menjadi posisi terbaring, perlahan namun pasti Zian kembali melummat bibir Agnia, dress malam yang dikenakannya pun ditarik begitu saja, hingga terlihat bagian dada Agnia. Hembusan nafas mulai memanas, tatkala tangan Zian bergerilya di dua benda bulat miliknya, membuat aliran darahnya berdesir.
"Kau tidak tahu tempat Mr superman!" gumam Agnia dengan meremmas rambjt bagian belakang Zian, saat pria itu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Agnia.
"Aku rasa tidak ada masalah, kita bisa melakukannya dimanapun baby! Eeummpp!" sahutnya dengan suara berat, saat sesuatu dibawah sana semakin mengeliat bebas.
Beruntung, potongan Dress yang sebatas paha sang istri memudahkan gerakan Zian.
Tangannya turun menyusuri paha mulus Agnia, lalu menyingkapkan nya sedikit.
__ADS_1
"Hei ... tunggu! Kita akan benar benar melakukannya disini?"
Zian menatapnya dengan diam, namun juga begitu dalam, tidak ada waktu untuk masuk kedalam lift lalu ke dalam kamar.
"Please baby?"
Agnia mrngangguk pelan, namun anggukan itu sungguh berarti bagi Zian, dia kembali menenggelamkan wajahnya di puncak dadanya, mencecap benda bulat dan membuatnya kian membusung sempurna.
Agnia harus memejamkan matanya dengan sedikit menggigit bibirnya agar tidak mengerangg saat Zian membuat gelanyar gelanyar aneh bermunculan.
Pria itu terus mencecap bak seorang bayi yang tengah kehausan, dengan tangan yang lain meremmas benda kenyal satunya lagi.
"Aaahhh ... baby!"
Zian semakin bergerak bebas, dengan lidah yang terus menari di puncak dada Agnia, hingga Agnia merasakan sensasi melayang layang. Ditambah tangan Zian kini turjn menyusuri pangkal pahanya, bermain main sebentar di pusat inti miliknya sebelum satu benda keras melesak masuk.
"Aaaggghh."
Satu erangaan berhasil lolos begitu saja dari bibir Agnia, saat senjata Zian menerobis masuk, bergerak maju mundur dengan perlahan.
"Shitttt baby! Ini sempit sekali!" Ujar Zian dengan terus bergerak, membuat tubuh keduanya bergunjang hebat, begitu pula Agnia yang semakin merasakan sensasi terbang melayang.
"Aahhhkkk ...!!"
"Mmmmppphh! Baby i' m coming!" gumam Zian seriiring mengalirnya rasa hangat dibawah sana, begitu pula dengan Agnia yang melayang semakin tinggi dan sampai di puncaknya.
Tubuh Zian melemah, dan ambruk menindiih tubuh Agnia, sementara gadis itu terkekeh.
"Bisa bisanya kita ngelakuin hal begini disini! Padahal punya banyak hotel, bahkan dibeberapa kota."
"Entahlah baby! Kamu fikir aku bisa mengaturnya, ini tidak bisa diatur seperti robot."
"Dasar kenapa tidak bisa menahannya sedikit lagi, sampe kita di kamar."
"Bukankah aku sudah katakan padamu baby, aku tidak akan bisa menahannya lagi kalau kau sudah selesai ujian!" ucapnya lalu mengecup kening Agnia yang tampak basah.
"Alasan!"
"Kau tidak menyukainya?" tanyanya menohok, dengan mengembalikan posisi seat kembali ke asalnya, dengan Agnia yang masih tidak bergerak.
Agnia mengerjapkan kedua matanya, yang sebenarnya dia juga menikmatinya dengan sedemikian rupa.
"Jawab aku baby? Kau suka atau tidak!" ucapnya kembali mengecup bagian dada yang masih terbuka,
__ADS_1
"Ya ... ya aku suka... aku suka! Udah ... sana, geli!" jawabnya dengan mendorong kepala Zian.
Pria itu terkekeh, lalu kembali mendaratkan bibirnya di perut Agnia berulang kali. "Semoga ada salah satu dari mereka yang cepat tumbuh."
"Iihh ... gak mau!" Agnia menarim dress yang baru dibelinya namun sudah tidak karuan itu dan menutupi bagian dada dan perutnya.
"Kenapa? Kamu tidak mau hamil?"
"Gak mau disini! Nanti kalau anaknya udah ada, terus dia tanya, Daddy sama mommy bikin aku di basement hotel! Iih gak deh!"
Zian tergelak lalu mencubit hidung Agnia hingga kemerahan. "Kalau begitu kita bisa mengulanginya lagi. Kita bikin di kamar hotel atau di rumah?"
Agnia meraup wajah Zian dengan tangannya, "Maunya! Dasar Om Om!"
Pria itu kembali tergelak, dengan membuka jas yang dikenakannya lalu memakaikannya pada Agnia. Hingga gadis itu tidak terlalu berantakan.
"Padahal dress ini baru saja di beli!"
"Kita beli lagi baby!"
"Tapi gak mau ke butik yang tadi! Malu ...!"
Zian mengangguk, "Kita bersihkan diri diatas setelah itu baru pergi ke acara, itu pun kalau kamu tidak merasa lelah."
Agnia mengangguk, tak lama mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam gedung hotel.
"Apa ini juga hotelmu?" tanya Agnia saat masuk kedalam lift menuju ke atas.
Zian yang sedari tadi merengkuh bahunya menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Hotelmu."
"Hotelku? Mana ada ... aku gak punya, daddy juga bukan pengusaha hotel, mommy juga bukan."
"Milikku milikmu juga baby." ujarnya dengan mengecup pipi Agnia.
"Benarkah? Semua hotel milikmu jadi milikku?"
"Tentu saja!"
"Terus kalau semua jadi milikku, kau miskin dong!"
"Tidak masalah! Aku akan setiap hari meminta uang pada istriku yang kaya raya ini!"
"Ya gak lah ...! Gimana kalau Nia pergi?"
__ADS_1
Zian membulatkan kedua manik hitamnya, "Memangnya kau berniat pergi dariku hah!!"