
Seminggu sudah perkara panggilan om yang Indah lontarkan pada Frans hingga membuat lelaki itu marah besar sama Indah, masa tampang ganteng kayak aktor, kulit putih, tatapan tajam malah di panggil om.
Siapa juga akan marah kali Ndah di panggil om.
Iya kata Frans kapan dia nikah sama tante kamu Ndah, kadang Inda.h bicara suka bikin naik darah.
Sekitar pukul sepuluh pagi Indah dapat suruhan buat mengantar pesanan kue ke perusahaan F'Corp milik Frans, sebab Indah tidak tau maka dia iya iya saja tidak ada bantahan.
Indah menyiapkan kue pesanan yang akan dia bawa serta tidak lupa memakai jaket buat melindungi kulit dari sinar matahari, Indah mengantar kue itu menggunakan motor agar cepat sampai dan terhindar dari kemacetan.
Tidak butuh waktu lama buat Indah sampai tempat tujuan.
Sampai di sana Indah terpana sama kemegahan gedung kantor itu.
"Ini kantor atau apa? mewah banget dan kalau di hitung ini berapa lantai semuanya?"
Lah Indah kurang kerjaan kali menghitung berapa lantai gedung kantor orang.
Lagian juga tuh kantor tidak minta di hitung juga berapa jumlah lantai.
Indah berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi mbak, saya dari toko love Cake mengantar pesanan kue.
Mau tarok di mana ya?"
Tanya Indah saat sudah berada di depan meja resepsionis itu.
"Tarok sini aja mbak, nanti biar orang sini yang antar ke dalam,"
Balas nya dengan ramah juga, bekerja di kantor itu memang mengutamakan sopan santun, keramahan serta saling menghargai sesama.
"Makasih ya mbak, kalau gitu saya permisi dulu,"
Pamit Indah saat merasa pekerjaan dia beres.
Indah tidak bisa berlama lama berada di sana karena pekerjaan yang belum usai di toko.
Saat hendak melajukan motor yang di bawa, hampir saja sebuah mobil menabrak Indah.
Pengendara mobil itu keluar dan berjalan mendekati Indah dengan memasang wajah marah.
"Kamu bisa bawa motor tidak, kalau mobil saya gores kamu bisa ganti hah?"
Bentak dia tidak pandang bulu kalau marah, bodo amat mau cewek atau cowok.
"Kalau ngak bisa, mana mungkin saya bisa sampai sini om.
Om kalau nanya yang Jawaban anak napa,"
Ucapan Indah hanya santai tapi sama sekali tidak takut sama orang yang membentak dia barusan.
"Lagian ya om, kalau mobil om gores bukan karna saya ya tapi om aja nyetir ngak hati hati,"
__ADS_1
Lanjut Indah tanpa kenal takut sedikit pun.
Lagian buat apa takut, bukan nya sama sama manusia, sama makan nasi dan pasti masih satu alam jadi tidak ada alasan buat takut.
"Mobil saya mahal tau tidak, bahkan diri kamu tidak akan bisa membayar biaya perbaikannya,"
Emang semahal apa tuh mobil, sampai di bayar sana diri Indah saja masih kurang, wah ngak bener nih pasti mau ngibulin Indah nih si om.
"Wah si om nantangin, om kira diri saya bisa di hargai apa,"
Cetus Indah tidak terima, mana ada dirinya di hargai salah minum obat om.
Masa ada ya lelaki punya mulut pedes amat kayak cabe setan, setan aja mulutnya tidak pedas sebab setan kan tidak ngomong makanya tidak tau apa pedas atau tidak.
"Berapa harga diri kamu,"
Benar benar si om salah obat, atau kepalanya ada yang kejedot
"Ngak akan ke beli sama si om,"
Sanggah Indah.
"Kenapa? emang berapa harga nya?"
Ngapain nanya harga coba.
"Karna ngak saya jual makanya om ngak akan bisa beli, wwlleekk,"
Pungkas Indah sambil pergi sambil memeletkan lidah ke arah Frans.
Dia kira Indah takut apa, sorry ya.
Frans masing bingung di tempat melihat Indah pergi setelah selesai mengajak debat pilkada barusan dan parahnya tanpa pamit lagi.
Frans merasa punya lawan debat selain Farid yang itu itu saja tiap hari, bosan juga tapi tidak ada yang berani sama dia.
"Itu cewek dari planet mana, kok tidak ada takut takut nya sama saya?"
Satu pimikiran kalian ya, cie cie jodoh mungkin.
Ya mungkin saja Indah tidak tau siapa kamu Frans serta dia mungkin tipe orang yang mudah takut sama seseorang apa lagi ke orang yang tidak di kenal.
Frans masuk ke dalam kantor setelah selesai bergelut sama pemikiran tadi, sebenarnya Frans baru balik dari meeting luar bersama klien di sebuah restaurant.
Kenapa tidak jam makan siang saja sebab Frans malas kalau rame dan kenapa tidak di kantor sebab klien nya yang minta di luar bertemu.
"Kenapa lo?"
Farid tiba tiba nongol saat Frans baru saja mendaratkan bokongnya pada kursi kebesarannya.
"Ngak!"
Saat mereka berdua dan saat sama orang lain maka cara mereka berdua beda.
__ADS_1
Sesama mereka bisa bicara layaknya manusia normal kalau sama orang lain memakai bahasa formal.
Itu kebiasaan atau sudah seperti itu ketentuannya.
"Kenapa gue tanya?"
Kenapa jadi ngegas sih Rid, jangan kayak emak emak lagi introgasi anaknya ya ngak cocok tau.
"hhuuffss tadi gue ketemu cewek aneh yang kerja di toko kue langganan kita dan dia manggil gue om lagi.
Emang wajah tampan pari purna gue setua itu apa di mata dia.
Perlu periksa mata kayak nya tuh cewek,"
Bisa juga bicara panjang, tapi tidak salah juga Frans curhat sama sahabat sendiri, lagian Indah iya juga masa wajah masih sangat tampan itu di panggil om yang benar saja.
"Apa perlu gue bawa tuh cewek ke dokter THT,"
Tambah ngak jelas.
"Heh begok sejak kapan tht periksa mata, yang bener itu bawa ke dokter obgin,"
Pengen nimpuk wajah tampan sahabat nya itu tapi tetap lebih tampan Frans ke mana mana.
"Lo yang lebih begok, ngapain ke dokter obgin lo buntingin tuh cewek,"
Menimpuk Frans sama berkas yang di pegang tapi bukan berkas penting.
Frans baru mau niat nimpuk Farid dan Farid malah langsung tanpa pake niat tapi pake berkas.
Sama sama begok kenapa saling hina coba seharusnya saling dukung.
"Ogah gue buntingin dia, ngak nafsu,"
Tolak Frans bergidik ngeri hanya dengan membayangkan saja.
"Bodo ah, nih berkas yang harus di tanda tangani.
Ngak usah di bayangin kalau mau langsung praktek aja,"
Meletakkan berkas buat di tanda tangani Frans lalu keluar dari sana.
Kalau meladeni Frans bicara tidak akan ada habisnya.
Kadang Farid suka bingung sama Frans kok bisa dia jadi pimpinan perusahaan padahal kadang ya otak dia bekerja tidak semestinya.
"Dasar asisten ngak ada akhlak,"
Cerca Frans saat Farid sudah hilang di balik pintu besar itu.
Udah sesama ngak ada akhlak tidak boleh saling cerca, cukup tau diri aja.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.