
"Nia masuk!!" bentak Dave membuat putrinya sedikit berjingkat karena kaget.
Zian mendorong bahu Dave dengan kasar, "Hei ... kau tidak perlu membentaknya, dia hanya khawatir kau akan bertingkah konyol dan melukaiku. Bukan begitu sayang?" Zian kembali menoleh ke arah Agnia dengan mengedipkan sebelah mata.
"Jangan macam macam kau Zian!"
Agnia kembali keluar dari kamar, "Tuh kan belum apa apa kalian ribut lagi!" Agnia mendekati sang ayah dan berbisik, "Ayolah Dad, kau sudah berjanji untuk jadi lebih baik!! Dan aku serius dengan ucapanku, kalau Daddy gak bicara baik baik dengannya, sore ini juga aku akan ikut dengannya dan Daddy akan nerima kabar pernikahanku nanti." ujarnya mengancam.
Dave terhenyak dengan ucapan putrinya sendiri, tak lama kemudian terlihat dia menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk pelan. Sementara Zian menyunggingkan senyuman karena lagi lagi melihat Agnia yang selalu berani, bahkan dalam hal mengancam ayahnya.
Gadis itu kembali masuk kedalam kamar, menutup pintu dengan perlahan, sangat lambat dengan menatap keduanya. Seolah dia enggan meninggalkan keduanya dan merasa khawatir.
Dave mengajak Zian untuk bicara di balkon, agar lebih leluasa dan tentu saja luput dari perhatian Agnia putri nya. Keduanya berdiri dengan jarak cukup sekitar 30 centi dan sama sama menempel di bibir tembok pembatas, menatap atap rumah disekitar dengan awan yang mulai terlihat berwarna orange dengan sedikit kehitaman.
Lima menit berlalu tanpa suara, keduanya saling membisu, tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hingga terdengar helaan nafas dari Zian yang mulai bosan menunggu.
"Kau tahu apa yang terjadi jika aku melemparkanmu dari sini?" Dave memulai perkataannya yang membuat bibir Zian tersungging tipis.
"Aku mungkin hanya akan patah tulang, tapi aku akan pastikan hubungan mu dengan putrimu akan berakhir saat itu juga!" ujarnya menohok.
Dave kembali terdiam, seolah ada yang tertahan di tenggorokannya, hingga dia tidak bisa memulai percakapan itu. Begitu juga dengan Zian yang tidak ingin memulai bicara jika Dave tidak memulainya.
"Maafkan aku Zian!"
__ADS_1
Dave akhirnya mengatakan apa yang tertahan di kerongkongannya. Zian menoleh kearahnya, seolah pendengarannya tiba tiba rusak dan ingin memastikan dengan jelas.
"Aku tidak mendengar mu Dave!"
Dave kembali teringat janjinya pada Nia, dia akan berubah jadi Daddy yang hebat untuk nya, mengakui kesalahannya dan berniat memperbaiki penyesalannya.
"Aku minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu Zian." ulangnya dengan jelas.
Namun ternyata respon Zian hanya sebatas helaan nafas panjang, dan Dave kembali mengucapkannya.
"Aku bersungguh sungguh kali ini, aku minta maaf!"
Zian kini berdecak, "Aku dan Jasmine menunggu selama 17 tahun untuk mendengarkanmu mengatakan hal itu Dave!"
"Kau tahu Dave ... putrimu benar benar pemberani, dia tidak seperti Jasmine yang hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya, tapi putrimu berbeda, dia bisa membuat orang lain kagum dengan segala tindakannya." Kedua mata Zian berbinar saat menceritakan gadis yang dia cintai pada ayahnya sendiri, dan Dave melihat hal itu. "Tapi aku selalu bersyukur, dengan kejadian ini justru Agnia hadir dalam hidupku Dave! Aku mencintainya dan menyayanginya, aku ingin menjaganya." sambungnya lagi.
Dave terdiam kembali, mencerna setiap kata Zian tentang Agnia dan kehadirannya. Walaupun hatinya masih terlalu berat untuk menerima bahwa Agnia pun memiliki perasaan yang sama dengan Zian.
