Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 163


__ADS_3

Tak menunggu lama, dia langsung mengetuk pintu kamar berwarna coklat tersebut. Butuh waktu beberapa menit hingga pintu itu akhirnya terbuka, dan membuat Zian membelalak kan kedua matanya. Begitu pun dengan sosok yang berdiri membuka pintu.


"Kau?"


"Mana Nia?" ucap Zian dengan mendorong pintu hingga terbuka.


Dave mendorong bahu Zian kembali keluar, "Aku tidak mengijinkanmu masuk!"


"Aku tidak peduli! Minggir!!"


Keduany terlihat dorong mendorong di depan pintu, Zian maupun Dave masih enggan untuk kembali berbaikan atas apa yang terjadi diantara mereka.


"Aku tidak butuh ijin darimu Dave! Kami saling mencintai dan aku akan tetap menikahinya." ucapnya dengan kembali mendorong bahu Dave dan masuk kedalam apartemen sederhana itu.


Agnia baru saja keluar dari kamar, keributan yang terjadi sudah dia duga sebelumnya. wajahnya pun tampak tenang, seolah Agnia memang sengaja mempertemukan mereka.


"Nia ...!"


"Om Zian? Aku kira kau tidak akan kemari?" tukas Agnia.


Dave menarik lengan Zian, "Sudah aku katakan, aku tidak mengundangmu datang kemari."


Pria berusia 34 tahun itu menepiskan tangan Dave dan mendorongnya, "Memangnya siapa yang datang untuk menemuimu?" Aku datang kemari karena Nia. Bukan kau Dave!"


Melihat keduanya kembali ribut, Agnia menarik Dave dia berdiri di tengah-tengah diantara keduanya, "Daddy ... Om Zian!! Bisa gak kalian bicara baik baik? Kalian bukan anak SMA yang nyelesaikan masalah dengan otot!"


Keduanya terdiam, mereka menatap orang yang sama yang berada di tengah mereka. Dave pun menutup pintu apartemen, kembali menghampiri Zian yang kini duduk diatas sofa karena Agnia yang menyuruhnya.


"Daddy duduklah!" serunya kemudian menarik ayahnya itu hingga dia duduk disamping Zian.


Mereka berdua saling membisu, tanpa saling menoleh apalagi bicara satu sama lain.


"Kalian duduk disini, dan aku akan membuatkan minuman dulu!" Ucap Agnia sambil berlalu, tanpa menunggu jawaban keduanya.


Padahal Agnia meninggalkan mereka dengan sengaja, agar keduanya bisa saling berkomunikasi dengan bahasa yang hanya mereka sendiri yang jelas akan paham.


Dave menghela nafas lalu tiba-tiba menoleh ke arah Zian. "Aku masih berharap kau menjauhi putriku Zian! kau sudah tahu apa yang jadi alasannya bukan!"

__ADS_1


"Kenapa, kau takut? Takut aku membeberkan semua keburukanmu kepadanya?" desis Zian dengan sedikit senyuman mencibir.


"Aku tidak takut, yang aku takutkan justru adalah membiarkanmu mendekatinya, Kau pasti tidak serius dengannya, kau akan menyakitinya dan meninggalkannya begitu saja."


"Seperti yang kau lakukan pada Jasmine? Ayolah Dave aku tidak sepengecut itu, dan aku bukan dirimu!" Cibir Zian lagi.


Dave mendengus kasar, lalu dia bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Zian, "kau tidak usah banyak bicara Zian Lebih baik kau pergi dan tinggalkan putriku! Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri."


Zian terkekeh "Bagaimana kalau ternyata putrimu bahagia denganku apakah akan membiarkannya terluka karena aku meninggalkannya sekarang? Kau pasti akan menyesal Dave! Atau kau memang sengaja ingin menyakiti putrimu sendiri."


Dave tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Zian, dia lantas berkacak pinggang.


"Dengar Zian! Apapun yang akan kau lakukan dan apa yang akan kau katakan aku tetap tidak akan menyetujuinya!"