"Kau tahu Dave, aku pernah menyukai Jasmine tapi aku merelakannya untukmu dengan lapang dada, karena aku memikirkan kebahagiaan Jasmine yang juga mencintaimu. Tapi saat ini, aku tidak akan memintamu untuk rela melepaskan Agnia untukku, apapun yang kau lakukan, aku tidak akan melepaskannya." tegasnya kemudian, dan tentu saja menohok Dave.
"Kenapa kau bersikeras Zian? Kau tahu akan tidak akan merelakannya begitu saja untukmu!"
"Kau sudah tahu jawabannya Dave! Lahir sekali, mati sekali dan jatuh cinta sekali Dave! Begitu banyak wanita yang pernah aku kencani, tapi baru kali ini aku mencintai seseorang dengan pandangan berbeda, Dengan cara berbeda, aku selalu ingin menjaga, menjaga kehormatannya juga dirinya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya! Kau lebih faham hal itu daripada ku Dave!" Terang Zian lagi lagi menohok.
__ADS_1
Percaya? Tentu saja tidak, itulah Dave. Meraka sama sama tahu dan juga dewasa, ditambah Zian pun yang menikahi Jasmine, usia matang yang kerap membutuhkan pelampiasan has ratnya, namun Dave juga tahu, perilaku Zian sejak remaja jauh masih dibawahnya. Gaya berkencannya pun hanya sebatas normal, dan tidak sepertinya. Namun dia tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam kurun waktu 17 tahun ini.
"Aku memang bukan pria suci Dave, aku pernah mencintai wanita begitu dalam, bahkan berniat melangkah ke jenjang lebih serius, namun hubunganku dengannya hanya tentang sek s dan pelampiasan belaka, dan saat dia menghianatiku, aku terpuruk dan hancur. Tapi saat itu aku sadar, cinta sejati itu bukan merusak apalagi menyakiti, tapi menjaga dan melindungi. Memiliki empati yang kuat dan saling mencari, dan aku merasakan hal itu saat aku bertemu putrimu Dave." Zian menghela nafas, "Aku bisa menahan has rat hanya padanya kau tahu!" sambungnya lagi.
Dave masih terdiam, dia mengerti sekarang kenapa putrinya bisa memiliki perasaan yang sama, Zian memperlakukannya istimewa dan juga menjaganya dengan baik. Yang terpenting ketulusan Zian, Dave melihatnya dari cara Zian bicara dan menceritakan putrinya yang bahkan dia sendiri tidak begitu tahu dan mengenalnya selama ini.
"Tapi aku juga bisa egois dalam hal ini Dave, aku tidak akan peduli kau mengerti atau tidak, aku juga tidak peduli kau restui atau tidak! Aku tetap akan menikahinya."
Setelah bicara panjang lebar seperti itu, Zian mundur beberapa langkah dan kembali masuk kedalam rumah, meninggalkan Dave yang masih termenung memikirkan ucapannya.
Zian mengetuk pintu kamar dimana Agnia berada, menunggu pintu terbuka dengan satu tangan berada di dalam saku celananya. Tak lama pintu terbuka, Agnia muncul dengan senyuman manis di bibirnya.
"Sudah selesai?" gadis itu melongo ke arah luar dan juga pintu balkon yang terbuka, dia nyaris tidak mendengar apapun sedari tadi dan selesai begitu saja.
"Hm ... sudah selesai! Apa kau akan menginap disini malam ini?"
"Nia nunggu Mommy pulang, kami mau makan malam, Om mau gabung?"
Zian menggelengkan kepalanya, "Mungkin lain kali, kalian pasti butuh waktu bertiga," Pria itu tidak menyerah untuk mendekatkan kepalanya ke arah Agnia, "Lain kali aku pasti bergabung, dan benar benar akan menciummu disana! Dan membawamu pulang!" ucapnya dengan berbisik.
"Norak!" Agnia mencubit pinggangnya.
"AW ... hobi sekali mencubit pinggangku!"
__ADS_1