"Sudah kukatakan berapa kali Dave aku akan menikahinya dengan atau tanpa izinmu! Kenapa kau bersikeras melarangku padahal jelas aku tidak akan mematuhimu." Zian ikut bangkit dari duduknya, mereka saling menatap dengan tajam, ada satu hal yang belum selesai tentang masa lalu, mereka juga tidak saling meminta maaf. Hingga Agnia kembali masuk, keduanya masih betah dengan saling menatap satu sama lainnya dengan tajam.


"Ini kopi kalian! Daddy ... Om! Silahkan."


"Daddy tidak ingin minum kopi Nia!" Dave lantas masuk kedalam kamar dengan sedikit kasar dia menutup pintu kamarnya.


Zian menoleh pada Agnia, "Kau memang nakal, sengaja menyuruhku ke sini untuk bertemu dengannya?"


"Aku bisa menikahimu tanpa restunya Nia, jadi tidak usah kau repot-repot mempertemukanku dengannya. Urusan kami di masa lalu tidak akan pernah selesai hanya karena hari ini kami bertemu Nia!"


"Kenapa? Apa kalian akan terus begini?" Tanya Agnia serius.


"Ayahmu sendiri yang belum berdamai dengan dirinya, berdamai dengan masa lalu dan semua yang telah terjadi."


Agnia mengernyit, "Daddy hanya takut kalau Om Zian melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan, menyakitiku lalu meninggalkanku."


Zian menyelusupkan kedua tangannya di leher Agnia, "Aku tahu ... aku tahu itu! Apa kau percaya kalau aku akan melakukannya?"


Agnia terdiam, dia hanya menatap manik hitam yang meneduhkan di depannya dengan lekat.


"Jawab Nia! Kau percaya?"


"Entahlah aku tidak tahu." jawabnya pelan.

__ADS_1


"Kau meragukan ku Nia?"


Zian kembali mendekatkan wajahnya, jarak mereka semakin dekat, hanya tersisa bebeapa inci saja. Membuat jantung Agnia berdebar kencang.


"Aku .... aku___"


"Berarti kau tidak mengenalku dengan baik sayang."


Agnia berdetak, "Katakan saja kenapa membuatku bingung!"


"Agnia Sarasvati aku mencintaimu dan aku tidak akan melakukan apapun yang kau dan ayahmu takutkan." terang Zian dengan suara lantang.


Agnia mengulum bibirnya, dengan saling menatap dalam diam, begitu menyakinkan dan tentu saja tidak ada kebohongan di mata Zian. Pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Tangan Zian masih mengerat disela leher gadis yang begitu dia cintai itu, dengan ibu jari yang mengelus pipinya lembut.


"I Never let you go!" gumam Zian.


Perlahan, Agnia mengangguk, melihat hal itu Zian mengulas senyuman dan kembali mendekati wajahnya yang kini berubah merona.


Namun tiba tiba pintu kamar terbuka, Dave menarik lengan Zian hingga mundur beberapa langkah.


"Kau tidak bisa seenaknya disini!"


"Daddy!" seru Agnia.


"Nia ... pergi ke kamar sekarang! Aku harus bicara dengannya." titahnya kemudian.


Agnia mau tidak mau harus masuk kedalam kamar, membiarkan ayahnya kembali bicara dengan Zian. "Tapi kalian harus bicara baik baik!"


Dave menatap anak gadisnya yang membuka pintu kamar.


"Awas saja kalau berantem!" imbuhnya lagi dengan kepala menyembul dibalik pintu.


Membuat Zian menahan tawa karena Agnia menggemaskan.


"Nia ...!"

__ADS_1


"Iya Daddy! Nia masuk nih!" Ucapnya kemudian dengan menutup pintu perlahan.


Namun sejurus kemudian dia membuka nya kembali, "Awas saja ... Nia akan ngawasin kalian berdua."


__ADS_2